Baru nelpon emak di desa.
Setelah bicara panjang lebar kesana kemari tak tentu arah pada akhirnya emak berkata serius, mengatakan bahwa aku harus segera menikah sebelum keduluan adikku!
Aku mengingatkannya lagi bahwa seperti yang sudah kami bicarakan dulu bahwa aku tidak akan menikah karena aku gay, dan sudah mengalah dengan pergi sejauh mungkin agar tidak lagi membicarakan masalah itu. Tapi kali ini emak benar-benar tidak bisa diajak diskusi, dan tetap mengatakan bahwa aku harus menikah, dia yang akan mencarikan jodoh jika aku tidak punya pacar.
Aku tetap menolaknya dan emak semakin memaksaku. Dan aku memutuskan hubungan telpon begitu saja karena aku merasa emak sudah terlalu memaksakan kehendaknya tanpa bisa ditahan...
Benar, emak adalah seperti orang tua bijaksana lainnya didunia ini, hanya menginginkan anak-anaknya hidup bahagia. Tapi emak tidak tahu bahwa kebahagiaannya tidak sama dengan bahagia menurut aku.
Mungkin juga emak cuma ingin mengulang cerita lama, dimana pada waktu itu salah seorang pamanku yang biseks itu akhirnya dijodohkan dan mau menikah, meninggalkan pacar prianya yang kebetulan rumahnya tepat berada didepan rumah emak, dan sekarang keduanya sudah beranak-pinak.
Tapi cerita lama tidak bisa diulang kembali, dan aku bukan pamanku.
Dan aku sedang bikin cerita baru, cerita tentang hidupku, bukan tentang emakku dan keinginannya.
Emak tidak tahu bahwa dia sudah sangat melukai perasaanku.
Dan tiba-tiba saja, jauuuuuh sekali dibelakang kepalaku ada yang berbisik, "Berbakti kepada orang tua, apalagi kepada ibu, adalah nomer satu. Tetapi jika itu akan menghancurkan diri sendiri dan membohongi semua orang, maka itu bukan berbakti lagi namanya, melainkan persekongkolan busuk.... Bahkan tidak akan termaafkan oleh siapapun..."
----------------------------
Dilain pihak....
Aku sudah bertemu beberapa kali dengan emaknya Thomas. Setiap kali Thomas membawaku untuk bertemu dengan emaknya, setiap kali pula aku merasa iri; kenapa emakku tidak bisa menerimaku seperti emaknya Thomas? Bahkan tanpa canggung Thomas bisa menggenggam tanganku didepan emaknya.
Dan aku bisa merasakan matanya berbinar-binar melihat anaknya punya teman lagi, pada akhirnya.
Aku jadi heran setengah mati. Apakah yang membuat cara berpikir mereka sedemikian bertolak belakang dalam menyikapi anaknya yang ternyata gay?
Dari segi umur, mereka sebaya, bahkan emaknya Thomas beberapa tahun lebih tua. Dan mereka berdua sama-sama orang desa. Mungkin juga mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tidak jauh berbeda.
Dua-duanya juga suka nonton telenovela.
Dari segi sejarah, seharusnya emakku bisa lebih menerimaku daripada emaknya Thomas mengingat sejarah gay di Jerman yang sangat amat kelabu. Ingat dengan pembantaian kelompok gay oleh rezim nazi, kan? Sementara orang gay tidak pernah dibantai secara massal di Indonesia.
Agama? mungkin. Kalau ini mereka benar-benar berbeda dan mempunyai tingkat aktifitas keagamaan yang juga jauh berbeda (Aku tidak berbicara tentang kadar keimanan, tak seorangpun bisa melihat isi hati orang lain dalam masalah ini).
Ataukah karena untuk menjaga nama baik keluarga? Mungkin juga... Seperti halnya keluarga lain di desa di Indonesia, nama baik keluarga adalah segalanya. Tapi untuk di Jerman, kenyamanan diri adalah segalanya, 'Don't touch me and you will not get a problem' lebih penting daripada 'Aku tidak akan mengenakan rok mini lagi karena tetanggaku tidak suka itu'.
