Pulkam: Borobudur



Ini adalah kunjunganku yang ketiga ke candi Borobudur. Pertama waktu masih sekolah bersama teman-teman rombongan dharmawisata, kedua bersama Herbert pada saat dia melakukan ritual trip dan sekarang aku datang bersama Thomas.

Borobudur tetap berdiri megah meskipun saat itu areal stupa paling atas yang merupakan tempat yang paling spektakuler ditutup. Tidak ada penjelasan pasti, hanya ada papan pengumuman bahwa sedang ada perawatan. Dugaanku adalah karena areal itu sedang dibersihkan dengan sangat hati-hati dari debu vulkanik yang bisa menimbulkan korosi.

Dan Borobudur semakin nyaman karena pedagang acung yang bekerja disekitar situ tidak lagi agresif seperti dulu dimana dulu mereka benar-benar memaksa seseorang yang baru keluar dari areal candi untuk membeli barang dagangan mereka. Sekarang sudah tertib dan sopan, tak ada paksaan, jika orang bilang tidak pada mereka maka mereka mundur dengan teratur. Semua nyaman, semua senang...

Dari Sosrowijayan ke Borobudur sebenarnya orang bisa naik bis jurusan Magelang yang bisa dicari di terminal tapi waktu itu kami sedang pura-pura jadi orang kaya jadi kami menyewa mobil plus sopirnya seharga 200,000Rp.

Dalam perjalanan kami terhenyak akan batu-batu besar bahkan sebesar pos kamling dan bahkan ada yang lebih besar lagi terbawa oleh lahar dingin campur pasir berserakan dipinggir jalan disekitar sungai. Itu adalah hasil letusan gunung Merapi beberapa waktu lalu. Bagaimana kejadiannya ya? Suaranya itu lho, seperti apa ya? Sampai batu sebesar itu ikut meluncur turun...

Pulkam: Yogya Istimewa

Tentu saja di Yogyakarta aku mengajak Thomas menginap di daerah International Village Sosrowijayan yang letaknya berdekatan dengan gerbong keluar stasiun Tugu. Apakah aku nyasar? ya tentu saja, karena aku bukan orang Yogyakarta.

Jadi bagi yang ingin mencari jalan Sosrowijayan dari stasiun Tugu, harap diingat bahwa stasiun itu punya pintu keluar dua buah. Yang satu adalah pintu keluar dan satunya adalah pintu keluar yang sebenarnya. Untuk mencari pintu keluar yang sebenarnya ini harus melalui peron, sementara pintu keluar gadungan bisa dilewati melalui lorong sepanjang rel.

Dari peta di lonely planet aku harus berjalan ke arah kiri sedikit kemudian masuk jalan Malioboro dan dari situ jalan sedikit lagi sampai ada jalan Sosrowijayan.

Ya wes ikut... Tapi sayangnya kami keluar lewat pintu keluar gadungan itu tadi sehingga samasekali tidak sesuai dengan yang ada di peta sampai akhirnya aku kebingungan dan naik becak ke Sosrowijayan.

Hotel tujuanku penuh, seorang anak kecil membantu mencarikan hotel lain dan kami menyukai hotel Merapi seharga 150,000Rp per malam.

Sebenarnya tidak perlu bingung mencari tempat menginap di Sosrowijayan. Pokoknya sudah masuk International Village ini, orang bisa menemukan hotel dengan mudah, bahkan ada yang seharga 80,000Rp per malam lengkap dengan sarapan dan koneksi wi-fi semaunya.

Malam itu setelah makan di lesehan Malioboro kami duduk dan jalan-jalan di Malioboro. Thomas terpesona dengan batik dan membeli kemeja lengan pendek dua biji pada sebuah toko batik yang ada disitu.

Wah, Thomas pada saat mengenakan kemeja batik benar-benar terlihat seperti Ndoro Bagus-nya orang Yogya!

Paginya kami mengunjungi Sultan di Keraton tapi sayang sekali sedang tutup karena ada upacara sekaten, sekalian saja kami bergabung dengan orang-orang  melihat nasi tumpeng besar sekali yang diarak itu.

Terus, apakah kami terperdaya oleh rayuan tukang becak yang agresif itu untuk berkeliling kota seharga 10,000Rp tapi pada akhirnya dihentikan di salah satu butik batik mahal dan dipaksa untuk membeli? Tentu saja tidak, aku sudah tahu rumor ini sebelumnya dong...

Hal lain yang harus di waspadai di Malioboro dan sekitarnya adalah seseorang yang berbicara pada kita dijalan dengan mengatakan bahwa dia bisa mengantar kita melihat koleksi seni batik, atau sanggar batik official Yogya, kemudian jika mau, kita akan diantar kesana dan disana kita akan diperdayai dengan harga yang berlipat-lipat, bahkan beberapa turis melaporkan tindakan hampir pemerasan ini. Tidak ada toko batik official di Yogya, semua adalah batik, tulis dan cetak! Mereka beroperasi di sepanjang jalan Malioboro dan didepan gerbang keraton.

Didepan gerbang mereka akan bilang bahwa keraton sedang tutup dan sebagai gantinya dia bisa mengantar kita melihat-lihat koleksi batik asli. Aku sudah tahu dong ah, ini adalah rayuan gombal dan keraton tidak tutup pada jam kerja. Pintu keraton, seperti halnya stasiun tugu, ada dua! Satu keraton kecil dan satunya keraton yang besar itu.

