Bagaimana rasanya hidup tanpa Facebook?
Ah, ternyata makmur-makmur saja, bahkan terasa lebih tenang.
Well, kemaren aku menghapus akun di FaceBook, setelah mempertimbangkannya masak-masak.
Kilas baliknya, duluuuuuu.... sekali aku bikin akun di facebook karena ketularan teman-teman kerjaku, Istilahnya korban mode... Seiring berjalannya waktu, kadang-kadang aku rajin nulis-nulis disana... Saling meledek (Bukan mengolok) teman-teman kerja, Kadang sampai berbulan-bulan tidak ditengok... Tidak cuma sekali aku lupa password... Pamer-pamer foto liburan ke teman-teman.... Berkata-kata bijak... Berkata-kata genit... kasih-kasih link bagus.... kasih-kasih link bagus juga tapi setelah dibuka larinya ke website porno dan dapat 'jitakan' teman-teman... Bahkan go out for a while after work-pun janjiannya di facebook, biar terdengar keren, agar yang baca iri... Kadang-kadang tanpa hujan tanpa angin ada orang yang tidak aku kenal request berteman dan aku tolak karena aku cuma ingin terkoneksi dengan orang-orang yang pernah aku temui di dunia nyata saja....
Suatu saat FaceBook booming di Indonesia dan adikku menemukanku. Sekali lagi kami bersaudara, kali ini di Facebook.
Tak lama kemudian aku terkoneksi dengan dua orang keponakan.... Dari adikku aku terkoneksi dengan teman-teman sedesa..... Merembet ke desa lain orang-orang yang pernah aku kenal... Bekas teman sedesa yang pergi jauh-pun akhirnya bertemu di facebook!
Facebook memang hebat ya?
Anehnya aku kok tidak pernah bertemu atau ditemukan bekas teman-teman gay dari Bali ya? Padahal aku menggunakan nama asliku lho, tapi dengan nama keluarga yang aku dapat dari Herbert. Face-pic juga sangat amat jelas di profilku. Kemanakah mereka?
Sampai akhirnya aku punya lebih banyak teman dari Indonesia daripada dari Jerman.
Dan hidupku tidak tenang lagi.
Mulai dari pertanyaan kapan mudik sampai kapan nikah datang bertubi-tubi dari waktu ke waktu di wall-ku.
Like It? No, i don't like it...!
But they like it...!
Bahkan aku pernah mengamati diantara mereka yang ada adalah saling mengolok, bukan bercanda lagi. Sindir-menyindir adalah isi sebagian besar wall... Ada juga yang perang kata-kata sampai dalam tingkat mengejek, bukan berdebat.
Aku bisa menyadari bahwa mereka adalah orang-orang desa yang baru beberapa bulan kenal internet dan lebih suka menggunakan dengkul daripada otaknya untuk berpikir. Dan menurutku itu kasar.
Ada yang pernah menyindirku dengan menulis sesuatu di wall-ku. Mungkin dia tidak bermaksud begitu tapi aku terluka... Aku kan sensitif ya bok ya....? Kesenggol sedikit saja lecet... Kalau tidak diobati jadi borok... kalau dibiarkan tumbuh kanker, hiiii...
Meskipun begitu banyak juga yang menulis normal-normal saja.
Tapi sekali lagi aku memuji adikku, karena dia selalu berbahasa baik dan sopan, terkoneksi dengan pacarnya. Meskipun masih brondong tapi tidak pernah menulis dengan huRuF pL4n3t 451ng Yg tDk j3L45 m4KsuDnyA itu....
Cuma aku sedikit khawatir dengan seorang keponakanku yang sedang tinggal jauh dari rumahnya karena kuliahnya. Tulisan di wall-nya terlalu religius. Jangan-jangan.... Oh, semoga saja jangan.... Semoga saja itu karena dia baru kehilangan almarhum bapaknya sehingga dia menjadi banyak berdoa, bahkan berdoa dengan perantaraan Facebook.
Oh iya, dia adalah keponakan yang sulit aku hubungi untuk menanyakan oleh-oleh apa yang dia inginkan. Ternyata dia ingin wireless mouse untuk laptop-nya.
Jadi, sekali lagi ketenanganku terganggu setelah terkoneksi dengan orang-orang dari lembaran masa lalu dalam hidupku itu.
