[I Amsterdam] Coffe-Shop atau Van Gogh Museum?



Kota tua Amsterdam itu mungil, tak sulit untuk menjangkau atraksi-atraksi tujuan turis di seluruh kota ini baik dengan berjalan kaki atau sewa sepeda pancal. Tempat paling tepat untuk mulai menjelajahi Old Amsterdam - berdasarkan saran teman-teman baru yang kami temui di Cafe de 3 Sprong malam sebelumnya - adalah Centraal Station yang berada di sudut utara kota. Dari sini barulah kami berjalan turun ke dalam kota.

Kenapa kami tidak jadi sewa sepeda? Melihat begitu banyaknya manusia dan juga pengendara sepeda pancal, kami tidak yakin apakah bisa nyaman bersepeda. Jadi sewa sepeda pancal dibatalkan dan memilih berjalan dari ujung ke ujung.



Centraal Station itu sendiri adalah atraksi yang menarik, merupakan sebuah bangunan tua yang besar dan megah, dalamannya adalah stasiun kereta api yang super-duper modern dan tak pernah sepi. Di bagian luarnya adalah stasiun bis. Disinilah para turis mulai menjelajahi kota. Disana-sini terlihat mereka berjalan sambil menyimak peta kota dan masih menyeret koper atau manggul Rucksack.

Lucunya jalan di A'dam, kemanapun kamu berjalan, baik melalui jalan besar atau menyusup ke lorong-lorong kecil, keluarnya, ujung-ujungnya pasti ketemu kanal, karena memang begitulah sejatinya kota ini, dibangun diatas kanal. Katanya ada 160 kanal di metropolis ini.
Ceritanya begini, dulu sekali, disini ada sungai bernama Amstel, sekarang juga masih ada dan tetap bernama sungai Amstel. Nah disini ada desa nelayan, muaranya menuju laut Ijmeer, keluar lagi ada laut IJsselmeer, keluar lagi ketemu dam yang kami lewati beberapa hari lalu (ceritanya ada disini), diluar dam ada North sea, dari North sea armada kapal perdagangan mereka pulang balik ke Amerika Selatan, Brazil, Indonesia dan seluruh dunia....
Terus pada masa keemasannya, desa nelayan itu tumbuh menjadi kota, maka dibangunlah dam-dam dan kanal-kanal buat transportasi di dalam kota dan sejak itu ada kota kaya raya bernama Amsterdam, begitu....

Jadi Amsterdam adalah kota yang unik dan menarik, sepertinya ini adalah kota paling liberal sedunia dimana drugs menjadi barang yang sama legalnya seperti kopi atau permen dan perempuan pelacur  dipajang di etalase seperti layaknya toko-toko memajang mode pilihan. Bagaimana bisa? Iya, mereka (drugs) bisa dibeli di Coffe shop yang tersebar di seluruh penjuru kota. Jadi jika ingin beli kopi - maksudnya benar-benar kopi - jangan masuk ke Coffe Shop tetapi masuklah ke Cafe, Snack Bistro atau restoran, karena Coffee Shop adalah bar tempat menikmati drugs.
Tetapi jangan berpikiran negatif tentang Amsterdam, kota ini punya kultur yang sangat tinggi. Banyak museum disana misalnya Van Gogh Museum dan lain-lain.

Jadi jika kebebasan tidak mempunyai batas seperti itu, maka kamulah yang harus bisa membatasi dirimu sendiri.

Berbekal gambaran singkat itu kami mulai menjelajahi Amsterdam.

Bus yang kami tumpangi turun disamping Centraal Station dan senang rasanya berbaur dengan para turis yang baru keluar dari Centraal Station dan celingak-celinguk kegirangan. Kami juga begitu, foto-foto, gaya-gaya dengan Centraal Station sebagai latar belakang.




Disitu kami rundingan sejenak tentang rute yang ingin kami lalui sambil menyimak peta kota. Aku ingin melihat Oude Kerk yang merupakan gereja tua dan dikelilingi oleh red light district yang heboh itu, China Town, Magna plaza, NEMO, magere Brug yang merupakan jembatan cantik, Jordaan quarter yang merupakan tempat hanging-out asik dengan banyak kafe dan restoran, Bloemenmarkt dimana itu adalah pasar bunga terkenal.... tulip eh tulip....! dan yang paling penting; menikmati suasana berdua....

Kami berhasil melihat semua itu kecuali Magna Plaza. Tidak tahu bagaimana kami tidak bisa menemukannya, apakah kami yang terlalu bego atau tempatnya yang terlalu tersembunyi. Kami sempat memasuki sebuah plaza dan kami pikir itu adalah Magna Plaza tetapi didalamnya cuma ada Apple Store yang terlalu besar, kami tidak ingin membeli apapun yang bermerek Apple, saat itu, jadi kami pergi keluar lagi, itu bukan Magna Plaza.

Terus jalan lagi, memasuki lorong-lorong kota lagi... Bagaimana menceritakannya ya? Lorong-lorong didalam kota Amsterdam ini khas sekali, diapit oleh toko-toko, kafe dan restoran-restoran kecil, banyak turis dan orang-orang, suasana meriah dan riang.

