Pulkam: Undangan Kenduri

Aku sedang tinggal di desa dan sudah tebar pesona kesana-kemari mengunjungi tetangga dan teman-teman untuk secara tidak langsung mengatakan bahwa aku hidup bersama mereka lagi selama beberapa minggu.

"Aih, kulitnya kok putih pucat ´gitu… Rambutnya kayak supermi yoBeh, Bedjo gayane kayak wong bule rek… Ah, dari dulu kamu itu ndak ada diem-nya, mbok ya tinggal di desa saja, nemani emakmu… Byuuuh, kok pakai giwang kanan-kiri sih bok, mbok ya di kiri saja… Eh, kok masih lancar bahasa Jawa, itu si Amin dua tahun jadi TKI ke Saudi sudah ndak bisa bahasa Jawa lagi, aneh yo… Lho, kok pulang sendiri, pasangannya mana?"

Hihi… Aku cuma cengar-cengir saja ditanya seperti itu, "Aku belum nikah, tapi dua minggu lagi temanku nyusul, nanti tak kenalin yo…"

"Cewek bule ya?"

"Bukaaaaan… Cowok!!!"

Begitulah!

Terus… Berita kedatanganku cepat menyebar. Pokonya yang datang ke rumah aku kasih coklat, yang tidak datang tidak kebagian.

Nah, kemarin malam salah satu tetanggaku mengundangku untuk kenduri di rumahnya karena anak perempuannya yang dulu waktu aku pergi adalah masih menjadi seorang kembang desa culun nan lugu itu sekarang sudah menikah dengan anaknya juragan kopi dari desa sebelah dan sedang merayakan sepasaran anak pertamanya. Sepasaran adalah selamatan Jawa untuk anak yang baru lahir, mungkin setelah anak berumur empat minggu atau seumuran itu, terus nanti anaknya dibawa keliling-keliling dipamerkan ke para undangan dan rambutnya dipotong sedikit, agar hidupnya diberkati. Pokoknya syaratnya harus begitu, anaknya dibawa keliling dan rambutnya harus dipotong sedikit. Jangan tanya kenapa, tapi memang begitulah seharusnya!

I love kenduri! Disini orang desa bisa saling bertemu setelah maghrib, makan bersama menggunakan tangan (bukan dengan sendok-garpu, apalagi pisau) dalam wadah yang besar, ada ayam utuhnya… Ada serundeng… ada sayur urap-urap… Rempeyek... Duduknya diatas tikar melingkari nasi tumpeng itu tadi.

Terus acaranya pakai pengajian, baca surat Yasin. Itu sih kecil, aku lancar baca, bahkan masih hafal sedikit-sedikit karena dulu waktu masih hidup di desa aku ikut kelompok yasinan tiap malam jumat. 

Setelah yasinan ada acara nyanyi-nyanyi lagu pujian bersahut-sahutan. Disini aku benar-benar mati gaya, karena dulu aku tidak ikut acara ini, jadi tidak bisa ikut nyanyi dan tidak kenal lagu-lagunya. Dan acara ini lama sekali. Aku cuma bisa diam sementara yang lain menyanyi sekencang-kencangnya dengan percaya diri.

Setelah capek nyanyi-nyanyi acara selanjutnya ya kenduri itu tadi; ada ayam utuhnya… ada serundengnya… ada apa saja!

Sambil makan sambil ngobrol-ngobrol, dan semua orang penasaran dengan apa yang aku lakukan di Jerman dan bertanya kenapa Herbert tidak ikut. Ya aku jawab saja bahwa dia sudah tidak mau lagi naik pesawat jauh-jauh dan sedang tidak cuti.

Ada yang bertanya apakah aku sudah bertemu Kurt, aku malah bilang bahwa aku tidak tahu kalau dia sedang di desa. Kurt adalah cowok Jerman yang memilih tinggal di desa kami dan menikah dengan kerabatku (Catatan; Kerabatku adalah cewek). Pasangan ini selalu hilir mudik kesana kemari karena kerabatku itu sampai sekarang cuma dapat visa turis tiga bulanan di Jerman, karena mereka cuma menikah disini. Kami belum pernah bertemu hanya bertelpon saja jika pasangan ini sedang ada di Jerman.

Begitulah caraku me-reboot otakku. Aku benar-benar hidup seperti dulu lagi dengan mereka, berpura-pura kepada diriku sendiri bahwa aku akan hidup dengan cara beripikir sederhana seperti mereka, dan aku suka ini. Tapi empat minggu saja ya, kalau selamanya… Oh tidaaaaak…!!!

1 comment:

  1. ah... aku lama ga posting karena lagi pulkam eh di sini udah banyak aja updatenya. Aku jadi harus baca satu2 deh....

    Gimana kabarnya yang lagi pulkam di sana?

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)