Pulkam: Jakarta, Kami Datang

Jakarta memang heboh! Bahkan aku sempat jadi sopir bajaj disini!

Akhirnya aku tiba di bandara Soetta jam sembilan pagi setelah semalam sebelumnya berkendara dari rumah ke bandara Juanda Surabaya, dilanjutkan dengan beberapa menit terbang.

Sementara Thomas menelponku bahwa dia masih di Singapura tadi pagi.

Aku segera keluar dari bandara naik bis damri ke stasiun Gambir setelah nyomot selembar city map di meja informasi, ongkosnya 20.000Rp kalau tidak salah, kemudian jalan kaki ke Jalan Jaksa untuk mencari kamar menginap. Dekat, cuma sekitar 20 menit jalan normal nenteng tas travel sambil tolah-toleh tanpa shopping. Rencananya kami akan tinggal selama 3 hari di ibukota.

Aku selalu suka jalan Jaksa. Dimana ini adalah meeting-point untuk para traveller untuk bertukar pengalaman dan berbagi tips selama atau akan di Indonesia dan suasana jalan Jaksa yang dibiarkan apa adanya itulah yang membuat jalan ini menarik; Warung-warung kecil tetap dibiarkan berdiri seenaknya di trotoar. Ada yang jualan pulsa, buku, makanan, krupuk, rokok, kopi, dan semua barang kebutuhan tapi tidak ada yang jual kartu pos, yang sebenarnya adalah kebutuhan pokok pertama para traveller setelah tiba di tempat. Bahkan ada yang menerima jahitan dipinggir jalan, sementara tepat dibelakangnya ada kafe dan restoran  dengan western style, baik dengan live musik maupun tidak. Sebuah perpaduan yang lucu sebenarnya, tapi bukankah itu unik? Sehingga para traveller ini bisa berbaur dengan sesuka hati tanpa rasa canggung dengan penduduk lokal.

Dan yang membuatku suka adalah, dekat dari mana-mana dan jalan Jaksa tidak  dikomersialkan seperti Kuta. Dan tidak ada yang menawarkan young girl atau 'the other' itu. Tetap norak dengan iluminasi lampu-lampu berwarna-warni yang bisa kelap-kelip. Pokoknya asik!

Singkat cerita pada sore hari aku kembali lagi ke bandara untuk menjemput Thomas dengan bis yang sama karena pak sopirnya bilang, "Lho, ketemu lagi..."

Tak berapa lama Tomas muncul dari pntu kedatangan, kami beramah-tamah sejenak sambil minum sari buah pada sebuah restoran di meeting-point bandara, kemudian naik bis (lagi dan lagi) menuju Jalan Jaksa.

Thomas menertawakan kamar seharga 150.000Rp yang aku dapatkan. Ini kamar pintu keluarnya langsung ke gang kecil, keluar gang menuju Jl. Kebon Sirih Barat I, keluar lagi ketemu Jalan Jaksa. Tapi kamarnya dengan toilet western lho, jadi Thomas tidak terlalu mengalami culture shock, ada AC-nya lagi. Dan dia terkesan dengan kabel listrik di kamar yang tidak ditanam didalam dinding melainkan menempel dari ujung ke ujung.

Malam itu kami akan pergi party ke salah satu club house di Jakarta karena orang bilang Jakarta is the wildest city and the Mecca for night life and clubbing in South East Asia tapi pada akhirnya setelah makan malam di salah satu warung tenda kami harus mengakui bahwa kami capek setelah melakukan perjalanan sehingga setelahnya kami cuma menghabiskan waktu berdua di kafe memory nonton live music sambil minum bir bintang lah ya, karena tidak ada minuman lain yang asik.

Eh, seru ternyata nongkrong disini sambil bersosialisasi dengan para pelancong dari seluruh penjuru dunia.


Postingan selanjutnya adalah tentang jalan-jalan ke Kota Tua, Museum Nasional dan Tugu Monas naik bajaj.
Hayo ngaku siapa yang belum pernah lihat pucuknya tugu Monas yang berlapis lembaran emas itu… Jangan kuatir, banyak fotonya.

1 comment:

  1. Welcome to Jakarta, Djo dan Thomas. Have fun yaaah...

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)