Pulkam: Bertemu Keluarga

Masih melanjutkan cerita tentang pulang kampung bersama Thomas....

Setelah puas malang melintang dari kota ke kota di pulau Jawa akhirnya kami tiba di desa. Sebelum turun dari kereta api nelpon dulu ke mbakyuku agar tidak dijemput di stasiun. Thomas ingin naik dokar, karena niatnya ini tidak kesampaian di Yogya.

Pas naik dokar, keretanya njomplang kebelakang. Jadi untuk menjaga keseimbangan... 'ku duduk dimuka, disamping pak kusir yang sedang bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya.... tuk kitak kituk kitak kituk..... suara sepatu kuda.....

Perkenalan yang menyenangkan, semua saling menyukai yang lainnya. Aku menjadi penterjemah. Emak terbengong-bengong melihat Thomas yang tingginya lebih dari dua meter. Dan Thomas selalu tersenyum ramah, makan apapun yang diberikan padanya padahal emak selalu memberikan apapun yang bisa dimakan kepada dia, sampai akhirnya dia mengeluh bahwa dia tidak bisa makan lagi dan aku melarang emak untuk kasih sesuatu.

Ternyata Thomas memang niat banget! Sekarang barulah aku paham pada saat dulu dia bertanya aku punya saudara dan keponakan berapa. Dia membawa sebuah hadiah untuk tiap orang. Tentu saja niatnya ini tidak sia-sia, semakin suka saja mereka kepada Thomas! Dan pada hari-hari selanjutnya emak menunjukkan hadiahnya dengan bangga yang berupa kotak keramik itu kepada tetangga-tetangga yang datang  sambil kasih coklat bawaan Thomas juga...

Kami dapat kamar terpisah dan aku menunjukkan kepada Thomas semua bagian rumah yang dia perlukan mulai dari dapur, kamar mandi, toilet... Dan dia kesulitan menggunakan toilet jongkok. Aku harus mempraktekkannya, tapi akhirnya aku harus beli tisu roll untuk dia.

Dan untuk menjaga hal yang tidak diinginkan karena mbakyu-ku punya bak mandi yang besar aku menjelaskan kepadanya bahwa seharusnya dia tidak nyemplung kesitu karena semua orang menggunakannya tetapi mengguyur badan dengan gayung yang tersedia dari atas kepala.

Dan tidak boleh telanjang didalam rumah! Minimal harus pakai kaos dan celana pendek.

Besoknya - sambil menggoreng singkong manis didapur tapi tidak pernah kelihatan hasilnya karena kami balapan mencomotnya -  kali ini emak yang bilang, "Thomas itu lucu ya, kok sayang sama kamu. Duduk harus bersebelahan, kemana-mana ikut, ngambilkan minum..."

Malam kedua, keponakanku yang sebelumnya cuma lirak-lirik saja sekarang sudah bisa akrab dengan Thomas. Mereka main hot-wheels berdua! Tapi Thomas cepat bosan dan keponakanku jadi korbannya; Digelitiki sampai rusak...!

Hari ketiga, sudah tidak ada lagi yang bersopan-santun dan berbasa-basi. Semua sudah akrab, "Kamu pakai baju yang ini, bagus, jangan pakai kaos..." Kata emak kepada Thomas sambil menyodorkan baju batik yang baru disetrikanya, aku menterjemahkan, Thomas cengar-cengir dan ganti baju sebelum kami rame-rame mengunjungi pamanku yang tinggal di desa lain. Kali ini Thomas yang nyupir, pakai setir disebelah kanan .........................................

Pulkam: Foto-foto Thomas

Thomas iri, karena dia tidak bisa bikin blog. Jadi dia mau aku upload foto-fotonya dia di blog cap bagong. Dia bilang ini adalah beberapa foto-fotonya yang menarik:


Buah yang atas itu katanya lucu, muncul begitu saja dari pohon.

Garuda-nya lebih macho daripada garuda Jerman.
Das beste Bier, sagt er....


Hitung-hitung kasar, barapakah panjang pulau Jawa?
What a sweet train, katanya. Dan wanita punya kereta spesial.
Only in Surabaya.
Perahu nagkring diatas karang.
Kalau sekolah harus pakai baju seragam.
Suatu waktu dia pernah mendengar tentang dia.

