Sex-holiday Berlin; Mabuk Lagi - Mabuk Lagi

Setelah puas berjalan-jalan menikmati gemerlapnya kota Berlin pada malam hari yang aku ceritakan pada postingan sebelumnya yang bisa dibaca disini, kami pergi ke Kafe Heile Welt.

Kafe Heile Welt terletak ditengah-tengah party scene Berlin.
Kafe yang nyaman dengan meja bar yang panjang. Ada sofa-sofa besar empuk di salah satu sisinya dan sebuah dinding dilapisi dengan bulu beruang. Aku tidak tahu dengan pasti apakah itu benar-benar bulu atau bulu buatan, tidak perduli, yang penting aku suka sesuatu yang berbulu-bulu, jadi aku memilih duduk di sofa lebar dibawah bulu-bulu itu agar supaya sambil duduk-duduk sambil bisa mengelus bulu-bulu itu.

Tidaklah terlalu ramai pengunjung, ada beberapa orang duduk menggerombol didepan meja bar panjang, sementara dua orang bartender yang hanya mengenakan top itu melayani mereka dengan ramah.

Aku tidak terlalu setuju kalau mereka bekerja sebagai bartender. Menurutku mereka lebih cocok bekerja sebagai bodyguard saja, atau setidak-tidaknya sebagai tukang pukul saja.

Sementara tidak terlalu jauh disamping pintu masuk ada tiga orang yang sedang bisik-bisik tetangga dengan seru.... Eh, dipojokan ternyata ada yang sedang cium-ciuman lho, heboh!

Ternyata jam 23 malam kafe ini baru menampakkan tanda-tanda kehidupannya, dan sebentar kemudian penuh sesak. Waiter mengatakan jika kami ingin tempat yang lebih longgar kami bisa ke ruang belakang, disana ada lounge.

Lounge-nya longgar dan nyaman, banyak sofa-sofa empuk yang lebih besar daripada didepan, lampu-lampunya bisa membuat orang duduk tenang dan musiknya tidak terlalu keras. Sebuah tempat yang asik buat pacaran.
Ya ya, okay... ya buat pacaran, ya buat nongkrong dengan teman-teman, ya buat tebar pesona... 

Dan kamipun duduk berdua-duaan disalah satu sofa disitu.

Oh tidak, ternyata kami tidak bisa berlama-lama duduk berdua-duaan karena sebentar kemudian datang orang-orang bertanya jika mereka boleh duduk bersama kami karena sofa yang lain sudah ada penduduknya.

Tak lama kemudian kami ngobrol akrab dengan mereka. Dan mereka ramah-ramah lho... Dan ternyata mereka semua berpasangan lho...

Sesaat aku ngobrol seru dengan salah satu dari mereka dan tiba-tiba memisahkan diri karena si cowok ini - yang aku sudah lupa namanya - pernah pergi liburan ke Bali dan ingin mengenang memorinya dengan ngobrol bersamaku. Sewaktu-waktu Thomas menginterupsi untuk bertanya apakah aku ingin minum sesuatu, kemudian tertawa-tawa lagi bersama yang lainnya.

Sekali waktu Thomas menyeretku karena secara tidak disengaja dia bertemu dengan temannya dan mengenalkan kami.

Ngobrol - minum - tertawa - ngobrol - minum - ngobrol lagi sambil minum.... Sampai akhirnya kami tidak boleh minum lagi karena pada akhirnya waiter tahu bahwa kami mabuk.

Aku sudah mulai tidak bisa mengendalikan diri lagi dan tidak bisa melihat dengan benar lagi, tapi pendengaranku masih tajam dan salah satu sisi otakku masih bisa dipakai, meskipun bagian otak yang lain sudah kacau balau. Thomas memaksa waiter tapi dijawab bahwa dia sudah tidak bisa tanda tangan lagi untuk nota kartu kreditnya, yang lain memberikan dompetnya tapi waiter tetap tidak mau kasih minum.

Begituuuu.... terus.

Dan waiter mengantar kami menuju pintu keluar setelah memakaikan jaket kami masing-masing. Doh...!

