[I♥Bromo] Kenangan Manis Terulang Lagi


Dulu sekali waktu masih brondong dan belum punya uang berlebih untuk jalan-jalan aku sempat jadi backpacker nasional. Dan suatu saat kami - kakakku dan aku - pergi ke Bromo dengan uang pas-pasan. Begitulah, keinginan untuk berpetualang mengalahkan keterbatasan yang ada. Itu adalah salah satu kenangan manis bersama kakakku, saking manisnya bahkan aku masih punya foto kami berdua di bawah tangga naik ke kawah dimana disitu terdapat pemandangan yang spektakuler menurut kami berdua.

Dulu kami menginap di salah satu rumah penduduk yang disewakan di Cemoro Lawang, harganya 10.000Rp semalam dan kamarnya dingin sekali, cuma disediakan sebuah selimut tipis jadi sepanjang malam kami cuma rebutam selimut.

Sekarang aku datang lagi ke Bromo...

Dan sekarang kami menginap di hotel Cemara Indah, pemandangan langsung menghadap ke Bromo, dan tak perlu lagi rebutan selimut karena menurutku desa Cemoro Lawang tidak lagi dingin melainkan sejuk setelah aku sering merasakan dinginnya suhu udara musim dingin. Kurang lebih sama seperti suhu udara musim semi di Jerman.


Kakakku sebenarnya ingin ikut tapi kesibukannya mengurus restoran bakso yang sudah mulai bercabang-cabang itu menggagalkannya, akhirnya dia hanya ingin aku bikin foto-foto yang banyak di tempat-tempat dulu kami berada, dan juga rumah penduduk yang kami tinggali itu.

Sebenarnya kami berangkat pagi-pagi sekali dari Banyuwangi tetapi.... Ya begitulah.... Tetap saja ketimpringan kesana-kemari dulu sebelum sampai tujuan sehingga pada akhirnya kami, oh tidak, kami tidak kemalaman kali ini, cuma adikku dan pacarnya ngomel-ngomel di terminal Probolinggo karena terlalu lama menunggu... Ya namanya liburan ya, jadi boleh seenaknya sendiri, bukankah begitu?

Di atas pegunungan Gumitir kami 'terpaksa' berhenti karena melihat restoran diatas gunung dengan panorama lembah dan ngarai yang memukau. Biar tidak di usir pelayan maka kami iseng pesan kopi. Aku menawarkan kopi luwak kepada Tommy dengan sedikit penjelasan singkat. "Oh, kopi tahi kucing yang mahal itu? Okay, marilah kita coba, aku sudah penasaran dari dulu." Katanya.

Kopi datang, Tommy membauinya, "Kok ndak bau tahi kucing ya...?" Terus ragu-ragu menyeruputnya, merasakannya.... "Wow...!"

Dari iseng ngopi akhirnya jadi keterusan makan rujak buah, terus pesan tahu petis ndak pake cabe, jus melon... sampai kami tidak bisa makan apa-apa lagi. Setelah itu barulah kami ingat bahwa perjalanan masih jauh....

Ketemu adikku dan pacarnya di terminal Probolinggo yang sedang mengalami bad mood karena menunggu terlalu lama, tetapi akhirnya mereka berdua bisa sembuh dan ceria kembali setelah di traktir makan es krim. Maka tak lama kemudian kami naik ke dataran tinggi menuju desa Cemoro Lawang dengan gembira.

Dan pemandangan naik ke dataran tinggi inipun sudah sangat dramatis. Sepanjang perjalanan yang terdengar ya cuma sekitar Wow.... Boah... cool... Pyuh.... Heboh....! Bayangkan ya bok ya, jalan naiknya itu kan berkelok-kelok seru gitu ya, terus setiap habis kelokan maka didepan kita akan terpampang pemandangan hutan rimba nun jauh disana, atau jurang dibawah sana, atau gunung yang anggun diatas sana... Kami sampai berhenti di suatu tempat buat pipis-pipis sejenak dan mengamati jurang yang dalam sekali tepat didepan kami.

Terus aku bercerita sekilas tentang cerita perjalanan naik ini dulu waktu aku naik bersama kakakku pas masih berstatus backpacker nasional itu.... Aku benar-benar tidak tahu kalau pemandangan naik spektakuler seperti ini, lha wong dulu itu bisanya cuma pegangan erat-erat karena sopir angkotnya tidak mengutamakan keselamatan penumpang, mana bisa menikmati pemandangan?

Sampai di desa terakhir Cemoro Lawang.
Kami membayar karcis masuk, mengatakan nama hotel tempat kami menginap dan seorang penduduk lokal (yang bisa dikenali dengan selimut sarung yang dipakainya) dengan ramah mengantarkan kami. Dia juga berbaik hati membantu kami untuk mendapatkan jeep carteran buat dipakai browsing sepanjang hari besok.

