Banci Desa

Ada saatnya aku benar-benar tidak berdaya dalam menjalani hidup ini hanya karena faktor X.

Seperti saat ini misalnya, pada saat sumber energi terputus begitu saja, aku tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada koneksi internet, saluran telepon mati dan semua peralatan elektronik rumah tangga tidak berfungsi.
Ini akan berlangsung selama tiga jam setelah aku mencari informasi menggunakan HP. Baru kali ini aku mengalami mati lampu. Jadi aku menelpon Chef bahwa aku harus ofline setidaknya selama tiga jam.

Lalu apa yang aku lakukan? Tidak ada!

Mau bersih-bersih semuanya sudah bersih, mau cukur-mencukur, alat cukurku tidak punya baterai dan hanya akan berfungsi jika terhubung ke sumber energi. Mau keluar... Dingin dan gerimis. Mau motong kuku, semuanya sudah rapi jali. Mau mewarnai kuku... Eh, kok ya ndak punya cat kuku... Besok mau beli ah, jadi kalau mati listrik lagi bisa iseng...


Apa yang bisa aku lakukan?

Berendam berlama-lama di bathup sudah selesai sampai jari tanganku mengkerut semua, bahkan itunya juga semakin mengkerut....

Mau nonton film porno, i have no desire at the moment....

Ya wes, nulis draft untuk ketimpringan.com saja, nanti kalau terkoneksi lagi langsung di publish.

Tapi aku tidak punya ide akan menulis apa, semua yang aku alami hari-hari terakhir ini sudah aku tulis.... Sementara diluar dingin, aku menaikkan pemanas ruangan ke level empat, eh malah dingin karena tidak ada sumber energi... Anehnya diluar kok malah turun gerimis ya.... Oh aku jadi merindukan pantaiku yang hangat, sungai yang jernih dan sejuk, hutan pinus tempat aku bermain bersama teman-teman sambil cari kayu bakar, sambel trassi buatan emak.....

Gerimis mengundang.... Mengundangku untuk melamun ke masa lalu pada saat masih tinggal disebuah desa kecil di pulau Jawa sana...... Sekaranglah saatnya aku bercerita kenapa aku sampai minggat melarikan diri sampai akhirnya terdampar di Jerman.... Orang hanya tahu bahwa aku hidup dengan lebih diterima di sini tapi tidak ada yang tahu bahwa aku telah memperjuangkannya dengan tidak kenal putus asa selama bertahun-tahun, bahkan sejak aku masih remaja....

"Mbak, aku ingin pergi," Kataku suatu sore kepada mbakyu-ku setelah kami selesai ngaji bersama. Waktu itu aku kelas tiga SMA. Aku gay remaja, tidak berani coming out.

Dia bertanya aku ingin pergi kemana, aku menjawab bahwa aku tidak tahu tujuan, hanya ingin pergi sejauh mungkin.
Dia bertanya lagi apakah aku punya masalah, dan aku menjawab iya. Dan aku bercerita bahwa kemarin Suryo berkata bahwa katanya Umi suka dengan aku tapi aku tidak, dan aku tidak suka dengan teman-teman cewekku. Aku merasa lain.

"Jangan-jangan kamu nanti jadi banci seperti kang Imam itu... Ndak boleh, itu dosa... Kamu mau diolok-olok orang sedesa?"

Pembicaraan berhenti sampai disitu, tetapi kata-kata terakhir itu sudah mengendap demikian dalam kedasar hatiku selama bertahun-tahun. Inilah yang membuat aku semakin bertekad untuk pergi sejauh mungkin. Aku tidak mau jadi banci desa seperti kang Imam itu... dosa.... diolok-olok orang sedesa....

Hidupku selanjutnya hanyalah berkonsentrasi bagaimana caranya agar aku bisa pergi sejauh mungkin.

Banyak yang aku lakukan. Belajar dengan keras, kursus bahasa Inggris, mendalami komputer, membaca segala sesuatu yang aku pikir berguna untukku, dan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dalam diriku.

