For the Love of Prague


Masih melanjutkan cerita perjalanan kami pergi ke selatan beberapa waktu lalu. Ini adalah tulisan kedua, tulisan pertama bisa dibaca disini....

Ada dua pilihan untuk makan siang, makan di Praha atau ke Wina.


Bingung kan? Dua-duanya adalah tempat yang asik buat dipakai makan siang dan jalan-jalan menikmati suasana setelahnya. Jadi harus pakai voting. Hari itu Tipi sedang libur sementara Mark harus bekerja.

Dan hasil voting pagi itu dimenangkan oleh Praha, ibukota Czech Republic dengan suara mutlak 100%. Maka kami berkendara sekitar 300km untuk menuju Praha.



Perjalanan yang riang dan menyenangkan karena kami sedang liburan dan tidak terburu-buru. Nürnberg - Praha adalah juga jalur indah dan rapi-jali. Kami berkendara melintasi daerah pegunungan yang indah. Sekali waktu jalanan menanjak dengan pohon-pohon berdaun musim gugur berwarna-warni hangat, dilain waktu kami menuruni tebing landai dengan panorama lembah didepan yang memukau berselimut kabut misterius.

Sampai di perrbatasan. Tak ada hingar-bingar papan selamat datang atau selamat tinggal ketika memasuki wilayah negara yang berbeda. Juga tak ada pos pemeriksaan apapun. Yang ada hanyalah simbol persatuan Uni Eropa yang banyak bintang kecilnya itu. Tetapi kami harus memasuki jalur khusus masuk ke pom bensin karena kami naik mobil dengan plat nomer Jerman.

Di toko pom bensin, can you say it properly?
Nah di pom bensin perbatasan ini orang bisa istirahat dulu, ngopi-ngopi cantik sejenak, pipis-pipis manis sesaat, makan-makan ringan dan belanja-belanji murah. Czech jauh lebih murah dibandingkan dengan Jerman.
...Dan untuk beli stiker! Ini bukan sembarang stiker tetapi stiker ini harus di tempelkan di kaca depan mobil selama berkendara di dalam negara Checzch... eh Chezch.. emmm... Repulik Ceko maksudnya. Ini negara aneh banget ya namanya....

Begitulah! Mobil dengan plat nomer negara Jerman harus bayar bea jika memasuki negara Czech.  Ingat ini baik-baik buat kalian yang berencana liburan ke Jerman dan berniat sewa mobil.
Harga stiker ada tiga macam. 16€ buat dipakai berkendara selama 10 hari di negara ini, ada juga stiker dengan masa berlaku satu bulan dan tiga bulan.

Suasana Autobahn (highway) antara checz dan Jerman tidaklah jauh berbeda, hanya saja rambu dan penunjuk arah lainnya berwarna dasar hijau, tidak seperti di Jerman yang berwarna biru.

Sesaat setelah jauh masuk ke dalam wilayah negara itu barulah perbedaan mulai terlihat. Bekas-bekas masa komunisme masih bisa dilihat dari bentuk gedung-gedung yang simpel dan berkonstruksi murah. Selebihnya negara ini juga rapi dan indah untuk dinikmati. Okay, tentu saja orang tidak bisa membandingkan dengan kerapian dan pemeliharaan versi Jerman. Jerman lebih punya uang untuk itu.

So! Kami sampai di pinggir kota Praha, atau ada yang menyebut Prague dan Prag. Dan sesaat kemudian setelah sekali salah jalan karena navigator lambat kasih perintah belok kanan kami memasuki old town Praha.

Praha... Praha... Praha... For the Love of Prague... Tipi dan aku terkesan akan keindahan kota tua ini. Padahal kami cuma masih celingak-celinguk di dalam mobil, tetapi aura kota tua Praha sudah menyihir kami...

Tommy sudah pernah kesini sebelumnya. Semua jalan raya di kota tua ini berlapis batu, bukan aspal. Jadi orang bisa bernostalgia merasakan bahwa inilah kemegahan kota Praha di masa lalu.

Tujuan pertama kami adalah mencari tempat parkir yang dekat dengan stasiun kereta bawah tanah. Tommy sudah tahu tempatnya setelah kemarin malam kami mencarinya di google map. Dia bilang kalau ke Praha kami harus masuk stasiun kereta bawah tanah karena ada yang unik dan menarik didalamnya.

Mencari tempat parkir di kota tua Praha adalah perjuangan berat. Hampir semua tempat parkir di pinggir jalan bertuliskan 'reserve'. Kalaupun tidak maka selalu terisi.