Disekitar keraton juga banyak "orang-orang ramah" seperti ini yang mengikuti kita berjalan dan dengan sukarela menjelaskan apa saja layaknya seorang guide sukarela, kemudian bertanya pada Thomas dia berasal dari mana, lalu, "Oh, i have a brother in Germany, he lives in blah blah blah..." Katanya. Mereka juga ada maunya, pada akhirnya akan menyesatkan orang didepan pintu sebuah gallery batik mahal. Dan jika sudah masuk, tindakan pemaksaan untuk membeli terjadi.

Selama di Yogya kami menjumpai enam atau tujuh orang ramah-tamah yang puya saudara laki-laki bekerja di Jerman!

Ada yang lucu, kami sedang lihat-lihat batik di Malioboro, seseorang yang ramah dan punya saudara laki-laki di Jerman terus berbicara dan mengikuti kami padahal kami sudah mengacuhkannya tapi dia tetap mengikuti dan terus berbicara. Kami berpapasan dengan sepasang bule muda, mereka berhenti tepat didepan kami dan si cowok berbicara kepada kami dengan suara yang dibuat lantang, "Take care, he is a liar. Don't believe what he said!" Sambil menunjuk si orang ramah itu dengan menggoyangkan kepalanya.

"I knew already..." Jawabku berbarengan dengan Thomas, sama-sama lantangnya.

Empat orang tergelak membuat si ramah pergi begitu saja meninggalkan kami.

Tapi meskipun membingungkan, Yogya - seperti halnya Kuta - adalah kota kesukaanku. Aku akan datang dan datang lagi.

Dan meskipun banyak orang-orang ramah yang menjengkelkan itu, jika Thomas bertanya pada saat membeli sesuatu di pasar atau dipinggir jalan Malioboro, apakah benar harganya sudah bagus, aku akan menjawab 'iya', pura-pura ragu - pura-pura meneliti barangnya dulu tapi pada akhirnya mendorongnya untuk membeli. Aku tahu mereka sudah bekerja keras dengan jujur, punya keluarga dirumah yang harus dikasih makan dan tidak mencari untung terlalu tinggi. Dan Thomas tidak akan jatuh miskin dengan membayar ekstra 1 atau 2 euro untuk barang yang dibelinya.

Pulkam: Nyopir Bajaj

Hari terakhir di Jakarta kami akan melewatkannya di TMII tapi sayang sekali hujan sedang mengguyur Jakarta sampai mengakibatkan banjir bandang di jalan-jalan. Tentu saja tidak asik berhujan-hujanan sepanjang hari di taman. Untuk itu kami harus segera membikin plan B.

Sambil sarapan di warung  padang depan gang keluar kami rundingan. Aku mencari ide di lonely planet bab Jakarta dan kami sepakat untuk pergi ke aquarium di Ancol.

Jadi sekali lagi naik city train yang bagus dan adem itu dari stasiun Gondangdia ke Stasiun Kota. Kali ini ongkosnya 1000Rp. Terus dari Kota naik bajaj ke Ancol ongkosnya 50,000Rp. Jendelanya tidak bisa ditutup rapat jadi kami sdikit basah tapi untungnya hujan segera reda, cuma jalan-jalan jadi tergenang air sampai muncrat kesana-kemari. Suatu ketika pak sopir mengejar pengendara sepeda motor dan menangkapnya di lampu merah dan memarahinya karena menyalip dan menciprati kami dengan semena-mena. Yang dimarahi minta maaf dan mereka berdamai kembali.

Aku jadi terbengong-bengong melihat kanan-kiri jalan sempit itu, Thomas lebih parah lagi. Pak sopir membawa kami melewati jalan-jalan kecil di perkampungan Jakarta...
Aku pernah tinggal beberapa tahun di kota besar seperti Surabaya dan Denpasar tapi selama aku tinggal di kedua kota itu aku tidak pernah melihat kondisi kemiskinan seperti di perkampungan Jakarta itu. Iya, ternyata benar sekali; "Siapa suruh datang ke Jakarta?" kalau pada akhirnya mereka harus tinggal dalam kondisi seperti itu?

Sebentar kemudian bajaj keluar dari kampung dan melewati jalan yang besar lagi, berada di sepanjang pinggir sungai. Sungainya meluap jadi jalannya juga jadi sungai dan tentu saja bajaj macet karena mesinnya kemasukan air. Pak sopir membersihkannya tapi tetap tidak bisa bunyi lagi, sementara bajaj yang lain melaju dengan anggun silih berganti meninggalkan kami.

Pak sopir tanya apakah aku bisa mengendarai sepeda motor vespa, aku bilang tidak pernah. Terus dia memberikan kursus mengemudi bajaj kilat karena kalau mau bajajnya bisa jalan lagi aku harus nyupir bajaj sementara dia akan mendorongnya. Gas ada di setang kanan dan untuk ganti gigi letaknya di setang kiri, cuma perlu diputar naik sedikit.

