[I ♥ Jatim] Aku Anak Pelaut



Sudah dari awal kami merencanakan untuk sesekali melakukan perjalanan di Indonesia menggunakan kapal laut mengingat negara kita yang kaya akan laut dan mempunyai jalur-jalur laut yang menarik. Tentulah menyenangkan berangkat dari Jakarta kemudian 24 jam selanjutnya kami akan sampai di Surabaya dan jika mau melanjutkan perjalanan ke timur maka dari Surabaya orang akan sampai di Ujung Pandang keesokan harinya, kemudian sampai di Bau Bau pada hari selanjutnya, Ambon keesokan harinya lagi dan terakhir akan berlabuh di pelabuhan terakhir di Papua.

Untuk kali pertama kami menjajal jalur Jakarta - Surabaya. Sebelumnya Soe telah kasih warning bahwa perjalanan laut akan sangat amat membosankan dan tidak ada yang bisa dilihat-lihat dan dia menyarankan untuk naik kereta api saja. Masalahnya kami sudah pernah melakukannya dan kami ingin mencoba hal-hal baru, maka dari itu kami nekad naik kapal laut. Apakah kami kebosanan? Inilah ceritanya....




Travel agen yang ada di Jalan Jaksa itu memang kompeten, profesional, ramah dan buka 24 jam selama 7 minggu dan kami memakai jasa mereka untuk segala hal yang menyangkut urusan transportasi kami selama liburan. Dan dari mereka kami mendapatkan tiket kapal Dobonsolo Jakarta - Surabaya, hanya karena itulah kapal yang berangkat sesuai jadwal perjalanan kami. Masalah yang baru kami ketahui selanjutnya adalah bahwa ternyata baik kami maupun mereka tidak tahu samasekali kondisi kapal Dobonsolo itu, mereka juga tidak berani menjamin bahwa kapal itu adalah kapal bagus yang layak dibuat untuk melakukan perjalanan santai.

Akibatnya, ketika kami memasuki kapal, kami merasa bagaikan 'Seorang perawan di sarang penyamun'. Memasuki kapal adalah perjuangan berat karena kami harus naik tangga membawa dua koper besar. Bahkan sebelum masuk kapal, ketika masih berada di terminal Tanjung Perak Jakarta itu, kami merasa tidak aman. Pokoknya aku kasih warning buat semua orang, jika tidak benar-benar perlu, pergilah jauh-jauh dari terminal Tanjung Perak Jakarta! Lebih baik gunakan taksi bandara saja jika hendak pergi ke pelabuhan, bayar sedikit lebih banyak tidak apa-apa demi kenyamanan dan keamanan. Kami harus membayar taksi sebesar 80.000Rp hanya untuk perjalanan sak uprit itu karena sopir taksinya minta borongan.

Kapal Dobonsolo adalah kapal buatan Jerman. Disana-sini ada tulisan berbahasa Jerman bahkan cangkir dan piringnya-pun masih original buatan Jerman tapi.... Ini adalah kapal tua yang tidak cukup perawatan, jadi jelek dan kumuh. Kamar kelas 1 cukup longgar untuk ukuran kamar kapal yang biasanya mungil-mungil, tapi tidak cukup bersih. Ada beberapa kafe dan restoran maupun toko didalam kapal tetapi ketika perjalanan dari Jakarta ke Surabaya penumpangnya masih sedikit maka mereka tutup semua. Hanya ada kafe kumuh di buritan kapal. Sebenarnya menyenangkan untuk dipakai duduk-duduk sambil menikmati suasana tetapi kotor dan kumuh.

Malam itu ada bioskop yang memutar film horor Indonesia, siangnya ada film korea diputar tetapi kami tidak ingin menontonnya. Kami lebih suka menikmati suasana di dek atas merasakan hembusan angin yang terasa hangat dan lembut sambil melihat-lihat daratan Jawa yang terlihat sayup-sayup. Suatu saat terlihat gunung-gunung menjulang tinggi, disaat lain ketika hari sudah gelap akan terlihat kelap-kelip lampu pulau jawa.


Ini adalah perjalanan tenang yang menyenangkan. Kalau saja kami berada diatas kapal yang lebih bagus kondisinya, maka ini adalah perjalanan yang sempurna karena setelah kami kecapekan berada selama lima hari di Lampung dengan banyak jalan, banyak kepanasan, banyak orang, banyak bising, banyak macet di jalan trans Sumatra, banyak menunggu di bandara, banyak kacau di Jakarta, banyak nyeret koper, maka melakukan perjalanan dengan kapal laut adalah sarana untuk beristirahat menenangkan diri sejenak, jauh dari orang banyak, menikmati kesunyian ditengah hiruk-pikuk liburan di Indonesia...