Kami berputar kesana-kemari beberapa saat untuk mencari tempat parkir kosong, tetapi semakin banyak saja tempat parkir bertuliskan 'reserve'.

Aku memutuskan untuk turun karena aku tidak percaya dan sangatlah tidak masuk akal jika semua tempat parkir di kota ini telah di reservasi. Oleh siapa? Pemilik toko dan restoran kah? agar pelanggan mereka rajin datang?

Jadi aku benar-benar turun dari mobil sementara Tommy dan Tipi menunggu di mobil dengan mesin tetap dihidupkan agar tidak di tegur polisi.

Terus aku mendatangi tempat parkir 'reserve', mengamatinya dan aku tidak menemukan tanda reservasi sama sekali di dalam mobil-mobil yang terparkir. Aku malah melihat struk parkir jam-jaman di atas dashboard semua mobil, dan itu... Apakah itu...? yang berdiri di sudut itu...? Bukankah itu adalah slot mesin parkir? Dimana orang harus memasukkan koin buat beli struk parkir jam-jaman?

Sambil terkikik geli aku menghampiri Tommy dan Tipi yang sedang menunggu dengan penasaran kemudian mengajak mereka keluar dan menunjukkan slot mesin parkir terdekat. Kemudian aku menyimpulkan bawa tulisan 'reserve' yang terdapat di bawah hampir semua simbol tempat parkir di Praha maksudnya bukanlah tempat parkir yang sudah di reservasi melainkan 'mit Parkschein' dalam bahasa Jerman, artinya orang harus beli karcis parkir pada mesin otomatis kemudian menaruh struk parkir pada dashboard mobil...

Dodol...!

Selanjutnya setelah menukar uang dengan koin lokal kami mendapatkan tempat parkir selama dua jam, and our journey to old city Praha begun...

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah central square. Untuk itu kami harus mencapainya dengan naik kereta bawah tanah, dan benar seperti yang Tommy bilang bahwa kami harus naik kereta bawah tanah jika pergi ke Praha.

Unik. Aku tidak pernah melihat stasiun sedalam stasiun bawah tanah di Praha. Tidak tahu berapa meter kedalamannya tetapi dalam sekali. Untuk mencapainya orang menggunakan tangga berjalan. Dan peringatan bagi yang takut akan ketinggian, lebih baik jangan memasukinya. Lha wong aku saja sampai ketar-ketir pada saat menginjak anak tangga sambil melihat ke bawah. Dalaaaaam... sekali.

Jadi akan terlihat fenomena aneh pada anak tangga berjalan ini; semua orang yang turun maupun naik akan mepet ke sisi sebelah kanan tangga. Ada yang mulai buka-buka koran dan majalah, merapikan dandanan, nulis-nulis di smartphone, bikin-bikin snapshot dan kegiatan-kegiatan kecil lainnya karena membutuhkan waktu lama untuk naik-turun stasiun bawah tanah ini. Sementara sisi sebelah kiri tangga dipakai untuk jalur cepat, maksudnya bagi yang akan ketinggalan kereta atau sejenisnya akan berjalan diatas anak tangga berjalan ini.

Rapi sekali.

Sekilas info, aku menyarankan untuk membeli karcis harian bagi yang akan berkunjung ke Praha. Dengan karcis ini orang bebas pergi kemana saja didalam kota selama 24 jam dan titik-titik wisata di kota ini letaknya berdekatan dengan stasiun-stasiun bawah tanah. Cuma tinggal naik turun tangga berjalan sambil merapikan dandanan. Peta perjalanan kereta bisa diminta pada penjual karcis dan peta-nya mudah untuk diikuti. Karcis bisa di beli di dalam semua stasiun dan penjualnya manusia betulan yang bisa di tanya-tanya, tidak seperti stasiun kereta di Jerman yang penjualnya adalah mesin yang tidak bisa ngomong.

Sampai di central square kami lapar. Terus mulai pilih-pilih restoran yang ada di setiap sudut dan kami tertarik oleh sebuah plakat yang di pasang di depan sebuah shopping mall. Di situ tertulis bahwa di lantai empat ada food center yang menjual makanan tradisional, internasional sampai restoran jaringan milik Mak Donal.

Kamipun memasukinya. Bukan, bukan masuk ke restoran cepat saji milik mak Donal itu. Miskin-miskin gini eke tetap harus jaga gengsi dong... Dimanapun berada aku selalu menghindari restoran franchise, apalagi kalau sedang jauh dari rumah seperti waktu itu, aku harus merasakan makanan lokal.