Jadi aku pindah duduk kedepan, nyupir. Pak supir dorong bajaj dan Thomas tetap duduk ditempatnya. Setelah aku pikir laju bajaj mampu untuk menghidupkan mesin aku masuk ke gigi satu tapi tidak bisa jalan. Terus pak sopir dorong lagi dan pada saat dia memberi aba-aba aku masuk ke gigi satu lagi tapi tetap tersendat-sendat. Pak sopir dan Thomas serempak berteriak agar aku narik gas, ya wes aku gas sekencang-kencangnya naik turun, dan tentu saja bajaj melaju dengan kencang sekencang suara khasnya tring ting ting.... Thomas dan pak sopir berteriak-teriak lagi agar aku rem tapi aku tidak tahu dimana letaknya rem bajaj itu karena tidak ada dalam kursus mengemudi kilat tadi. Sementara Thomas mengawasi depan bajaj dan berteriak-teriak agar aku berhati-hati dan tidak menabrak sesuatu. Aku berteriak sekencang mungkin mengalahkan suara mesin bajaj bertanya dimana letaknya rem. Pak sopir juga menjawab sekencang mungkin dari belakang sambil mengejar laju bajaj dan aku melihatnya dari spion; "Pokoknya dibawah, kaki sebelah kanan, injak sajaaaaa....!"
Akupun mencari-cari dan sebentar kemudian menemukannya dan langsung aku injak rem. Hasilnya tentu saja bajaj bisa berhenti dengan bagus, mesin tetap hidup, pak supir nubruk bajaj dari belakang dan jidatnya Thomas benjol.

Kemudian pak sopir mengambil alih kemudi meskipun aku bilang bahwa aku bisa  menggantikannya dan dia boleh jadi penumpangnya. Tapi sayang sekali dia tidak mau.

Sebentar kemudian kami sampai di areal aquarium dan Thomas mengajak duduk sebentar untuk minum sesuatu setelah melakukan perjalanan panjang yang menegangkan, katanya.
Byuh, ternyata areal taman impian Jaya Ancol itu luas sekali ya?  Pastilah ini tempat yang bagus bagi warga Jakarta untuk menenangkan pikiran disela-sela kesibukan.
Dan koleksi didalam aquarium juga hebat. Baru kali itulah aku bisa melihat ikan-ikan besar benar-benar hidup. Ada ikan hiu yang besarnya lebih besar dari perahu jukung nelayan, ada ikan pari yang lebar sekali dan seperti terbang saja layaknya, ikan lain yang juga besar-besar, ikan yang panjang seperti ular, ular betulan, ikan-ikan kecil indah berwarna-warni, ikan besar bermuka jelek, penyu raksasa... Pokoknya semua orang harus datang kesana untuk menikmatinya! Ndak gaya rasanya kalau orang Indonesia seperti aku, dimana hidup dalam pulau yang dikelilingi lautan luas dengan kandungan bermacam-macam ikan luar biasa itu cuma mengenal ikan asin dan ikan pindang saja dalam hidupnya.

Puas menikmati ikan kami keluar. Menunggu hujan reda sebentar dan pergi ke pasar seni untuk beli payung. Tapi sayang sekali bayak kios yang tutup jadi pasar seninya tidak menarik. Disini kami mendapatkan kopi dan krupuk dan roti isi sesuatu.

Selanjutnya kata orang kami harus naik bemo didepan pintu keluar taman yang bisa ditemukan dibawah jalan tol untuk menuju stasiun Kota. Ongkosnya ternyata 10,000Rp seorang, lebih murah daripada naik bajaj tapi duduknya berdesak-desakan. Thomas harus duduk disamping pak sopir karena memenuhi tempat dibelakang.

Terus pulangnya naik city train dari stasiun Kota ke stasiun Gondangdia, dekatnya Jalan Jaksa. Keretanya sejuk, bagus dan bersih. Ongkosnya 1500Rp saja. Lha terus aku jadi berpikir, dimanakah kereta api Jakarta yang kata orang panas, kotor dan berbahaya itu? Itu cuma rumor, bukan?

Dibawah stasiun Gondangdia kami beli mie goreng Jawa yang rasanya enak sekali kemudian beli martabak pakai coklat setelahnya yang gerobaknya tepat disamping warung dadakan itu.

----------

Setelah puas menjadi orang Jakarta selama beberapa hari lengkap dengan bajaj, bemo dan monas, kami melanjutkan perjalanan ke timur. Tujuan kami adalah Yogyakarta (Bukan Jogjakarta, bukan?) naik kereta eksekutif intercity yang AC-nya terlalu dingin. Ongkosnya 360,000Rp untuk dua orang, mulainya dari stasiun Gambir tujuan stasiun Tugu Yogyakarta, ditempuh sekitar 7 jam.

Yogya asik lho, ada upacara sekaten waktu kami datang, Malioboro, Borobudur, wayang orang Ramayana... Kopernya Thomas sampai kembung berisi batik!

Pulkam: Jalan-jalan Jakarta

Hari pertama di Jakarta aku mengajak Thomas pergi ke tugu Monas, dilanjutkan ke Museum Nasional yang besarnya besar sekali kemudian dilanjutkan ke Kota Tua.

Dari Jalan Jaksa kami berjalan santai sambil melihat-lihat kesana-kemari. Thomas terbengong-bengong melihat banyaknya orang dijalan.
Wah, ternyata Tugu Monas yang merupakan 'the errection's symbol of Soekarno' itu tamannya luas sekali dan hijau.

