[I♥JKT] Semalam di Jalan Jaksa

Ini adalah pohon di Jalan Jaksa, di poto pada kunjungan kami tahun 2011, 
pas kami ke sana pohonnya tetap hidup tapi tutup-tutup botolnya dibersihkan, 
dan kami menempelkan lagi...

Seseorang melambaikan tangan kepada kami sebagai isyarat agar kami mendatanginya, pas ketika kami keluar dari restoran hotel Margot dan sedang rundingan akan jalan kemana. Dia berada di seberang jalan tempat kami berdiri dan sedang duduk pada bangku kayu panjang pada sebuah bar jalanan di trotoar jalan Jaksa. Waktu menunjukkan jam sembilan malam dan jalan Jaksa sedang ramah-ramahnya, itu adalah malam minggu. Musik terdengar dari mana-mana, beberapa bar dan kafe sedang penuh pengunjung dan ada live music di kafe Memory, orang-orang berjalan kesana-kemari berpakaian santai, dan banyak lampu berwarna-warni di sepanjang jalan. Jalan Jaksa, i love it!

Waktu itu kami baru saja selesai makan malam tetapi aku belum kenyang karena menu yang aku dapatkan tadi jumlahnya cuma sak uprit.

Lalu kami mendatangi orang itu, "Come here sit down with me..." Katanya mengundang kami. Dia adalah seorang pria muda yang terlihat menarik dengan rambut coklatnya. Sepertinya dia berumur pertengahan tiga puluhan dan mempunyai senyum ramah. Di sebelahnya duduk seorang laki-laki berumur dengan mata sipit dan berambut sangat lurus, mengenakan t-shirt longgar dan santai, dan membawa sebuah tas kecil. Dari penampilan santainya orang bisa langsung melihat bahwa pria berumur itu adalah pelancong seperti kami, kebalikan dari penampilan pria muda yang rapi dengan kemeja lengan panjang warna putih yang dikenakannya.

Diatas meja panjang didepan mereka masing-masing terdapat sebotol Bintang.

Dan kami duduk dengan mereka. Sama seperti mereka, masing-masing dari kami memesan sebotol Bintang.

Tanpa basa-basi dan tanpa sopan santun kami langsung bisa ngobrol ramah. Aku sedang jengkel dan berkata kepada dua pria itu bahwa di dalam restoran tadi ada seorang perempuan setengah baya yang berbicara dengan suara lantang sepanjang waktu pada saat kami makan jadi kami cepat-cepat menyelesaikan makan dan keluar.

Dan ternyata pria muda itu adalah seorang guru bahasa Inggris pada sebuah sekolah di Jakarta, expat dari New Zealand, tinggal di suatu tempat di Jakarta. Dia sedikit berbicara tentang murid-muridnya bahwa katanya selancar dan sebaik apapun bahasa Inggris mereka, mereka mempunyai dialek Inggris yang aneh. Sementara bapak bermata sipit itu adalah orang Jepang yang sudah sering bolak-balik ke Jakarta, dia ingin pindah ke Indonesia tetapi masalahnya istrinya tidak mau. Dan kami bercerita bahwa kami dari Jerman, sebulan berada di Indonesia untuk mengunjungi keluargaku dan sedikit liburan, atau liburan dan sedikit mengunjungi keluargaku.

Ngobrol ngalor-ngidul ndak karuan, bercerita tentang apapun yang penting ndak ngerasani tetangga. Di tengah obrolan aku ingat bahwa aku sedang lapar karena melihat gerobak ketoprak sedang parkir di seberang jalan, maka aku-pun memesan se porsi. Pesannya pakai teriak-teriak dari seberang jalan karena tiba-tiba jalan Jaksa macet dan aku tidak bisa menyeberang jalan.

Dan itu adalah ketoprak pertama yang pernah aku makan dalam hidupku. Tahukah kalian apakah ketoprak? Itu adalah lontong, potongan tahu goreng dan kecambah yang disiram dengan saus kacang encer. Hampir sama dengan sambel pecel tapi rasanya lain dan lebih encer. Dan enak.