Percayalah, pada saat masih brondong seperti dalam masa ini, aku juga sering menangis dimalam hari, putus asa, bingung dan segala perasaan berdosa yang harus aku tanggung sendiri selama bertahun-tahun.

Suatu saat aku menemukan buletin kecil bernama Gaya Nusantara. Aku membacanya dengan seksama dari waktu ke waktu dan inilah, aku sadar bahwa aku gay dan aku harus menerima diriku dengan lapang dada.... Ini bukan sekedar orientasi seksual yang berbeda, bukan pula sekedar melampiaskan nafsu sesaat, ini bisa jadi merembet ke masalah hak asasi, tanggung jawab hidup, kebahagiaan yang harus diperjuangkan, dan segala resiko sosial yang 'harus' dialami oleh kaum minoritas... Perjalanan berliku baru saja aku mulai....

Denpasar.

Aku berteman akrab dengan teman-teman gay disini pada saat pertama kali aku pergi ke lapangan Puputan Badung. Disinilah aku merasa berada dalam duniaku.
Tetapi pada akhirnya aku merasa tidak nyaman jika aku harus keluar malam nongkrong dipinggir jalan hanya untuk bertemu teman-teman. Dan aku menyudahi petualangan dunia malam itu dan mempunyai beberapa teman akrab yang bisa saling mengunjungi pada sore hari setelah kerja.

Suatu saat, karena sudah putus asa dengan kondisi orientasi seksualku dan perlakuan semena-mena atas itu, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin. Aku bilang kepada bapakku bahwa aku mau kerja ke luar negri, jadi TKI. Tapi ditentang habis-habisan.

Internet booming. Aku mengenal gay.com dan beberapa yahoo gay grups.
Aku merasa semakin mudah berkenalan dengan sesama gay dari seluruh penjuru dunia. Email dan chat. Dari komunikasi yang terjalin aku jadi tahu bahwa orang di Eropa bisa menerima gay dengan wajar.

Bandara internasional Ngurah Rai adalah saksi bisu pada saat aku berdebar-debar dan penasaran menunggu kedatangan teman-teman gay-ku untuk liburan di Bali, juga menjadi saksi bisu ketika aku mengantar mereka kembali terbang ke negaranya. Ya, aku punya sebuah kamar untuk mereka jika mereka mau tinggal selama liburan di Bali. Aku hanya berharap bahwa aku juga akan boleh tinggal di apartemen mereka dengan gratis jika suatu saat aku punya kesempatan untuk pergi ke negara mereka.
Aku sedang merancang jaringan masa depan...

Suatu saat Charles si abang bule dari Perancis membuatku terpesona habis-habisan dan kami saling jatuh cinta selama empat minggu, kemudian saling patah hati selama beberapa minggu setelah dia kembali ke negaranya. Dia bilang bahwa aku masih terlalu muda untuk diajak pacaran, meskipun kami saling jatuh cinta.
Dan John dari Aussie dari waktu ke waktu datang dan membawaku mengembara di poppies Lane yang kelam. Dia mengenal Kuta lebih baik dari aku. Akupun mulai mengenal Kuta dengan lebih baik.

Hari berganti, waktu berlalu, tahun demi tahun aku lalui seperti itu  jika aku punya waktu  setelah belajar dan kerja; Aku merancang masa depanku agar bisa pergi sejauh mungkin dengan membuka komunikasi dan kesempatan selebar-lebarnya kepada teman-teman gay dari manapun.

Hanya satu yang mencambukku, kata-kata mbakyu-ku;  "Jangan-jangan kamu nanti jadi banci seperti kang Imam itu... Ndak boleh, itu dosa... Kamu mau diolok-olok orang sedesa?"

Sampai suatu hari Herbert, mantanku, berkirim email bahwa dia akan liburan ke Bali dan bertanya kepadaku jika aku bisa setidaknya menunjukkan jalan jika dia tersesat.

Kami intensif berhubungan lewat email, aku memberikan informasi sebanyak-banyaknya untuk acara liburannya dan kami saling jatuh cinta bahkan pada saat sebelum bertemu.

Dan pertemuan itu adalah sejarah.

