[I♥Jatim] Kemalaman di Hutan Rimba


Teluk Hijau!

Itulah tujuan kami hari itu. Aku pernah sekali mengunjunginya dengan teman-teman pramuka dulu waktu masih SMP, jadi sekarang sudah benar-benar lupa jalan menuju ke teluk yang airnya berwarna hijau indah itu.

Teluk Hijau (Green Bay) berada didalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri dimana disitu konon katanya hidup ular terpanjang sedunia. Nah lo...!
Untuk mencapai teluk Hijau, setelah memarkir mobil di desa nelayan terakhir, orang harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak naik dan turun bukit (Dan bukitnya besar, hampir sebesar vulkano, eh ndak ding, kecilan dikit, tapi pokoknya besar dan bukan bukit berbunga!).
Jalan setapak ini benar-benar di dalam hutan belantara dengan pohon-pohon besar dan semak belukar. Dan Teluk Hijau berada jauh di bawah sana... Berapa jauh? Pokoknya jauh! Aku saja sampai kecapekan.

Dan yang namanya jalan setapak ini ya benar-benar jalan setapak. Jangan membayangkan jalan kecil romantis dengan bunga-bunga indah di kanan-kirinya. Ini jalan hampir tidak layak dilalui oleh orang kebanyakan seperti kami yang tidak tahu tentang seluk-beluk hutan.
So disitu ada jalan kecil, cuma jejak bekas orang yang lebih dulu lewat, licin dan untuk naik dan turun bukit hanya mengandalkan undakan yang terbentuk alami dari akar-akar pohon. Tidak ada undakan buatan, hanya pada awal jalan masuk saja. Kadang-kadang kami harus menyibak semak yang tiba-tiba nongol tepat didepan wajah kami.

Seru kan? Banyak nyamuknya juga!




Aku sih sudah agak terbiasa ya dengan medan seperti ini dan sebenarnya aku juga sudah agak-agak tidak mau untuk melewatinya. Maklumlah sudah mulai uzur dan tidak lagi berapi-api seperti dulu. Lagipula aku berjiwa lembut dan bukan berjiwa petualang jadi kepleset sedikit saja sudah mewek-mewek ingin segera pulang....

Tapi sejak dari Jerman Tommy ingin masuk hutan belantara.... Yang banyak pohon besarnya.... Banyak ularnya.... banyak harimaunya.... Banyak gajahnya.... Jadi ya aku blusuk-kan saja dia ke hutan Meru Betiri yang heboh itu, biar tahu rasa.

Jadi kami berangkat jam 9 pagi. Kami berkendara ke selatan pelan-pelan sambil menikmati suasana desa. Tak ada alasan untuk terburu-buru.

GPS iPhone kami dengan microcard provider lokal memang bisa diandalkan. Kami tak perlu bertanya kesana-kemari untuk menuju dan melalui jalan yang benar.

Setelah 2 jam berkendara kami berhenti di kota kecil Pesanggaran untuk ngopi-ngopi sejenak, aku juga sempat ngemil bakso.
Terus tak lama berjalan ada orang sedang punya gawe dan nanggap jaranan buto. Maka kami-pun berhenti menonton sejenak. Yang namanya sejenak jadi agak lama karena Tommy tidak mau diajak jalan dan ingin sebentar lagi menontonnya sampai yang njaran mabuk dan makan beling.


Ini jaranan buto yang legendaris itu

Puas nonton jaranan kami melanjutkan perjalanan. Ada beberapa mobil jeep membawa turis. Mungkin mereka akan surfing di G-Land atau ke tempat penangkaran penyu Sukomade.

Di tengah perkebunan kakao kami berhenti ngutil buah kakao dan dimakan disitu. Konon kata teman sekolahku dulu yang berasal dari perkebunan, kita boleh makan coklat di perkebunan asal bijinya dikumpulkan dan diletakan dibawah pohonnya. Karena yang dibutuhkan pemanen kakao di perkebunan itu ya cuma bijinya. Maka kamipun melakukannya.

