Metropolis Mungil Höxter

Cerita bagian pertama bisa dibaca disini.


Nah, menurut Anne si pemilik bar kesukaan kami selama kami tinggal di kota resor Karlshafen yang sunyi-sepi-sendiri itu, ada baiknya kami melakukan tur sehari ke kota Höxter, berjarak 25 kilometer menggunakan mobil atau bisa juga naik kereta api yang datang setiap setengah jam. Katanya Höxter kotanya cantik dan unik, bergaya renaissance dan merupakan metropolis bagi orang-orang yang tinggal di ketinggian Weserbergland ini. "Kalian masih terlalu muda untuk duduk-duduk seharian di pinggir sungai Weser!" Dan kami menyetujuinya.

Jadi, bangun pagi yang kesiangan dengan santai, sarapan santai, dan setelah jalan-jalan santai sejenak di englischer Garten hotel untuk menempatkan makanan pada posisi yang nyaman di perut kami, maka kami berkendara santai dengan tujuan Höxter. Tentu saja navigator mobil adalah pemandu yang bisa diandalkan. Si navigator memberikan tiga alternatif jalan menuju Höxter dan kami memilih jalur yang terpanjang, terjauh dan berliku-liku. Bukankan kami sedang santai?



Perjalanan indah dan menyenangkan melewati jalan-jalan hutan berliku naik turun dengan pemandangan jurang dan bebukitan berganti-ganti. Kadang banyak kabut, kadang masuk ke dalam gelapnya hutan dan sekali waktu melewati desa-desa idealis nan cantik di pegunungan yang mempunyai tanah pertanian luas, kebun anggur, banyak lembu dan domba.

Begini... Tahukah kalian, aku ini berasal dari sebuah desa kecil di lereng gunung di Jawa sana, masa kecilku adalah blusukan hutan, jadi setiap kali menemui desa kecil di sekitar hutan seperti ini hatiku menjadi hangat dan kerinduanku akan sesuatu yang aku sendiri tidak mengetahuinya apa itu jadi melonjak-lonjak riang.

Sepanjang perjalanan aku kena giliran nyetir, jadi aku berkesempatan buat meningkatkan ketrampilan mengemudi pada jalan gunung menantang seperti ini karena di tempat tinggal kami di Nordfriesland kami tidak mempunyai gunung dan bukit. Jalan kami lurus, lebar dan datar. Satu-satunya, atau dua-duanya tantangan berkendara di tempat kami adalah licinnya salju pada musim dingin, dan kijang yang tiba-tiba menyeberang jalan.

Nyetir mobil pada jalur yang tidak biasa tentu saja menyenangkan tapi sayang sekali kami sampai di metropolis Höxter. Seperti biasa, cari tempat parkir di kota tidak mudah. Pada akhirnya, setelah keliling-keliling beberapa saat lamanya, kami menemukan satu slot di parkiran bawah tanah kota, ambil karcis buat parkir empat jam pertama, dan kami berbaur dalam keramaian....

Pertama enaknya ngapain? Atau ganti pertanyaan; Apa yang kalian lakukan ketika memasuki sebuah kota tanpa panduan apapun? Buka tourismus apps di smartphone? oh tidak, aku bukan se-desperate itu, jadi kami mencari tourist information dan kami menemukannya disini:

Didalam rumah bermenara itulah tourist information berada.

Disini kami mengambil beberapa brosur dan peta kota, mempelajarinya sambil diskusi dan kami menemukan bahwa kota yang katanya Anne merupakan sebuah metropolis ini adalah sebuah kota mungil berpenduduk 30.000 jiwa. Ih, dasar orang gunung....

Pertama kami pergi ke passage yang merupakan pusat kota, melihat-lihat saja, tidak akan belanja.... Kotanya cantik, banyak rumah-rumah indah yang tetap berdiri dengan anggun selama beratus-ratus tahun! Jadi ini adalah alte Stadt Höxter (old town)....

