Ketimpringan di Den Haag, Party di Amsterdam



Setelah beberapa hari explored Amsterdam, selanjutnya sampailah kami di Den Haag dan tentu saja kesan pertamanya adalah lapang, modern, kinclong dan rapi-jali. Den Haag adalah sebuah Metropole yang terletak di pesisir North Sea. Dulu adalah sebuah tempat peristirahatan para bangsawan dan orang-orang kaya. Sekarang masih banyak istana dan kastil yang tetap utuh berdiri.

Tidaklah jauh untuk menuju Den Haag dari Amsterdam. Mereka hanya berjarak 65 Kilometer antara satu dengan lainnya atau tak lebih dari satu jam berkendara, dan Den Haag adalah kota yang nyaman untuk dinikmati.


Pacarnya Orang Amersfoort

Marktplatz di Amersfoort

Rencana hari selanjutnya adalah bermalas-malasan sambil mengenal lebih dekat Landsmeer, kota tempat kami tinggal selama beberapa hari di Nederland. Landsmeer adalah kota pinggiran metropolis Amsterdam, berjarak 5€ sekali jalan menggunakan bis ke Centraalstation. Ini adalah kota kecil yang tenang dan berada di pinggir danau. Tak banyak yang terjadi di kota ini, hanyalah aktifitas sehari-hari penduduk kota.

Tetapi kata bartender kami beberapa malam lalu, hari ini akan ada Wochenmarkt (pasar mingguan) di Marktplatz dan seharusnya kami membeli beberapa keju yang telah dicatatnya khusus buat kami di Wochenmarkt ini, dijamin orisinil dan bukan keju pak-pakan yang bisa dibeli di Supermarkt.

Aku selalu suka belanja di Wochenmarkt. Suasana gayeng penuh canda dibawah tenda antara penjual yang menggelar barang dagangannya di meja-meja atau mobil toko buka-tutup dengan para pembelinya selalu terdengar meriah. Tak jarang ada tawar menawar kecil atau kasih-kasih bonus sedikit. Gosip segar yang sedang terjadi juga menyebar dengan cepat disini. Jadi Wochenmarkt ini adalah pasar tradisionalnya orang Eropa.


[I Amsterdam] Coffe-Shop atau Van Gogh Museum?



Kota tua Amsterdam itu mungil, tak sulit untuk menjangkau atraksi-atraksi tujuan turis di seluruh kota ini baik dengan berjalan kaki atau sewa sepeda pancal. Tempat paling tepat untuk mulai menjelajahi Old Amsterdam - berdasarkan saran teman-teman baru yang kami temui di Cafe de 3 Sprong malam sebelumnya - adalah Centraal Station yang berada di sudut utara kota. Dari sini barulah kami berjalan turun ke dalam kota.

Kenapa kami tidak jadi sewa sepeda? Melihat begitu banyaknya manusia dan juga pengendara sepeda pancal, kami tidak yakin apakah bisa nyaman bersepeda. Jadi sewa sepeda pancal dibatalkan dan memilih berjalan dari ujung ke ujung.


I Amsterdam, Keluyuran Malam-Malam



If you visit Amsterdam (Old Amsterdam), jangan sekali-kali bermobil dan jangan beli kopi di Coffee Shop. Amsterdam adalah kota unik yang asik, orang tidak akan pernah bosan dengan segala multi-kulti yang ada, dan berhati-hatilah jika berjalan kalau tidak ingin ketubruk sepeda pancal. Tak pernah aku melihat sepeda pancal sebanyak di Amsterdam, dan tak pernah aku melihat kota sebebas ini.

Tahukah kalian arti simbol XXX yang tertera pada maskot kota Amsterdam? Sex? Pornografi? Bukan.... Tiga kali X itu adalah sebagai pertanda bahwa kota tua yang cantik ini pernah mengalami tiga kali musibah dalam sejarah pertumbuhannya yaitu bencana banjir, kebakaran dan epidemi penyakit pes.

Yuk lanjut.....


Lintas Tanggul Menuju Holland



Next destination is Holland. Untuk itu kami memilih jalur yang sedikit memutar daripada jalur langsung yang sebenarnya lebih dekat. Bukankah kami sedang santai? Jadi boleh berputar-putar sejenak dong ya, lagipula jalur memutar ini menarik...

