Metropolis Mungil Höxter

Cerita bagian pertama bisa dibaca disini.


Nah, menurut Anne si pemilik bar kesukaan kami selama kami tinggal di kota resor Karlshafen yang sunyi-sepi-sendiri itu, ada baiknya kami melakukan tur sehari ke kota Höxter, berjarak 25 kilometer menggunakan mobil atau bisa juga naik kereta api yang datang setiap setengah jam. Katanya Höxter kotanya cantik dan unik, bergaya renaissance dan merupakan metropolis bagi orang-orang yang tinggal di ketinggian Weserbergland ini. "Kalian masih terlalu muda untuk duduk-duduk seharian di pinggir sungai Weser!" Dan kami menyetujuinya.

Jadi, bangun pagi yang kesiangan dengan santai, sarapan santai, dan setelah jalan-jalan santai sejenak di englischer Garten hotel untuk menempatkan makanan pada posisi yang nyaman di perut kami, maka kami berkendara santai dengan tujuan Höxter. Tentu saja navigator mobil adalah pemandu yang bisa diandalkan. Si navigator memberikan tiga alternatif jalan menuju Höxter dan kami memilih jalur yang terpanjang, terjauh dan berliku-liku. Bukankan kami sedang santai?

Terdampar di Kota Mati

Alkisah, pada jaman dahulu kala ada seorang bangsawan sedang berburu di dalam sebuah hutan pada dataran tinggi Hessen. Ketika dia dan rombongannya sampai di pinggir sungai Weser, mereka beristirahat pada sebuah dataran luas yang dikelilingi oleh bukit-bukit...

Beberapa tahun kemudian sang bangsawan kembali lagi ke sebuah tempat datar di tengah hutan ini bersama rombongannya. Kali ini bukan untuk berburu, karena rombongan besar ini terdiri dari para arsitek, Ingenieur dan Baumeister bersama tukang bangunan.

Benar, sang bangsawan (Landgraf) bernama Landgraf Karl zu Hessen beserta rombongannya akan membangun sebuah kota disini.

Sejak saat itu terdapat sebuah kota baru bernama Karlshafen didalam hutan di pinggir sungai Weser. Kota yang menurut ide sang Landgraf akan menjadi penghubung daerah utara negeri kekuasaannya dengan ibu kota Kassel melalui jalur sungai Weser.