Ataukah juga karena para tetangga di desa di Indonesia yang suka nyinyir? "Eh, lihat, anaknya si itu sudah tua belum nikah juga, pasti ndak laku, sebentar lagi jadi bujang lapuk" - Sementara di Jerman tidak ada istilah bujang lapuk dan menikah adalah cuma sebagai sebuah pilihan, bukan sebuah 'keharusan'.
Tak pernah sekalipun aku mendengar pertanyaan, "Kapan nikah? - Sudah nikah?" kecuali pada saat melamar kerja dan urusan official di balai kota - yang di Indonesia merupakan pertanyaan wajib bagi dua orang kenalan yang sudah lama tidak bertemu jika mereka sudah berumur diatas 25 tahun.
Bingung!
Lalu apa sebenarnya yang membedakan mereka? Thomas dan aku sama-sama gay, lalu kenapa emak bilang aku harus menikah dengan perempuan, sementara emaknya Thomas tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak tersayangnya? Bahkan bangga kepadanya?
Dunia memang tidak adil!

Mas,
BalasHapussebelumnya salam kenal ya....
Mohon ijin utk mencuplik kata2 dalam artikel ini untuk saya jadikan status di FB saya.
Saya sudah 16 tahun menikah dengan suami, dan segala cara sudah saya lakukan untuk membuat senang ibu mertua saya, walaupun hasilnya tetap jelek dimatanya. Saat ini suami dan saya sedang di cap durhaka, krn kami tidak mau lagi mengikuti kemauan ibu mertua yg aneh2. Moga2 kata2 mas bisa menguatkan suami dan saya.
Semoga ada jalan untuk para ibu yang susah mengerti anak2 nya ya. Terima kasih.
Saya setuju sama artikel ini, memang kultur kehidupan diindonesia emang begitu.mau tau aja urusan orang lain. Jadi males kalo ketemu sama saudara2 kalo ada acara yang rame2, pasti tanya udahpunya belum? Cepetan kawin !.
BalasHapusYou must be strong fren...
BalasHapusJust follow your heart
and follow your dreams
Be yourself an angel of kindness
There’s nothing that you cannot do...
walaupun pahit; menjadi diri sendiri jauh lebih baik dan bijaksana daripada menjadi seorang pendusta besar... tetap semangat!!
BalasHapusaah... I feel you, Djo!
BalasHapusHiks...
Begitulah teman2, kadang2 orang tidak bisa memilih dalam hidup ini tapi sudah ditentukan seperti itu, macam hubungan anak-emak seperti ini. Apalagi kultur kita yang seperti itu. Itu samasekali tidak jelek, tapi kurang cocok untuk aku, makanya aku pilih pindah.
BalasHapusSemoga aku bisa selesaikan masalah ini dengan cantik bulan februari nanti pada saat aku mengunjunginya ya... Jika tidak, maka aku akan menggantung masalah dengan anggun. Aku tidak akan melakukan konfrontasi apapun.
Untuk Mbakyu Louise, hati2 kalau mencuplik kalimat dari Blog Tjap Bagong, bisa ketularan kampungan... Tapi kalau itu bisa menguatkan sampeyan, silahkan, semoga semuanya bisa baik kembali.
Yang saya tahu... orang tua tidak ingin anaknya jadi tidak baik... hanya saja ukuran "baik" mereka tidak sama dengan kita.
BalasHapusBegitulah jadinya... Dan itulah kenapa aku benci generation gap
Benar sekali Bybyq, masalahku adalah bagian dari generation gap, dimana generasi tua tidak membenarkan cara berpikir anak-anaknya. Aku juga benci dengan this fuckin' generation gap, tapi itu harus terjadi. Dan akan selalu terjadi...
BalasHapusGeneration gap terjadi bahkan sejak komunitas manusia baru terbentuk. Dengan generation gap manusia melakukan evolusi secara mental, sehingga terbentuk kultur yang dinamis dari masa ke masa, dimana setiap generasi memandang berbeda antara baik dan salah.
Orang tua kita juga sudah mengalami generation gap ini dengan orang tua mereka lho... Cuma generation gap berbeda dalam setiap komunitas (Baca: Negara) Ada yang gap-nya lebaaar sekali dan ada yang cuma sejengkal.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Ya... Dengan cara berpikir kita dong ya, jangan lagi berpikir seperti pendahulu kita dalam menilai hal baik dan buruk, agar evolusi kita semakin melaju....