Menariknya adalah jalur Autobahn ini melintasi tanggul pembendung laut North See yang panjang sekali. Jadi pada saatnya nanti kami akan berkendara di tengah laut. Bukan menggunakan kapal ferri melainkan bermobil, dan juga bukan dengan melintasi jembatan tetapi tanggul. Asik kan?

[Nederland] Kroket Aneka Rasa


Hari ini kami akan menjelajahi kota Groningen yang terletak tak jauh dari perbatasan Belanda-Jerman di kawasan utara. Kota Groningen bagus dan rapi, mempunyai passage yang panjang dan Grote Markt yang terkenal. Di kota kecil seperti inilah orang bisa menikmati dan mengamati Nederland yang asli, tidak terbaur dengan budaya global seperti di kota-kota besar.

Dan seperti halnya jika orang pergi ke Nederland, tentu saja negara multi-kulti ini kaya dengan 'makanan wajib coba', salah satunya kroket. Bukan kroket biasa yang terbuat dari kentang yang cuma digarami, kroket Nederland lain. Rasa kroket original dengan penyajian yang asli bukan di dapat di restoran mahal melainkan di warung pinggir jalan bernama Snack Bistro yang bisa ditemui di seantero negri.

Photo walking: Salju, brrrr....

kemarin hujan salju turun dengan lebat. Selesai menyelesaikan pekerjaan aku pergi keluar untuk menikmati pemandangan kota yang terasa sedikit magis jika sedang tertutup salju, apalagi di sekitar gereja yang banyak kuburannya dan Rathaus (Balai kota).

Jadi rute potonya (aku taruh di akhir postingan ini) adalah meja kerja, taman depan rumah, terus ke taman kota, pusat kota, sekitar gereja, dan pelabuhan.

Karena udara sangat amat dingin dan tiba-tiba salju turun dengan deras lagi, maka aku tidak bisa berlama-lama diluar dan langsung pulang lagi.

Inilah hasil dari photowalking kemarin:

Lihat... sudah banyak salju diluar....



Halaman depan rumah kami yang membeku


Taman kota Schlossgarten.






Kota kami sedang tertutup salju.
Tuh lihat, deras kan?







Pohon natal didepan Rathaus sudah menyala bok.





Hahahihi... Pertanda pemiliknya adalah pemalas pol!





Imut yah....





Itu adalah historical Packhaus di pelabuhan yang merupakan kebanggaan kami,
Menjelang hari natal gini dihias sebagai Advent kalender dimana setiap
jendelanya ada angka 1 -24 dan menyala setiap memasuki tanggal yang tertulis.
Merupakan advent calendar terbesar versi Guinness book of Record.
Kalau minggu ramai pengunjung karena ada Weihnachtmarkt (Pasar natal).






Pelabuhan yang tenang dan damai... Areal termewah, Orang2 kaya
tinggal disini.






Nanti kalau sudah benar2 beku, kita bisa plorotan
main ski es di kolam ini.

Welkom in Nederland: Berkendara Dalam Badai

Nederland atau Belanda, disinilah aku melihat negara yang sangat amat datar, orang-orang yang sangat ramah, jutaan sepeda pancal yang tak pernah aku temui dimanapun kecuali di Amsterdam, negara yang sangat multi-kultur dan nikmatnya bermacam-macam keju. Welkom in Nederland, ini adalah cerita liburan seminggu di Nederland masuk melalui Friesland (wilayah bagian utara negara di pesisir pantai North sea), melintasi kota-kota kecil di Friesland dan Noord Holland, kemudian berkendara memasuki Holland dan menjelajahi kota Amsterdam dan kota-kota kecil disekitarnya, setelah itu turun ke selatan menuju Den Haag.

Kami bersyukur karena telah dikaruniai cuaca yang bagus selama di Niederlande. Cuaca bagus pada musim gugur adalah tidak banyak hujan dan angin, itu saja, jangan berharap macam-macam. Meskipun pada hari keberangkatan, kami harus menerjang badai orkan yang waktu itu menghajar pesisir pantai North sea sampai-sampai kami harus berhenti selama beberapa saat karena jalan terblokir oleh mobil-mobil yang bergelimpangan dan pepohonan yang roboh ke badan jalan.....