Sambil makan sambil ngobrol. Si bule New zealand ternyata penyuka ketoprak sementara si bapak Jepang jadi penasaran dan minta sedikit, terus beli sendiri, sementara Tommy dari dulu memang anti sambal kacang.

Ada dua orang cewek datang, bingung di depan kulkas ingin minum apa... "Hi Girls, try this..." Kataku sambil mengacungkan botol Bintang, dan mereka setuju. Dari kulitnya yang masih pucat ketahuan bahwa mereka baru saja datang memasuki Indonesia. Dan dugaanku benar.

Terus mereka duduk bersama kami. Mereka akan salah satunya mengunjungi Bromo, dan kami baru saja dari sana!
Tetapi sayangnya kami tidak bisa kasih petunjuk yang benar-benar berguna karena kami sewa mobil, sementara mereka takut untuk nyetir di Jawa. Meskipun begitu aku berkata bahwa kalau mereka sudah sampai di Surabaya tidak akan kesulitan buat pergi ke Bromo karena banyak agen travel yang menjual paket perjalanan itu, dan murah.
Terus aku juga kasih alternatif, jika sudah sampai di Surabaya seharusnya mereka pergi ke terminal dan naik bus ke kota Probolinggo dimana itu adalah kota perhentian untuk naik ke Bromo. Dari terminal Probolinggo jika mereka tidak terlalu sore sampainya, akan banyak mini bus yang menuju desa terakhir di kawasan Bromo. Di desa terakhir, yaitu desa Cemoro Lawang akan banyak pilihan tempat menginap, makanan juga tidak jadi masalah. Secara global aku kasih gambaran bahwa Bromo adalah daerah yang asik dengan banyak fasilitas kecuali night life, tak ada yang perlu di khawatirkan. Dan aku sama sekali tidak berbicara tentang air terjun Madakaripura, masih sakit hati dengan orang-orang di sana.

Ketika panjang lebar menjelaskan kepada dua orang cewek ini, si pak guru kita jadi penasaran dan bertanya kepadaku bagaimana caranya menghilangkan aksen Indonesia-ku jika berbicara dalam bahasa Inggris dan jawabanku adalah.... "Stay at least eight years in Germany and don't speak Bahasa at all...!"  

Malam semakin berwarna, tiba-tiba ada seorang bapak menari-nari di depan kami. Bartender kami yang ramah bilang si bapak itu sarap, kumat-kumatan. Dia bercerita sekilas bahwa bapak itu dulunya guru ngaji, terus pergi berguru entah kemana, pulangnya jadi seperti itu.

Tak lama kemudian datang seorang perempuan berusia empat puluhan berbicara lucu dengan bapak penari itu, dia memakai bedak terlalu tebal dan gincu-nya juga terlalu merah. Memakai rok mini yang terlalu mini untuk orang seumuran dia. Dari matanya yang liar semua orang bisa menebak bahwa dia sedang bekerja di malam itu.

Terus setelah lama ngobrol dan beramah-tamah, kami semua bubaran... Dan kami berdua belum ingin tidur jadi kami pergi ke kafe Memory untuk  nonton live show. Cuma nyebrang jalan sudah sampai. Tapi di tengah jalan kami dihentikan oleh seorang cewek langsing dan seksi... Dia berteriak menyapa dan melambaikan tangannya kepada kami, akupun membalasnya, dan dia mendekat.
Eh, bukan cewek bok tapi banci dandan, lengkap dengan dua buah susunya yang menonjol.... Terus dia bertanya kenapa kami belum tidur... Habis itu tanya lagi apakah kami berminat.... Saking gemesnya aku sampai membuka sedikit kancing bajunya untuk meyakinkan apakah dadanya benar-benar montok tapi dia buru-buru menepis tanganku, dan Tommy menjewer kupingku.
Terus aku bertanya apakah dia sedang bekerja, dia menjawab iya, dan aku berkata bahwa kami tidak akan beli tapi kalau mau boleh ikut kami untuk minum segelas atau dua gelas bintang. Dia setuju dan kami mengobrol beberapa saat lamanya di kafe Memory... Sampai akhirnya kami pamit pulang untuk tidur dan dia akan melanjutkan bekerja, katanya.

