Pulkam: Perjalanan Panjang Berliku

Ah ah... Aku terlalu asik makan sayur lodeh pakai ikan asin sampai lupa update blog. Sebenarnya tiap malam aku tetap nulis lho, seperti layakna dulu selalu nulis buku harian sebelum tidur. Dan sekarang buku hariannya sudah dalam bentuk blog. Jadi, mumpung ke warnet, aku upload semua yang sudah aku alami disini, cerita-cerita agar tidak lupa. Jadi update pertama setelah tidak terkoneksi berhari-hari adalah cerita penerbangan, dilanjutkan dengan cerita sana-sini. Oh iya, ini aku sedang bermalam-mingguan di Kuta, masih malas pulang ke Jawa, besok saja.



Hamburg Airport
Thomas bisa mengantarkan aku pulang kampung hanya sampai di depan pintu Custom bandara Hamburg.

Aku berjalan melewati pintu keamanan bandara. Disitu aku harus kembali dua kali melewati pintu karena selalu perbunyi 'pip'.

Setelah terbebas dari pintu itu aku melanjutkan perjalanan mencari pintu pemeriksaan visa dan pintu nomor gate penerbanganku. Aku masih melihat Thomas mengawasiku dibalik dinding kaca, aku melambaikan tangan padanya sampai aku tidak bisa melihatnya lagi.

Perjalanan dari Hamburg ke Istanbul selama 3 jam benar-benar menyiksa. Pas didepanku ada pasangan membawa bayi mungil yang menangis sepanjang waktu. Aku tudak tahu lagi dimana iPod penyumbat kuping itu. Dan penerbangan lokal ini tidak punya screen didepan seat dan earphone!

Di Istanbul siksaan belum berhenti. Di tiketku aku harus menuju gate 299 yang letaknya di ujung kiri lorong masuk. Sampai sana yang ada malah penerbangan menuju Bangkok, dan setelah melihat layar jadwal penerbangan, pintu gate pesawatku ada di nomor 209 yang letaknya di ujung kanan koridor masuk. Aku cuma punya waktu 10 menit.

Asyem…! Harus lari sekencang-kencangnya digandoli oleh tas punggung laptop dan tas cangklong kamera.

Dan aku adalah orang terakhir yang memasuki pintu pesawat!

Well, setidaknya aku punya seat yang lebih longgar dari pesawat lokal sebelumnya. Dan aku bisa tidur nyenyak setelah makan malam dilanjutkan dengan sebotol kecil red wine.

Ada beberapa film bagus tersedia. Tapi aku tidak tertarik untuk menontonnya. Aku cuma menonton sekilas film pendek tentang pembangunan the great mosque di Dubai dan itu benar-benar 'great'!
Selebihnya aku membaca novel kriminal 'Die Bibel der Toten' diselingi oleh dua kali makan, jalan-jalan sebentar dilorong dan duduk manis sekilas di toilet.

Turkish Airlines harus berhenti sebentar di Singapur untuk menaik-turunkan penumpang, bongkar bagasi, bersih-bersih dan mungkin juga ngisi bahan bakar.
Aku menggunakan waktu untuk pergi ke smooking room di bandara.

And welcome to Asia!

Singapura ternyata berwarna-warni! Tidak diisi oleh wajah-wajah dingin pucat pasi seperti di bandara Hamburg itu. I felt Asia's smile here!
Para pegawai bandara yang berasal dari mana-mana… Ada yang bermata sipit itu… ada yang berhidung mancung dengan kulit gelap itu… Ada yang berkulit lebih gelap lagi itu… ada yang berhidung pesek dan berkulit coklat itu… Benar-benar The color of Asia…!

Terbang sesaat lagi dengan pesawat yang sama, kali ini aku memilih cake dan kopi untuk makan siang dan sebentar kemudian setelah selesai makan… Oh! Bukankah aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku mencintai negeri ini? Disana-sini aku melihat gumpalan mendung kecil tapi gugusan pulau-pulau kecil itu sangat jelas terlihat. Sekali lagi aku merasa beruntung bahwa aku berasal dari sini.

I welcomed myself to Jakarta!

Lihatlah, alangkah indahnya dunia ini! Terlihat jernih dan terang benderang. Itu adalah sesaat menjelang senja, tetapi aku bisa melihat dengan jelas kemana-mana. Tidak ada kabut dan tidak berwarna kelabu. Udara hangat dan nyaman. Alam sedang tersenyum kepadaku!