Jadi aku mendapatkan seporsi gulash domba versi Praha plus bir lokal untuk makan siang, Tommy juga. Dan aku sudah lupa apa yang dimakan Tipi, tetapi kami keluar restoran dengan puas.

Ngomong-ngomong tentang bir, tahukah kalian bahwa bir pilsener yang terkenal sampai ke seantero jagat itu pertama kali di buat di kota Pilsen? Jadi namanya bir pilsener. Sama seperti Champagner. Bedanya saat ini bir pilsener boleh di produksi dimanapun sementara champagner hanya boleh di produksi di kota Champagner, mereka telah mengantongi hak paten. Kota Pilsen terletak tidak jauh dari perbatasan Checz - Jerman.


Cerita berlanjut. Singkatnya kami sampai di depan musium... bangunannya besaaaaar sekali. Yang hilir mudik di sini menunjukkan bahwa hampir semua dari mereka adalah turis, terlihat dari tingkahnya yang aneh-aneh seperti celingukan kesana kemari, simak-simak peta, jalan sambil mendengarkan guide app dari smartphone, poto-poto narsis... Tentu saja kami juga harus poto-poto narsis dong ah, Praha gitu loh.



Kemudian kami berjalan-jalan di lorong-lorong sempit terkenal di Praha. Suasana yang memukau. Sama seperti jalan-jalan utama di kota tua ini, lorong-lorong itupun berlapis batu. Di kanan-kiri lorong berjejer sambung menyambung bangunan-bangunan tua yang cantik dan klasik digunakan sebagai toko suvenir, kafe, restoran dan lain-lain fungsi layaknya pada sebuah kota tujuan wisata.


Eh tiba-tiba Tommy sadar bahwa kami sudah hampir dua jam meninggalkan mobil sementara parking reserve kami cuma berlaku selama dua jam (hihi... dodol, kalau ingat kata reserve....). Jadi kami harus kembali ke mobil intuk me-reserve parkiran lagi....

Jadi naik underground lagi, reserve parkir lagi, dan pergi ke titik wisata lainnya lagi....

Kali ini aku ingin melihat jembatan tua yang terkenal di Praha itu dengan mata kepala sendiri. Dan kamipun pergi ke sana. Jalan yang seharusnya dekat itu akhirnya jadi jauh karena Tipi ingin melihat patung cowok telanjang di depan sebuah museum, setelahnya Tommy ngajak ngopi-ngopi sejenak dan aku ingin beli gantungan kunci di sebuah toko suvenir mungil dipinggir jalan.

Dan pada akhirnya kami sampai di Charles Bridge/Karlbrücke, jembatan tua yang megah itu ketika hari sudah gelap.


Tentu saja Charles bridge amazing. It is a 'must visit place' in Prague.  Semakin gelap semakin ramai, dan semakin memukau dengan pandangan ke kota praha yang berkilau oleh iluminasi.

Then we spent our time on Charles bridge with other tourists, enjoyed a nice bright evening with dim lights every where, listening street artists played their folk music, watched another artist painted on canvas, bought another cheap souvenir.... 

That was a cool evening, and after a while we decided to walked through Charles bridge to the other side, entered a small street in old city and warmed up our body with a glass of glühwein (hot red wine mix with dry herbs) for each, before we continued walk to see famous astronomical clock near central square.

Then drove to home for another 300km.

6 komentar:

  1. kok paragraf bawahnya campur inggris mas?
    hehehe.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeee.... soalnya lagi belajar bahasa inggris.. Biar gaya...!
      Soalnya kalo dikasih bahasa Jerman ntar kamu lari terbirit-birit.... haha...

      Hapus
  2. wow...romantis ya...jadi ingat si matt apa si mark ya kok lupa, gua bukan nerd di comp...ituloh rent boy di sweetadonis.com jaman dulu cowok bule ganteng n brondong lagi ml ama evan sanders bintang flm nya indo...trus cinta si matt di tolak si evan n dia nyebarkan di internet...padahal tampang kayak matt kalau di LN pasaran....yg lebi ganteng mah buanyak yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe... sori ya Ano, aku kalo diajak ngomongin artis Indo sudah tulalit, ndak tau berita lagi....

      Hapus
  3. kok patung cowok telanjangnya gak di foto, mas?? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tentu saja di foto dong... Tapi gak di upload di blog, isin... :))

      Hapus

Kasih komentar yang sopan ya... dan jangan nyepam dong. Enjoy Difference - Start Tolerance, but zero tolerance for spammer.