Setahun kemudian dia menantangku untuk berhubungan lebih serius. Aku menyanggupinya dengan memutuskan semua hubungan dengan teman-teman yang lain dan tidak lagi menyediakan kamarku yang kosong untuk teman baru.

Dua tahun setelahnya dia mengundangku untuk pergi ke Jerman pada hari ulang tahunnya selama satu bulan.

Dan dua tahun setelahnya hanyalah cerita hilir mudik Denpasar - Hamburg. Sampai akhirnya kami menikah dan hidup bersama.... Tepat pada umur 30 tahun.

Cerita selanjutnya orang bisa membacanya mulai awal blog ini.

Lihatlah, aku sudah berusaha keras sepanjang hidupku untuk bisa keluar dari desa. Bukankah hanya orang yang mau berusaha yang akan bisa menuai hasilnya?

Aku sudah tahu dengan pasti bagaimana rasanya hidup sebagai gay di Indonesia, setiap hari harus berbohong untuk menutupi kondisinya, tidak ada perlindungan hukum sama sekali, dan yang sangat menyedihkan adalah  kenapa mereka saling bermusuhan antara satu dengan lainnya? Kenapa pula harus menipu satu dengan lainnya?

Aku pergi, hanya karena aku tidak mau jadi banci desa seperti kang Imam itu, yang berdosa.... Dan diolok-olok orang sedesa.

8 comments:

  1. :(
    Sedih Djo...

    Winter bikin orang jadi mellow ya? :(

    BalasHapus
  2. sedih memang jo jadi gay di indonesia, banyak batasan2 yg harus selalu d jaga dan ditutup rapat rapat. walaupun kita sudah open sama teman2 dekat, toh ga mungkin open kepada keluarga ataupun teman2 sekamupus. itu namanya mematikan pasaran, menyumbat jalan.. :(

    BalasHapus
  3. pengorbanan yang sangat luar biasa, demi untuk menjadi diri sendiri dan diterima oleh lingkungan. bagaimana pun aku yakin, setiap gay merindukan hal yang sama. yaitu ingin diterima apa adanya oleh lingkungan, terutama oleh keluarga.

    BalasHapus
  4. saya percaya, selalu ada tempat untuk seseorang, asal dia mencari nya.
    ada yg menemukan tempatnya dengan mudah,
    ada yg mudah beradaptasi dengan tempat apapun,
    ada yang selalu merasa sebagai kotak d tempat yg bulat....

    selamat, mas Bedjo sudah menemukan tempat nya!! :)

    BalasHapus
  5. Waw, pengorbananya banyak juga ya biar bisa jadi kayak sekarang.

    Manfaatkan dengan sebaik-baiknya ya. Utamakan bikin diri sendiri senang (Kan slama di Indonesia udah jadi kaum minoritas yg tersisihkan, ya kan?).

    BalasHapus
  6. Nice post...!, cerita yang menginspirasi....

    Follow your heart...
    And Let your love lead through the darkness.

    Oneday...
    you will find the light again...

    :) Dan kamu sudah menemukan cahaya itu, Jo...!

    Thanks ya Jo atas sharingnya..., You know what me want... (^_^)

    Happy New Year 2012 for all....

    BalasHapus
  7. Jeng, banyak tulisan di blog yey ini yg bagus. Bagus karena yey terbuka apa adanya, kisah manis kisah pahit, kisah culun, kisah bijak, kisah egois semua yey tulis apa adanya, itu jadi daya tarik terbesar blog ini. Tidak mustahil suatu hari blog yey bisa dibukukan.

    BalasHapus
  8. Oh gosch... ternyata postingan lebay-alay ini banyak mendapat simpati dari teman-teman. Padahal pada waktu mau klik publish ragu-ragu... Terimakasih ya...

    Tapi Mbakyu PanMek, kok ada ya ide kayak gitu, blog ketimpringan.com dibukukan? hihi...
    enihauw... ini blog ndak lebih dari sekedar online diary, jadi ya harus jujur dan apa adanya duong, masak sama diary-nya sendiri bohong...

    BalasHapus