Metropolis Mungil Höxter

Cerita bagian pertama bisa dibaca disini.


Nah, menurut Anne si pemilik bar kesukaan kami selama kami tinggal di kota resor Karlshafen yang sunyi-sepi-sendiri itu, ada baiknya kami melakukan tur sehari ke kota Höxter, berjarak 25 kilometer menggunakan mobil atau bisa juga naik kereta api yang datang setiap setengah jam. Katanya Höxter kotanya cantik dan unik, bergaya renaissance dan merupakan metropolis bagi orang-orang yang tinggal di ketinggian Weserbergland ini. "Kalian masih terlalu muda untuk duduk-duduk seharian di pinggir sungai Weser!" Dan kami menyetujuinya.

Jadi, bangun pagi yang kesiangan dengan santai, sarapan santai, dan setelah jalan-jalan santai sejenak di englischer Garten hotel untuk menempatkan makanan pada posisi yang nyaman di perut kami, maka kami berkendara santai dengan tujuan Höxter. Tentu saja navigator mobil adalah pemandu yang bisa diandalkan. Si navigator memberikan tiga alternatif jalan menuju Höxter dan kami memilih jalur yang terpanjang, terjauh dan berliku-liku. Bukankan kami sedang santai?

Terdampar di Kota Mati

Alkisah, pada jaman dahulu kala ada seorang bangsawan sedang berburu di dalam sebuah hutan pada dataran tinggi Hessen. Ketika dia dan rombongannya sampai di pinggir sungai Weser, mereka beristirahat pada sebuah dataran luas yang dikelilingi oleh bukit-bukit...

Beberapa tahun kemudian sang bangsawan kembali lagi ke sebuah tempat datar di tengah hutan ini bersama rombongannya. Kali ini bukan untuk berburu, karena rombongan besar ini terdiri dari para arsitek, Ingenieur dan Baumeister bersama tukang bangunan.

Benar, sang bangsawan (Landgraf) bernama Landgraf Karl zu Hessen beserta rombongannya akan membangun sebuah kota disini.

Sejak saat itu terdapat sebuah kota baru bernama Karlshafen didalam hutan di pinggir sungai Weser. Kota yang menurut ide sang Landgraf akan menjadi penghubung daerah utara negeri kekuasaannya dengan ibu kota Kassel melalui jalur sungai Weser.


Istana Sang Raja

Setelah berkendara sejauh 400 kilometer melalui Autobahn menuju arah selatan, navigator mobil yang menjadi satu-satunya pemandu perjalanan mengarahkan kami untuk memasuki sebuah jalan sempit. Ini bukan lagi jalan yang wajar. Tadi ketika keluar dari jalan desa terakhir, pada saat belok kanan untuk memasuki jalan sempit ini aku melihat sekilas ada palang penutup jalan yang pada saat kami masuk berada dalam keadaan terbuka.

Aku tidak yakin bahwa ini adalah jalan yang seharusnya kami lalui, dan aku tidak riang lagi. Jalan semakin menanjak dan berliku, pepohonan semakin lebat, dan hutan belantara semakin gelap. Tak sekalipun kami berpapasan dengan mobil lain. Hanya kami yang melalui jalan ini.

Ini adalah jebakan; Bahwa beberapa minggu sebelumnya kami membeli sebuah kupon promo hotel dari internet - murah tapi mewah - hotel yang terletak di sebuah kota kecil di dataran tinggi Hessen - tetapi sekarang kami berkendara menuju tengah hutan - disana ada sebuah kastil tua - dijaga oleh seorang pria tua buruk rupa - sementara didapur istrinya menyiapkan rempah-rempah dan jampi-jampi karena dua orang korban tengah berada dalam perjalanan menuju kastil tua mereka....


Sommer, Sand, Sex

Hari-hari terakhir ini matahari selalu tersenyum lebar dan hangat mengusir suhu dan cuaca yang lebay dan tidak nyaman sehingga suhu udara mencapai 22°C dan jika kita keluar maka jalanan dan beberapa tempat pertemuan penuh dengan manusia. Dan mereka semua terlihat bergembira di wajahnya!

