Makan Malam Perpisahan

Ada foto-foto yang masih tersisa dalam acara classic-rally. Di upload, biar ceritanya tidak terlupakan, agar kenangannya tetap terjaga dalam benak, supaya memori dengan teman-teman baru yang tingkahnya manis-manis itu tetap ada...

Pada malam hari ketika semua sudah puas seharian berkendara kesana-kemari, kami berkumpul atau lebih tepatnya dikumpulkan dalam sebuah hall besar dibagian sayap hotel untuk makan malam. Makan malamnya seru, buffet. Dengan 3-Gรคnge-Menรผ (3 program menu makan). Tapi karena Jerman sedang terkena serangan bakteri EHEC (Itu lho, bakteri yang ditengarai menyebar lewat sayuran) maka makanannya minus sayuran.



Itu selalu menjadi acara yang menyenangkan, juga buatku. Aku bisa bersosialisasi dengan teman-teman baru yang menyenangkan.

Terus.... Malam terakhir dimana malam menjadi hangat dan terang benderang sampai larut kami mengadakan Grill-Party, di sebuah kafe dipinggir sungai Rhein yang romantis itu.
Kafenya sudah di booking, jadi orang lain tidak boleh masuk, cuma kami saja.

Beberapa dari mereka bertanya kepadaku bagaimana aku menyukai rally ini. Aku mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertama ikut rally dan aku sangat terkesan.
Yang lain bertanya apakah aku akan menyukai mobil klasik setelahnya, aku berkata dengan sebenarnya bahwa aku tetap tidak bisa menjadikannya sebagai hobi, bahkan berterus terang bahwa aku tidak tahu samasekali tentang mobil.
"Aku akan tetap menjadi tamu..." Kataku pada saat Christian, sang presiden organisasi itu menagajakku untuk bergabung menjadi anggota. Dan aku berkata kepadanya bahwa aku akan ikut Rally tahun depan melintasi Black-forrest di Bavaria jika Thomas mengajakku lagi.







Itulah kenangan manisku melewati akhir pekan panjang bersama Thomas dan teman-temannya yang ramah. Besok siangnya kami berpisah pulang ke kota masing-masing. Berharap tahun depan bisa berkumpul kembali...

Jalan-jalan Centil: Ke Belanda Lagi

Hari ketiga jalan-jalan centil dengan tema classic rally benar-benar seru, kami berkendara melewati taman nasional yang luas, pedesaan di Belanda, mengunjungi puri tua, mengunjungi The Gallery yang merupakan show room mobil klasik dan juga digunakan sebagai musium mobil di sebuah kota kecil di Belanda yang aku sudah lupa namanya.

Terserah mau mengunjungi show room mobil klasik atau mobil masa kini, yang penting didalamnya ada es krim shop aku tidak akan menderita karena mati gaya. Jadi pada saat yang lain ngelus-ngelus mobil sambil berlarian kesana kemari didalam gedung, aku asik menikmati es krim-ku.

Dan hari itu cakrawalaku bertambah luas, satu lagi bagian bumi yang aku kunjungi. Pada malam hari aku berterimakasih kepada Thomas karena sudah mengajakku melakukan perjalanan yang menyenangkan ini.







Jalan-jalan Centil: Sepur-sepuran

Hari kedua pada acara Classic-Rally adalah muter-muter pedesaan dan persawahan disekitar Wesel, niederrhein kemudian melenceng agak jauh ke Krannenburg. Disini ada stasiun kereta api jaman dulu yang tidak dipakai lagi. Jadi daripada nganggur, jalur relnya yang menuju ke Belanda dipakai main sepur-sepuran, dimana sepurnya tanpa mesin tapi dikayuh oleh empat orang dan penumpangnya 10 orang.

Yang ngayuh ngos-ngosan, penumpangnya asik kipas-kipas... Menyenagkan sekali, bukan?

