Highway To Hamburg

Bagaimana rasanya nyupir mobil dengan kecepatan 250 Km/h? Ada yang pernah melakukannya?

Aku baru saja, dan tidak akan pernah melakukannya lagi. Cukup sekali saja sebagai test kemampuan menyupir.

Ketika jarum sudah sampai angka 180km/h dan naik secara perlahan, aku mulai merasakan perasaan yang tidak nyaman dan dadaku terus berdebar semakin kencang. Getaran mesin mobil sudah hampir tidak terasa dan ketika jarum di dashboard mobil menuju ke angka 220km/h, orang tidak lagi merasakan bahwa mobil masih berjalan diatas aspal. Ini rasanya seperti hampir melayang...

250km/h... Aku berada pada jalur kedua dari kiri. Tanganku semakin kencang memegang kendali, kakiku sudah gemetar menekan pedal gas yang hampir menyentuh lantai, aku tidak berani melihat apapun kecuali kondisi jalan didepanku. Sementara mentorku yang duduk disebelah tidak memberikan aba-aba untuk mengurangi kecepatan, akupun harus melaju.
Beberapa mobil yang melaju di jalur sebelah kanan terlihat seperti berhenti.

Nun jauh didepan sana aku melihat sebuah mobil yang masih terlihat sebagai kotak kecil saking jauhnya melaju di jalurku, semakin dekat jaraknya dan terus mendekat... dan akhirnya pak guru kursus mengemudi yang duduk disebelahku berkata dengan sangat hati-hati agar supaya aku tidak panik, "So... Pelan, lepaskan pedal gas secara perlahan... Bagus... sekarang kamu ada pada 200km/h tapi jangan melihat dashboard... Tetap lihat jalan didepan... Kita ada pada 200km/h dan sebentar lagi kamu tidak akan bisa mengendalikan mobil, jadi... pelan.... lepaskan pedal gas... Injak pedal rem sekarang... pelan...."

Aku merasa tubuhku terdorong kedepan secara konstan pada saat aku menginjak pedal rem secara terus menerus untuk mencapai kecepatan 150km/h. Dan ketika aku semakin mendekati mobil didepan yang menggunakan jalur yang sama dengan jalurku, aku bisa mengendalikan mobil lagi, tapi mobil masih ada pada tahap mencari kecepatan konstan, artinya aku masih harus menginjak pedal rem jika aku tidak mau menubruk mobil didepanku. Pada saat mobil kami semakin berdekatan, sekitar satu kilometer, dia menyalakan sinyal ke kanan, pindah jalur pada waktu yang tepat dan membebaskan jalur kiri dimana itu adalah jalur tercepat di Autobahn setelah jalur paling cepat disebelah kiri yang boleh digunakan hanya untuk menyalip kendaraan.

Itu tadi adalah pelajaran nyupir di Autobahn A7 (highway number 7) dimana itu adalah highway yang menghubungkan kota Flensburg dan Hamburg, atau secara internasional dikenal dengan nama E45 (Europe Highway 45). Autobahn disini tidak mempunyai nama melainkan nomer, tujuannya adalah agar lebih mudah mengigatnya karena perbedaan bahasa negara-negara mungil di Eropa.

Lha iya... Kalau nyupir, ngebut sedikit lama tiba-tiba bisa masuk ke Denmark, mlipir-mlipir sedikit ke barat bisa sampai Belanda atau Perancis, ke timur dikit, nyungsep ke Poland, dimana bahasa mereka benar-benar terdengar lain. Jadi untuk mempermudah mengingat jalan ya dikasih nomer saja.

Pelajaran tersulit dari berkendara di highway/autobahn adalah pada saat memasuki jalur autobahn dari jalan Countryroad/Bundesstraße atau dari Reststätte (Tempat istirahat). Orang hanya punya jarak dua kilometer untuk memasuki jalur dengan tepat, tanpa memacetkan kelancaran lalulintas baik di autobahn maupun dibelakang kita. Jadi, tidak boleh terlalu lambat atau tiba-tiba nyelonong masuk jalur.