Terus tiba2 muncul pertanyaan baru, lha terus apa gunanya kitab suci yang didalamnya sudah mengandung hal2 yang sudah ditetapkan pada masa lalu? Dari old generation itu? Hehe... Suwer, kalo ini aku ndak bisa jawab, atau lebih tepatnya... Ndak mau jawab!
gap ini juga berbeda pada setiap era. Misalnya pada jaman bapakku dulu gap nya kayanya ga sebesar ini, dan aku rasa nanti di jaman yang lebih maju gap juga akan mengecil lagi. Jaman kita ini memang gap lagi besar2nya... mungkin bagian dari siklus yang nggak kuketahui. hehehe...
BalasHapusKitab suci itu kan pedoman, bagi yang percaya (kalau aku kan ga percaya, makanya ya ga pakai itu sebagai pedoman :D) ada beberapa orang yang memandangnya sebagai pedoman mutlak yaitu mutlak banget mengartikannya... ada yang melihatnya sebagai pedoman prinsipil, jadi yang diambil hanya prinsipnya saja, sedangkan penerapannya ya menyesuaikan dengan jaman dong.
Kalau dari kacamata pandangku ya, mas bedjo, generation gap itu dijembatani dengan adaptasi. Bukan berarti beda 100%. Bukankah sampai saat ini pun kita masih memegang nilai2 yang notabene warisan old generation, seperti "sama orang lain tidak boleh jahat", "jangan suka mencuri", "harus sayang sama keluarga"... Hanya saja, kalau dulu orang-orang hanya bisa melihat hitam dan putih, sekarang kita harus bisa melihat dengan lebih berwarna (RAINBOW PRIDE!!!), kaya TV jaman dulu cuma hitam putih, kemudian jadi TV berwarna...
dari "emak" ke "generation gap"...... saya lihat nya sih, pekara sex preference ga ada hubungnya ama generation gap... *sorry Djo, Byg, i disagree*
BalasHapusBahkan teman2 yg lbh muda pun, tetep... dengan pentingnya naya ke saya "temen lu gay ya?" gara lihat temen saya ngondek... Apa penting nya? Kecuali dia juga gay dan niatan flirting?? See, ini ga pekara tua muda, tapi yeahhhh... i think it is about "sodom and gomora"
At the end... jujur pada diri sendiri adalah yg terbaik :)))
Soe, kembali pada postinganku; Emak yang tidak bisa menerima orientasi seksualku. Dia tetap menganggap bahwa ini 'tidak baik'.
BalasHapusEmaknya Thomas yang dengan senang hati melihat kami berdua bersama. Dia sudah menganggap bahwa kami 'sama baiknya' dengan yang lain.
Jadi, sekedar mengingatkan, generation gap adalah pergeseran secara pelan2 nilai baik dan tidak baik terhadap sesuatu pada generasi yang berbeda, dimana jika generasi pendahulu menganggap sesuatu hal "tidak baik" dan generasi selanjutnya menganggap itu tidak lagi "tidak baik", maka terjadilah konflik antar keduanya (gap).
Dan juga dalam kultur kehidupan di Jerman sekarang ini dimana orientasi seksual yang berbeda-beda bukan lagi sebagai cap untuk menilai baik atau tidak baiknya seseorang (Sumpah, aku masih mengalami culture schock dalam masalah ini).
Ataukah lebih tepat bahwa orientasi seksual yang bukan standar ini lebih tepat dimasukkan dalam bagian kultur yang selalu bergerak dinamis?
Tapi pada akhirnya, pembentukan sebuah kultur juga dipengaruhi oleh generation gap juga, salah satunya, bukan?
Dan, kalau masalah orientasi seksual ini harus mengacu pada dongeng bersejarah tentang Sodom dan Gomorah seperti yang kamu maksud itu, maka aku akan tutup mulut rapat-rapat, tidak lagi diskusi, dan tidak akan menulis gay theme blog ini. Karena itu adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu-gugat lagi.
Pertamanya aku mau jelasin panjang lebar juga, tapi penjelasan bedjo jauh lebih baik daripada yang ada di pikiranku. So... Ya begitulah maksudnya generation gap. :D
BalasHapus