Pulkam: Surabaya Yang Cantik

Masih menulis tentang kenangan pulang kampung agar selalu ingat dan bisa dibaca-baca nanti kalau sedang suntuk.
Jadi akhirnya kami sampai di Surabaya....


Ternyata Thomas menyukai kota Surabaya, katanya bersih dan rapi, juga tidak banyak orang yang "mengganggunya".

Iya dong, Surabaya bukan kota wisata, jadi tidak ada yang menawar-nawarkan sesuatu kepadanya, lagipula aku pilih hotel Paviljun di Jalan Genteng Besar itu sebagai tempat menginap, jadi dia terpesona dengan dalaman hotel itu yang longgar dan berlangit-langit tinggi yang merupakan bangunan memori jaman kolonial.

Itu juga dikarenakan aku tidak mengajaknya blusukan masuk gang-gang sempit melainkan cuma melewati jalan-jalan besar.

Tapi memang benar ya, Surabaya sekarang tampil cantik, bersih dan rapi. Jalan Tunjungan terasa longgar dan nyaman tanpa pedagang jalanan, sungai juga bersih, bangunan peniggalan kolonial masih terjaga rapi disana-sini dan ijo royo-royo dimana-mana. Salut buat arek-arek Suroboyo.

Disini kami cuma berhenti sehari setelah berkendara jauh dengan kereta api eksekutif tapi murah meriah cap anggrek atau bromo atau bernama seperti itu dari Yogyakarta (Kali ini AC-nya tidak terlalu dingin). Dan dia terpesona dengan pedesaan dan sawah disepanjang jalur kereta.

Rencana kami selama singgah di Surabaya adalah bertemu dengan adikku dan pacarnya dalam sebuah makan malam, pergi ke bar sebentar, dan siangnya pergi ke kebun binatang dan beli celana dalam di tunjungan plaza karena dua-duanya kehabisan stok. Malam kedua pergi ke kafe yang ada Wi-Fi-nya untuk cek order di online-shop dan ngintip blog cap bagong siapa tahu Soe si blogwalker dari Suroboyo itu meninggalkan nomer telponnya untuk janjian disuatu tempat.

Makan malamnya asik, adikku memilih resto bagus bernama 'Dapur Desa' yang letaknya antara Tunjungan Plaza dan kebun binatang (Ya pokoknya kalau naik bis kota dari jalan Tunjungan ke kebun binatang akan melewati resto itu). Dan itu adalah makan malam yang ramah dan menyenangkan tapi cuma sampai jam sembilan saja karena pacar adikku kena jam malam dari orang tuanya dan adikku harus mengantarnya pulang.

Masuk ke restoran serasa masuk ke pedesaan, banyak bambu dan kayu. Pelayannya pakai baju tradisional Jawa, yang jualan pakai capil petani yang lebar itu. Waktu kami masuk ada kenong berbunyi dan semua orang yang ada disitu serempak menyapa kami, "Sugeng rawuuuuuh....". Kami cengar-cengir tersanjung, Thomas terbengong-bengong....

Jadi malam itu pakaian kami pas dengan suasana; aku pakai baju batik lengan panjang yang aku lipat sedikit, Thomas pakai baju batik lengan pendek, Adikku rapi-jali masih dengan pakaian kerja dan mencekik lehernya sendiri kencang-kencang pakai dasi, dan pacarnya mengenakan gaun panjang tak berlengan yang ada talinya keciiiiil sekali dipundaknya agar gaunnya tidak melorot.
Kami minta maaf pada pasangan muda itu karena cuma memakai celana bermuda dan bersandal untuk acara makan malam karena kami sedang gerah kepanasan dan mereka memakluminya, "Tidak apa-apa" Kata mereka.

Sambil makan sambil ngobrol. Sebagai mas yang baik tentu saja aku menyarankan (Bukan menghalangi) agar mereka tidak buru-buru menikah, setidaknya sampai dua-duanya punya penghasilan yang bagus karena si cewek saat ini masih kuliah. Aku berusaha pakai bahasa Inggris sedikit-sedikit agar Thomas merasa dilibatkan. Suatu saat aku menyinggung tentang sex dan kondom daripada menikah tanpa persiapan tapi dua-duanya jadi malu. Aku jadi merasa salah bicara karena aku sedang berada di Indonesia. Tapi lebih baik aku bicara begitu karena secara sepintas aku meragukan bahwa mereka tidak pernah making sex dilihat dari lengketnya mereka.

