[I♥Jatim] Lonely Beach


Silahkan duduk yang manis dan nikmati keindahan suatu tempat di Jawa Timur bersama kami yang secara tidak sengaja kami temukan...

Kamu membuka pintu kamar di pagi hari. Sinar matahari pagi menghangatkan kulitmu dengan lembut sementara kicauan burung terdengar nyaring dari hutan di belakang kamar, seberang jalan.
Ketika kamu turun dari beranda, kaki telanjangmu menginjak pasir putih yang sejuk dan setelah berjalan melintasi pagar pekarangan rendah kamu akan mendapati hamparan pasir putih yang lebih lembut daripada pasir di depan kamarmu.

Sementara tepat didepan mata, jika kamu melayangkan pandangan lurus ke depan, kamu akan melihat air pantai yang tenang, tanpa ombak sedikitpun sehingga permukaan air itu nampak seperti kaca bening yang melindungi hamparan pasir lembut di dasarnya.


[I♥JKT] Semalam di Jalan Jaksa

Ini adalah pohon di Jalan Jaksa, di poto pada kunjungan kami tahun 2011, 
pas kami ke sana pohonnya tetap hidup tapi tutup-tutup botolnya dibersihkan, 
dan kami menempelkan lagi...

Seseorang melambaikan tangan kepada kami sebagai isyarat agar kami mendatanginya, pas ketika kami keluar dari restoran hotel Margot dan sedang rundingan akan jalan kemana. Dia berada di seberang jalan tempat kami berdiri dan sedang duduk pada bangku kayu panjang pada sebuah bar jalanan di trotoar jalan Jaksa. Waktu menunjukkan jam sembilan malam dan jalan Jaksa sedang ramah-ramahnya, itu adalah malam minggu. Musik terdengar dari mana-mana, beberapa bar dan kafe sedang penuh pengunjung dan ada live music di kafe Memory, orang-orang berjalan kesana-kemari berpakaian santai, dan banyak lampu berwarna-warni di sepanjang jalan. Jalan Jaksa, i love it!

Waktu itu kami baru saja selesai makan malam tetapi aku belum kenyang karena menu yang aku dapatkan tadi jumlahnya cuma sak uprit.

Lalu kami mendatangi orang itu, "Come here sit down with me..." Katanya mengundang kami. Dia adalah seorang pria muda yang terlihat menarik dengan rambut coklatnya. Sepertinya dia berumur pertengahan tiga puluhan dan mempunyai senyum ramah. Di sebelahnya duduk seorang laki-laki berumur dengan mata sipit dan berambut sangat lurus, mengenakan t-shirt longgar dan santai, dan membawa sebuah tas kecil. Dari penampilan santainya orang bisa langsung melihat bahwa pria berumur itu adalah pelancong seperti kami, kebalikan dari penampilan pria muda yang rapi dengan kemeja lengan panjang warna putih yang dikenakannya.

Diatas meja panjang didepan mereka masing-masing terdapat sebotol Bintang.

[I♥Madakaripura] Cuci Mobil Gratis


Kami selesai browsing di situs Bromo Tengger Semeru sekitar jam 10 pagi, kemudian kembali ke hotel buat sarapan santai dan check out, maka masih tersisa hari yang panjang. Lalu apa yang akan kami lakukan? Langsung turun ke kota? Tidak seru dong... Maka setelah dipameri foto-foto aduhai yang di buat Soe dalam salah satu postingannya tentang air terjun surealis Madakaripura, kami-pun menuju ke sana.

Yang asik, di tempat parkirnya itu ada orang yang suka mencuci mobil secara sukarela, tentu saja kami kesenangan, ya tahu sendiri lah ya, bagaimana kotornya mobil kami yang berwarna putih itu setelah dipakai untuk melakukan perjalanan jauh. Begini ceritanya.....


[I♥Bromo] Kenangan Manis Terulang Lagi


Dulu sekali waktu masih brondong dan belum punya uang berlebih untuk jalan-jalan aku sempat jadi backpacker nasional. Dan suatu saat kami - kakakku dan aku - pergi ke Bromo dengan uang pas-pasan. Begitulah, keinginan untuk berpetualang mengalahkan keterbatasan yang ada. Itu adalah salah satu kenangan manis bersama kakakku, saking manisnya bahkan aku masih punya foto kami berdua di bawah tangga naik ke kawah dimana disitu terdapat pemandangan yang spektakuler menurut kami berdua.

Dulu kami menginap di salah satu rumah penduduk yang disewakan di Cemoro Lawang, harganya 10.000Rp semalam dan kamarnya dingin sekali, cuma disediakan sebuah selimut tipis jadi sepanjang malam kami cuma rebutam selimut.

Sekarang aku datang lagi ke Bromo...

Dan sekarang kami menginap di hotel Cemara Indah, pemandangan langsung menghadap ke Bromo, dan tak perlu lagi rebutan selimut karena menurutku desa Cemoro Lawang tidak lagi dingin melainkan sejuk setelah aku sering merasakan dinginnya suhu udara musim dingin. Kurang lebih sama seperti suhu udara musim semi di Jerman.


[I♥Jatim] Kemalaman di Hutan Rimba


Teluk Hijau!

Itulah tujuan kami hari itu. Aku pernah sekali mengunjunginya dengan teman-teman pramuka dulu waktu masih SMP, jadi sekarang sudah benar-benar lupa jalan menuju ke teluk yang airnya berwarna hijau indah itu.

Teluk Hijau (Green Bay) berada didalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri dimana disitu konon katanya hidup ular terpanjang sedunia. Nah lo...!
Untuk mencapai teluk Hijau, setelah memarkir mobil di desa nelayan terakhir, orang harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak naik dan turun bukit (Dan bukitnya besar, hampir sebesar vulkano, eh ndak ding, kecilan dikit, tapi pokoknya besar dan bukan bukit berbunga!).
Jalan setapak ini benar-benar di dalam hutan belantara dengan pohon-pohon besar dan semak belukar. Dan Teluk Hijau berada jauh di bawah sana... Berapa jauh? Pokoknya jauh! Aku saja sampai kecapekan.

Dan yang namanya jalan setapak ini ya benar-benar jalan setapak. Jangan membayangkan jalan kecil romantis dengan bunga-bunga indah di kanan-kirinya. Ini jalan hampir tidak layak dilalui oleh orang kebanyakan seperti kami yang tidak tahu tentang seluk-beluk hutan.
So disitu ada jalan kecil, cuma jejak bekas orang yang lebih dulu lewat, licin dan untuk naik dan turun bukit hanya mengandalkan undakan yang terbentuk alami dari akar-akar pohon. Tidak ada undakan buatan, hanya pada awal jalan masuk saja. Kadang-kadang kami harus menyibak semak yang tiba-tiba nongol tepat didepan wajah kami.

Seru kan? Banyak nyamuknya juga!