Terus tak lama kemudian masih didalam perkebunan jalannya jadi jelek sekali, banyak lubang besar-besar dan semua mobil harus berjalan lambat. Dan ini terjadi sampai berkilo-kilo meter sampai akhirnya kami sampai di desa yang terlihat damai dan nyaman.

Dari situ masuk perkebunan lagi, jalannya jelek lagi, berkilo-kilo meter lagi, terus ketemu pos penjagaan taman nasional Meru Betiri.

Setelah bayar karcis kami boleh masuk dan bapak penjaga pos yang ramah itu memberikan penjelasan singkat tentang apa saja yang bisa kami lakukan di Taman Nasional itu. Kami harus membatalkan acara mengujungi tempat penangkaran penyu Sukomade karena katanya mobil kami terlalu rendah dan kami harus melintasi dua buah sungai. Demi keamanan dan kenyamanan dia tidak menyarankannya atau jika mau kami bisa carter mobil jeep.

Jadi ya begitu, sesuai saran dia maka kami memarkir mobil di desa nelayan Sarongan dimana itu adalah desa terakhir jika kami ingin pergi ke Teluk Hijau.

Dan petualangan dimulai. Tapi sebelum memulainya kami membuka bekal makan siang dulu yang sudah dipersiapkan oleh emakku di desa nelayan terakhir.

Desanya bagus, tenang dan damai, itu adalah desa kecil di sebuah teluk dan banyak perahu kecil penangkap ikan berwarna-warni. Pantainya lebar landai menuju samudra dengan pasir hitam yang berkilau bening.

Kami sampai berlama-lama disitu sampai tak terasa itu sudah jam 3 sore!

Jika tidak segera berangkat masuk hutan maka kami tidak akan pernah sampai tujuan.

Dan lagi-lagi petualangan benar-benar dimulai. Ceritanya ya seperti diawal tulisan ini, seru melalui jalan setapak di hutan belantara, plus kehujanan lengkap dengan petir menyambar-nyambat tepat diatas kepala kami, pulangnya.

Setelah melewati perjuangan yang maha berat itu kami sampai di teluk batu. Namanya teluk batu ya penuh dengan batu, mulai batu sebesar kerbau sampai batu sebesar burung pipit ada semua, tinggal pilih.

Aneh ya, semua batu kok bisa ngumpul disini ya? padahal di teluk nelayan tadi samasekali tidak ada batu, yang ada cuma pasir hitam, terus nanti di teluk hijau juga tidak ada batu melainkan pasir. Tapi yang ini pasir putih bersih, dan mereka berada pada garis pantai yang sama dan tidak terlalu jauh letaknya. Bagaimana penjelasan ilmiahnya? Apakah batu, pasir hitam dan pasir putih ini adalah longsoran dari gunung, ataukah arus ombak pantai selatan yang membawanya?  Kalau yang membawanya adalah arus ombak laut selatan, masak iya sih ombak bisa membawa dan mengumpulkan batu sampai sebesar kerbau seperti itu pada sebuah teluk dan meletakkan pasir pada teluk yang lain, terus bisa memilah-milah pasir putih dan pasir hitam?
Mungkin teluk batu ini dulunya adalah muara lahar dan batu dari vulkano, tapi karena kejadiannya pada jaman pra sejarah maka sungai lahar itu sudah tertutup hutan dan bukit.

Ah sudahlah aku tidak bisa menjelaskannya.

Sesuai petunjuk maka kami harus melintasi Teluk Batu untuk bisa menikmati keindahan Teluk Hijau, dan kami melakukannya; menyeberangi teluk Batu sambil sesekali duduk menikmati suasana. Teluk indah ini cuma milik kami berdua, tak ada orang lain selain kami.

Dan kami sampai di Teluk Hijau yang spektakuler itu....

Keindahan alam yang tiada tara! Dan itu semua hanya milik kami berdua karena tak seorangpun ada disana, ini adalah kemewahan yang sempurna.

Terus ya gitu deh, kami duduk-duduk diatas pasir putih hangat yang lembut, terus kebablasen sampai berbaring-baring segala....