Begitulah Jalan Jaksa yang selalu asik. Sebenarnya tempatnya tidak asik ya, tapi pengunjungnya yang bikin asik, dan semua orang ramah-ramah.... Dan tahukah kalian bahwa Jalan Jaksa adalah tempat yang harus disinggahi jika sedang pergi ke Jakarta? Tentunya perginya harus malam hari ya....
Ya pasti tidak ya bagi orang Jakarta, atau turnas (turis nasional) yang mempunyai gaya agak berbeda dengan bule miskin jika sedang liburan.
Apa sih menariknya Jalan Jaksa? Ndak ada ya sebenarnya. Bahkan jalannya sempit dan sesekali macet. Suasananya-pun seadanya, sama seperti di kampung-kampung sempit lainnya di dalam metropolis Jakarta.

Pokoknya tidak ada kesan kemewahan sama sekali di Jalan Jaksa.
Dan memang itulah asiknya. Jadi semua orang menyukainya...

Tapi aku suka dengan Jalan Jaksa, Tommy juga. Bahkan tiga kali transit dalam liburan kali ini, kami selalu menginap di Jalan Jaksa yang agak-agak kumuh itu.
Aku sudah pernah mengajaknya untuk menginap di hotel dekat-dekat bandara saja tetapi dia tidak mau, pokoknya nginap di Jalan Jaksa!

Kami menjadikan Jakarta sebagai kota transit saja. Meskipun begitu kami juga menghabiskan sehari penuh di Taman Mini. Yang namanya Taman Mini ternyata samasekali tidak mini. Luaaaas sekali bahkan saking luasnya kami tak mampu menjelajahinya dalam waktu sehari.
Okay itu cerita lain yang akan aku tulis pada postingan lain.

Update: Tidak tahu dimana letaknya Jalan Jaksa? begini... Dari bandara naik bis Damri ongkosnya per April 2013 adalah 50 ribu rupiah (atau 100.000 ya? lupa!), beli tiketnya bilang saja akan ke Jalan Jaksa maka kalian akan di kasih tiket ke terminal Gambir. Dari Gambir sebenarnya bisa jalan kaki, tidak jauh. Tetapi kalau bawa koper besar naik taksi saja. Semua sopir se Jakarta tahu letaknya. Alternatif lain, di bandara ada yang namanya taksi resmi bandara, ongkos ke Jalan Jaksa sebanyak mulai 400.000Rp. Jangan mau! keluar saja dari terminal kedatangan dan pura-pura bengong maka akan datang bapak-bapak menawarkan taksi, ongkosnya sama dengan taksi resmi bandara itu tadi tetapi dengan pura-pura jalan ke loket penjualan karcis bis Damri kami mendapatkan harga 250.000Rp. Jangan takut naik taksi tidak resmi ini, sopir Jakarta bertingkah manis kok, jadi jangan kuatir di culik atau di peras.

1 comment:

  1. Sebenarnya gampang koq mau ke jalan jaksa dari Airport. Cara amannya :
    Naik bus Damri tujuan Tanah Abang dari situ naik taxi lagi ke jalan Kh Wahid Hasyim (estimated Rp 60 rb + 20rb) ato kalo mau lebih gampang lg pas keluar Airport cari taxi queueing yg Blue Bird kasih tau sopirnya mau ke arah Sarinah lewat sudirman (estimated Rp 180 rban) Emang bener Djo, Cafe Memory udh terkenal buat night life di jalan jaksa. Bagi yg suka white man boleh coba peruntungan di sana :)

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)