I Amsterdam, Keluyuran Malam-Malam



If you visit Amsterdam (Old Amsterdam), jangan sekali-kali bermobil dan jangan beli kopi di Coffee Shop. Amsterdam adalah kota unik yang asik, orang tidak akan pernah bosan dengan segala multi-kulti yang ada, dan berhati-hatilah jika berjalan kalau tidak ingin ketubruk sepeda pancal. Tak pernah aku melihat sepeda pancal sebanyak di Amsterdam, dan tak pernah aku melihat kota sebebas ini.

Tahukah kalian arti simbol XXX yang tertera pada maskot kota Amsterdam? Sex? Pornografi? Bukan.... Tiga kali X itu adalah sebagai pertanda bahwa kota tua yang cantik ini pernah mengalami tiga kali musibah dalam sejarah pertumbuhannya yaitu bencana banjir, kebakaran dan epidemi penyakit pes.

Yuk lanjut.....




Caravan telah terparkir dengan anggun di Campingplatz, mandi sudah selesai dan kami baru saja makan malam. Sementara malam masih perawan. Apalagi enaknya? Setelah timbang sana timbang sini, akhirnya kami memutuskan untuk berkendara memasuki kota tua Amsterdam. Kali ini aku kena giliran nyetir.

Dibutuhkan sekitar 15 menit untuk berkendara ke Amsterdam dan itu tidak masalah. Masalahnya adalah sesaat setelah memasuki kota tua Amsterdam, aku sampai tergopoh-gopoh dibuatnya.

Ada banyaaaaak sekali manusia, okay tentu saja, namanya juga ibu kota. Tetapi mereka terlalu banyak dan masalahnya hampir semua dari mereka mengendarai sepeda pancal. Jadi aku yang sedang nyetir terbingung-bingung dibuatnya karena pengendara sepeda pancal punya kedudukan yang sama dengan pengendara mobil, dengan kata lain, kami menggunakan badan jalan yang sama, cuma dibatasi garis pembatas jalan. Sementara di Jerman pengendara sepeda pancal menggunakan badan jalan yang sama dengan pejalan kaki.

Jadi aku sedang mengalami culture shock! Sempat terbego-bego dan merasa tidak nyaman. Dengan suasana lalu lintas seperti itu aku harus benar-benar mengawasi apa yang datang dari depan - belakang - kanan - kiri - atas - bawah.... pokoknya dari segala penjuru! Parahnya lagi tiba-tiba kami memasuki jalanan dimana juga terdapat rel S-Bahn (trem), pyuh.... inilah yang aku benci dari sebuah kota besar, tidak cuma Amsterdam tetapi juga Berlin, Frankfurt dan lain-lain. Selalu saja jika berkendara diatas jalan yang juga terdapat rel S-Bahn diatasnya aku jadi tergugup-gugup tanpa alasan, aku selalu merasa salah jalur dan tiba-tiba akan datang trem dari belakang yang akan menabrakku.
Pokoknya aku tidak mau tinggal di kota besar!

Terus ya begitu.... Tommy sadar bahwa aku sedang panik tanpa alasan yang jelas sementara pada saat yang sama aku harus tetap melaju agar supaya tidak menimbulkan kemacetan, jadi dengan pelan-pelan dia menyuruhku minggir di tempat yang memungkinkan, kami gantian nyetir.

Kapok, aku tidak mau nyetir di dalam kota tua Amsterdam.

Kemana sebenarnya kami akan menuju? dodolnya, kami tidak punya tujuan! Atau, kami akan ke Amsterdam, tapi sekarang kami sudah berada di Amsterdam dan tidak tahu akan kemana....

Ya wes yang penting parkir dulu, masalah mau kemana atau mau ngapain dipikir nanti saja yang penting parkir dulu.... Ealah.... yang namanya cari tempat parkir, sampai setengah jam muter-muter, belum ketemu tempat parkir kosong.... Akhirnya menemukan satu, tahukah kalian apa yang terjadi? Tentu saja sebelum meninggalkan mobil yang terparkir kami harus membeli karcis pada slot mesin parkir terdekat, dua jam saja lah ya, berapakah ongkos parkir? jangan bengong, si mesin parkir minta 10€ buat parkir selama dua jam! Apakah itu tidak terlalu mahal? Tommy mengulangi reservasi parkir dari awal, buat dua jam - bukan sepuluh jam, eh dia tetap minta 10€, gila....!

Percayalah, parkir seharga 5€ buat satu jam adalah sangat amat mahal. Sudah mahal, sulit lagi dapatnya.