Senyuman matahari dibalas oleh senyum lebar semua orang, dan tabiat musiman muncul dimana-mana. Semua orang di jalan jadi ramah, ngobrol-ngobrol senang dan menyapa orang lain di jalanan sambil berkata yang tidak-tidak-perlu-banget.

Tadi pagi waktu berjalan melintasi taman aku melewati sepasang kakek-nenek yang sedang berjalan-jalan pelan sambil ngobrol riang. Aku yang sedang jutek karena sulit mendapatkan tempat parkir tidak memperdulikan semuanya.
Ketika aku berjalan mendahului mereka si nenek menyapa, bertanya apakah benar jalan setapak yang kami lalui akan menuju ke stasiun. "Benar, ikuti terus jalan ini sampai habis, kemudian melewati traffic light dan belok kanan. Disitulah dia berada." Jawabku selengkap mungkin namun tidak mengurangi kecepatan berjalan. Tapi si nenek berkata sesuatu sehingga aku berhenti menunggu mereka.

[I♥Indonesia] Auf Wiedersehen

Ya! Sebulan penuh berada di Indonesia telah kami lewati.

Banyak yang telah kami lihat, banyak pengalaman baru telah kami lalui, banyak hal-hal emosional kami rasakan, banyak pesta, banyak makan, banyak sinar matahari telah kami nikmati, menjelajah indahnya alam Jawa Timur, dan aku telah selesai - seperti kata Tommy - me-reboot kepalaku menyatu kembali dalam tradisiku.

Foto-foto liburan yang telah kami buat akan menjadi kenangan tak terlupakan, dan oleh-oleh dari tempat liburan adalah kemewahan yang terpajang di ruang tamu. Tapi.... Ada satu cerita lagi yang perlu di tulis....


[I♥JKT] Sehari di Taman Mini


Semua sudah pernah pergi ke Taman Mini (TMII) kan..? Belum? Kami saja sudah... TMII itu asik, rindang dan sejuk, teratur dan tertata rapi, juga bersih dan banyak fasilitas liburan tersedia. Bahkan tahukah kalian bahwa orang bisa menginap di bungalow di dalam taman? Dan hebohnya, Taman Mini kita ini ternyata benar-benar tidak mini! Luas sekali, bahkan saking luasnya, dalam sehari itu kami cuma bisa menjelajahi sak uprit lokasi dari taman yang luasnya naudzubilah ini.

Dan sekali lagi tahukah kalian? Miniatur kepulauan Indonesia yang ada di dalam taman itu dibuat dengan sangat amat detail sehingga jika kalian melihatnya dari Google Earth, kalian tidak akan menyangka bahwa itu adalah miniatur of Indonesia, sama persis dengan kepulauan kita yang sebenarnya, cuma tidak ada pulau Gili Trawangan saking kecilnya pulau itu, itu saja!

Waktu itu kami sedang transit di Jakarta. Kami tiba di Jakarta kemarin sore, menginap di salah satu hotel di Jalan Jaksa dan penerbangan kembali ke Hamburg akan berangkat hampir tengah malam jadi dari pada bengang-bengong di dalam kota kami menggunakan waktu untuk menjelajahi TMII, begitulah dasar dari cerita ini.


[I♥Jatim] Lonely Beach


Silahkan duduk yang manis dan nikmati keindahan suatu tempat di Jawa Timur bersama kami yang secara tidak sengaja kami temukan...

Kamu membuka pintu kamar di pagi hari. Sinar matahari pagi menghangatkan kulitmu dengan lembut sementara kicauan burung terdengar nyaring dari hutan di belakang kamar, seberang jalan.
Ketika kamu turun dari beranda, kaki telanjangmu menginjak pasir putih yang sejuk dan setelah berjalan melintasi pagar pekarangan rendah kamu akan mendapati hamparan pasir putih yang lebih lembut daripada pasir di depan kamarmu.

Sementara tepat didepan mata, jika kamu melayangkan pandangan lurus ke depan, kamu akan melihat air pantai yang tenang, tanpa ombak sedikitpun sehingga permukaan air itu nampak seperti kaca bening yang melindungi hamparan pasir lembut di dasarnya.


