Pulkam: Yogya Istimewa

Tentu saja di Yogyakarta aku mengajak Thomas menginap di daerah International Village Sosrowijayan yang letaknya berdekatan dengan gerbong keluar stasiun Tugu. Apakah aku nyasar? ya tentu saja, karena aku bukan orang Yogyakarta.

Jadi bagi yang ingin mencari jalan Sosrowijayan dari stasiun Tugu, harap diingat bahwa stasiun itu punya pintu keluar dua buah. Yang satu adalah pintu keluar dan satunya adalah pintu keluar yang sebenarnya. Untuk mencari pintu keluar yang sebenarnya ini harus melalui peron, sementara pintu keluar gadungan bisa dilewati melalui lorong sepanjang rel.

Dari peta di lonely planet aku harus berjalan ke arah kiri sedikit kemudian masuk jalan Malioboro dan dari situ jalan sedikit lagi sampai ada jalan Sosrowijayan.

Ya wes ikut... Tapi sayangnya kami keluar lewat pintu keluar gadungan itu tadi sehingga samasekali tidak sesuai dengan yang ada di peta sampai akhirnya aku kebingungan dan naik becak ke Sosrowijayan.

Hotel tujuanku penuh, seorang anak kecil membantu mencarikan hotel lain dan kami menyukai hotel Merapi seharga 150,000Rp per malam.

Sebenarnya tidak perlu bingung mencari tempat menginap di Sosrowijayan. Pokoknya sudah masuk International Village ini, orang bisa menemukan hotel dengan mudah, bahkan ada yang seharga 80,000Rp per malam lengkap dengan sarapan dan koneksi wi-fi semaunya.

Malam itu setelah makan di lesehan Malioboro kami duduk dan jalan-jalan di Malioboro. Thomas terpesona dengan batik dan membeli kemeja lengan pendek dua biji pada sebuah toko batik yang ada disitu.

Wah, Thomas pada saat mengenakan kemeja batik benar-benar terlihat seperti Ndoro Bagus-nya orang Yogya!

Paginya kami mengunjungi Sultan di Keraton tapi sayang sekali sedang tutup karena ada upacara sekaten, sekalian saja kami bergabung dengan orang-orang  melihat nasi tumpeng besar sekali yang diarak itu.

Terus, apakah kami terperdaya oleh rayuan tukang becak yang agresif itu untuk berkeliling kota seharga 10,000Rp tapi pada akhirnya dihentikan di salah satu butik batik mahal dan dipaksa untuk membeli? Tentu saja tidak, aku sudah tahu rumor ini sebelumnya dong...

Hal lain yang harus di waspadai di Malioboro dan sekitarnya adalah seseorang yang berbicara pada kita dijalan dengan mengatakan bahwa dia bisa mengantar kita melihat koleksi seni batik, atau sanggar batik official Yogya, kemudian jika mau, kita akan diantar kesana dan disana kita akan diperdayai dengan harga yang berlipat-lipat, bahkan beberapa turis melaporkan tindakan hampir pemerasan ini. Tidak ada toko batik official di Yogya, semua adalah batik, tulis dan cetak! Mereka beroperasi di sepanjang jalan Malioboro dan didepan gerbang keraton.

Didepan gerbang mereka akan bilang bahwa keraton sedang tutup dan sebagai gantinya dia bisa mengantar kita melihat-lihat koleksi batik asli. Aku sudah tahu dong ah, ini adalah rayuan gombal dan keraton tidak tutup pada jam kerja. Pintu keraton, seperti halnya stasiun tugu, ada dua! Satu keraton kecil dan satunya keraton yang besar itu.

Disekitar keraton juga banyak "orang-orang ramah" seperti ini yang mengikuti kita berjalan dan dengan sukarela menjelaskan apa saja layaknya seorang guide sukarela, kemudian bertanya pada Thomas dia berasal dari mana, lalu, "Oh, i have a brother in Germany, he lives in blah blah blah..." Katanya. Mereka juga ada maunya, pada akhirnya akan menyesatkan orang didepan pintu sebuah gallery batik mahal. Dan jika sudah masuk, tindakan pemaksaan untuk membeli terjadi.

Selama di Yogya kami menjumpai enam atau tujuh orang ramah-tamah yang puya saudara laki-laki bekerja di Jerman!

Ada yang lucu, kami sedang lihat-lihat batik di Malioboro, seseorang yang ramah dan punya saudara laki-laki di Jerman terus berbicara dan mengikuti kami padahal kami sudah mengacuhkannya tapi dia tetap mengikuti dan terus berbicara. Kami berpapasan dengan sepasang bule muda, mereka berhenti tepat didepan kami dan si cowok berbicara kepada kami dengan suara yang dibuat lantang, "Take care, he is a liar. Don't believe what he said!" Sambil menunjuk si orang ramah itu dengan menggoyangkan kepalanya.

"I knew already..." Jawabku berbarengan dengan Thomas, sama-sama lantangnya.

Empat orang tergelak membuat si ramah pergi begitu saja meninggalkan kami.

Tapi meskipun membingungkan, Yogya - seperti halnya Kuta - adalah kota kesukaanku. Aku akan datang dan datang lagi.

Dan meskipun banyak orang-orang ramah yang menjengkelkan itu, jika Thomas bertanya pada saat membeli sesuatu di pasar atau dipinggir jalan Malioboro, apakah benar harganya sudah bagus, aku akan menjawab 'iya', pura-pura ragu - pura-pura meneliti barangnya dulu tapi pada akhirnya mendorongnya untuk membeli. Aku tahu mereka sudah bekerja keras dengan jujur, punya keluarga dirumah yang harus dikasih makan dan tidak mencari untung terlalu tinggi. Dan Thomas tidak akan jatuh miskin dengan membayar ekstra 1 atau 2 euro untuk barang yang dibelinya.

No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)