Setelah berdiskusi dengan Herbert tentang kekhawatiranku ini (See? Aku masih mempercayakan kesehatanku padanya...) dia memerintahkanku - bukan menyarankan lagi - untuk menutup akun di FaceBook. Dia tidak mau aku menangis lagi dalam tidur, dan memang itulah yang terjadi dalam tahun pertama aku pindah ke Jerman. Dan setelah Herbert memberikan sesuatu yang harus aku konsumsi dalam jangka waktu lama, berkat itu akhirnya aku bisa terlepas dari ingatan masa lalu yang mengerikan yang tanpa aku sadari telah menghunjam dalam sampai ke alam bawah sadarku, dan akhirnya aku merasa benar-benar hidup dengan tenang aman tenteram damai sejahtera selamanya...
Selamanya...?
Ternyata tidak!
So, kemarin, sekali lagi aku harus memutuskan hubungan dengan orang-orang dari masa laluku setelah memberikan penjelasan sebisa mungkin kepada adik dan keponakanku.
Bukannya aku membenci bekas teman-teman sedesa atau bahkan secara keseluruhan membenci Indonesia dan orang-orangnya...
Please deh, itu tidak benar sama sekali!
Bahkan, kalau saja bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku sangat menyukai mereka semua, merindukan Indonesia dalam setiap tarikan nafasku.... Selalu ada makanan enak setiap hari... cuaca yang ramah... Hidup santai... Banyak teman... Bisa bertelanjang kaki sepanjang hari... Tidak perlu pakaian rangkap tiga jike keluar... Matahari bersinar terang... Segala sesuatu murah meriah...
Ibarat pohon, Indonesia dan tradisi Jawa adalah akarku, dan akan selalu ada dalam jiwaku sampai kapanpun, dimanapun aku berada. Bangga bahwa aku berasal dari sana, dan tetap memilikinya.
Apapun yang terjadi, aku sudah cinta mati terhadap Indonesia dengan segala keindahannya maupun kekurangannya, tapi sekali lagi aku katakan, aku harus pergi meninggalkannya. Pahit memang, tapi memang benar seperti kata sang pujangga bahwa cinta tidak harus memiliki....
Apakah aku nanti akan bikin akun di Facebook lagi? Tentu saja! Tapi bukan akun personal, melainkan akun profesional, untuk promo.
Aku tidak mau lagi orang tahu kapan aku duduk manis di toilet... Kapan aku masak kari ayam... kapan Thomas akan datang apel... Dengar lagunya Katty Perry atau Lady Gaga... ke diskotik mana aku akan menghabiskan malam minggu....

Aku juga udah beberapa kali nutup account facebook-ku. Menurutku info2 yang ada di sana terlalu terbuka dan nggak aman. Aku close fitur wall, karena aku ga mau orang ngomong sembarangan di sana. Aku juga close profile ku dari grup big family, karena aku malas kalau mereka mulai bertanya2 kenapa aku interested in woman :D
BalasHapusMeskipun FB ku online, tapi aku udah ga pernah ublek2 lagi... Sabar ya djo...
Eke juga jeng angelina Bedjolie, dulu ada sahabat SMP yang akrab banget, tiba-tiba muncul di facebooku, komenter dia: "KAMU KOQ BISA DITERIMA UNIVERSITAS TOP ITU, AKU TIDAK PDHL KAN PINTERAN AKU WAKTU SMP!" Terus tau eke blm nikah dia bilang, "WAH TANDA2 MAU KIAMAT, KAMU HOMO YA!!... ihhh rese langsung eke hapus aja..bukan facebooknya, tapi kuhapus temenku itu dari daftar teman Facebook.... cekikikik.
BalasHapussegala sesuatu ada positif dan negatifnys.
BalasHapussimple as that.
Hahaha... ya gitu deh. Bisa bikin hidup ga nyaman juga FB. Lebih2x kalo kita orangnya suka punya lingkar privasi. Tp, ada juga sih temen yang emang pengen eksis gt, dia ga keberatan ga punya privasi hihi.. aneh emang.
BalasHapusFB gw juga ditutup tahun lalu. Tapi emang isinya cuman beberapa doang, dan bikinnya juga gara2x pengen main farmville xixixi...
Aih... Kasian deh kalian. ternyata banyak teman senasib-sepenanggungan ya...
BalasHapuspisau bakal tetep pisau, sampe ada orang membunuh pake pisau itu. maka pisau beribah jadi alat kejahatan :) FB juga begitu. Yang penting bijaksana. Kalo udah ganggu kesehatan jasmani dan rohani, ya ada baik nya d akhiri, ya toh??
BalasHapusIya iya iya setuju Soe, kesehatan rohaniku sudah terganggu gara-gara fesbuk. Aku gak mau ah pake pisau....
BalasHapus