[I♥JKT] Semalam di Jalan Jaksa

Ini adalah pohon di Jalan Jaksa, di poto pada kunjungan kami tahun 2011, 
pas kami ke sana pohonnya tetap hidup tapi tutup-tutup botolnya dibersihkan, 
dan kami menempelkan lagi...

Seseorang melambaikan tangan kepada kami sebagai isyarat agar kami mendatanginya, pas ketika kami keluar dari restoran hotel Margot dan sedang rundingan akan jalan kemana. Dia berada di seberang jalan tempat kami berdiri dan sedang duduk pada bangku kayu panjang pada sebuah bar jalanan di trotoar jalan Jaksa. Waktu menunjukkan jam sembilan malam dan jalan Jaksa sedang ramah-ramahnya, itu adalah malam minggu. Musik terdengar dari mana-mana, beberapa bar dan kafe sedang penuh pengunjung dan ada live music di kafe Memory, orang-orang berjalan kesana-kemari berpakaian santai, dan banyak lampu berwarna-warni di sepanjang jalan. Jalan Jaksa, i love it!

Waktu itu kami baru saja selesai makan malam tetapi aku belum kenyang karena menu yang aku dapatkan tadi jumlahnya cuma sak uprit.

Lalu kami mendatangi orang itu, "Come here sit down with me..." Katanya mengundang kami. Dia adalah seorang pria muda yang terlihat menarik dengan rambut coklatnya. Sepertinya dia berumur pertengahan tiga puluhan dan mempunyai senyum ramah. Di sebelahnya duduk seorang laki-laki berumur dengan mata sipit dan berambut sangat lurus, mengenakan t-shirt longgar dan santai, dan membawa sebuah tas kecil. Dari penampilan santainya orang bisa langsung melihat bahwa pria berumur itu adalah pelancong seperti kami, kebalikan dari penampilan pria muda yang rapi dengan kemeja lengan panjang warna putih yang dikenakannya.

Diatas meja panjang didepan mereka masing-masing terdapat sebotol Bintang.

[I♥Madakaripura] Cuci Mobil Gratis


Kami selesai browsing di situs Bromo Tengger Semeru sekitar jam 10 pagi, kemudian kembali ke hotel buat sarapan santai dan check out, maka masih tersisa hari yang panjang. Lalu apa yang akan kami lakukan? Langsung turun ke kota? Tidak seru dong... Maka setelah dipameri foto-foto aduhai yang di buat Soe dalam salah satu postingannya tentang air terjun surealis Madakaripura, kami-pun menuju ke sana.

Yang asik, di tempat parkirnya itu ada orang yang suka mencuci mobil secara sukarela, tentu saja kami kesenangan, ya tahu sendiri lah ya, bagaimana kotornya mobil kami yang berwarna putih itu setelah dipakai untuk melakukan perjalanan jauh. Begini ceritanya.....


[I♥Bromo] Kenangan Manis Terulang Lagi


Dulu sekali waktu masih brondong dan belum punya uang berlebih untuk jalan-jalan aku sempat jadi backpacker nasional. Dan suatu saat kami - kakakku dan aku - pergi ke Bromo dengan uang pas-pasan. Begitulah, keinginan untuk berpetualang mengalahkan keterbatasan yang ada. Itu adalah salah satu kenangan manis bersama kakakku, saking manisnya bahkan aku masih punya foto kami berdua di bawah tangga naik ke kawah dimana disitu terdapat pemandangan yang spektakuler menurut kami berdua.

Dulu kami menginap di salah satu rumah penduduk yang disewakan di Cemoro Lawang, harganya 10.000Rp semalam dan kamarnya dingin sekali, cuma disediakan sebuah selimut tipis jadi sepanjang malam kami cuma rebutam selimut.

Sekarang aku datang lagi ke Bromo...

Dan sekarang kami menginap di hotel Cemara Indah, pemandangan langsung menghadap ke Bromo, dan tak perlu lagi rebutan selimut karena menurutku desa Cemoro Lawang tidak lagi dingin melainkan sejuk setelah aku sering merasakan dinginnya suhu udara musim dingin. Kurang lebih sama seperti suhu udara musim semi di Jerman.