Kami puas dengan kamar masing-masing. Si dua orang adik itu langsung menghilang entah kemana, kami juga ingin berdua saja. Hanya saja ketika mereka belum benar-benar menghilang aku meneriaki mereka bahwa kita akan berkumpul di restoran jam 8 untuk makan malam.

Suasana desa seperti inilah yang tertanam jelas dalam benakku! meskipun aku tidak bisa mengenalinya lagi tetapi dulu waktu pertama kali sampai disini aku sudah langsung jatuh hati dengan desa ini. Sampai-sampai pada sebuah tempat yang tinggi dimana kami bisa melihat kemana-mana, hayalanku segera lari ke masa depan... Disinilah kita akan tinggal setelah pensiun nanti...... Eh lha kok Tommy menanggapi dengan serius, beberpa hari setelahnya ketika kami sedang ada di mana gitu tiba-tiba Tommy tanya apakah aku serius akan tinggal di Bromo. Lha aku jadi ngeri sendiri, itu desa jauh dari mana-mana, tidak ada rumah sakit, sementara kami menjadi tua, asuransi kesehatan kami tidak berharga... aku juga tidak yakin bahwa aku akan mau tinggal disana tetapi bukankah itu adalah hayalan yang indah?

Terus beberapa hari tanya lagi tentang desa di Bromo apakah aku ingin pindah kesana, aku jawab tidak, barulah dia tidak pernah bertanya lagi.

So, melanjutkan cerita indah di Bromo....

Bayangkan! Jam setengah empat pagi kami harus bangun!

Kami mempunyi sopir jeep yang terlatih. Tujuan pertama adalah Penanjakan Satu dimana disitu ada warung-warung penjual pisang goreng, kopi, jagung rebus.... Pokoknya suasana pagi yang lain daripada yang lain. Jadi kami minum-minum hangat dulu sambil ngemil pisang goreng seorang satu, duduk-duduk di bangku panjang sebelum naik beberapa undakan untuk melihat matahari terbit. Tetapi sayang sekali matahari terbitnya tertutup mendung jadi ceritanya dipersingkat saja biar tidak malu....

Dan... Semua orang seperti tersihir ketika beberapa saat kemudian semua mendung dan kabut pergi, karena kami mendapati mendapati pemandangan alam yang jernih, bening, indah dan memukau dengan  gunung dan vulkano menjulang perkasa sementara nun jauh dibawah sana, di lembah bawah gunung, kabut putih menutupi permukaan hutannya. Pokoknya itu adalah drama keindaham alam yang tiada tara, saking spektakulernya!


Tujuan selanjutnya adalah bibir kawah Bromo.

Tetapi ketika kami turun dari jeep kabut tebal masih menyelimuti lautan pasir berbisik, padahal diatas penanjakan satu tadi suasana sudah terang benderang, jadi kami berjalan didalam misteriusnya kabut lautan pasir itu. Bahkan ketika naik tangga undakan itupun masih berkabut, bahkan ketika sampai di bibir kawah juga. Tetapi bukankah ada pepatah jadul 'Orang sabar disayang pacar'?

Dan memang begitulah adanya. Setelah beberapa saat sabar menunggu, lagi-lagi kami disuguhi drama alam yang spektakuler. Ini kali kedua aku melihatnya dan aku belum bosan menikmatinya.


Terus kami turun dari tangga undakan dan bertemu dengan ibu penjual kopi yang juga menjual sarapan ringan disitu. Kami duduk-duduk sampai beberapa lama disitu sambil ngopi dan menikmati suasana lembah kaki gunung bromo.

Eh Ibu itu ramah dan baik hati lho ya, ketabahan hatinya tak diragukan! Jadi aku sekalian mau promosi ini, kalau kalian naik ke bromo, terus setelah turun tangga kawah itu pasti haus kan? Beli air saja sama ibu itu, kopinya juga enak, ada pop mie juga. Dan jangan lupa kasih tips setelahnya ya.... Karena pelayanannya bagus, harga bersaing, tempat duduknya juga strategis dengan pemandangan bagus ke lautan pasir. Ada indomilk siap minum juga, terus bermacam-macam camilan.

Jadi kalau mau naik ke kawah Bromo jangan bawa bekal ya, berat! Beli saja sama ibu ini, dia paling senior diantara dua penjual kafe lainnya, dan baik hati....


2 comments:

  1. Ah, Aku harus ke Bromo. Harus. Suatu saat nanti...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaelah belum pernah ke Bromo rae?

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)