Tapi sayangnya kami tidak bisa main air karena arus ombak sedang kencang, "But look.... Kalau tidak salah ingat, di balik pohon itu ada air terjun dan kolam, dulu teman-temanku dan aku mandi disitu setelah berenang... Airnya sejuk dan jernih" Kataku sambil berlari mencari air terjun yang kami temukan dulu tapi...... Aku jadi terbengong-bengong sementara Tommy terbahak-bahak, "Itu sih namanya bukan air terjun tapi air netes...."

Air terjunku cuma meneteskan air, tapi aku tidak mau ditertawakan, ya aku bilang saja ini pasti jarang hujan jadi hutannya tidak bisa menerjunkan banyak air....

Dan foto-foto beberapa saat lamanya, menikmati keindahan alam sepuasnya tapi.... kami belum puas ketika kami dikagetkan oleh kilat halilintar yang menyala tepat diatas kepala kami disusul suara guntur yang menggelegar. Kemudian hujan..... Sumpah ya bok ya, itu adalah suara guntur terkeras yang pernah aku temui sepanjang hidupku, rasanya seperti meledak tepat diatas kepala. Telinga kami sampai terganggu beberapa saat lamanya.

Hari mulai gelap, kami sepakat untuk keluar dari batu karang hitam yang melindungi kami dari petir dan hujan. Mereka sudah mulai reda.

Kami harus melewati jalan setapak yang sama, naik dan turun bukit, Sekarang lebih parah karena hari sudah mulai gelap, tanah licin dan basah, dan hujan belum benar-benar reda. Pada tempat-tempat tertentu aku harus menyalakan lampu senter karena lebatnya daun sudah menggelapkan jalan.

Kami keluar dari jalan setapak itu dengan pelan-pelan dan hati-hati, saling menjaga dan melindungi karena sekali terpeleset akan masuk tergelincir kedalam jurang gelap dengan pohon-pohon besar di bawah sana.

Ketika kami keluar dari rerimbunan jalan setapak dan memasuki jalan besar di hutan hari sudah benar-benar gelap dan kami basah kuyup oleh air hujan dan keringat. Tetapi tetap asik karena air hujannya tidak dingin, lagipula tas punggungku dimana kamera dan hp tersimpan kedap air, jadi sekeluarnya dari intaian maut di jalan setapak yang mengerikan itu kami menjadi riang lagi, duduk-duduk dulu dibawah gubuk derita yang ada disitu sambl minum air bekal perjalanan.

Terus berjalan keluar dari hutan rimba dalam kegelapan.

Masuk desa nelayan, ganti baju kering dan pulang. Masalahnya aku cuma bawa kaos satu, dan itu sudah basah. Jadi sepanjang perjalanan aku tidak pakai baju, cuma celana kolor yang rencananya buat renang tapi tetap kering karena kami tidak bisa berenang. Dan didalam mobil dingin, dan mobilnya tidak dilngkapi pemanas.... Ya iyalah dodol... Buat apa juga pakai pemanas mobil di Indonesia, mana laku?

Tetapi masalah lain muncul. Didalam mobil dingin jadi kacanya harus ditutup semua, kalau kacanya ditutup maka semua kaca termasuk kaca depan jadi buram berkabut oleh karena pakaian basah dan tubuh kami, karena kaca mobil depan tidak dilengkapi dengan angin-angin untuk mengusir buram jadi jendela harus tetap dibuka....

Jadi dalam perjalanan ketika memasuki sebuah kota kecil kami berhenti dan belanja kaos, dan tenanglah aku....

So, itulah cerita kami mengunjungi teluk hijau di taman nasional Meru Betiri yang memang memukau. Jadi bagi yang ingin kesana, berangkatlah pagi-pagi dan tempuhlah jalan yang lurus, jangan seperti kami yang ketimpringan dulu kesana kemari pakai nonton jaranan buto, kelamaan ngopi-ngopi cantik, keasikan di desa nelayan dan ya kok bisa-bisanya pakai acara ngutil buah kakao segala.... Jadi ya begitu akibatnya, kemalaman dan tidak puas menikmati keindahannya.

Teluk Hijau benar-benar indah tetapi jalan menuju kesana adalah tantangan besar, termasuk jalan raya yang rusak sampai berpuluh-puluh kilometer. Tapi asik, percayalah.


No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)