Terus penumpang yang duduk dekat pintu juga bertugas sebagai masinis, jadi jika relnya berlintasan dengan jalan raya dia harus turun dan lari terbirit-birit menutup pangklangan sepur, agar tidak tabrakan dengan mobil. Dan salah seorang penumpang lain bertugas untuk ngerem. Aku lebih suka bertugas jadi klakson, jadi kalau mau masuk pangklangan aku berteriak kencang-kencang, Tuuut... Tuuut... 

Mau berangkat


Itu lho, yang medal empat orang.

Horeee... Akhirnya sampai di Belanda!




Kembali pulang ke tanah air.....


Jalan-jalan Centil: Si Tua Centil

Namanya juga Classic Rally, isinya ya mobil-mobil klasik (baca: mobil tua yang masuk dalam kategori barang rongsokan).

Tapi anehnya mobil-mobil tua ini jika ada ditangan yang pas kok ya ndak bisa jadi barang rongsokan, yang ada malah tambah cantik, centil, unik, dan lucu. Dan tentu saja harganya semakin berlipat-lipat jika saja ada yang akan menjualnya.

Dan selama rally berlangsung, tak ada satupun mobil yang mogok.

Lihatlah mereka, setiap kali ada kesempatan baik itu di tempat parkir sebelum rally dimulai pada pagi hari, atau pada saat pause disuatu tempat, pada saat mencapai target perjalanan, atau pada acara buffet makan malam, selaluuuu.... saja bicara tentang mobil tua. Ditempat parkir lebih heboh lagi, bahkan sampai buka-buka kap mobil untuk menunjukkan ini itu kepada temannya, membanggakan sesuatu yang kecil mungil yang ada dalam mesinnya kepada yang lain, atau bercerita bagaimana sulitnya mereka mendapatkan mobil antiknya, bahkan sampai ada yang harus impor dari Amerika dan membayar beratus-ratus ribu untuk itu!

Thomas juga sama saja. Bahkan dia tidak memperdulikan aku jika sudah membahas mobil antik dengan gerombolannya!

Dan aku merana! Mati gaya!
Karena aku tidak tahu samasekali tentang mobil tua, dan tidak berminat untuk menyukainya.

Untunglah ada Christian, partnernya Ulf yang juga mati gaya karena dia datang ke acara ini dengan alasan yang sama seperti aku; Diajak.

Jadi jika yang lain sedang gila dengan mobilnya, kami sering jalan bersama. Asik juga kok, kami bisa berbicara lain-lain kecuali tentang mobil tua.

Nah daripada merana mati gaya dan termangu-mangu tak jelas maksudnya, aku harus bisa menyenangkan diri sendiri dong, malah aku bisa memuaskan hasrat poto-memoto sesuka hati. Sasarannya tentu saja pantat-pantat menggoda itu. Tapi karena ini adalah classik-rally, jadi yang dipoto ya pantatnya mobil-mobil itu dong....

Aku tidak tahu merek dan seri mobil-mobil itu dan aku tidak perduli, yang penting cantik dan seksi yang kena jepret:


 Yang atas itu BMW tua-nya Thomas, masih kinclong lho. Kap-nya bisa dibuka.
Dan dalamannya canggih pada saat jamannya dulu; ada cassette player dan radionya!







Jalan-jalan Centil: Classic-Rally

Seperti yang sudah aku gembar-gemborkan sebelumnya bahkan sampai beberapa hari pasang banner gedong di Blog Cap Bagong ini, maka pada tanggal 2 Juni jam 9 pagi kami berangkat menuju Wesel, Niederrhein untuk bergabung dengan teman-teman sak bundes republik untuk melalukan classic-rally mengendarai Oldtimer (mobil-mobil tua nan cantik) muter-muter pedesaan, hutan dan kota di Niederrhein dan Nederland dan sekitarnya.