[I♥Jatim] Kemalaman di Hutan Rimba


Teluk Hijau!

Itulah tujuan kami hari itu. Aku pernah sekali mengunjunginya dengan teman-teman pramuka dulu waktu masih SMP, jadi sekarang sudah benar-benar lupa jalan menuju ke teluk yang airnya berwarna hijau indah itu.

Teluk Hijau (Green Bay) berada didalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri dimana disitu konon katanya hidup ular terpanjang sedunia. Nah lo...!
Untuk mencapai teluk Hijau, setelah memarkir mobil di desa nelayan terakhir, orang harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak naik dan turun bukit (Dan bukitnya besar, hampir sebesar vulkano, eh ndak ding, kecilan dikit, tapi pokoknya besar dan bukan bukit berbunga!).
Jalan setapak ini benar-benar di dalam hutan belantara dengan pohon-pohon besar dan semak belukar. Dan Teluk Hijau berada jauh di bawah sana... Berapa jauh? Pokoknya jauh! Aku saja sampai kecapekan.

Dan yang namanya jalan setapak ini ya benar-benar jalan setapak. Jangan membayangkan jalan kecil romantis dengan bunga-bunga indah di kanan-kirinya. Ini jalan hampir tidak layak dilalui oleh orang kebanyakan seperti kami yang tidak tahu tentang seluk-beluk hutan.
So disitu ada jalan kecil, cuma jejak bekas orang yang lebih dulu lewat, licin dan untuk naik dan turun bukit hanya mengandalkan undakan yang terbentuk alami dari akar-akar pohon. Tidak ada undakan buatan, hanya pada awal jalan masuk saja. Kadang-kadang kami harus menyibak semak yang tiba-tiba nongol tepat didepan wajah kami.

Seru kan? Banyak nyamuknya juga!


[I♥Jatim] Liarnya Arus Jalan Raya


Ternyata kakakku telah mempersiapkan penyambutan atas kedatangan kami. Dari pelabuhan Tanjung Priuk Surabaya (Eh bukan ding, nama pelabuhan di surabaya adalah Tanjung Perak, catat!) kami di telpon bahwa akan ada orang yang menelpon kami untuk menjemput. Dia adalah sopir travel agen. Maka kami tak perlu ber-ribet-ribet ngurus perjalanan ke ujung timur pulau Jawa.

Dan dia juga mengatakan bahwa ketika kami berada di Jawa Timur maka kami boleh meminjam mobil barunya dengan catatan harus di cuci setelahnya.

Berkendara di jalan-jalan raya Jatim adalah sebuah tantangan. Tidak, jangan kuatir, tentu saja aku tidak boleh membandingkan kondisi jalan raya Jatim dan Jerman, itu urusan lain dan aku tidak akan membahasnya tetapi.... Pada suatu saat ketika kami baru turun dari Bromo dan memasuki kota Probolinggo aku kebagian giliran nyetir. Ada sebuah peristiwa yang membuat aku sedih dan marah. Aku sampai mengutuk semua pengendara mobil sekota Probolinggo yang saat itu sedang berkendara disekitar kami. Mereka sangat amat tidak beradab. Aku tidak tahu kenapa orang bisa setega dan se-semena-mena itu. Mungkin karena tidak ada yang tahu bagaimana cara berkendara secara beradab karena semua orang tidak pernah belajar kursus mengemudi untuk mendapatkan SIM; Kesalahan fatal sebuah sistem sebesar Indonesia!


[I ♥ Jatim] Aku Anak Pelaut



Sudah dari awal kami merencanakan untuk sesekali melakukan perjalanan di Indonesia menggunakan kapal laut mengingat negara kita yang kaya akan laut dan mempunyai jalur-jalur laut yang menarik. Tentulah menyenangkan berangkat dari Jakarta kemudian 24 jam selanjutnya kami akan sampai di Surabaya dan jika mau melanjutkan perjalanan ke timur maka dari Surabaya orang akan sampai di Ujung Pandang keesokan harinya, kemudian sampai di Bau Bau pada hari selanjutnya, Ambon keesokan harinya lagi dan terakhir akan berlabuh di pelabuhan terakhir di Papua.