Hari itu hari minggu dan taman dipenuhi oleh pelancong dari berbagai daerah di Indonesia numplek blek disekitar situ. Banyak juga yang berjualan macam-macam mulai dari es lilin, miniatur tugu monas sampai makanan berat. Ada pasarnya juga lho, tapi kami cuma beli air minum dingin beberapa kali saja.

Terus didepan gerbang masuk ada ondel-ondel sedang menari. Pokonya meriah, dan ternyata everybody love Thomas! Buktinya ada saja yang minta foto bareng dengan dia, aku tidak boleh ikut.

Dan karena memang pada dasarnya Thomas itu orangnya ramah, dia ya mau saja diajak foto-foto bareng. Pada akhirnya aku tidak mau kalah sama mereka, karena tidak boleh ikut foto jadi aku ikut mem-foto, ini diantaranya...




Acara dilanjutkan menuju Museum Nasional. Ini adalah museum yang sangat besar dengan koleksi menarik dari seluruh daerah di Indonesia. Bahkan ada manusia hobbit dari pulau flores itu.  Ada juga koleksi dari negara lain di Asia Tenggara. Tempat yang menarik untuk dikunjungi sekaligus untuk mendinginkan suhu tubuh setelah berpanas-panasan di taman Tugu Monas.




Setelah puas disitu meskipun kami tidak sampai mengunjungi semua ruangan karena saking besarnya museum ini, selanjutnya kami naik bajaj ke Batavia Kota Tua. 

Sopir bajajnya ugal-ugalan, menyelinap kesana-kemari diantara mobil-mobil dan ngebut sampai 60 km per jam.

Seperti di Kota Tua itulah sebenarnya suasana kota-kota di Eropa Barat. Ada sebuah quarter sebagai pusat kota dikelilingi oleh bangunan-bangunan disekitarnya. Dan waktu itu juga sedang penuh oleh pelancong sampai jalan-pun sulit. Ada yang naik sepeda kumbang, jalan-jalan menikmati suasana, makan-makan di warung dadakan...

Dan setelahnya kami masing-masing mendapatkan capuccino dan tiramisu dengan rasa yang sama atau hampir sama dengan di Jerman di kafe Batavia. Ada live music dan karena waktu itu adalah coffee time maka disitu banyak oma dan opa expatriat ngopi-ngopi cantik bersama teman-temannya.

Ada yang menarik disini. Pas didepan pissoar toilet pria yang sebenarnya cuma berbentuk selokan itu ada kaca cermin memenuhi dinding didepannya. Jadi jika sedang kencing orang bisa langsung melihat dirinya sendiri pada cermin tepat didepannya. Lirik ke kanan sedikit lihat punya tetangga, lirik kiri sedikit juga ketemu punya tetangga bergelantungan. Aku tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya yang mendasari ide desain ini.

Teus dari sini kami jalan kaki ke pasar Glodok. Sempat nyasar tapi akhirnya sampai juga, tapi sayang sudah sore jadi pasarnya tutup jadi kami pergi ke chinatown gang sembilan empat.

Pulang ke Jalan Jaksa naik bajaj lagi, kali ini sopirnya sopan di jalan, jadi Thomas kasih tips 2000Rp. Ongkosnya 50,000Rp.

Makan malam kami mendapatkannya di pusat hidangan Jalan Wahid Hasyim atau namanya seperti itu, merupakan jalan kecil yang berdekatan dengan jalan Jaksa. Bebas memilih dari banyak stand makanan disitu meskipun kebanyakan dari mereka menjual macam-macam ikan dan unggas bakar atau goreng.

Saat asik makan berdua datang dua orang bencong dandan seksi sekali berdandan menor. Yang satu bawa tape player dan satunya jogetan ngebor seperti Inul.

Selesai makan, malam masih panjang dan kami melewatkannya dengan orang-orang bergerombol sambil ngobrol didepan kafe Memory lagi. Tapi kami harus tidur sebelum tengah malam karena besoknya kami akan menghabiskan waktu sehari penuh di Taman Mini Indonesia Indah, yang merupakan miniatur kepulauan Indonesia yang di-ekstrak menjadi sebuah taman.

Pulkam: Jakarta, Kami Datang

Jakarta memang heboh! Bahkan aku sempat jadi sopir bajaj disini!

Akhirnya aku tiba di bandara Soetta jam sembilan pagi setelah semalam sebelumnya berkendara dari rumah ke bandara Juanda Surabaya, dilanjutkan dengan beberapa menit terbang.

Sementara Thomas menelponku bahwa dia masih di Singapura tadi pagi.

Aku segera keluar dari bandara naik bis damri ke stasiun Gambir setelah nyomot selembar city map di meja informasi, ongkosnya 20.000Rp kalau tidak salah, kemudian jalan kaki ke Jalan Jaksa untuk mencari kamar menginap. Dekat, cuma sekitar 20 menit jalan normal nenteng tas travel sambil tolah-toleh tanpa shopping. Rencananya kami akan tinggal selama 3 hari di ibukota.

