Terdampar di Kota Mati

Alkisah, pada jaman dahulu kala ada seorang bangsawan sedang berburu di dalam sebuah hutan pada dataran tinggi Hessen. Ketika dia dan rombongannya sampai di pinggir sungai Weser, mereka beristirahat pada sebuah dataran luas yang dikelilingi oleh bukit-bukit...

Beberapa tahun kemudian sang bangsawan kembali lagi ke sebuah tempat datar di tengah hutan ini bersama rombongannya. Kali ini bukan untuk berburu, karena rombongan besar ini terdiri dari para arsitek, Ingenieur dan Baumeister bersama tukang bangunan.

Benar, sang bangsawan (Landgraf) bernama Landgraf Karl zu Hessen beserta rombongannya akan membangun sebuah kota disini.

Sejak saat itu terdapat sebuah kota baru bernama Karlshafen didalam hutan di pinggir sungai Weser. Kota yang menurut ide sang Landgraf akan menjadi penghubung daerah utara negeri kekuasaannya dengan ibu kota Kassel melalui jalur sungai Weser.


Sesuai rencana tata kota, maka kota ini menjadi kota Barock (Baroque) dengan sebuah pelabuhan buatan ditengah kota. Pelabuhan ini akan menjadi tempat bersandar dan bongkar muat kapal-kapal perdagangan yang melewati sungai Weser.

Masalahnya, siapa yang akan tinggal di kota tengah hutan itu? Tidak ada yang mau.

Pada tahun 1717 datanglah penduduk pertama ke kota ini dengan suka rela. Mereka adalah para Hugenoten,  yaitu orang-orang beragama protestan dari Perancis yang dianiaya dan terusir dari negaranya karena keyakinan yang berbeda.

Kota Karlshafen, atau waktu itu sebelum ada negara Jerman bernama Carlhaven, mengalami masa-masa keemasan dengan pelabuhan buatan dan jalur perdagangan di sepanjang sungai Weser. Apalagi para pengungsi itu rajin membuat kerajinan tangan yang tidak dikenal di negara kekuasaan landgraf Karl waktu itu seperti kaus kaki rajutan, sarung tangan rajutan dan topi. Dalam waktu singkat sang bangsawan mendirikan pabrik rajutan di kota ini.

Tak cuma itu, beberapa tahun kemudian ditemukan sumber air asin di pinggir kota tersebut. Dan lagi-lagi berdiri sebuah pabrik pengolahan garam di kota itu.

Karlshafen adalah sebuah kota yang kaya raya pada masa kejayaannya.

Tahun berlalu, masa keemasan-pun meredup. Seiring dengan perkembangan tehnologi dan infrastruktur negara kesatuan Jerman, jalan darat lebih efektif daripada jalur sungai Weser, sehingga lambat laun perekonomian kota ini mati. Dan akhirnya benar-benar menjadi kota mati saat ini, bahkan ketika kami mengunjunginya beberapa waktu yang lalu.........

Itulah sejarah kota Karlshafen seperti yang diceritakan oleh Anne dan suaminya, pasangan pemilik bar yang menjadi tempat nongkrong kesukaan kami selama kunjungan singkat kami di kota ini.

Tentu saja sebagai penduduk lokal, mereka harus menceritakannya dengan detail karena biar bagaimanapun juga kami benar-benar heran bagimana bisa kota sebagus ini menjadi kota mati hampir tanpa penduduk.

Begitulah, ini adalah kota sunyi senyap yang megah dengan beberapa restoran dan bar, hotel dan kafe, sementara toko-toko terpaksa tutup karena tidak ada pembeli.

Sekarang Karlshafen tidak punya orang-orang muda karena mereka harus keluar dari kota untuk sekolah dan bekerja, karena kota ini tidak mempunyai lapangan pekerjaan buat orang-orang muda. Dan toko-toko harus tutup karena para pembeli lebih suka belanja di toko-toko online yang lebih lengkap namun asosial dan merusak ekonomi lokal itu.

Sekarang kota ini menyandang gelar 'Bad', lengkapnya menjadi Bad Karlshafen karena memenuhi kriteria sebagai daerah bebas polusi, segala macam polusi mulai dari air, udara, suara dan segala macamnya. Bad artinya adalah resort.

Jadi, sekarang ini Bad Karlshafen adalah kota yang asik, sunyi dan damai buat pacar-pacaran sejenak menghilangkan kepenatan. Mereka punya fasilitas lengkap untuk ini; ada sauna lengkap dengan massage, kolam renang, maupun tempat berenang di sungai Weser, punya jalur yang indah buat bersepeda dan jalan kaki, ada hotel nostalgia yang cantik tempat kami menginap dan ada Campingplatz yang luas dan indah di pinggir sungai.

Belanja? tidak masyalah ya, 25 kilometer dari kota mungil ini ada kota besar Höxter dengan shopping passage yang besar.

Silahkan menikmati indah, sunyi dan damainya kota Bad Karlshafen dibawah ini....

Rathaus (balaikota) didepan pelabuhan, sayang pelabuhannya sedang di keringkan buat renovasi

Campingplatz di pinggir sungai Weser

Banyak mobil tapi ndak ada manusia

Eh itu ada dua orang duduk-duduk....

Damainya hatiku, indahnya alamku....

Birdview

2 comments:

  1. Aduuuh cantiknyaaa.... >_< pengen deh bisa jalan2 ke sana. Tapi kayanya semua mesti ditunda :( Kalo aku beneran bisa ke Jerman, ketemuan ya Djo!

    ReplyDelete
  2. Sip sip.... kabari dulu sebelumnya ya Byq, kalo kamu mendarat di HAM aku bisa kok jemput di bandara, nginepnya jangan kuatir, Tommy punya kamar tamu mungil cukup untuk dua orang. Pkoknya asik lah!

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)