Untuk kali pertama kami menjajal jalur Jakarta - Surabaya. Sebelumnya Soe telah kasih warning bahwa perjalanan laut akan sangat amat membosankan dan tidak ada yang bisa dilihat-lihat dan dia menyarankan untuk naik kereta api saja. Masalahnya kami sudah pernah melakukannya dan kami ingin mencoba hal-hal baru, maka dari itu kami nekad naik kapal laut. Apakah kami kebosanan? Inilah ceritanya....


Tell The World I'm Coming Home



Kami mendapatkan jadwal penerbangan yang nyaman. Dua-duanya adalah penerbangan malam sehingga paginya kami menjadi segar-bugar. Pesawat dari Hamburg mendarat di Dubai jam 6.45 sementara dari Dubai pesawat berangkat malam hari sehingga kami sampai di Jakarta pada pagi hari.

Setelah melalui pintu keluar terminal kami harus berhenti sejenak untuk duduk mencari minum. Bahkan pada pagi hari seperti itu kami merasakan udara tropis Jakarta yang gerah dan lembab, sehingga kami berpeluh seperti habis mandi tanpa handukan. Tetapi bukankah itu yang kami cari? Kami sedang mengungsi dari udara beku yang kering di Jerman.


The Wild of East Java

Sebagai mantan orang Jawa Timur tentu saja aku bangga dong ya dengan tanah kelahiranku. Dan bagi yang tidak berasal dari Jawa Timur jangan iri dong ya kalau aku memuji-muji keindahannya.
Memang kenyataannya begitu kok ya... Jawa Timur itu indah, kaya dengan keindahan alam yang masih terjaga rapi.

Tidak percaya? Bagaimana dengan Alas Purwo di Banyuwangi yang misterius itu? Aku saja belum pernah masuk ke dalamnya karena takut. Dulu waktu masih brondong kadang-kadang aku bersama teman-temanku blusukan keluar masuk hutan, naik turun gunung dan menyusuri pantai selatan. Dan setiap kali aku minta ijin pada almarhum bapakku bahwa kami akan pergi masuk ke Alas Purwo, tak pernah sekalipun aku mendapat ijin karena misteriusnya. Bahkan Alas purwo adalah hutan paling angker di Pulau Jawa.

Konon katanya Alas Purwo adalah tempat jin buang anak atau sesuatu seperti itu. Dan itu adalah alas gung liwang-liwung menurut istilah Jawa. Maksudnya hutan belantara yang angker dan misterius tempat orang bersemedi dan banyak hantunya, apa lagi alas Purwo itu berada di pantai selatan, daerah kekuasaannya Nyai Roro Kidul..... Ya wes percaya saja, memang pada kenyataannya dulu pada tanggal 1 Suro selalu ada orang yang terseret ombak kok.... Kabarnya dijadikan pasukan atau mempelai sang ratu.... Tapi sekarang sejak internet mulai ada maka korban tahunan pantai selatan sudah tidak ada lagi.

Kok bisa ya?

Realitasnya adalah Alas Purwo merupakan sebuah taman nasional.....


Tradisi Pesta Silberhochzeit

Silberhochzeit adalah perayaan ulang tahun perkawinan yang ke 25. Jadi pesta Silberhochzeit dirayakan ketika pasangan memasuki usia pernikahan 25 tahun, ini adalah salah satu acara tradisi di Jerman.
25 tahun berhasil membina rumah tangga adalah hal luar biasa yang patut dirayakan dan ini adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jerman.

Akhir pekan yang lalu Anita - kakaknya Thomas - bersama suaminya, merayakan pesta Silberhochzeit dan tentu saja kami berada dalam urutan pertama tamu-tamu yang akan di undang.
Ini adalah pesta yang indah dengan tradisi berkelas dimana para undangan berpakaian menarik; para perempuan mengenakan gaun-gaun indah dan para pria mengenakan tuxedo warna gelap lengkap dengan dasi yang diikat model double windsor knot.

Ini adalah untuk pertamakalinya dalam hidupku aku menghadiri perayaan Silberhochzeit dan ternyata pestanya seru! Tak membosankan sama sekali.