Aku selalu suka jalan Jaksa. Dimana ini adalah meeting-point untuk para traveller untuk bertukar pengalaman dan berbagi tips selama atau akan di Indonesia dan suasana jalan Jaksa yang dibiarkan apa adanya itulah yang membuat jalan ini menarik; Warung-warung kecil tetap dibiarkan berdiri seenaknya di trotoar. Ada yang jualan pulsa, buku, makanan, krupuk, rokok, kopi, dan semua barang kebutuhan tapi tidak ada yang jual kartu pos, yang sebenarnya adalah kebutuhan pokok pertama para traveller setelah tiba di tempat. Bahkan ada yang menerima jahitan dipinggir jalan, sementara tepat dibelakangnya ada kafe dan restoran  dengan western style, baik dengan live musik maupun tidak. Sebuah perpaduan yang lucu sebenarnya, tapi bukankah itu unik? Sehingga para traveller ini bisa berbaur dengan sesuka hati tanpa rasa canggung dengan penduduk lokal.

Dan yang membuatku suka adalah, dekat dari mana-mana dan jalan Jaksa tidak  dikomersialkan seperti Kuta. Dan tidak ada yang menawarkan young girl atau 'the other' itu. Tetap norak dengan iluminasi lampu-lampu berwarna-warni yang bisa kelap-kelip. Pokoknya asik!

Singkat cerita pada sore hari aku kembali lagi ke bandara untuk menjemput Thomas dengan bis yang sama karena pak sopirnya bilang, "Lho, ketemu lagi..."

Tak berapa lama Tomas muncul dari pntu kedatangan, kami beramah-tamah sejenak sambil minum sari buah pada sebuah restoran di meeting-point bandara, kemudian naik bis (lagi dan lagi) menuju Jalan Jaksa.

Thomas menertawakan kamar seharga 150.000Rp yang aku dapatkan. Ini kamar pintu keluarnya langsung ke gang kecil, keluar gang menuju Jl. Kebon Sirih Barat I, keluar lagi ketemu Jalan Jaksa. Tapi kamarnya dengan toilet western lho, jadi Thomas tidak terlalu mengalami culture shock, ada AC-nya lagi. Dan dia terkesan dengan kabel listrik di kamar yang tidak ditanam didalam dinding melainkan menempel dari ujung ke ujung.

Malam itu kami akan pergi party ke salah satu club house di Jakarta karena orang bilang Jakarta is the wildest city and the Mecca for night life and clubbing in South East Asia tapi pada akhirnya setelah makan malam di salah satu warung tenda kami harus mengakui bahwa kami capek setelah melakukan perjalanan sehingga setelahnya kami cuma menghabiskan waktu berdua di kafe memory nonton live music sambil minum bir bintang lah ya, karena tidak ada minuman lain yang asik.

Eh, seru ternyata nongkrong disini sambil bersosialisasi dengan para pelancong dari seluruh penjuru dunia.


Postingan selanjutnya adalah tentang jalan-jalan ke Kota Tua, Museum Nasional dan Tugu Monas naik bajaj.
Hayo ngaku siapa yang belum pernah lihat pucuknya tugu Monas yang berlapis lembaran emas itu… Jangan kuatir, banyak fotonya.

Pulkam: Poppies Lane Memory

Setiap pulang kampung aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke Kuta. Setiap pergi ke Kuta aku selalu tinggal di Poppies Lane. Setiap tinggal di Poppies Lane aku selalu memilih akomodasi berkelas surfer-dudes style daripada luxurious-opas style.

Selalu ada sesuatu disitu, setidaknya bagiku. Banyak kenangan manis dan pahit disitu.

Sutralah, pokoknya Poppies Lane sekarang sudah terbebas dari drugs. Bahkan grup SLANK yang bikin lagu Poppies Lane Memory itu juga sudah jauh dari drugs. 

Begitulah, Kuta memang nggak ada matinya. Selalu ada yang menarik. Dan malam mingguku di Kuta juag bisa dibilang asik...

Aku sampai di Gang Sorga, Poppies sekitar jam 5 sore dalam keadaan basah kuyup. Kemudian langsung menuju hotel kecil langgananku tapi kamar sedang penuh, kemudian disarankan untuk ke accomodation Rempen. Harganya 130,000Rp per malam, tapi aku sangat amat tidak merekomendasikannya. Kamar mandinya adalah bencana! Kalau saja masih rapi dan kering, aku pasti cari hotel lain.

Sebenarnya aku naik taksi dari terminal Ubung tapi minta diturunkan didepan gang. Tidak tega rasanya menyuruh pak supir masuk gang sempit yang sudah macet itu. Itulah kenapa aku sampai basah kuyup kehujanan tapi air hujannya hangat, jadi sekalian saja main hujan-hujanan…

Makan malam pergi ke food center itu. Makan nasi goreng spesial dan apapun makannya, minumnya teh botol sosro dong…
Jadi aku harus ingat baik-baik bahwa kemanapun aku pergi di negeri ini, harus selalu minum apapun cuma yang berasal dari botol kemasan.

Terus jalan-jalan disekitar situ. D'ya know what? Setiap aku keluar gang, setiap masuk gang, dan berjalan ditrotoar sekitar situ pada saat hari sudah gelap selalu ada yang menyapa begini… "Transport…?" terus kalau aku menggeleng sambil jalan, dia bilang lagi, "Massage?" geleng lagi sambil jalan, dia bilang lagi, "Young girl…?" terus jalan maka dia bilang lagi, "Or do you like the others?" Dan aku akan menjawab sambil senyum, "Tidak, terimakasih…" Jawabannya adalah, "Murah mas…"

Selalu seperti itu.