Tanpa dinyana setelah keluar dari sebuah lorong kami sampai di Oude Kerk, sebuah gereja tua. Yaoli... kasian banget nasib gereja ini. Okay namanya gereja Eropa ya begitu ya, anggun dan megah tetapi gereja ini dikelilingi oleh lorong-lorong kecil dan lorong disekitar Oude Kerk ini adalah red light district yang terkenal lho.... Aku mikirnya cuma gini, lha nanti hari minggu ada bapak-bapak berniat untuk melakukan kebaktian, sesaat sebelum masuk pintu gereja dia tergoda oleh kerlingan perempuan berdandan menor dengan busana hampir tanpa busana yang berdiri di etalase mananti pelanggan itu, apa yang terjadi selanjutnya....? O... Heiliger Vater....

Pada kelanjutannya kami tidak lagi memperhatikan peta kota. Tanpa peta-pun kami sudah bisa menikmati suasana dengan nyaman, jadi kami berjalan kesana-kemari tanpa panduan, ternyata itu lebih menyenangkan.

Terus pada saat jalan, tiba-tiba mencium aroma yang khas, sampai akhirnya hafal dengan aroma ini saking seringnya, "Ah pasti disekitar sini ada sebuah Coffe Shop..." dan benar, tak lama kemudian terlihatlah Coffe Shop dengan pengunjung yang sedang menghisap hash atau marihuana atau sesuatu seperti itu. Kami sama-sama tidak ingin menikmatinya.


Suatu saat kami mampir ke sebuah toko keju dan keluarnya membawa satu paket berisi macam-macam keju, jadi namanya di Amsterdam, sambil jalan ya ngemil keju....


Keluar dari hiruk-pikuk lorong-lorong Amsteram, eh ketemu kanal, selalu saja begitu.....


Tetapi pada akhirnya kami merasa semakin tua, karena sering capek jalan, lagipula udara dingin mengharuskan aku untuk menghangatkan diri dari waktu ke waktu jadi kami sering masuk cafe sambil pura-pura pesan kopi atau teh. Aku mencoba fresh mint tea... enak. Ini juga teh paling populer di seantero kota. Tidak ada teh-nya cuma daun mint segar diseduh dengan air panas dan dikasih madu. Makan siangnya tentu saja kroket aneka rasa dong ya....

Sambil makan tentu saja sambil update timeline FB, pamer-pamer foto dan berkata kepada teman-teman bahwa kami sedang bersuka-cita di A'dam. Beberapa teman menyarankan untuk mengunjungi Van Gogh Museum. Tentu saja itu adalah ide cemerlang untuk melihat kultur pada suatu tempat, tetapi sambil rundingan matang sambil melihat peta kota, kami harus jalan jauh untuk mencapainya sementara dengkul sudah hampir lepas dari tempatnya akibat berjalan terlalu lama, belum lagi nanti antri masuk, berapa banyak waktu yang kami punya? tidak banyak.

Ada juga yang menyarankan untuk pergi saja ke Coffee-Shop mumpung ada di A'dam, tetapi langsung kami tolak karena kami adalah 'orang baik-baik' yang tidak mau menyentuh drugs.

Perjalanan semakin seru, telah banyak yang kami lihat, dan sudah banyak pula lorong yang kami lalui....

Sepatu kayu, Typisch Niederlande
Bloomenmarkt, pasar bunga yang terkenal itu...

Senja menjelang, namun kami belum ingin pulang, sementara kaki sudah terasa meriang.... What to do next in Amsterdam? Tommy punya ide cemerlang! naik perahu menyusuri kanal-kanal Amsterdam!

Setidaknya ini adalah pengalaman menyenangkan selama kurang lebih 60 menit. Kami jadi lebih tahu Amsterdam secara detail, menyimak sejarah tempat-tempat yang kami lalui dengan mendengarkannya di head phone yang tersedia dan yang paling penting, duduk-duduk manis memulihkan tenaga untuk menikmati Amsterdam dalam gemerlapnya malam....

Ada dong nanti cerita selanjutnya tentang menghabiskan malam yang sempurna di Amsterdam dan tahukah kalian bahwa Amsterdam adalah 'The best party in town'-nya Eropa? Tunggu cerita party kami malam-malam di Amsterdam ya....

2 comments:

  1. mas Djo... Selama di Belanda ketemu sama orang Indonesia ga, trus ada ga sih orang orang indonesia yg buka usaha di sana? usaha apa gitu, masakan indonesia mungkin... kalo ada pernah kesana ga?

    ReplyDelete
  2. Wah kalau wajah-wajah Asia banyak ketemu ya tapi aku tidak yakin apakah mereka orang Indonesia soalnya nggak bicara sama mereka, cuma lihat saja. Terus restoran Indonesia ada beberapa lihat tapi dari pengamatan yang tidak jeli, sepertinya itu adalah resto Indonesia versi Suriname, tapi nggak tau juga ya soalnya cuma baca menunya saja, nggak sampai masuk.

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)