"So mein schatz, there will be no body-contact, no kiss, no hug, no fuck...!"
Itu adalah salah satu tutorialku kepada Thomas sebelum dia menyusulku ke Indonesia. Sedikit demi sedikit aku harus menjelaskan kepadanya bagaimana seharusnya bertingkah laku sopan model wong ndeso selama berada ditengah keluargaku, agar dia tidak terlalu mengalami culture shock nantinya.
Coba bayangkan, apa jadinya kalau tiba-tiba dia nyosor menciumku, atau tiba-tiba menggandeng tanganku pada saat jalan berdua? bisa-bisa dikawinkan secara paksa oleh FPI nantinya...
(Dengar-dengar dari bisik-bisik tetangga, sekarang ada organisasi itu di tanah air, merupakan kelompok radikal yang tak segan membabat habis kelompok lainnya jika bertentangan dengan azas mereka. Lha terus, bagaimana dengan demokrasi dan hak azasi manusia? Tapi Pancasila belum berubah kan? Masih tetap dengan lima azas, kan?).
Aku harus menjelaskan semuanya, karena tidak mungkin baginya untuk mencari informasi sendiri. Thomas bukanlah orang yang cerdas, bahkan dia hampir tidak bisa memahami kalimat dalam buku. Semua harus dikatakan, atau dibacakan. Tapi, dia punya daya ingat yang luar biasa! Merupakan kebalikan dari aku.
Tapi Thomas hebat lho... Dia tidak perlu menggunakan kalkulator sama sekali jika harus berhitung, sementara aku? Untuk mencari tahu hasil 87 x 3 saja harus rogoh-rogoh saku celana, mencari kalkulator di HP.
Jadi aku menjelaskan kepadanya bahwa selama di Indonesia, seharusnya kami tidak melakukan kontak badan seperti menggandeng atau mengelus tangan yang lain, merangkul, apalagi berciuman ditempat umum, karena itu bukan hal yang wajar di desa. Bahwa kita harus menghargai tradisi mereka.
"Sangat berbeda seperti itukah?" Dia jadi terbengong-bengong...
"Lebih dari itu!" Kataku melanjutkan, bahkan nanti selama tinggal dirumah emakku kami akan dapat kamar terpisah, dia akan tidur di kamar bekas kamar dua orang kakakku, dan aku akan tidur di kamar, dimana itu adalah kamarku dan kamar mbakyuku pada saat kami masih anak-anak.
Ah, kamar yang penuh kenangan manis. Dulu mbakyuku dan aku harus berbagi ranjang jika tidur, dan dibatasi bantal guling. Itu bukanlah kamar yang besar, jadi kami menyimpan mainan kami di kolong tempat tidur. Masing-masing punya kardus penyimpan mainan dan kami bikin janji bahwa tidak boleh membuka kardus yang lain tanpa ijin.
Tapi kadang-kadang aku curang...
Ah, pasti mbakyuku juga...
Eh, diam-diam aku pernah mencoba lipstiknya lho, haha...
Dua tahun lalu waktu aku mudik aku juga tidur di kamar kami. Semua mainan sudah tidak ada, poster-poster kartun yang menempel di dinding sudah hilang dan di cat baru, tapi dipan kayu kami tetap disitu. Waktu aku tidur diatasnya berbunyi kreyot-kreyot...
Dan malam pertama tidur dikamarku kembali setelah sekian tahun meninggalkannya menimbulkan sensasi yang aneh, bahkan aku hampir tidak tidur, bukan karena jet-lag (karena aku tidak pernah mengalami jet-lag jika terbang dari Jerman ke Indonesia, tapi perlu waktu seminggu lebih untuk menghilangkan jet-lag jika terbang dari Indonesia ke Jerman). Perasaanku sangat aneh waktu itu, tiba-tiba meneteskan air mata tanpa sebab, atau tersenyum geli sendiri...
Aku punya ribuan memori didalam kamar kami, dan aku ingin memori itu tetap ada, aku tidak ingin menghancurkannya dengan mengajak Thomas tidur dikamar kami.
Suatu saat aku pernah bertanya kepada emak, bagaimana jika dipan kayu itu diganti saja, karena jika aku tidur diatasnya berbunyi kreyot-kreyot, tapi jawaban emak membuat aku terharu biru, "Oh, aku pikir dari waktu ke waktu kalian akan pulang dan ingin tidur disitu lagi....".
"Tapi kamu akan jemput aku di Jakarta, bukan?" Thomas bertanya, memotong ingatanku begitu saja tentang kamar kanak-kanak kami.
"Bisakah kita tinggal dua atau tiga malam di Jakarta sebelumnya?" Dia bertanya lagi, aku mengiyakan.
Dia jadi tersenyum mesuuuuuuum sekali!
Aku menyiapkan bantal.
"Artinya... Kita akan tinggal di hotel kamar... That means... May we fuck in hotel room in Jakarta?"
Dan aku benar-benar melemparnya pakai bantal sofa tepat dimukanya!
Dasar bule mesum...!

0 comments:
Poskan Komentar