Selebihnya cuma lebih banyak tertawa dan pacar adikku banyak bertanya kepada Thomas tentang apa yang dilakukan cewek-cewek seumuran dia di Jerman, Thomas menjawabnya dengan senang hati. Kadang-kadang aku harus jadi penterjemah. Katanya sama, mereka juga kena jam malam sebelum umur 19 tahun.

Selesai makan Thomas kasih hadiah mini USB untuk adikku dan dua batang colat untuk pacarnya. Aku memprotesnya karena dia tidak mengatakan terlebih dulu padaku tapi dia malah bilang bahwa aku melupakannya.

Terus setelah makan malam selesai dan pasangan muda itu menghilang kami cari sebuah bar buat menenangkan diri berdua sebelum tidur untuk mendengarkan musik lembut sambil berdua-duaan, tapi tersesat dalam sebuah diskotik. Ini juga gara-gara namanya yang menyesatkan; 'Top Ten Club' tapi setelah dimasuki isinya diskotik gelap gulita!

Itu ada di Tunjungan Plaza. Musiknya terlalu kencang bagi orang-orang tua yang sedang mencari ketenangan seperti kami, DJ-nya terlalu banyak ngomong, gelap, dipintu masuk ada tulisan dilarang pakai celana pendek dan sandal tapi kami dipersilahkan masuk, dan... kok mahal ya? 150.000Rp entrance fee, beli Wodca-Cola 100.000Rp.
Wah, ternyata arek Suroboyo makmur sejahtera ya... Bahkan itu lebih mahal dari kebanyakan diskotik di Jerman.

Paginya ke kebun binatang, naik bis kota.

Disana ada anak gajah yang baru lahir tapi sudah bisa berjalan bernama Barokah Gonzales. Lucu, tapi sayang tempat bermainnya terlalu sempit.

Thomas terpesona dengan komodo, tentu saja. Dan dia bikin banyak foto orangutan. Bagaimana dengan harimau? ya tentu saja! Karena harimau itu keluarganya kucing dan kucing adalah binatang kesayangannya Thomas. Jadi setiap ketemu kerangkeng harimau dia akan berhenti lama, berbicara kepada mereka, dan aku tidak berdaya. Sampai-sampai aku mengatakan bahwa mereka tidak paham bahasa Jerman, tapi aku diacuhkan.


Apalagi kalau dia ketemu kucing liar yang banyak berkeliaran. Waduh, aku harus cari tempat duduk untuk menunggunya. Anehnya kucing-kucing itu kok ya mau saja diajak bicara. Lha wong orang sebesar itu sukanya kok kucing. Mbokya suka gajah saja, sama-sama besarnya... atau jerapah, sama-sama tinggi... Atau monyet saja...

Aneh juga ya, waktu aku mendekati salah satu kuda nil yang ada disitu, eh kenapa juga si kuda nil ini tiba-tiba jadi horny ya? Aku jadi merasa dilecehkan olehnya! Tapi ya sekalian saja aku foto...

Terus ya gitu deh, malamnya kami nemu toko lengkap yang buka 24 jam terletak didepan Tunjungan Plaza, dibawah hotel yang aku lupa namanya (Seperti saran adikku jika kami memerlukan sesuatu yang mendesak dimalam hari). Itu toko punya bistro sederhana, minimarket dimana para traveller yang kehabisan sesuatu dijalan bisa membelinya, ada wi-fi juga, orang juga bisa cuci baju disitu. Akhirnya kami nongkrong disitu, didepan toko ada tiga buah meja yang enak untuk nongkrong sehingga kami berlama-lama duduk disitu sambil minum dan menikmati ramainya lalulintas.

Aku cek blog, ternyata Soe si blogwalker tidak meninggalkan nomer telponnya. Ah, tuan rumah yang tidak baik, dikunjungi malah menghilang...

Tak lama kemudian datang arek-arek suroboyo juga nongkrong disitu dan kami beramah-tamah sampai jam 3 pagi, ngobrol apa saja sampai mulut berbusa-busa. Untungnya toko-hotel ini jual bir bintang jadi kami kerasan nongkrong disitu.