Makan di atas kapal Dobonsolo adalah hal mengerikan yang tidak pernah kami temui sepanjang hidup. Makanannya enak, itu benar. Tetapi apa? Petugas sebanyak itu adalah pemalas semua. Kursi meja tidak di tata, hanya ada dua atau tiga meja yang harus kami pakai bergantian buat penumpang kelas 1, 2 dan 3. Dan oh...! Kami harus duduk semeja dengan orang lain yang cara makannya berkecap keras. Kami minta pindah ke meja lain dengan dua kursi tetapi tidak diperbolehkan.

Jadi diatas meja-meja yang sudah dipersiapkan akan disajikan beberapa hidangan, mungkin dua atau tiga piring terdiri dari sayur, ikan dan daging. Nasinya mana? akan datang seorang waiter membawa termos nasi hangat dan menyodorkan kepada kami, kami harus mengambilnya, tidak ada nasi tambahan. Hanya nasi itulah yang boleh kami makan, tidak boleh nambah.

Ketika dua orang yang tidak kami kenal sudah selesai makan dan meninggalkan meja, datang penumpang lain yang ingin makan dan oleh waiter didudukkan pada kursi bekas orang tadi, jadi dia memakan sisa hidangan kami dan dua orang tadi, kemudian waiter menambah daging, ikan dan sayur.

Apakah ada cara makan di restorang yang lebih tidak beradab dari cara restoran kapal Dobonsolo ini?

Jika tidak mau menyediakan prasmanan, aku lebih suka jika mereka menyajikan makanan per menu seperti restoran normal layaknya, bukan cara dijatah seperti itu. Benar-benar mengerikan jika orang harus disuruh memakan sisa makanan orang lain.

Sarapan lebih mengerikan kondisinya. Hanya ada sepotong telur goreng, sambal trassi dan seperti kemarin malam, nasinya disodorkan begitu saja dari termos nasi.

Makan siang tak ada bedanya dengan makan malam kemarin. Eh ada ding, kali ini kami didatangi oleh salah seorang pegawai kapal berbaju putih-putih untuk beramah tamah dan bertanya kesan-kesan kami naik kapal Dobonsolo. Ditanya begitu maka ngocehlah aku, tentang makanannya dan cara menyajikannya, tentang kondisi kapal, tentang pelayanan dan fasilitas yang tidak sesuai harga tiket... Pokoknya dia sampai merah padam tapi tetap berusaha ramah.
Pada akhirnya kami diajak jalan-jalan ke ruang kemudi, dikenalkan kapten kapal, disuruh lihat-lihat supiran kapal termasuk peralatan kemudi yang tidak pernah kami lihat sepanjang hidup. Dan pada akhir tur singkat itu dia menyarankan untuk naik kapal apa gitu namanya aku lupa tetapi kapalnya masih baru dan nyaman, makannya prasmanan dan cocok untuk dipakai buat perjalanan liburan. Sayangnya aku lupa nama kapalnya.


Tetapi tetap saja kami sama-sama berpendapat bahwa itu adalah perjalanan nyaman yang menyenangkan dan suatu saat kami ingin melakukannya lagi, dengan kapal yang lebih bagus. Pokoknya enak gitu, bernyaman-nyaman dan beristirahat sejenak.

Jadi dalam hal ini aku tidak sependapat dengan Soe bahwa perjalanan kapal laut itu membosankan dan tidak bisa lihat-lihat. Salah dong ih... Mungkin dia dulu melakukan perjalanan sendirian jadi kesepian dan kebosanan di kamar tapi kami berdua... Banyak yang bisa dilakukan dan dilihat-lihat.... Ndak ada bosannya deh...!


6 comments:

  1. tanjung priok kayanya kalo di jakarta
    tanjung perak itu di semarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduuuh.... Tanjung Priuk di jakarta, Tanjung Emas di Semarang. Tanjung Perak di Surabaya....

      Delete
    2. Aih... Sama-sama dodolnya deh ih, hihi... masak tanjung perak ada di semarang.... lha yang di Suroboyo itu namanya apa... tapi kayaknya bener deh ya bahwa yang di Jakarta itu nama pelabuhannya adalah Tanjung Priok... Yasudah sekalian ngoreksi postingan diatas, thanks anyway :)

      Delete
  2. trus pendapat Tommy gimana tuh naik kapal ala Indonesia..??
    jadi maluu ama turis mancanegara..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu dah.... Itu adalah kebanyakan pendapat kami berdua. tapi dia menyukai ide naik kapal laut sambil menenangkan diri dan menjauhkan diri untuk sementara dari banyaknya manusia di luar sana. Dan sepertinya kami akan naik kapal laut lagi, cari yang lebih bagus.

      Delete
    2. moga-moga next time dapat servis yang lebih baik yaa.. :D

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)