[I♥JKT] Sehari di Taman Mini


Semua sudah pernah pergi ke Taman Mini (TMII) kan..? Belum? Kami saja sudah... TMII itu asik, rindang dan sejuk, teratur dan tertata rapi, juga bersih dan banyak fasilitas liburan tersedia. Bahkan tahukah kalian bahwa orang bisa menginap di bungalow di dalam taman? Dan hebohnya, Taman Mini kita ini ternyata benar-benar tidak mini! Luas sekali, bahkan saking luasnya, dalam sehari itu kami cuma bisa menjelajahi sak uprit lokasi dari taman yang luasnya naudzubilah ini.

Dan sekali lagi tahukah kalian? Miniatur kepulauan Indonesia yang ada di dalam taman itu dibuat dengan sangat amat detail sehingga jika kalian melihatnya dari Google Earth, kalian tidak akan menyangka bahwa itu adalah miniatur of Indonesia, sama persis dengan kepulauan kita yang sebenarnya, cuma tidak ada pulau Gili Trawangan saking kecilnya pulau itu, itu saja!

Waktu itu kami sedang transit di Jakarta. Kami tiba di Jakarta kemarin sore, menginap di salah satu hotel di Jalan Jaksa dan penerbangan kembali ke Hamburg akan berangkat hampir tengah malam jadi dari pada bengang-bengong di dalam kota kami menggunakan waktu untuk menjelajahi TMII, begitulah dasar dari cerita ini.



TMII terletak sejauh 150.000Rp menggunakan taksi carteran dari Jalan Jaksa, itu saja keterangan lengkapnya.

Dan setelah membayar karcis masuk kami ingin melakukan orientasi sekilas terlebih dahulu maka kami meminta peta taman dan mendapatkannya dengan mudah di loket, terus atas anjuran pak penjaga loket maka kami naik gondole (kereta gantung) yang terbang di atas taman dari ujung ke ujung bolak-balik. Itulah sebabnya kenapa kami tahu bahwa Taman Mini ini tidak mini dan luas sekali.

Turun dari gondole dan kami siap untuk mengunjungi rumah-rumah adat satu per satu... Eh belum... Beli es krim dulu dan kamipun berjalan... eh sebentar, ada toko suvenir bagus-bagus... Lihat-lihat dulu dan aku beli gelang sepasang yang model dan warnanya sama, seorang pakai satu... barulah kami berjalan.

Pertama-tama ada rumah-rumah adat dari Sumatra, semua adat yang ada di Sumatra ada disitu berderet-deret. Dan rumah jaman dulu bagus-bagus. Rumah-rumah di Sumatra bentuk dan komposisinya hampir sama, ada kolong, terus rumah induknya di topang pilar-pilar kayu besar dan hampir seluruh bangunan menggunakan kayu, mengingatkan aku pada rumah-rumah (masa kini) di pegunungan Bavaria. Terus didalam rumah-rumah itu dipajang pakaian tradisional dari daerahnya masing-masing yang berwarna cerah dan indah, ada juga sedikit dokumentasi sejarah.


Dan sampailah kami pada rumah dari daerah mana gitu... Pokoknya di depan rumah itu ada tonggak batu, nah menurut sejarah adatnya, pada jaman dahulu brondong-brondong cowok harus mampu meloncati tonggak batu ini untuk membuktikan bahwa dia sudah siap kawin, atau seperti itu. Masih ingat pelajaran jaman SD ini kan?

Dan sambil bercerita kepada Tommy tentang tonggak batu ini layaknya seorang guide, kami mendekati tonggak batu itu, yang ternyata tinggi.... Sepertinya aku tidak akan pernah bisa kawin...!

Nah waktu itu bertepatan dengan acara HUT TMII jadi di depan rumah indah bertonggak batu itu ada panggung hiburan menampilkan musik melayu. Kamipun ikut-ikutan duduk menontonnya, ternyata yang menonton dapat hadiah sekotak kue. Dan musik melayu memang terdengar anggun dari dulu hingga kini, ada beberapa penyanyi dan mereka menyanyikan lirik-lirik indah seperti berpantun. Suatu saat mereka bernyanyi berbalas pantun dan benar-benar kocak, semua orang sampai terbahak-bahak kecuali Tommy.

