[I♥Jatim] Liarnya Arus Jalan Raya


Ternyata kakakku telah mempersiapkan penyambutan atas kedatangan kami. Dari pelabuhan Tanjung Priuk Surabaya (Eh bukan ding, nama pelabuhan di surabaya adalah Tanjung Perak, catat!) kami di telpon bahwa akan ada orang yang menelpon kami untuk menjemput. Dia adalah sopir travel agen. Maka kami tak perlu ber-ribet-ribet ngurus perjalanan ke ujung timur pulau Jawa.

Dan dia juga mengatakan bahwa ketika kami berada di Jawa Timur maka kami boleh meminjam mobil barunya dengan catatan harus di cuci setelahnya.

Berkendara di jalan-jalan raya Jatim adalah sebuah tantangan. Tidak, jangan kuatir, tentu saja aku tidak boleh membandingkan kondisi jalan raya Jatim dan Jerman, itu urusan lain dan aku tidak akan membahasnya tetapi.... Pada suatu saat ketika kami baru turun dari Bromo dan memasuki kota Probolinggo aku kebagian giliran nyetir. Ada sebuah peristiwa yang membuat aku sedih dan marah. Aku sampai mengutuk semua pengendara mobil sekota Probolinggo yang saat itu sedang berkendara disekitar kami. Mereka sangat amat tidak beradab. Aku tidak tahu kenapa orang bisa setega dan se-semena-mena itu. Mungkin karena tidak ada yang tahu bagaimana cara berkendara secara beradab karena semua orang tidak pernah belajar kursus mengemudi untuk mendapatkan SIM; Kesalahan fatal sebuah sistem sebesar Indonesia!


Kami memasuki kota Probolinggo pada tengah hari. Setelah makan siang dan mengantar adikku dan pacarnya untuk kembali ke Surabaya kami melanjutkan perjalanan ke timur. Ada rush hour dan kami terjebak didalamnya. Didalam suasana rapet-padet seperti itu sayup-sayup kami mendengar suara sirine. Kami tidak tahu apakah itu sirine polisi atau mobil ambulan karena suaranya berbeda dengan sirine di Jerman. (Sesuai aturan Jerman) maka secara reflek aku yang sedang nyetir mencari arah suara sirine apakah dia berasal dari arah depan, belakang atau berada dari jalur lain. Tetapi aku tidak menemukannya. Tommy membantuku tetapi dia juga tidak bisa menemukan arah suara sirine saking padatnya lalu-lintas saat itu.

Lambat laun ternyata suara sirine berasal dari arah belakang dan berjalan di jalur kami maka dengan sebisa mungkin aku meminggirkan mobil ke jalur kiri untuk memberi jalan pada mobil ber-sirine yang ternyata adalah mobil ambulan. Mobil ambulan itu tidak cuma menyalakan sirine tetapi juga lampunya sepanjang waktu; artinya ada yang sedang meregang nyawa didalamnya atau dia sedang menuju ke tempat orang yang sedang meregang nyawa.

Aku sudah ada di jalur kiri, jalur sebelah kananku kosong dan tentu saja mobil ambulan itu akan dengan mudah menerobos padatnya lalu-lintas tetapi apa yang terjadi? Mobil yang dibelakangku segera memasuki jalur kosong itu disusul dua mobil lainnya di belakangnya dan mobil ambulan dengan seseorang yang sedang berada dalam kondisi kritis itu tetap tidak bisa melaju!

Perlu beberapa waktu lamanya buat ambulan itu untuk keluar dari rush hour dan kami tidak tahu apakah seseorang terselamatkan hidupnya.

Apakah ada yang lebih tidak beradab di jalan raya selain peristiwa itu? Apakah para pengendara itu memang tidak perduli atas nyawa orang lain ataukah mereka terlalu tolol karena tidak ada yang memberi tahu bagaimana cara memperlakukan mobil ambulan di jalan? Aku patah hati...!


Tetapi pada dasarnya berkendara di Jawa sangat aman dari kecelakaan karena disini mobil dan motor berjalan pelan-pelan. Okay aturan resminya adalah maksimum 100km/jam di jalan tol sementara teorinya tidak ada batas kecepatan maksimum di jalan lain selain jalan tol, jadi orang bisa berkendara tanpa batas jika sudah keluar dari jalan tol tetapi masalahnya dijalan banyak kendaraan, lagipula kondisi jalan bergelombang, jadi orang bisa berkendara cuma dengan kecepatan 50km/jam. Bukankah itu sangat amat aman?

Pertama dijemput oleh mobil carteran dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju ke Banyuwangi kami merasa gamang dan berdiskusi lama apakah kami akan tetap berkendara di Jawa Timur, melihat liarnya lalu lintas diluar sana seliar alam Jawa Timur itu sendiri, kami saja yang numpang mobil sering nginjak-nginjak tanpa sadar seakan menginjak rem melihat kondisi lalu lintas diluar. Pengendara motor menyalip sesuka hati, dan begitu juga dengan mobil yang menyalip dari segala arah, tidak cuma dari kanan. Apalagi mobil kakakku masih baru dan tanpa perlindungan asuransi sama sekali.

Terus pada akhirnya kami nekat bikin keputusan. Test driving pertama dilakukan oleh Tommy, di jalan-jalan sepi Banyuwangi selatan. Setelah beberapa menit membiasakan diri dengan posisi supiran yang terbalik dan juga segala sesuatunya kecuali pedal rem, gas dan kuplung, dan juga membiasakan diri berkendara pada lajur jalan yang salah, pada akhirnya dia bisa berkendara dengan lancar jaya. Begitu juga dengan aku.

