Asyem, Mogok Lagi


Beberapa minggu terakhir ini jika bepergian aku selalu datang terlambat pasalnya para masinis Deutsche Bahn (PJKA-nya Jerman) mogok kerja, minta kenaikan gaji, tapi tidak dikasih. Akhirnya mogok. Bukan mogok total selama berminggu-minggu, tapi pada jam-jam tertentu mereka rundingan tidak mau nyopir.

Meskipun tiap hari didepan pintu masuk stasiun ada mas-mas bule tersenyum manis menawarkan air minum kemasan gratis, tapi jika sedang terburu jadwal, siapa yang akan tertarik dengan senyum manisnya itu? Yang ada cuma menyambar air kemasannya dengan sadis, berterimakasih dengan dingin dan berlalu.... Semua orang jadi hafal pokoknya jika ada mas-mas didepan stasiun tersenyum kecut sambil menawarkan air botol kemasan, berarti kereta tidak datang, dan dialah yang menjadi kambing congek, disadisi semua orang.

Dan kami para penumpanglah yang menjadi korbannya. Sampai-sampai Chef-ku si bencong wangi itu prihatin dengan keadaanku yang sering telat sampai 30 menit. Aku tak berdaya, dia juga, semua orang merasa dirugikan.

Lha wong perusahaan nasional sebesar itu, dimana setiap tahun mengumumkan keuntungan yang terus meningkat sampai bermilyar-milyar euro, eh... Pada saat pegawainya minta kenaikan gaji karena kesejahteraan hidupnya terancam kok malah tarik ulur selama berbulan-bulan. Tentu saja semua orang jadi membenci Deutsche Bahn, kecuali para pembeli saham.

Nah, merasa dibenci oleh semua orang, minggu kemarin mereka bikin pengumuman pada semua koran bahwa, ketepatan waktu adalah prioritasnya, jika kereta terlambat sampai 20 menit, penumpang boleh mengklaim 50% dari harga tiket (Sebelumnya cuma 20%).

Jadi, jika para masinis mogok kerja, maka akan datang armada bus, dan ini adalah sewaan dari perusahaan travel. Bayangkan, berapa pengeluaran mereka untuk menyewa bus selama sehari dalam wilayah nasional?

Tapi ya gitu deh, bus bukan angkutan favorit, karena mereka cuma boleh berjalan dibawah 90 km/jam. Sementara pada pagi hari semua orang ingin segera sampai ditempat kerja...

Masyarakat tetap tidak bersimpati, semua orang ingin kereta berjalan normal.

Dan para masinis telah berhasil menarik simpati masyarakat; separah apapun kondisi perundingan, mereka akan tetap bekerja pada jam-jam pulang - pergi anak sekolahan.

Begitulah, tidak cuma di Indonesia, di Jerman juga sama; Perusahaan yang melayani publik yang paling mendapat banyak umpatan adalah kereta api.

Hallig Hooge Sehari, Pulau Mini di North Sea

Hallig Hooge adalah sebuah pulau kecil di North Sea yang berpenduduk 100 jiwa (Sapi dan burung tidak dihitung), punya satu gereja dan punya satu Grรผndschule (sekolah dasar) dengan empat orang siswa dan siswi. Penduduk hidup dari bertani-beternak dan turis.

Pada awal musim semi sampai pertengahan musim gugur pulau ini dipenuhi burung dari afrika dan pada musim dingin mereka akan kembali terbang ke selatan, meninggalkan kompos yang bagus untuk pulau. Sementara pada musim dingin, tak jarang pulau ini diterpa badai, oleh sebab itulah mereka mendirikan rumah berkelompok pada dataran yang dibuat tinggi dan pada setiap rumah ada bunker perlindungan bawah tanah yang kedap air.

Tak banyak kata, inilah foto-fotonya. Pokoknya Thomas dan aku berkeliling pulau dalam sehari...

Itu adalah ferry, tapi mana ya? pertama aku juga bingun mau masuk...
Mobil pos-nya keren ya....
Willkommen auf Hallig Hooge
Dokar
North sea yang tenang
Desa Backenswarft
Desa Hanswarft
Gereja
Thomas mau belanja di supermarkt
Ngopi dulu sambil makan waffel pakai es krim
Suasana desa yang romantis