[I♥Jatim] Liarnya Arus Jalan Raya


Ternyata kakakku telah mempersiapkan penyambutan atas kedatangan kami. Dari pelabuhan Tanjung Priuk Surabaya (Eh bukan ding, nama pelabuhan di surabaya adalah Tanjung Perak, catat!) kami di telpon bahwa akan ada orang yang menelpon kami untuk menjemput. Dia adalah sopir travel agen. Maka kami tak perlu ber-ribet-ribet ngurus perjalanan ke ujung timur pulau Jawa.

Dan dia juga mengatakan bahwa ketika kami berada di Jawa Timur maka kami boleh meminjam mobil barunya dengan catatan harus di cuci setelahnya.

Berkendara di jalan-jalan raya Jatim adalah sebuah tantangan. Tidak, jangan kuatir, tentu saja aku tidak boleh membandingkan kondisi jalan raya Jatim dan Jerman, itu urusan lain dan aku tidak akan membahasnya tetapi.... Pada suatu saat ketika kami baru turun dari Bromo dan memasuki kota Probolinggo aku kebagian giliran nyetir. Ada sebuah peristiwa yang membuat aku sedih dan marah. Aku sampai mengutuk semua pengendara mobil sekota Probolinggo yang saat itu sedang berkendara disekitar kami. Mereka sangat amat tidak beradab. Aku tidak tahu kenapa orang bisa setega dan se-semena-mena itu. Mungkin karena tidak ada yang tahu bagaimana cara berkendara secara beradab karena semua orang tidak pernah belajar kursus mengemudi untuk mendapatkan SIM; Kesalahan fatal sebuah sistem sebesar Indonesia!


[I ♥ Jatim] Aku Anak Pelaut



Sudah dari awal kami merencanakan untuk sesekali melakukan perjalanan di Indonesia menggunakan kapal laut mengingat negara kita yang kaya akan laut dan mempunyai jalur-jalur laut yang menarik. Tentulah menyenangkan berangkat dari Jakarta kemudian 24 jam selanjutnya kami akan sampai di Surabaya dan jika mau melanjutkan perjalanan ke timur maka dari Surabaya orang akan sampai di Ujung Pandang keesokan harinya, kemudian sampai di Bau Bau pada hari selanjutnya, Ambon keesokan harinya lagi dan terakhir akan berlabuh di pelabuhan terakhir di Papua.

Untuk kali pertama kami menjajal jalur Jakarta - Surabaya. Sebelumnya Soe telah kasih warning bahwa perjalanan laut akan sangat amat membosankan dan tidak ada yang bisa dilihat-lihat dan dia menyarankan untuk naik kereta api saja. Masalahnya kami sudah pernah melakukannya dan kami ingin mencoba hal-hal baru, maka dari itu kami nekad naik kapal laut. Apakah kami kebosanan? Inilah ceritanya....


Tell The World I'm Coming Home



Kami mendapatkan jadwal penerbangan yang nyaman. Dua-duanya adalah penerbangan malam sehingga paginya kami menjadi segar-bugar. Pesawat dari Hamburg mendarat di Dubai jam 6.45 sementara dari Dubai pesawat berangkat malam hari sehingga kami sampai di Jakarta pada pagi hari.

Setelah melalui pintu keluar terminal kami harus berhenti sejenak untuk duduk mencari minum. Bahkan pada pagi hari seperti itu kami merasakan udara tropis Jakarta yang gerah dan lembab, sehingga kami berpeluh seperti habis mandi tanpa handukan. Tetapi bukankah itu yang kami cari? Kami sedang mengungsi dari udara beku yang kering di Jerman.