Pulkam: Poppies Lane Memory

Setiap pulang kampung aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke Kuta. Setiap pergi ke Kuta aku selalu tinggal di Poppies Lane. Setiap tinggal di Poppies Lane aku selalu memilih akomodasi berkelas surfer-dudes style daripada luxurious-opas style.

Selalu ada sesuatu disitu, setidaknya bagiku. Banyak kenangan manis dan pahit disitu.

Sutralah, pokoknya Poppies Lane sekarang sudah terbebas dari drugs. Bahkan grup SLANK yang bikin lagu Poppies Lane Memory itu juga sudah jauh dari drugs. 

Begitulah, Kuta memang nggak ada matinya. Selalu ada yang menarik. Dan malam mingguku di Kuta juag bisa dibilang asik...

Aku sampai di Gang Sorga, Poppies sekitar jam 5 sore dalam keadaan basah kuyup. Kemudian langsung menuju hotel kecil langgananku tapi kamar sedang penuh, kemudian disarankan untuk ke accomodation Rempen. Harganya 130,000Rp per malam, tapi aku sangat amat tidak merekomendasikannya. Kamar mandinya adalah bencana! Kalau saja masih rapi dan kering, aku pasti cari hotel lain.

Sebenarnya aku naik taksi dari terminal Ubung tapi minta diturunkan didepan gang. Tidak tega rasanya menyuruh pak supir masuk gang sempit yang sudah macet itu. Itulah kenapa aku sampai basah kuyup kehujanan tapi air hujannya hangat, jadi sekalian saja main hujan-hujanan…

Makan malam pergi ke food center itu. Makan nasi goreng spesial dan apapun makannya, minumnya teh botol sosro dong…
Jadi aku harus ingat baik-baik bahwa kemanapun aku pergi di negeri ini, harus selalu minum apapun cuma yang berasal dari botol kemasan.

Terus jalan-jalan disekitar situ. D'ya know what? Setiap aku keluar gang, setiap masuk gang, dan berjalan ditrotoar sekitar situ pada saat hari sudah gelap selalu ada yang menyapa begini… "Transport…?" terus kalau aku menggeleng sambil jalan, dia bilang lagi, "Massage?" geleng lagi sambil jalan, dia bilang lagi, "Young girl…?" terus jalan maka dia bilang lagi, "Or do you like the others?" Dan aku akan menjawab sambil senyum, "Tidak, terimakasih…" Jawabannya adalah, "Murah mas…"

Selalu seperti itu.

Jadi, bagi cowok-cowok, mereka akan ditawari seperti itu kalau hari sudah gelap dan berjalan sendirian. Tidak perduli yang jalan cowok hetero atau cowok gay, asal ada batangnya pasti ditawari itu. Aku jadi penasaran, apa yang akan mereka tawarkan jika yang jalan sendirian adalah cewek?

Malam minggu aku menghabiskan waktu di Mixwell di jalan Dhyanapura. Itu lho, jalan kecil yang banyak kafe-nya. Aku celingak-celinguk kesana kemari melihat orang-orang sampai mataku ini seperti layaknya mata si liar jalang yang tidak pernah mendapatkan sex yang bagus dan menyenangkan dalam hidupnya, untuk mencari-cari siapa tahu ada teman lama yang clubbing, tapi aku tidak menemukan seorangpun dari mereka.

Jalan Dhyanapura sekarang sudah lain pengunjungnya. Banyak banci dandan yang melacur. Salah satu dari mereka merayuku dengan harga murah, katanya begitu. Tapi aku tidak tertarik lah ya… masak making sex pakai uang, seperti sudah tidak laku saja. Barulah setelah aku jawab pakai bahasa Indonesia dia mau 'melepasku' pergi.

Tapi jam satu dinihari aku sudah pulang ke kamar. Tidak enak clubbing sendiri.

Pagi hari cari sarapan. Aku selalu penasaran dengan apa yang akan aku temukan untuk dimakan. Tentu saja aku tidak mau makan di kafe, restoran dan hotel itu lah ya. Indonesian food dengan western taste? Tidak mau dong, itu rasa bohong, tidak orisinil, ngapusi. Aku mau rasa yang asli, yang rasanya lebih liar dan sedap, jadi pergi ke Jalan Raya Kuta, disana banyak warung maupun warung tenda dipinggir jalan, terutama pada sore hari.

Jadi pagi itu aku makan di warung padang. Saking senangnya sampai terlalu banyak milih lauk, sampai pakai piring tambahan dua biji.
Siangnya minum kopi ditemani cake di kafe oriental Maharaja di food center, Sambil lihat-lihat orang seksi lalu-lalang bertejanjang badan.
Malamnya makan sate kambing madura duapuluh biji plus nasi dan kuah gule di jalan raya Kuta lagi.

Terus tengah malam sebelum pergi ke Sky Garden perut mulas, pasti kena traveller-diarrhea. Tapi aku bawa kapsel manjur made in Germany, jadi mulesnya langsung hilang dan pergi party ke sky garden longue setelah Thomas nelpon.

Heboh lho bok, itu adalah club house empat lantai! Paling bawah untuk kafe, atasnya untuk musik pop disco, atasnya untuk techno dan dibatasi dinding kaca untuk musik R&B dan black music lainnya, terus atasnya lagi untuk VIP member only. Bar-nya banyak, tidak perlu kuatir mati kehausan. Dan tentu saja seperti kebanyakan entertainment clubs lainnya di Kuta, club house ini sebenarnya juga Aussie themed. DJ's dari Aussie, clubber-nya juga, harga minuman juga, cuma waitress, bartenders dan sekurities saja orang lokal.

Tapi asik, coba saja mampir kalau pergi liburan ke Kuta.

3 comments:

  1. Aduuuh... seru banget baca edisi pulkamnya Bedjo. Jadi sekarng lagi di Bali nih, Djo?

    ReplyDelete
  2. Hmm... jadi pengen ikutan.. hahahaha

    ReplyDelete
  3. Hihi, sebenarnya sekarang baru sampe Jogja, Byq. tadi naik kereta eksekutif dari Gambir lho... Keren kan? Besok ke kratonnya Sang Sultan bok, ikut yuk Jo...

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)