Pulkam: Borobudur



Ini adalah kunjunganku yang ketiga ke candi Borobudur. Pertama waktu masih sekolah bersama teman-teman rombongan dharmawisata, kedua bersama Herbert pada saat dia melakukan ritual trip dan sekarang aku datang bersama Thomas.

Borobudur tetap berdiri megah meskipun saat itu areal stupa paling atas yang merupakan tempat yang paling spektakuler ditutup. Tidak ada penjelasan pasti, hanya ada papan pengumuman bahwa sedang ada perawatan. Dugaanku adalah karena areal itu sedang dibersihkan dengan sangat hati-hati dari debu vulkanik yang bisa menimbulkan korosi.

Dan Borobudur semakin nyaman karena pedagang acung yang bekerja disekitar situ tidak lagi agresif seperti dulu dimana dulu mereka benar-benar memaksa seseorang yang baru keluar dari areal candi untuk membeli barang dagangan mereka. Sekarang sudah tertib dan sopan, tak ada paksaan, jika orang bilang tidak pada mereka maka mereka mundur dengan teratur. Semua nyaman, semua senang...

Dari Sosrowijayan ke Borobudur sebenarnya orang bisa naik bis jurusan Magelang yang bisa dicari di terminal tapi waktu itu kami sedang pura-pura jadi orang kaya jadi kami menyewa mobil plus sopirnya seharga 200,000Rp.

Dalam perjalanan kami terhenyak akan batu-batu besar bahkan sebesar pos kamling dan bahkan ada yang lebih besar lagi terbawa oleh lahar dingin campur pasir berserakan dipinggir jalan disekitar sungai. Itu adalah hasil letusan gunung Merapi beberapa waktu lalu. Bagaimana kejadiannya ya? Suaranya itu lho, seperti apa ya? Sampai batu sebesar itu ikut meluncur turun...

No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)