Jadi, bagi cowok-cowok, mereka akan ditawari seperti itu kalau hari sudah gelap dan berjalan sendirian. Tidak perduli yang jalan cowok hetero atau cowok gay, asal ada batangnya pasti ditawari itu. Aku jadi penasaran, apa yang akan mereka tawarkan jika yang jalan sendirian adalah cewek?

Malam minggu aku menghabiskan waktu di Mixwell di jalan Dhyanapura. Itu lho, jalan kecil yang banyak kafe-nya. Aku celingak-celinguk kesana kemari melihat orang-orang sampai mataku ini seperti layaknya mata si liar jalang yang tidak pernah mendapatkan sex yang bagus dan menyenangkan dalam hidupnya, untuk mencari-cari siapa tahu ada teman lama yang clubbing, tapi aku tidak menemukan seorangpun dari mereka.

Jalan Dhyanapura sekarang sudah lain pengunjungnya. Banyak banci dandan yang melacur. Salah satu dari mereka merayuku dengan harga murah, katanya begitu. Tapi aku tidak tertarik lah ya… masak making sex pakai uang, seperti sudah tidak laku saja. Barulah setelah aku jawab pakai bahasa Indonesia dia mau 'melepasku' pergi.

Tapi jam satu dinihari aku sudah pulang ke kamar. Tidak enak clubbing sendiri.

Pagi hari cari sarapan. Aku selalu penasaran dengan apa yang akan aku temukan untuk dimakan. Tentu saja aku tidak mau makan di kafe, restoran dan hotel itu lah ya. Indonesian food dengan western taste? Tidak mau dong, itu rasa bohong, tidak orisinil, ngapusi. Aku mau rasa yang asli, yang rasanya lebih liar dan sedap, jadi pergi ke Jalan Raya Kuta, disana banyak warung maupun warung tenda dipinggir jalan, terutama pada sore hari.

Jadi pagi itu aku makan di warung padang. Saking senangnya sampai terlalu banyak milih lauk, sampai pakai piring tambahan dua biji.
Siangnya minum kopi ditemani cake di kafe oriental Maharaja di food center, Sambil lihat-lihat orang seksi lalu-lalang bertejanjang badan.
Malamnya makan sate kambing madura duapuluh biji plus nasi dan kuah gule di jalan raya Kuta lagi.

Terus tengah malam sebelum pergi ke Sky Garden perut mulas, pasti kena traveller-diarrhea. Tapi aku bawa kapsel manjur made in Germany, jadi mulesnya langsung hilang dan pergi party ke sky garden longue setelah Thomas nelpon.

Heboh lho bok, itu adalah club house empat lantai! Paling bawah untuk kafe, atasnya untuk musik pop disco, atasnya untuk techno dan dibatasi dinding kaca untuk musik R&B dan black music lainnya, terus atasnya lagi untuk VIP member only. Bar-nya banyak, tidak perlu kuatir mati kehausan. Dan tentu saja seperti kebanyakan entertainment clubs lainnya di Kuta, club house ini sebenarnya juga Aussie themed. DJ's dari Aussie, clubber-nya juga, harga minuman juga, cuma waitress, bartenders dan sekurities saja orang lokal.

Tapi asik, coba saja mampir kalau pergi liburan ke Kuta.

Pulkam: Undangan Kenduri

Aku sedang tinggal di desa dan sudah tebar pesona kesana-kemari mengunjungi tetangga dan teman-teman untuk secara tidak langsung mengatakan bahwa aku hidup bersama mereka lagi selama beberapa minggu.

"Aih, kulitnya kok putih pucat ´gitu… Rambutnya kayak supermi yoBeh, Bedjo gayane kayak wong bule rek… Ah, dari dulu kamu itu ndak ada diem-nya, mbok ya tinggal di desa saja, nemani emakmu… Byuuuh, kok pakai giwang kanan-kiri sih bok, mbok ya di kiri saja… Eh, kok masih lancar bahasa Jawa, itu si Amin dua tahun jadi TKI ke Saudi sudah ndak bisa bahasa Jawa lagi, aneh yo… Lho, kok pulang sendiri, pasangannya mana?"

Hihi… Aku cuma cengar-cengir saja ditanya seperti itu, "Aku belum nikah, tapi dua minggu lagi temanku nyusul, nanti tak kenalin yo…"

"Cewek bule ya?"

"Bukaaaaan… Cowok!!!"

Begitulah!

Terus… Berita kedatanganku cepat menyebar. Pokonya yang datang ke rumah aku kasih coklat, yang tidak datang tidak kebagian.

Nah, kemarin malam salah satu tetanggaku mengundangku untuk kenduri di rumahnya karena anak perempuannya yang dulu waktu aku pergi adalah masih menjadi seorang kembang desa culun nan lugu itu sekarang sudah menikah dengan anaknya juragan kopi dari desa sebelah dan sedang merayakan sepasaran anak pertamanya. Sepasaran adalah selamatan Jawa untuk anak yang baru lahir, mungkin setelah anak berumur empat minggu atau seumuran itu, terus nanti anaknya dibawa keliling-keliling dipamerkan ke para undangan dan rambutnya dipotong sedikit, agar hidupnya diberkati. Pokoknya syaratnya harus begitu, anaknya dibawa keliling dan rambutnya harus dipotong sedikit. Jangan tanya kenapa, tapi memang begitulah seharusnya!

