[ketimpringan Afrika] Musafir di Padang Pasir

Kami, 12 orang yang berasal dari berbagai negara sedang menjadi musafir
melintasi padang pasir menuju tenda suku Berber.
Ya! Maksud hati ingin segera menyelesaikan postingan bersambung tentang liburan pendek kami ke Maroko, apa daya tangan tak sampai. Tetapi biar lambat asal selamat bukan? Inilah kelanjutan cerita kami...

Setelah hampir seharian kami, dua belas orang turis, melintasi pegunungan Atlas yang memukau itu, menjelang sore hari kami tiba di pinggiran kota Zagora, dimana mobil tidak lagi bisa terus berjalan karena ada padang pasir didepan.

Aku harus memuji pak sopir atas jadwal yang bagus karena tentu saja kami akan mengkerut-mengering jika harus melintasi padang pasir mengendarai unta pada tengah hari bolong. Dan ini sudah hampir senja, tentu saja tak masalah bagi kami berada diluar mengingat suhu udara tidak lagi terlalu panas, dan matahari sudah sangat condong hampir tenggelam.


[ketimpringan Afrika] Melintasi Pegunungan Atlas

Lihat... Puncak pegunungan Atlas yang selalu bersalju itu....

Ini adalah pengalaman yang tidak akan begitu saja terlupakan. Pada hari ke tiga kami memutuskan untuk melakukan perjalanan keluar medina, pergi ke padang pasir untuk bermalam di tendanya suku Berber, suku asli yang mendiami sebagian wilayah Maroko.

Untuk menuju tenda ini kami harus bermobil selama kurang lebih 8 jam melintasi pegunungan atlas yang puncaknya selalu bersalju, kemudian melintasi padang pasir selama satu setengah jam naik unta, barulah kami sampai di tenda mereka yang berada ditengah-tengah padang pasir luas.

[ketimpringan Afrika] Marrakech yang Cantik



Foto-foto tentang Marrakech medina kota tua bisa dilihat pada postingan yang ini: http://www.ketimpringan.com/2012/05/ketimpringan-afrika-marrakech-kota.html
Tapi percayalah, Marrakech bukanlah kota yang kumuh dan jorok. Memang suasana kota tua ya seperti itu namun tentang sampah, medina tua ini bersih. Aku pernah sekali melihat bagaimana pengelolaan sampah di medina ini, itu mirip seperti di Jerman. Mungkin itu adalah binaan dari Perancis mengingat dalam sejarahnya Maroko adalah koloni dari Perancis. Merekapun berbicara dalam bahasa Perancis.

Tetapi biar bagaimanapun juga ini adalah sebuah medina di tengah padang pasir, jadi berdebu. Meskipun tidak kasat mata tetapi sedikit mengganggu bagi pemakai lensa kontak seperti aku. Jalan satu-satunya ya harus melindungi mata yang berkontak lensa dengan sunglass.

[ketimpringan Afrika] Tajine dan Kefta


Ini lho yang namanya tajine...

Makanan khas Maroko adalah Tajine dan Kefta. Tajine adalah daging atau ayam berbumbu, kemudian diatasnya ditaburi sayuran seperti buncis dan wortel dan  buah olive dan lain-lain, ditaruh dalam sebuah pot keramik bertutup dan dibakar menggunakan arang, ada sedikit kuah didalamnya dan disajikan langsung seperti itu dalam keadaan masih panas. Sementara kefta adalah daging giling berbumbu yang dibakar, baik menggunakan tusuk sate maupun sebagai pergedel. Keduanya disajikan bersama roti.

Keduanya mempunyai rasa yang spesial, menurutku itu adalah rasa yang kuat dari korriander, tetapi aku tidak tahu dengan pasti, hanya rasanya seperti itu.

[ketimpringan Afrika] Marrakech Kota Labirin



Ya, inilah labirin berukuran raksasa; Marrakech!
Turis yang tidak pernah tersesat di lorong-lorong kota Marrakech berarti hebat, punya naluri orientasi tingkat tinggi.

Tadi waktu kami berada disebuah lorong entah dimana didalam kota dan sibuk membaca peta, datang sepasang turis yang ternyata sama seperti kami; kehilangan arah. Mereka bertanya, "Do you know where we are?" Dan kami tidak bisa membantu mereka, "the only one thing what i know is, we are in labyrint, we will go to this direction, and good luck..." 

[ketimpringan Afrika] Bonjour, Salam-eleikum



Singkat cerita kami tiba di Bandara Menara Marakech, tadi di pesawat sempat terlelap karena sebelumnya harus bangun pagi. Bangun-bagun waktu makan siang, terus dua-duanya terlelap lagi, bangun lagi sesaat sebelum pesawat mendarat.

Sesuai informasi yang aku terima bahwa pemegang paspor RI tidak perlu mengajukan visa untuk berkunjung ke Marokko, maka petugas pemeriksa hanya berkata kepadaku waktu aku menunjukkan pasporku, bahkan sebelum membukanya. Rupanya dia sangat bersahabat dengan pemegang paspor warna hijau kita, "Ah,  Indonesia! welcome!" Katanya riang dan menyerahkan kembali pasporku.

[Ketimpringan Afrika] Marhaba Marrakech

Ya, akhirnya besok kami terbang ke Marrakech, sebuah kota di Marokko selatan untuk melakukan liburan pendek selama 8 hari. Semua sudah masuk koper, semua sudah rapi jali, tinggal berangkat.

Oh tapi ini sudah jam 22 malam, sekian saja postingan untuk kali ini karena mau tidak mau aku harus tidur sekarang, besok jam 3 pagi harus berangkat ke bandara Hamburg.

Apakah yang akan terjadi pada acara liburan kami? Apa yang menarik dari liburan kami nanti? Aku juga penasaran dengan apa yang akan aku atau kami alami disana nanti....

Yang jelas, tunggu saja postingan serial dalam acara liburan kami dengan foto-foto cantik tentu saja....