Shopping passage yang lapang dan nyaman tanpa takut ketubruk mobil.
Eh katanya ornamen warna emas di dinding itu, dulu adalah emas betulan!

Ini terletak di atas pintu apotik. Untuk mengetahu alangkah menggemaskannya moto ini,
orang harus bisa berbahasa Jerman.

Jadi setelah foto-foto dan mengagumi keindahan arsitektur jaman dulu, kami masih mempunyai waktu banyak sebelum jangka waktu parkir 4 jam kami berakhir, maka niat cuma "lihat-lihat saja, tidak akan beli" itupun berubah total ketika kami memasuki sebuah shopping mall, keluarnya Tommy dapat sebuah jaket bagus dan celana panjang warna hitam, aku dapat beberapa kaos kaki, dan celana panjang warna merah. Sumpah, inilah pertama kalinya dalam hidupku aku mempunyai celana panjang warna merah. Ngejreng ya....? Sengaja kok...

Tentu saja tidak nyaman untuk jalan-jalan sambil menenteng barang belanjaan, jadi kami kembali ke tempat parkir bawah tanah untuk menaruh tas belanjaan didalam mobil dan kemudian melanjutkan petualangan kami menelusuri kota renaissance Höxter.

Tetapi sebelum jalan lebih lanjut... oh itu adalah hari yang panas, seporsi es krim tentu saja adalah ide yang bagus. Jadi kami memesan es krim pada sebuah kafe pinggir jalan meskipun pada akhirnya aku menyadari bahwa aku telah salah pilih. Itu adalah es krim dengan yoghurt dan potongan buah-buahan, ada sereal juga. Ceritanya berlagak makan sehat tapi malah tidak termakan, aku tukar dengan Tommy yang punya krim coklat yang terlihat menggairahkan, dia tidak mau karena dia sudah tahu bahwa es krim pilihanku bukanlah pilihan yang bagus.

Melanjutkan perjalanan, kami keluar dari Zentrum dan menelusuri perumahan kota yang mempunyai lorong-lorong sempit dengan rumah-rumah cantik dengan dinding berhias kayu ukir berwarna-warni indah, mirip dengan rumah-rumah tua yang kami temui di passage namun berukuran lebih kecil.

Tujuan selanjutnya sesuai dengan yang tertera di brosur dan peta kota yang kami ambil dari Tourist Information,  kami akan pergi ke Schloss Corvey....

Schloss (puri) Corvey berada dalam lindungan UNESCO. Puri ini dibangun dengan gaya arsitektur Barock pada awal tahun 800-an. Pada abad 9 dan 10,  Schloss Corvey merupakan kloster yang menjadi pusat kebudayaan kristen terpenting di Eropa Barat. Begitulah penjelasan singkat menurut brosur turis yang aku baca.
Ini aslinya megah sekali, dulunya merupakan kloster, isinya cowok semua,
Juga merupakan pengumpulan dan pembuatan dokumen agama Kristen.
Dalamannya kereeeen sekali, sayang tidak boleh di foto.



Cukup sudah perjalanan hari itu mempelajari sejarah dan menikmati kemegahan masa lalu pada saat kaisar-kaisar dari negeri-negeri kecil di pegunungan yang saat ini bersatu-padu dalam Bundesrepublik Jerman berkuasa. Sebagai penutup, kami menikmati secangkir capuccino di Schlossrestaurant Corvey....

Bagaimana dengan perjalanan selanjutnya? Oh tentu saja kami sudah punya rencana dong ya, aku masih punya 10 hari cuti tahun ini, Tommy punya 9 hari. Jadi kami akan pergi ke Belanda. Tentu saja kami bikin variasi dalam mengisi liburan. Jika liburan kali ini adalah liburan singkat yang luxus, maka liburan ke Belanda adalah liburan kelas gembel tanpa menginap di hotel melainkan di mana saja selama bisa parkir caravan kami. Sampai jumpa pada petualangan selanjutnya....

No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)