Terus acara dilanjutkan dengan tari-tarian tetapi sebelumnya ada sambutan-sambutan, jadi Tommy mengajak pergi. Dia sudah tahu dari membaca buku bahwa katanya orang Indonesia doyan ngomong, setiap ada acara pasti ada sambutan-sambutan yang lamanya sampai berpuluh-puluh menit. Jadi kami pergi ke rumah adat selanjutnya, nanti kalau sudah muncul yang menari baru balik lagi.

Eh ternyata benar, sambutan-sambutannya lama sekali. Kami telah pergi ke tiga buah rumah adat selanjutnya, mengamati isinya dan berdiskusi santai, keluar lagi, barulah terdengar musik dan para penari sedang menari lincah. Kami mendatanginya lagi.

Itu adalah tari Payungan. Yang menari tujuh orang, empat cowok dan tiga cewek, semuanya membawa payung. Mereka terlihat lucu dan mungil diatas panggung, sepanjang waktu tersenyum riang sambil menari. Gerakan tarian mereka mirip-mirip pencak silat. Bagus.

Terus salah seorang penari cewek membuka kotak persembahan sambil menari dan turun dari panggung mendatangi penonton, masih sambil menari menyodorkan kotak persembahan itu ke semua tamu yang duduk di deretan depan dan kami juga di kasih persembahan dari dalam kotak. Ternyata permen mint.


Masih di sekitar rumah-rumah adat pulau Sumatra... Ternyata Sumatra punya banyak adat yang berbeda. Suatu saat kami mendatangi dan masuk rumah panggung yang luas sekali. Oleh pak penjaga kami dipameri foto-foto orang-orang yang mengenakan pakaian adat, bagus-bagus.
Katanya kami juga boleh meminjamnya untuk dikenakan dan di foto, jadi kami tertarik... Dan katanya harga sewanya seratus ribu.

Lucu bapak ini... Tadi bilangnya dipinjami, eh diminta uang sewa...
Tapi ya sebagai kenang-kenangan bagus juga ya...

Masalahnya tak ada sebuah bajupun yang muat buat Tommy...
Akhirnya dengan agak dipaksa ada sebuah baju yang muat meskipun tadi aku mendengar suara aneh ketika baju itu dikenakan lewat kepala Tommy. 

Eh cakep... Baju kebesaran berwarna-warni dari sebuah kerajaan di Sumatra dengan penutup kepala yang meruncing itu, lengkap dengan kerisnya. Jadi aku bikin foto-foto Tommy diambil dari segala penjuru. Terus gantian Tommy foto-foto aku, terus pak penjaga yang gilingan itu merayu-rayu kami agar mau di foto berdua di singgasana....

Melanjutkan cerita di Taman Mini kebanggaan kita.....
Setelah menonton musik melayu dan Tari Payungan, mengagumi keindahan rumah-rumah adat pulau Sumatra, membaca sekilas tradisi dan sejarah dari tiap-tiap daerah, Tommy tanya, "Kapan kita ke Sumatra?"

Lho.... kemaren kan sudah, pas kita ke Lampung dan tinggal di rumah kakakku, ih mulai pikun...!

"Kok beda ya...?" Katanya...

Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Padang. Eh ada warung Padang, ya sudah makan-makan, dan beli suvenir buat hadiah keluarga di Jerman.

Setelahnya aku tidak ingat lagi sampai mana, tetapi masih di pulau Sumatra atau Kalimantan, dan setelah itu rumah-rumah tutup semua karena hari sudah sore, jadi kami cuma bisa mengagumi rumah-rumah adat dari daerah lain dari luar.

Begitulah kami, kalau sedang liburan jadi seenaknya sendiri dan tidak bisa mengira-ngira waktu sehingga sering salah perhitungan tetapi meskipun begitu kami tetap disiplin, tak pernah sekalipun ketinggalan jadwal keberangkatan pesawat.

1 comment:

  1. Ah... ide bagus kalo suatu hari nanti pacarku datang ke indonesia untuk waktu yang agak lama supaya bisa jalan2 sebentar di Jakarta... Ajak saja ke TMII yah, sekalian ngajarin kalo Indonesia itu bukan Jakarta dan Bali doang

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)