Bahkan orang pertama yang mengajakku bicara juga tersenyum kepadaku! Dia adalah pegawai yang memeriksa dan kasih stempel di paspor. Bahkan kami beramah-tamah sesaat! bayangkan, apakah kalian bisa menemukan ini di Hamburg?
Dia berkata ringan bahwa sepertinya aku punya paspor baru dan aku membenarkannya karena pasporku masih mulus tanpa stempel kedatangan dan keberangkatan, juga cuma ada sebuah visa disitu.
Kemudian karena dibelakangku tidak ada orang maka obrolan ramah tamah itu berlanjut; aku kok punya nama tambahan di visa Jerman. Kerja apa, berapa lama tinggal di Jerman, bagaimana bisa punya visa tanpa batas waktu berlakunya…
Dan sesaat kemudian aku menyudahinya untuk menunggu koperku yang berisi wajan anti lengket made in Germany itu!

Uang! Aku perlu rupiah sekarang! Di dompet cuma ada selembar 50€ yang merupakan uang saku dari emaknya Thomas waktu aku pamitan kemarin dan beberapa uang koin.

Tiga mesin ATM menolak kartu kreditku. Transaksi tidak bisa di proses! Padahal disitu ada logo MasterCard.
Yaoloooo... alangkah menggemaskannya hidup ini! Lihatlah, aku masih di Jakarta, tidak punya sanak saudara disini, dan aku harus beli tiket untuk terbang lagi ke Surabaya, dan aku tidak punya rupiah…

Usaha terakhir sebelum aku menukar uang jimat dari emaknya Thomas itu…

Tanpa berdoa dan tanpa merapal mantra aku masuk ke mesinnya BNI. Oh! Ternyata rupiahnya bisa keluar! Tapi maksimum cuma dua juta rupiah… Ya wes, cukup untuk beberapa hari kedepan…

Akhirnya merpati kasih harga 560.000Rp untuk kasih tempat duduk pada penerbangan ke Surabaya belum termasuk pajak airport.

Terminal keberangkatan Cengkareng bagus ya? Seperti rumah joglo, banyak ukiran di dindingnya. Tapi lantainya kok berwarna terlalu gelap ya? Ah, sutralah, pokoknya bandaranya terasa Indonesia - atau lebih tepatnya - Jawa banget!

Sebentar to… sambil nunggu aku beli kopi harganya 20.000Rp secangkir dan air minum kemasan kecil 6000Rp. Hitung-hitung kasar… Apakah Indonesia sudah menjadi sedemikian mahal seperti Jerman? Lalu bagaimana adikku bisa hidup dengan dua juta rupiah perbulan sebagai karyawan fresh-graduate? Sepertinya dia harus segera diseret ke Jerman. Wong di Jerman orang kerja sebagai tenaga pembersih bangunan tanpa pendidikan digaji dengan 5 atau 7€ per jam kok…

Aku nelpon adikku, ternyata providerku Telekom.de mengalihkanku ke Indosat dan aku tidak bisa menelpon, cuma sms. Padahal sebelum berangkat sudah isi pulsa 30€ lho...

Akhirnya setelah kami bertemu di meeting point Juanda dia menjelaskan bahwa dia bisa menerima sms-ku tapi tidak bisa membalasnya. Dan yang lebih kacau lagi, waktu yang dipakai untuk pengiriman sms itu adalah waktu Jerman…

Jadi dia berangkat ke bandara seperti orang linglung, sementara di pesawat aku sudah sibuk membuka-buka lonely planet pada bab kota Surabaya untuk cari hotel.

Belum apa-apa kami sudah ngakak duluan sampai orang-orang bengong melihat kami...

Selanjutnya kami naik taksi menuju terminal bis Purabaya atau bernama seperti itu dan aku harus berkendara 6 jam lagi. Dan sekarang aku sudah ada disebuah desa kecil yang jauh dari mana-mana bersama keluargaku nun jauh di ujung timur pulau Jawa. Me-reboot otakku yang sudah terlalu penat.

5 comments:

  1. hadooooh........seneng temen tho??
    penak yo tapi lek wis suwe ga muleh, trus muleh sepisan ngono....rasane ga kiro kiro.....

    ReplyDelete
  2. 6 jam dari surabaya? jangan-jangan di jember atau bondowoso nih?

    ReplyDelete
  3. Iyo Bas, benar-benar heboh rasanya.

    Aih, Poppus kok tau ajah siy....

    ReplyDelete
  4. Soalnya kalo di Jember berarti kita satu kotaaa hehehehe! *seneng gini*,Kalo di Bondowoso, satu kota sama mertuaku hehehehe

    ReplyDelete
  5. Ealah... Wong Jember to Pus... Metik kopi di garahan yuk, hihi...

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)