Masalahnya jika aku berada sendirian di jalan raya dan tidak ada kendaraan dari depan, lama-lama secara tidak sengaja aku berkendara melenceng di jalur kanan. Begitu juga setelah melalui perempatan atau pertigaan.

Dan... Lihatlah! Kondisi jalan yang semrawut seperti itu ternyata berfungsi baik! Buktinya mobil-mobil tetap mulus dan tidak penyok. Tak ada tubruk menubruk dan sundul menyundul karena semua orang tidak bisa berkendara dengan kencang mengingat penuhnya jalan raya, hihi....

Dan sopir bus adalah asshole...!

Mau tahu komentarnya Tommy tentang pengendara motor? "Oh lihatlah, mereka selalu terburu-buru dan menyalip yang lain sesuka hati agar cepat sampai tujuan tetapi setelah sampai, mereka bekerja sangat lambaaaaat sekali, lha wong bikin dua buah kopi susu saja kita harus menunggu selama 15 menit..."

Tetapi jika diamati lebih seksama sudah banyak para pengendara motor yang serius memperhatikan keselamatan dirinya dan yang lain, mereka - yang terlihat kecil mungil di jalan raya dan pada saat-saat tertentu nyaris tak terlihat - sudah sadar diri untuk selalu menyalakan lampu depan dan belakang juga pada siang hari sehingga pengendara yang lain bisa melihatnya tepat waktu dan berhati-hati.

Terus.... Hihihi... Begini katanya Tommy... Klakson adalah sesuatu yang ramah dan boleh di tekan sewaktu-waktu, kalau mau nyalip kendaraan lain harus membunyikan klakson dulu untuk menarik perhatian, dan hanya ada sebuah aturan berkendara di jalan raya; Tanpa aturan, lol....! Lha wong nyalip yang lain juga boleh dari sebelah kiri kok... Lagi pula jarang sekali terlihat rambu lalu lintas.
Jadi suatu saat pada jalan yang lengang dengan sedikit mobil di jalan, dia ngebut sebisanya, membunyikan klakson sekencangnya, menyalip yang lain sesuka hati... Tetapi ternyata berjalan dengan sekencang itu tetap saja dibawah 100km/h karena permukaan jalan yang aneh membuat kami terguncang-guncang seakan berkendara dengan kecepatan 200km/h. Aku sampai mengomentari cara mengemudinya bahwa dia bisa lebih parah dari orang Indonesia itu sendiri, dan aku memperingatkan bahwa mobil ini tanpa perlindungan asuransi dan aku tidak ingin meninggalkan masalah apapun disini....

Kurt, pamanku yang sebenarnya orang Jerman tetapi lebih suka menetap di desa, kasih tips mengemudi yang baik dan benar; Kalian harus berani injak pedal gas, kalau kalian sering ngerem maka yang lain akan ambil jalur kalian, dan jika kalian tidak ngerem maka mereka akan mengalah, itu otomatisnya begitu, jadi jangan takut. Terus kalau ada polisi aneh yang menghentikan kalian tanpa alasan yang jelas, lawan, jangan takut, jangan pernah kasih uang. Polisi itu tahunya cuma berhadapan dengan orang-orang penakut yang tidak berani membantah dan sekali berhadapan dengan orang yang bisa mendebat maka mereka jadi agak bego.... Gitu katanya....

Oh iya, pasti pada penasaran kan, bagaimana kami bisa berkendara tanpa tersesat di Jawa Timur yang belum kami kenal dengan baik? Gampil.... Pertama kami pergi ke Periplus beli peta pulau Jawa (Peta Jatim tidak tersedia) untuk orientasi sekilas sedang ada dimana kami berada, kemudian di Jalan Jaksa kami pergi ke mobil yang jualan kartu telpon dan berkata kepada penjualnya bahwa kami ingin beli kartu yang sinyalnya tetap bagus buat dipakai di pelosok-pelosok Jatim dan kami dikasih kartu apa gitu ya namanya lupa, pokoknya semua keluargaku ternyata memakai kartu telpon yang sama. Terus si penjual yang kreatif itu dengan cara tertentu memotong kartu telpon sehingga bisa pas buat iPhone yang menggunakan microcard. Nah, GPS dari iPhone dengan kartu telpon ini ternyata bisa diandalkan, tak sekalipun kami tersesat di jalan.

Begitulah, berkendara di Jawa bisa jadi sangat menyenangkan tetapi biar bagaimanapun juga kami tak sanggup berkendara lebih dari dua jam tanpa berhenti mengingat liarnya arus lalu lintas dengan ancaman dari segala arah, padatnya jalan dan kondisi permukaan jalan yang aneh. Tetapi tetap saja kami akan berkendara lagi pada kunjungan yang akan datang. Ini adalah cerita petualangan seru yang tidak pernah membosankan buat diceritakan kepada teman-teman kami di Jerman.

2 comments:

  1. "sudah sadar diri untuk selalu menyalakan lampu depan dan belakang juga pada siang hari"

    sebenernya itu karena peraturan.. kalau yang bandel, ya ngga nyalain.. hehe..

    seru yaa?? hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooo... Jadi ada aturannya ja? sip sip....

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)