Diluar-pun masih juga tertawa-tawa dan berbicara kacau.

Waktu itu aku sudah kacau balau, aku tidak lagi bisa berpikir dan mengingat, hanya sepotong-sepotong dan hilang-timbul silih berganti. Yang aku ingat waktu itu pokoknya aku ingin segera sampai ke wohnwagen, tidur. Dan aku menyeret Thomas yang masih berbicara kacau dengan mereka.

Tapi aku jatuh tersungkur di trotoar.

Thomas membantuku berdiri dan kami berjalan lagi ke stasiun, tapi Thomas tersandung sesuatu dan gantian dia yang jatuh tersungkur. Gantian aku yang membantunya berdiri tapi waktu dia sudah berdiri malah aku yang jatuh tersungkur....

Dan dia melingkarkan lenganku ke lehernya dan memeluk pinggangku, berjalan sempoyongan ke stasiun.

Aku tidak ingat dengan jelas bagaimana prosesnya sampai kami bisa berhasil sampai ke stasiun, tapi di stasiun lebih kacau lagi. Pas di tangga turun ke stasiun bawah tanah aku sudah tidak bisa berjalan dan jatuh menggelosor di undakan turun. Dengan santainya Thomas mengambil salah satu kakiku dan menyeretku begitu saja menuruni undakan tangga... Dasar....!!!!

Untungnya aku pakai Daunen Jacke sampai menutupi kepala (Jaket musim dingin yang didalamnya dikasih bulu unggas dan tebal), jadi rasanya seperti di ayun-ayun. Entahlah, ini akibat pengaruh alkohol atau karena Daunen Jacke yang tebal itu. Tapi pada keesokan harinya aku menemukan benjolan di kepala belakangku.

Samar-samar aku mendengar ada orang memarahi Thomas karena menyeretku dengan kejam menuruni anak tangga dan si bencong tak punya hati itupun membantuku berdiri dan memapahku melanjutkan perjalanan.

Masih samar-samar bisa mendengar, ada orang bertanya apakah kami perlu bantuan. Thomas dengan besusah payah menjawab bahwa kami baik-baik saja. Mereka berdebat.

Dan samar-samar aku mendengar tentang 300€.

Oh, rupanya orang itu adalah polisi. Dan mabuk di tempat umum dendanya adalah 300€, jika polisi sampai 'membantu' mengantar kita pulang.

Sampai stasiun kedua, Thomas menyeretku keluar kereta dan dengan kejamnya melemparkanku ke salah satu bangku panjang disitu, akupun tergeletak tak berdaya, sementara dia duduk menunduk sambil memangku kakiku.

Aku tidak tahu dengan pasti berapa lama kami tertidur, atau lebih tepatnya pingsan di stasiun ini.

Aku terbangun pada saat ada orang menepuk-nepuk pipiku. Pandanganku masih kabur tapi aku bisa melihat itu adalah seorang cewek kulit hitam, mengatakan bahwa seharusnya aku pulang daripada tidur kedinginan di stasiun. Dan dia segera meloncat naik kedalam kereta api yang datang.

Aku mulai sadar. Aku cari Thomas.... Dia masih duduk menunduk sambil memangku kakiku, tertidur.

Aku menendangnya dengan kasar untuk membangunkannya.

Tapi dia masih harus membantuku waktu kami naik ke atas kereta api selanjutnya, begitu juga pada saat turun kereta. Dan setelah berhasil naik undakan tangga keluar stasiun, aku memuntahkan semua isi perutku.

Setelahnya aku jadi sadar sesadar-sadarnya tapi tetap saja Thomas harus memapahku untuk mencapai Wohnwagen.
-----------------

Well, itu adalah malam yang gila. Aku tidak menyukainya karena aku merasa menderita. Tapi asik juga.

Pada saat keesokan harinya kami terbangun, kami menghabiskan waktu berdua di Berlin dan juga ke perbatasan Polandia...

Sepertinya ini postingan harus berlanjut lagi, poto-potonya belum sempat muncul....;))

1 comment:

  1. untung bisa pulang dengan selamat n gak ketemu orang jahat... :(

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)