I love kenduri! Disini orang desa bisa saling bertemu setelah maghrib, makan bersama menggunakan tangan (bukan dengan sendok-garpu, apalagi pisau) dalam wadah yang besar, ada ayam utuhnya… Ada serundeng… ada sayur urap-urap… Rempeyek... Duduknya diatas tikar melingkari nasi tumpeng itu tadi.

Terus acaranya pakai pengajian, baca surat Yasin. Itu sih kecil, aku lancar baca, bahkan masih hafal sedikit-sedikit karena dulu waktu masih hidup di desa aku ikut kelompok yasinan tiap malam jumat. 

Setelah yasinan ada acara nyanyi-nyanyi lagu pujian bersahut-sahutan. Disini aku benar-benar mati gaya, karena dulu aku tidak ikut acara ini, jadi tidak bisa ikut nyanyi dan tidak kenal lagu-lagunya. Dan acara ini lama sekali. Aku cuma bisa diam sementara yang lain menyanyi sekencang-kencangnya dengan percaya diri.

Setelah capek nyanyi-nyanyi acara selanjutnya ya kenduri itu tadi; ada ayam utuhnya… ada serundengnya… ada apa saja!

Sambil makan sambil ngobrol-ngobrol, dan semua orang penasaran dengan apa yang aku lakukan di Jerman dan bertanya kenapa Herbert tidak ikut. Ya aku jawab saja bahwa dia sudah tidak mau lagi naik pesawat jauh-jauh dan sedang tidak cuti.

Ada yang bertanya apakah aku sudah bertemu Kurt, aku malah bilang bahwa aku tidak tahu kalau dia sedang di desa. Kurt adalah cowok Jerman yang memilih tinggal di desa kami dan menikah dengan kerabatku (Catatan; Kerabatku adalah cewek). Pasangan ini selalu hilir mudik kesana kemari karena kerabatku itu sampai sekarang cuma dapat visa turis tiga bulanan di Jerman, karena mereka cuma menikah disini. Kami belum pernah bertemu hanya bertelpon saja jika pasangan ini sedang ada di Jerman.

Begitulah caraku me-reboot otakku. Aku benar-benar hidup seperti dulu lagi dengan mereka, berpura-pura kepada diriku sendiri bahwa aku akan hidup dengan cara beripikir sederhana seperti mereka, dan aku suka ini. Tapi empat minggu saja ya, kalau selamanya… Oh tidaaaaak…!!!

Pulkam: Perjalanan Panjang Berliku

Ah ah... Aku terlalu asik makan sayur lodeh pakai ikan asin sampai lupa update blog. Sebenarnya tiap malam aku tetap nulis lho, seperti layakna dulu selalu nulis buku harian sebelum tidur. Dan sekarang buku hariannya sudah dalam bentuk blog. Jadi, mumpung ke warnet, aku upload semua yang sudah aku alami disini, cerita-cerita agar tidak lupa. Jadi update pertama setelah tidak terkoneksi berhari-hari adalah cerita penerbangan, dilanjutkan dengan cerita sana-sini. Oh iya, ini aku sedang bermalam-mingguan di Kuta, masih malas pulang ke Jawa, besok saja.



Hamburg Airport
Thomas bisa mengantarkan aku pulang kampung hanya sampai di depan pintu Custom bandara Hamburg.

Aku berjalan melewati pintu keamanan bandara. Disitu aku harus kembali dua kali melewati pintu karena selalu perbunyi 'pip'.

Setelah terbebas dari pintu itu aku melanjutkan perjalanan mencari pintu pemeriksaan visa dan pintu nomor gate penerbanganku. Aku masih melihat Thomas mengawasiku dibalik dinding kaca, aku melambaikan tangan padanya sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.

Perjalanan dari Hamburg ke Istanbul selama 3 jam benar-benar menyiksa. Pas didepanku ada pasangan membawa bayi mungil yang menangis sepanjang waktu. Aku tudak tahu lagi dimana iPod penyumbat kuping itu. Dan penerbangan lokal ini tidak punya screen didepan seat dan earphone!

Di Istanbul siksaan belum berhenti. Di tiketku aku harus menuju gate 299 yang letaknya di ujung kiri lorong masuk. Sampai sana yang ada malah penerbangan menuju Bangkok, dan setelah melihat layar jadwal penerbangan, pintu gate pesawatku ada di nomor 209 yang letaknya di ujung kanan koridor masuk. Aku cuma punya waktu 10 menit.

Asyem…! Harus lari sekencang-kencangnya digandoli oleh tas punggung laptop dan tas cangklong kamera.

Dan aku adalah orang terakhir yang memasuki pintu pesawat!

Well, setidaknya aku punya seat yang lebih longgar dari pesawat lokal sebelumnya. Dan aku bisa tidur nyenyak setelah makan malam dilanjutkan dengan sebotol kecil red wine.

Ada beberapa film bagus tersedia. Tapi aku tidak tertarik untuk menontonnya. Aku cuma menonton sekilas film pendek tentang pembangunan the great mosque di Dubai dan itu benar-benar 'great'!
Selebihnya aku membaca novel kriminal 'Die Bibel der Toten' diselingi oleh dua kali makan, jalan-jalan sebentar dilorong dan duduk manis sekilas di toilet.

Turkish Airlines harus berhenti sebentar di Singapur untuk menaik-turunkan penumpang, bongkar bagasi, bersih-bersih dan mungkin juga ngisi bahan bakar.
Aku menggunakan waktu untuk pergi ke smooking room di bandara.