Saking cepatnya jalur ini, orang harus menekan pedal gas sampai ke dasar lantai bahkan sebelum memasuki jalur paling kanan di Autobahn, dimana itu adalah jalur dengan kecepatan paling rendah. M E N G E R I K A N !

Jadi hari ini kami selama empat jam lebih banyak keluar masuk reststätte dan tempat istirahat di Autobahn agar aku semakin terampil keluar masuk Autobahn dan sisanya adalah berkendara dengan kecepatan tinggi.

Ketika istirahat ngopi-ngopi ndak cantik disebuah kafe autobahn, Karl guruku bertanya bagaimana rasanya berkendara dengan kecepatan 250km/h, aku menjawab, "Mengerikan, aku merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa mengendalikan apa-apa selama beberapa saat dan aku tidak akan pernah lagi melakukannya!"
Dia malah bilang, "Ya! itulah maksudku menyuruhmu pada kecepatan 250km/h, agar kamu tidak perlu lagi coba-coba sendirian tanpa pengawasan..."

Oalah, ternyata begitu...

So, pelajarannya adalah... Autobahn hanya boleh digunakan oleh kendaraan yang bisa berjalan diatas 60km/h baik motor maupun segala jenis mobil. Selalu punya jalur satu arah, Kecepatan rata-rata adalah 130km/h, Tidak ada batasan kecepatan maksimum (kecuali ada rambu, salju, kemacetan dan angin kencang), jalur paling kanan tidak boleh digunakan kecuali jika kendaraan mogok, karena itu adalah jalur darurat untuk mobil penyelamat. Jalur kedua dari kanan hanya untuk mobil truk dan kontainer besar maupun mobil yang membawa gerbong tambahan dengan kecepatan maksimum 80km/h, jalur sebelah kirinya adalah untuk kendaraan pribadi yang berjalan dengan kecepatan tanpa batas, dan jalur yang lebih kiri (jika ada) digunakan untuk kendaraan dengan kecepatan lebih cepat, kemudian jalur paling kiri hanya digunakan untuk menyalip.
Menyalip kendaraan hanya boleh dari sebelah kiri, dan jika ada kemacetan lalu lintas maka kendaraan yang berjalan di jalur paling kiri harus mepet ke kiri dan membebaskan celah disebelah kanan, mobil yang ada di jalur kedua dari kiri harus mepet ke kanan untuk membebaskan celah disebelah kirinya. Jalur dadakan ini harus bebas hambatan untuk mobil polisi, ambulan atau dinas kebakaran.

Begitulah aturannya berkendara di Highway/Autobahn...

Hayo ngaku... Siapa yang punya SIM tanpa pergi ke sekolah mengemudi sebelumnya...?

Lho... Semua kok pada angkat tangan ya...

Baiklah, aku dulu juga begitu. Terimalah kenyataan, bahwa jalan raya kita sedikit banyak masih menggunakan hukum rimba, dimana yang paling besar dan cepat adalah raja jalanan. Padahal kenyataannya, mobil yang paling besar itulah yang seharusnya berjalan paling lambat dan pengendara sepeda motor itulah sebenarnya yang harus diutamakan keselamatannya, karena mereka punya resiko terbesar dijalan.

Jadi bagi yang punya SIM tanpa sertifikat lulus dari sekolah mengemudi, inilah pelajaran selanjutnya..... sutralah bok, jangan sakit hati, inilah rahasia mengemudi yang aman dan tenteram....

- Aqua Planning: Air hujan, salju, lumpur, dedaunan kering yang basah adalah penyebab utama tergelincir di jalan, dimana ban mobil tidak lagi menginjak aspal dengan erat pada kecepatan tinggi, oleh sebab itu selalu terapkan aqua planning jika menemukan kondisi jalan seperti ini. Terserah kalian buru-buru dikejar waktu atau tidak, tetapi agar aqua planning tercapai dengan sukses, kecepatan maksimum adalah 50km/h.

- Klakson: Di daerah perumahan dan perkotaan, klakson hanya boleh dibunyikan untuk memberikan sinyal tanda bahaya, sementara diluar itu hanya untuk memberikan sinyal tanda bahaya dan menyalip kendaraan lain (meng-klakson penyeberang jalan adalah bukan tanda bahaya, hukumnya haram).

