Pulkam: Jalan-jalan Jakarta

Hari pertama di Jakarta aku mengajak Thomas pergi ke tugu Monas, dilanjutkan ke Museum Nasional yang besarnya besar sekali kemudian dilanjutkan ke Kota Tua.

Dari Jalan Jaksa kami berjalan santai sambil melihat-lihat kesana-kemari. Thomas terbengong-bengong melihat banyaknya orang dijalan.
Wah, ternyata Tugu Monas yang merupakan 'the errection's symbol of Soekarno' itu tamannya luas sekali dan hijau.

Hari itu hari minggu dan taman dipenuhi oleh pelancong dari berbagai daerah di Indonesia numplek blek disekitar situ. Banyak juga yang berjualan macam-macam mulai dari es lilin, miniatur tugu monas sampai makanan berat. Ada pasarnya juga lho, tapi kami cuma beli air minum dingin beberapa kali saja.

Terus didepan gerbang masuk ada ondel-ondel sedang menari. Pokonya meriah, dan ternyata everybody love Thomas! Buktinya ada saja yang minta foto bareng dengan dia, aku tidak boleh ikut.

Dan karena memang pada dasarnya Thomas itu orangnya ramah, dia ya mau saja diajak foto-foto bareng. Pada akhirnya aku tidak mau kalah sama mereka, karena tidak boleh ikut foto jadi aku ikut mem-foto, ini diantaranya...




Acara dilanjutkan menuju Museum Nasional. Ini adalah museum yang sangat besar dengan koleksi menarik dari seluruh daerah di Indonesia. Bahkan ada manusia hobbit dari pulau flores itu.  Ada juga koleksi dari negara lain di Asia Tenggara. Tempat yang menarik untuk dikunjungi sekaligus untuk mendinginkan suhu tubuh setelah berpanas-panasan di taman Tugu Monas.




Setelah puas disitu meskipun kami tidak sampai mengunjungi semua ruangan karena saking besarnya museum ini, selanjutnya kami naik bajaj ke Batavia Kota Tua. 

Sopir bajajnya ugal-ugalan, menyelinap kesana-kemari diantara mobil-mobil dan ngebut sampai 60 km per jam.

Seperti di Kota Tua itulah sebenarnya suasana kota-kota di Eropa Barat. Ada sebuah quarter sebagai pusat kota dikelilingi oleh bangunan-bangunan disekitarnya. Dan waktu itu juga sedang penuh oleh pelancong sampai jalan-pun sulit. Ada yang naik sepeda kumbang, jalan-jalan menikmati suasana, makan-makan di warung dadakan...

Dan setelahnya kami masing-masing mendapatkan capuccino dan tiramisu dengan rasa yang sama atau hampir sama dengan di Jerman di kafe Batavia. Ada live music dan karena waktu itu adalah coffee time maka disitu banyak oma dan opa expatriat ngopi-ngopi cantik bersama teman-temannya.

Ada yang menarik disini. Pas didepan pissoar toilet pria yang sebenarnya cuma berbentuk selokan itu ada kaca cermin memenuhi dinding didepannya. Jadi jika sedang kencing orang bisa langsung melihat dirinya sendiri pada cermin tepat didepannya. Lirik ke kanan sedikit lihat punya tetangga, lirik kiri sedikit juga ketemu punya tetangga bergelantungan. Aku tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya yang mendasari ide desain ini.

Teus dari sini kami jalan kaki ke pasar Glodok. Sempat nyasar tapi akhirnya sampai juga, tapi sayang sudah sore jadi pasarnya tutup jadi kami pergi ke chinatown gang sembilan empat.

Pulang ke Jalan Jaksa naik bajaj lagi, kali ini sopirnya sopan di jalan, jadi Thomas kasih tips 2000Rp. Ongkosnya 50,000Rp.

Makan malam kami mendapatkannya di pusat hidangan Jalan Wahid Hasyim atau namanya seperti itu, merupakan jalan kecil yang berdekatan dengan jalan Jaksa. Bebas memilih dari banyak stand makanan disitu meskipun kebanyakan dari mereka menjual macam-macam ikan dan unggas bakar atau goreng.

Saat asik makan berdua datang dua orang bencong dandan seksi sekali berdandan menor. Yang satu bawa tape player dan satunya jogetan ngebor seperti Inul.

Selesai makan, malam masih panjang dan kami melewatkannya dengan orang-orang bergerombol sambil ngobrol didepan kafe Memory lagi. Tapi kami harus tidur sebelum tengah malam karena besoknya kami akan menghabiskan waktu sehari penuh di Taman Mini Indonesia Indah, yang merupakan miniatur kepulauan Indonesia yang di-ekstrak menjadi sebuah taman.

1 comment:

  1. dasar nakal ya, ke museum cuma motret patung gituan doang wkwkwkwkwk...

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)