And welcome to Asia!

Singapura ternyata berwarna-warni! Tidak diisi oleh wajah-wajah dingin pucat pasi seperti di bandara Hamburg itu. I felt Asia's smile here!
Para pegawai bandara yang berasal dari mana-mana… Ada yang bermata sipit itu… ada yang berhidung mancung dengan kulit gelap itu… Ada yang berkulit lebih gelap lagi itu… ada yang berhidung pesek dan berkulit coklat itu… Benar-benar The color of Asia…!

Terbang sesaat lagi dengan pesawat yang sama, kali ini aku memilih cake dan kopi untuk makan siang dan sebentar kemudian setelah selesai makan… Oh! Bukankah aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku mencintai negeri ini? Disana-sini aku melihat gumpalan mendung kecil tapi gugusan pulau-pulau kecil itu sangat jelas terlihat. Sekali lagi aku merasa beruntung bahwa aku berasal dari sini.

I welcomed myself to Jakarta!

Lihatlah, alangkah indahnya dunia ini! Terlihat jernih dan terang benderang. Itu adalah sesaat menjelang senja, tetapi aku bisa melihat dengan jelas kemana-mana. Tidak ada kabut dan tidak berwarna kelabu. Udara hangat dan nyaman. Alam sedang tersenyum kepadaku!

Bahkan orang pertama yang mengajakku bicara juga tersenyum kepadaku! Dia adalah pegawai yang memeriksa dan kasih stempel di paspor. Bahkan kami beramah-tamah sesaat! bayangkan, apakah kalian bisa menemukan ini di Hamburg?
Dia berkata ringan bahwa sepertinya aku punya paspor baru dan aku membenarkannya karena pasporku masih mulus tanpa stempel kedatangan dan keberangkatan, juga cuma ada sebuah visa disitu.
Kemudian karena dibelakangku tidak ada orang maka obrolan ramah tamah itu berlanjut; aku kok punya nama tambahan di visa Jerman. Kerja apa, berapa lama tinggal di Jerman, bagaimana bisa punya visa tanpa batas waktu berlakunya…
Dan sesaat kemudian aku menyudahinya untuk menunggu koperku yang berisi wajan anti lengket made in Germany itu!

Uang! Aku perlu rupiah sekarang! Di dompet cuma ada selembar 50€ yang merupakan uang saku dari emaknya Thomas waktu aku pamitan kemarin dan beberapa uang koin.

Tiga mesin ATM menolak kartu kreditku. Transaksi tidak bisa di proses! Padahal disitu ada logo MasterCard.
Yaoloooo... alangkah menggemaskannya hidup ini! Lihatlah, aku masih di Jakarta, tidak punya sanak saudara disini, dan aku harus beli tiket untuk terbang lagi ke Surabaya, dan aku tidak punya rupiah…

Usaha terakhir sebelum aku menukar uang jimat dari emaknya Thomas itu…

Tanpa berdoa dan tanpa merapal mantra aku masuk ke mesinnya BNI. Oh! Ternyata rupiahnya bisa keluar! Tapi maksimum cuma dua juta rupiah… Ya wes, cukup untuk beberapa hari kedepan…

Akhirnya merpati kasih harga 560.000Rp untuk kasih tempat duduk pada penerbangan ke Surabaya belum termasuk pajak airport.

Terminal keberangkatan Cengkareng bagus ya? Seperti rumah joglo, banyak ukiran di dindingnya. Tapi lantainya kok berwarna terlalu gelap ya? Ah, sutralah, pokoknya bandaranya terasa Indonesia - atau lebih tepatnya - Jawa banget!

Sebentar to… sambil nunggu aku beli kopi harganya 20.000Rp secangkir dan air minum kemasan kecil 6000Rp. Hitung-hitung kasar… Apakah Indonesia sudah menjadi sedemikian mahal seperti Jerman? Lalu bagaimana adikku bisa hidup dengan dua juta rupiah perbulan sebagai karyawan fresh-graduate? Sepertinya dia harus segera diseret ke Jerman. Wong di Jerman orang kerja sebagai tenaga pembersih bangunan tanpa pendidikan digaji dengan 5 atau 7€ per jam kok…

Aku nelpon adikku, ternyata providerku Telekom.de mengalihkanku ke Indosat dan aku tidak bisa menelpon, cuma sms. Padahal sebelum berangkat sudah isi pulsa 30€ lho...

Akhirnya setelah kami bertemu di meeting point Juanda dia menjelaskan bahwa dia bisa menerima sms-ku tapi tidak bisa membalasnya. Dan yang lebih kacau lagi, waktu yang dipakai untuk pengiriman sms itu adalah waktu Jerman…

Jadi dia berangkat ke bandara seperti orang linglung, sementara di pesawat aku sudah sibuk membuka-buka lonely planet pada bab kota Surabaya untuk cari hotel.

Belum apa-apa kami sudah ngakak duluan sampai orang-orang bengong melihat kami...

Selanjutnya kami naik taksi menuju terminal bis Purabaya atau bernama seperti itu dan aku harus berkendara 6 jam lagi. Dan sekarang aku sudah ada disebuah desa kecil yang jauh dari mana-mana bersama keluargaku nun jauh di ujung timur pulau Jawa. Me-reboot otakku yang sudah terlalu penat.