Pulkam: Nyopir Bajaj

Hari terakhir di Jakarta kami akan melewatkannya di TMII tapi sayang sekali hujan sedang mengguyur Jakarta sampai mengakibatkan banjir bandang di jalan-jalan. Tentu saja tidak asik berhujan-hujanan sepanjang hari di taman. Untuk itu kami harus segera membikin plan B.

Sambil sarapan di warung  padang depan gang keluar kami rundingan. Aku mencari ide di lonely planet bab Jakarta dan kami sepakat untuk pergi ke aquarium di Ancol.

Jadi sekali lagi naik city train yang bagus dan adem itu dari stasiun Gondangdia ke Stasiun Kota. Kali ini ongkosnya 1000Rp. Terus dari Kota naik bajaj ke Ancol ongkosnya 50,000Rp. Jendelanya tidak bisa ditutup rapat jadi kami sdikit basah tapi untungnya hujan segera reda, cuma jalan-jalan jadi tergenang air sampai muncrat kesana-kemari. Suatu ketika pak sopir mengejar pengendara sepeda motor dan menangkapnya di lampu merah dan memarahinya karena menyalip dan menciprati kami dengan semena-mena. Yang dimarahi minta maaf dan mereka berdamai kembali.

Aku jadi terbengong-bengong melihat kanan-kiri jalan sempit itu, Thomas lebih parah lagi. Pak sopir membawa kami melewati jalan-jalan kecil di perkampungan Jakarta...
Aku pernah tinggal beberapa tahun di kota besar seperti Surabaya dan Denpasar tapi selama aku tinggal di kedua kota itu aku tidak pernah melihat kondisi kemiskinan seperti di perkampungan Jakarta itu. Iya, ternyata benar sekali; "Siapa suruh datang ke Jakarta?" kalau pada akhirnya mereka harus tinggal dalam kondisi seperti itu?

Sebentar kemudian bajaj keluar dari kampung dan melewati jalan yang besar lagi, berada di sepanjang pinggir sungai. Sungainya meluap jadi jalannya juga jadi sungai dan tentu saja bajaj macet karena mesinnya kemasukan air. Pak sopir membersihkannya tapi tetap tidak bisa bunyi lagi, sementara bajaj yang lain melaju dengan anggun silih berganti meninggalkan kami.

Pak sopir tanya apakah aku bisa mengendarai sepeda motor vespa, aku bilang tidak pernah. Terus dia memberikan kursus mengemudi bajaj kilat karena kalau mau bajajnya bisa jalan lagi aku harus nyupir bajaj sementara dia akan mendorongnya. Gas ada di setang kanan dan untuk ganti gigi letaknya di setang kiri, cuma perlu diputar naik sedikit.

Jadi aku pindah duduk kedepan, nyupir. Pak supir dorong bajaj dan Thomas tetap duduk ditempatnya. Setelah aku pikir laju bajaj mampu untuk menghidupkan mesin aku masuk ke gigi satu tapi tidak bisa jalan. Terus pak sopir dorong lagi dan pada saat dia memberi aba-aba aku masuk ke gigi satu lagi tapi tetap tersendat-sendat. Pak sopir dan Thomas serempak berteriak agar aku narik gas, ya wes aku gas sekencang-kencangnya naik turun, dan tentu saja bajaj melaju dengan kencang sekencang suara khasnya tring ting ting.... Thomas dan pak sopir berteriak-teriak lagi agar aku rem tapi aku tidak tahu dimana letaknya rem bajaj itu karena tidak ada dalam kursus mengemudi kilat tadi. Sementara Thomas mengawasi depan bajaj dan berteriak-teriak agar aku berhati-hati dan tidak menabrak sesuatu. Aku berteriak sekencang mungkin mengalahkan suara mesin bajaj bertanya dimana letaknya rem. Pak sopir juga menjawab sekencang mungkin dari belakang sambil mengejar laju bajaj dan aku melihatnya dari spion; "Pokoknya dibawah, kaki sebelah kanan, injak sajaaaaa....!"
Akupun mencari-cari dan sebentar kemudian menemukannya dan langsung aku injak rem. Hasilnya tentu saja bajaj bisa berhenti dengan bagus, mesin tetap hidup, pak supir nubruk bajaj dari belakang dan jidatnya Thomas benjol.