Sekarang kami sudah kembali, sudah mulai bekerja lagi, dan tentu saja aku ingin menulis cerita pengalaman bagus itu, memasang foto-foto perjalanan yang sebenarnya cuma snap-shoot dengan program P (Otomatis) pada kamera-ku, karena dengan segala sesuatu yang serba cepat dan berada dalam mobil hampir sepanjang waktu, tidak mungkin rasanya untuk bikin foto artistik.

...Kami sudah siap lahir batin, aku sudah mempersiapkan perbekalan dan segala sesuatu yang diperlukan selama perjalanan panjang itu dan Thomas sudah mengecekkan mobil BMW tua-nya untuk perjalanan jauh, ganti oli, ganti ban dan lain-lain.

Tak lupa berdoa mati-matian agar sepanjang waktu kami mendapatkan cuaca yang bagus. Dan kami mendapatkannya karena kami sudah memintanya; Udara hangat berkisar pada 25°C menyertai kami sepanjang waktu, langit biru cerah, matahari bersinar terang, tak ada hujan di siang hari... Itu adalah impian para pelancong! 

Rencananya kami akan bertemu dengan rombongan dari Hamburg di salah satu Restplatz (Tempat istirahat untuk kencing, makan, meluruskan otot dll.) di jalur A1 antara Hamburg dan Bremen untuk makan siang dan setelahnya berkendara beriringan menuju Wesel, base camp kami selama rally 3 hari berlangsung.

Dan ketemulah kami dengan mereka!


Ngobrol-ngobrol asik dulu, makan siang dulu, ketawa-ketiwi dulu sambil menunggu yang lain. Thomas lebih banyak memperkenalkan aku dengan yang lain karena aku belum pernah bertemu dengan mereka. Beberapa seperti Alex dan Eno, aku sudah mengenalnya karena Thomas pernah sekali mengajakku ke pertemuan rutin mereka.

Jadi, semua sudah datang, kenyang, bugar, fit kembali dan kami berjalan beriringan menuju Welcome Hotel di Wesel. Jauh lho, dari rumah kami harus menempuh jarak sekitar 550km.

Singkat cerita, tanpa macet dan halangan lain, (Eh, tapi jalur ke utara disebelah kiri kami macet total selama berpuluh-puluh kilometer, rutinitas akhir pekan) kami sampai di Welcome Hotel tepat waktu dan disambut dengan ramah oleh grup tuan rumah Niederrhein.



Dan ternyata team Niederrhein ini telah bekerja dengan sangat memuaskan. Masing-masing dari kami mendapatkan suite-room, sementara Welcome hotel sendiri adalah hotel berbintang empat dengan label 'Service of Germany', artinya ya seperti barang-barang dengan kualitas Made in Germany, tapi ini untuk kualitas service.  

Team Hamburg adalah kelompok yang datang terakhir. Maklum, kami paling jauh. jadi kami punya waktu selama 15 menit untuk check-in dan bersih-bersih ringan di kamar sebelum tur pertama keliling kota dimulai.

Tapi.... Ternyata kami keenakan di kamar, jadi pada waktu turun ke tempat parkir spesial yang oleh pihak hotel di setting untuk grup cantik kami itu (Tamu lain tidak boleh masuk!), tempat parkir sudah kosong, semua sudah berangkat, dan kami-pun mengejarnya berbekal road book yang dibagikan pada saat kami datang tadi.

Tapi.... Pada akhirnya kami tetap ketinggalan, dan ditengah jalan tiba-tiba aku punya hasrat yang menggebu akan es krim, jadi aku merayu-rayu Thomas agar berhenti saja di es krim shop di kota, dan dia mau!


Akibatnya, pada malam hari ketika bertemu dengan yang lain pada acara makan malam, Alex menggoda kami, "Wah es krim-nya tadi siang enak ya...." Kami cuma cengar-cengir asem, dan dia bilang bahwa dia juga ketinggalan rombongan dan berhenti di suatu tempat untuk minum kopi, karena melihat kami dari belakang berhenti di es krim shop....