Sebenarnya niat untuk merayakan malam tahun baru ke Hamburg sudah jauh-jauh hari aku rancang sebelumnya dan aku akan pergi dengan Tipi, si bencong durhaka asal Thailand itu...
Iya bow... pasti dia itu durhaka, soalnya setelah masa belajarnya di Flensburg selesai, bukannya ngepak koper pulang kampung untuk turut serta membangun bangsa dan negaranya, eh... dia malah nikah dengan Mark dan tidak mau balik kampung. Bukankah itu namanya bencong durhaka? Disekolahkan jauh-jauh, sudah pinter kok ndak mau pulang....
Apapun lah! Yang penting dia berbahagia dengan pasangannya untuk hidup bersama membangun mahligai rumah tangga di Jerman, dimana jauuuuuh lebih manusiawi daripada di Thailand dalam menyikapi pasangan gay, katanya.
Jadi, pada awal bulan Desember lalu aku nelpon Tipi untuk membujuknya agar mau pergi berdua pada malam silvester ke Hamburg. Kami akan naik kereta api, dan nanti jika terlalu asik party dan malas pulang, kami akan tidur di hotel (Dengan catatan jika dapat kamar kosong mengingat pasti sulit sekali cari kamar hotel pada malam silvester).
Tipi maju-mundur antara mau dan tidak...
Terus beberapa hari kemudian aku nelpon dia lagi, yang nerima Mark, tipi sedang pergi ke rumah mertua - katanya. Sekalian saja aku utarakan rencanaku itu dan bertanya apakah dia tidak keberatan jika aku dan Tipi pergi berdua. Dia bilang ammm emmmm ammm emmmm... saja, tapi beberapa saat kemudian, it's okay... Tapi dia akan bicara dulu dengan Tipi.
Terus Tipi nelpon aku, intinya dia dapat ijin dari Mark tapi ya gitu, masih maju-mundur-mau-tidak.
Aku bujuk terus dong.... Aku cerita bahwa aku baru pergi ke jalan Lange Reihe Hamburg, dimana itu adalah sentral kehidupan Hamburger Gays.... Jadi kalau nanti kita kedinginan diluar, kita bisa masuk ke gay kafe disana.... Atau ke gay disko saja... atau masuk ke darkroom lihat orang meong.... Atau ikut meong sekalian... atau menghangatkan diri di gay-porn-cinema, sekalian belajar tehnik meong baru, agar supaya dia tidak melulu menerapkan tehnik massage komplet model Pattaya itu kalau meong dengan Mark....
Dia malah ngumpat-ngumpat waktu aku menyebut Pattaya, "Ndak level, Djo... Jangan samakan aku dengan pelacur Pattaya..." Katanya.
Hihi... yang ada aku malah membayangkannya dengan pelacur internasional Kuta. Apakah kollega mereka di Pattaya juga seperti itu, sampai-sampai Tipi kebakaran jenggot waktu aku menyebutkannya?
Ah, sebenarnya tidak masalah kok berprofesi sebagai pelacur. Tapi mbok ya hasilnya itu ditabung, jangan dihambur-hamburkan begitu, agar masa tua punya dana pensiun, karena menurut aku profesi pelacur itu cepat sekali hilang masa laris-manisnya. Dan itu adalah jenis pekerjaan yang sangat amat tidak adil, menurutku. Dan itu adalah jenis pekerjaan yang sangat amat tradisional, benar-benar tidak kreatif.
Tapi hasil akhirnya dia akan pergi dengan aku ke Hamburg.... Sip lah!
Terus ya gitu deh.... Datang masalah, kali ini yang bikin Thomas....
Setipa nelpon, setiap ketemu, dia selalu bertanya kami akan merayakan malam silvester kemana. Dan setiap kali itu pula, aku selalu mengalihkan tema pembicaraan dan tidak mau menjawabnya. Iya dong, aku kan sudah punya rencana sendiri, pergi ke Hamburg dengan Tipi....
Dan pada saatnya aku tidak bisa mengelak lagi, dan aku bercerita siapa itu Tipi. Terus ditambah dengan, "Kami cuma ingin pergi berdua saja!"
Dia bilang, kalau keretanya macet 5 jam seperti kereta intercity express Kiel-Hamburg seperti kejadian beberapa hari yang lalu bagaimana?
Aku jawab, setelah kejadian itu Bundesbahn lebih siap lagi menghadapi masalah....
Dia cerita bahwa kereta api pada malam tahun baru adalah bencana, dimana isinya adalah orang-orang mabuk yang tidak boleh mengendarai mobil, kalau mereka jadi brutal, bagaimana?
Aku bilang, ya... kita bisa ndempel-ndempel di punggungnya pak polisi minta perlindungan....
Terus dia menakut-nakuti... "Bagaimana kalau misalnya kalian, dua orang Asia yang kecil mungil, malam-malam kelayapan tanpa ada orang Jerman-nya, dan ditemukan kelompok neo nazi itu? Habislah kalian berdua..."
Hiiyyy... Benar juga ya?
Terus... Thomas sok sok berlagak jadi pahlawan gitu deh.... Dia akan mengantar kami ke Hamburg, naik mobil saja biar lebih santai, katanya. Dan aku bilang aku akan rundingan dulu dengan Tipi...
Aku belum sempat nelpon Tipi dengan rencana baru ini, okay.... sebenarnya bukan belum sempat, melainkan lupa lupa terus, tapi Tipi nelpon, mengeluh... dia bilang akhir-akhir ini Mark berubah pikiran dan akan mengantar kami berdua ke Hamburg, jadi naik mobil saja.
Loh... Kok sama dengan kasusku....
Akhirnya kami rundingan sampai mulut berbusa-busa, bahwa nanti tanggal 31 sore hari mereka akan pergi ke rumahnya Thomas karena aku sudah akan ada disana dan memarkir mobil disana, kemudian kami rame-rame ke Hamburg dengan Thomas sebagai pak sopir.
Aku cuma berharap saja bahwa nanti Thomas dan Mark bisa rukun dan tidak jambak-jambakan...
Dan nanti kalau Thomas terlalu sering melirik pantatnya Tipi yang aduhai itu, bakalan aku culek matanya pakai lidi sapu!
Hmmm.... Batal deh rencana kami meong model gang-bang di darkroom! Rencana buruk memang sulit terwujud ya?

0 comments:
Poskan Komentar