- Jika harus menyalip pengendara sepeda ungklik dan sepeda motor, lebar jarak minimum dari mereka adalah 1,5 meter dan jangan melewati jarak minimum ini karena bisa jadi tubuh mereka akan condong tanpa terduga. Jadi sebelum menyalip mereka pastikan bahwa tidak ada kendaraan yang berjalan berlawanan arah dari depan. Sekali lagi, mereka adalah pengguna jalan dengan resiko kecelakaan terbesar. Lindungilah mereka.

- Menyalip kendaraan lain: Well... Menyalip kendaraan lain sebenarnya adalah tindakan yang paling berbahaya di jalan. Semuanya harus terjadi dengan sangat cepat agar lalu lintas tidak terhenti tetapi sebelum menyalip, bertanyalah kepada diri sendiri dulu, apakah itu perlu? dan sekali lagi bertanyalah kepada diri sendiri dulu, apakah aku harus benar-benar menyalipnya? Karena bisa jadi kalian akan sampai di lampu merah depan hanya dua detik lebih dulu dari kendaraan yang baru kalian salip dengan mengorbankan resiko besar itu tadi.

- Sabuk pengaman dan pelindung kepala yang ada diatas jok itu bukanlah aksesoris pelengkap mobil, jadi harus digunakan. Bahkan pada kecepatan 30km/h tanpa sabuk pengaman dan pelindung kepala, orang bisa menuai resiko fatal.

- Zebra cross dan jalan yang berwarna merah pada beberapa negara Eropa, adalah daerah kekuasaan pejalan kaki. Jadi kendaraan beroda harus berhenti jika ada pejalan kaki menyeberang, bahkan jika mereka masih ada di trotoar.

- Rot ist Tod: Melanggar rambu lampu merah artinya mati! Orang langsung kena point 3. Sementara jika sudah sampai pada point 18 maka SIM akan dicabut. Kamera pengawas ada dimana-mana, Big brother is watching you!

- No tolerance for drug users.



- Hanya orang bodoh tolol tak berpendidikan plus stupid idiot kampungan yang menggunakan HP pada saat mengemudi, jangan pernah menjadi bagian dari mereka.

- Ngantuk? Bukan minum kopi, tapi tidur dulu. Kebanyakan minum alkohol? Hanya 1ml pro mil yang akan hilang dari tubuh setelah 10 jam tidur.

- Mungkin ini tidak bisa diterapkan di Indonesia, tetapi kecepatan maksimum di perumahan dan perkotaan adalah 50km/h, Bundesstraße/country road adalah 100km/h.

- Faustformel/Rule of thumb... Main hitung-hitungan yuk.... Jika suatu saat didepan kita ada bahaya menghadang...

Reaction Distance ( Jarak yang dihitung dari mulai kaget, bego sebentar, nginjak pedal rem... okay satu atau dua detik) = (kecepatan dalam kmh : 10) X 3

Braking distance (dihitung dari mulai menginjak pedal rem sampai berhenti) = (Kecepatan dalam kmh : 10) X (kecepatan dalam kmh : 10)

Stopping distance (Dihitung mulai kaget sampai mobil berhenti dengan sempurna) = Reaction distance + Braking distance

Contoh kasus; Aku berkendara normal dijalanan normal dengan kecepatan 100km/h dan tiba-tiba harus mengerem, jadi....

- Reaction Distance; ( 100 : 10 ) X 3 = 30 meter.
- Braking distance; ( 100 : 10 ) X ( 100 : 10 ) = 100 meter.
- Stopping distance; 30 + 100 = 130 meter.

Jadi... Pada kecepatan 100km/h aku bisa berhenti dengan sempurna pada jarak 130 meter didepan setelah pertama kali kaget kemudian menginjak rem pertama kali.

Sekian pelajaran kursus mengemudi untuk hari ini. Ada pertanyaan? *Tanya-sambil-senyam-senyum-seperti-ibu-guru-didepan-kelas*


0 comments:

Poskan Komentar