[I♥Indonesia] Auf Wiedersehen

Ya! Sebulan penuh berada di Indonesia telah kami lewati.

Banyak yang telah kami lihat, banyak pengalaman baru telah kami lalui, banyak hal-hal emosional kami rasakan, banyak pesta, banyak makan, banyak sinar matahari telah kami nikmati, menjelajah indahnya alam Jawa Timur, dan aku telah selesai - seperti kata Tommy - me-reboot kepalaku menyatu kembali dalam tradisiku.

Foto-foto liburan yang telah kami buat akan menjadi kenangan tak terlupakan, dan oleh-oleh dari tempat liburan adalah kemewahan yang terpajang di ruang tamu. Tapi.... Ada satu cerita lagi yang perlu di tulis....



Dan aku tahu, Jawa akan tetap aku rindukan dan aku datangi setiap dua tahun sekali. Seperti aku bilang berkali-kali kepada Tommy dimanapun kami berada di kota-kota kecil di Jawa, bahwa anehnya, suasana kacau dan chaos seperti itulah, dimana banyak kendaraan, suara bising, banyak orang, gerahnya suhu udara yang lembab dan warung tenda makanan yang merebut areal trotoar dan aroma makanan dimana-mana... pasar pagi yang damai dan meriah... Suasana seperti itulah yang aku rindukan sewaktu-waktu, karena memang aku berasal dari situ.

Tetapi... Ya, ada tapinya; Pada hari-hari terakhir kami di Jawa aku sudah mulai merindukan pekerjaan dan teman-temaku, ingin makan Bratwurst lagi, sudah kangen dengan suasana sepi dan tenang di Jerman, tidak ingin di tanya-tanya hal ndak perlu oleh orang-orang di jalan.... Dan ingin tidur tenang tanpa gangguan, mandi yang bersih, makan dengan piring dan sendok yang bagus, minum kopi yang tidak terlalu manis, dan berkendara dengan nyaman di jalan. Your heart knows where your home... Eh...? Dimanakah sebenarnya rumahku? Okay, setidaknya aku punya apartemen di Jerman dan delapa tahun tinggal di Jerman telah merubah arah hatiku.

Terus teman-teman kerjaku selalu memintaku untuk menceritakan kembali sebuah cerita babak terakhir dalam liburan kami... Jadi inilah ceritanya....

Waktu itu kami ingin mengadakan pesta perpisahan yang ramah dengan semua keluargaku. Jadi kami mengundang mereka untuk makan malam bersama. Sebelumnya kami bertanya kepada Kurt tentang restoran terbaik di kota dan dia memberikan nama dan alamatnya, dan tanpa kesulitan kami berhasil pesan meja.

Malam terakhir. Semua datang berpakaian rapi-jali di restoran, para perempuan mengenakan kerudung berwarna-warni meriah dan kami berdua mengenakan celana panjang meskipun menahan gerah sepanjang malam. Kami semua berjumlah sembilan orang termasuk anak-anak, okay kami bukanlah keluarga besar.

Jadi ya, karena sudah merasa membooking meja maka kami berlama-lama di restoran. Makan sambil ngobrol ramah sepanjang malam, terus bikin foto-foto bersama, cerita-cerita lucu dan tertawa-tawa. Pokoknya itu adalah malam perpisahan yang sempurna bersama keluargaku.
Tak ada kesan sedih sedikitpun meskipun semua tahu bahwa kami akan berangkat besok pagi karena semua orang sudah bisa menerima keadaan masing-masing. Bahwa aku sudah rela untuk tinggal di Jerman dan semua orang juga sudah rela dengan kenyataan bahwa aku tidak akan menetap tinggal dengan mereka.
Berbeda dengan kunjunganku yang dulu-dulu dimana ketika aku akan kembali ke Jerman semua jadi sendu, dan perutku menjadi mual tanpa alasan, sekarang semua orang jadi cerah ceria.... Mungkin karena eke agak gendut ya bok ya, soalnya emakku suka sekali lihat anak-anaknya dan cucunya yang laki-laki jadi gendut, sementara aku mati-matian mempertahankan bentuk perut....

Karena pada kedatangan kami dititipi oleh-oleh dari mami dan kakaknya Tommy buat mereka, maka mereka semua juga titip hadiah buat dibagi-bagikan kepada keluarganya Tommy. Rukun deh ya mereka. Kasih jempol!

Terus kok ya semua jadi seiya-sekata ya, dalam waktu yang berbeda-beda mereka semu berpesan, 'Jangan sampai merubah keyakinanmu ya...' katanya, maksudnya adalah keyakinan agama. Aku tidak tahu pasti kenapa semua orang sampai berkata begitu, mungkin karena mereka melihat dalam foto-foto kami bahwa terlalu banyak perayaan natal dan tahun baru dan lain-lain yang kami rayakan bersama sementara sedikit sekali foto-foto tentang lebaran bersama-sama.

Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah bisa aku lupakan dalam hidupku, dimana kami duduk bersama dalam sebuah meja, semua anggota keluarga, dan Tommy. Kami saling menyayangi dan memperhatikan satu dengan lainnya, dan baik Tommy maupun mereka semua sudah bisa berbaur dengan bagus, tanpa batasan lagi, layaknya keluarga sendiri. Sama seperti aku dengan keluarganya Tommy.

Dan inilah cerita yang paling disukai oleh teman-temanku sehingga mereka menyuruhku mengulang dan mengulang lagi pada saat ngobrol santai: Jadi waktu itu kami sembilan orang, makan malam di restoran terbaik dan termahal di kota. Menunya bermacam-macam mulai dari sayur, telur, daging, ikan dan segala macam masakan Indonesia yang bisa kalian bayangkan. Semua makan dengan lebih dari cukup, pesan sesuka hati, dan minuman tak pernah kering dari gelasnya. Sementara di belakang kami ada seorang pelayan berdiri dan siap melayani sepanjang waktu dan segera membereskan piring-piring kotor kami.

Tahukah berapa yang harus kami bayar untuk makan malam luxus seperti itu?
450 ribu rupiah!

Artinya sekitar 35 atau 40 Euro harus kami bayarkan buat makan malam untuk sembilan orang! Di restoran terbaik di kota!

Reaksi teman-temanku lucu-lucu... Ada yang melongo, ada yang mengernyitkan dahi, ada juga yang tertawa-tawa geli...

Lha iya, di Jerman, makan malam di restoran kelas menengah, 40 euro hanya cukup buat dipakai makan malam berdua, bukan buat sembilan orang, hah...!

Begitulah! Lain ladang lain ikannya. Orang tidak bisa menyamakan tempat yang satu dengan lainnya. Indonesia adalah benar-benar dunia yang berbeda dengan Jerman. Sama seperti kalian yang tidak bisa membayangkan dengan benar salju beserta udara dingin yang ditimbulkannya, mereka juga tidak bisa membayangkan liarnya hutan tropis kita atau perasaan ketika berada di atas vulkano.

So! Itulah serial cerita liburan kami sebulan di Indonesia.

(Ada tambahan kecil, kemarin tiba-tiba maminya Tommy mendatangiku dengan sebuah surat dan kartu pos di tangannya, dia menulis surat untuk emakku tetapi aku harus menerjemahkannya karena keluargaku tidak bisa berbahasa Jerman. Isi suratnya lucu, mengucapkan terimakasih atas hadiah titipannya dan atas sambutan yang tulus atas kunjungan kami, berkata sayang sekali tidak bisa bertemu karena dia sudah tidak ingin terbang jauh lagi, begitu juga dengan emakku).

2 comments:

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)