Kemudian pak sopir mengambil alih kemudi meskipun aku bilang bahwa aku bisa  menggantikannya dan dia boleh jadi penumpangnya. Tapi sayang sekali dia tidak mau.

Sebentar kemudian kami sampai di areal aquarium dan Thomas mengajak duduk sebentar untuk minum sesuatu setelah melakukan perjalanan panjang yang menegangkan, katanya.
Byuh, ternyata areal taman impian Jaya Ancol itu luas sekali ya?  Pastilah ini tempat yang bagus bagi warga Jakarta untuk menenangkan pikiran disela-sela kesibukan.
Dan koleksi didalam aquarium juga hebat. Baru kali itulah aku bisa melihat ikan-ikan besar benar-benar hidup. Ada ikan hiu yang besarnya lebih besar dari perahu jukung nelayan, ada ikan pari yang lebar sekali dan seperti terbang saja layaknya, ikan lain yang juga besar-besar, ikan yang panjang seperti ular, ular betulan, ikan-ikan kecil indah berwarna-warni, ikan besar bermuka jelek, penyu raksasa... Pokoknya semua orang harus datang kesana untuk menikmatinya! Ndak gaya rasanya kalau orang Indonesia seperti aku, dimana hidup dalam pulau yang dikelilingi lautan luas dengan kandungan bermacam-macam ikan luar biasa itu cuma mengenal ikan asin dan ikan pindang saja dalam hidupnya.

Puas menikmati ikan kami keluar. Menunggu hujan reda sebentar dan pergi ke pasar seni untuk beli payung. Tapi sayang sekali bayak kios yang tutup jadi pasar seninya tidak menarik. Disini kami mendapatkan kopi dan krupuk dan roti isi sesuatu.

Selanjutnya kata orang kami harus naik bemo didepan pintu keluar taman yang bisa ditemukan dibawah jalan tol untuk menuju stasiun Kota. Ongkosnya ternyata 10,000Rp seorang, lebih murah daripada naik bajaj tapi duduknya berdesak-desakan. Thomas harus duduk disamping pak sopir karena memenuhi tempat dibelakang.

Terus pulangnya naik city train dari stasiun Kota ke stasiun Gondangdia, dekatnya Jalan Jaksa. Keretanya sejuk, bagus dan bersih. Ongkosnya 1500Rp saja. Lha terus aku jadi berpikir, dimanakah kereta api Jakarta yang kata orang panas, kotor dan berbahaya itu? Itu cuma rumor, bukan?

Dibawah stasiun Gondangdia kami beli mie goreng Jawa yang rasanya enak sekali kemudian beli martabak pakai coklat setelahnya yang gerobaknya tepat disamping warung dadakan itu.

----------

Setelah puas menjadi orang Jakarta selama beberapa hari lengkap dengan bajaj, bemo dan monas, kami melanjutkan perjalanan ke timur. Tujuan kami adalah Yogyakarta (Bukan Jogjakarta, bukan?) naik kereta eksekutif intercity yang AC-nya terlalu dingin. Ongkosnya 360,000Rp untuk dua orang, mulainya dari stasiun Gambir tujuan stasiun Tugu Yogyakarta, ditempuh sekitar 7 jam.

Yogya asik lho, ada upacara sekaten waktu kami datang, Malioboro, Borobudur, wayang orang Ramayana... Kopernya Thomas sampai kembung berisi batik!

2 comments:

  1. Seruuuuuuuuuuuuuuuu..... hiks hiks.. lain kali ikutan ah.. (lho). Xixixixi

    ReplyDelete
  2. hahahaha... ketawa ngakak yang bagian nyetir bajaj...

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)