Sambil menggerutu kami jalan-jalan menikmati gemerlapnya Amsterdam di malam hari.... Amsterdam heboh! tidak sulit untuk jatuh cinta dengan kota ini.
Selanjutnya kami berbaur dalam keramaian orang-orang, semuanya riang, mereka terlihat senang... kami jadi ingin naik sepeda pancal.... besok saja jika hari sudah terang kami akan menyewanya...

Lama-lama setelah memahami suasana kota, kami setuju dengan harga parkir yang mahalnya nauzubilah itu dan kami jadi mengerti kenapa mereka lebih menyukai naik sepeda pancal daripada bermobil.... Lha iya, ini kota luasnya cuma sak uprit tapi kepadatan penduduknya menghebohkan, terus sepertinya lebih banyak kanal daripada jalan raya, dan ternyata Amsterdam punya masalah besar dengan kemacetan. Jadi untuk menanggulangi masalah yang lebih rumit mereka bikin harga parkir yang hampir tak terjangkau harganya, ternyata itulah alasannya....

Malam semakin gemerlap, Amsterdam terlihat semakin genit, itu adalah awal musim dingin dan meskipun sudah mengenakan sarung tangan dan pelindung telinga, setelah hampir dua jam berada diluar, aku mulai kedinginan. Jadi kami kembali ke mobil dan pulang ke Landsmeer.

Sampai di Landsmeer, balik ke Campingplatz, belum ingin tidur, jadi kami keluar bermaksud untuk bersosialisasi dengan orang-orang.... Kota di pinggiran Amsterdam ini ternyata sudah sunyi meskipun malam masih berada pada pukul sembilan. Kami melihat sebuah bar yang menarik dengan iluminasi meriah didepannya, jadi kami masuk.

Didalam lebih meriah lagi, 'Cafe de 3 Sprong' namanya.

Kami dapat duduk di depan bar, menyapa beberapa tetangga yang sedang melihati kami masuk. Sang waiter yang cantik menyilahkan kami untuk pesan minuman dan aku menyerahkan pilihanku padanya untuk memberikan bir lokal terbaik. Eh ternyata tetangga-tetangga kami yang sedang nguping saling memberi saran... bir ini enak... bir itu bagus... itu bir lokal tertua.... dan keputusanku ada pada white beer, sementara Tommy lebih suka bir hitam, semuanya buatan lokal.

Itu adalah malam yang ramah, semua tetangga kami adalah orang lokal yang sedang hanging-out. Setidaknya gerombolan kecil malam itu terdiri dari tujuh pria dan tiga wanita ditambah dengan sang waiter. Ramah-tamah kecil terjadi, kami mengatakan bahwa kami akan tinggal selama tiga hari dengan mereka di Landsmeer ketika salah seorang dari mereka bertanya tentang keberadaan kami.

Ketawa-ketiwi... ngobrol-ngobrol ringan, cerita-cerita lucu, Tommy berkata bahwa aku sedang tergila-gila dengan kroket Nederland dan aneka macam keju....
Malam semakin meriah diantara kami. Tiba-tiba sang waiter punya ide bahwa malam itu dia akan bikin acara Abend-käse untuk menyambut dua orang turis yang mendatangi mereka. Jadi dia ambil bermacam-macam keju kemudian memotongnya menjadi kotak-kotak kecil dan menyuguhkan kepada kami. Setidaknya ada lima macam keju. Aku bertanya nama tiga buah keju yang paling aku suka dan dia mencatatnya, dengan tambahan dua hari lagi akan ada weekly markt di Marktplatz dan seharusnya kami membelinya disana....

Terus mereka kasih saran bahwa besok sebaiknya kami naik bis saja ke Amsterdam daripada bayar parkir mahal. Mereka bilang ada bis yang menuju Centraal Station setiap 15 menit, bis terakhir akan berangkat dari centraal Station jam setengah satu dini hari, harga karcis sekali jalam adalah 5€, jauh lebih murah daripada parkir mobil seharian di Amsterdam karena mereka bilang kami tidak memerlukan mobil selama didalam kota tua Amsterdam.

Saking gayengnya suasana malam itu kami sampai traktir-traktiran shorts hingga akhirnya sang bartender tak mau kasih minuman lagi karena beberapa orang termasuk aku telah menunjukkan 'tanda-tanda mencurigakan' dan pada akhirnya kami semua disuruh pulang.

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. "Jadi untuk menanggulangi masalah yang lebih rumit mereka bikin harga parkir yang hampir tak terjangkau harganya, ternyata itulah alasannya"

    Patut diterapkan di Brussel nih, sebagai kota paling macet di Eropa barat. Memungkinkan tidak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi bisa ya... karena sejak itu, setiap kali kami masuk kota Amsterdam, lebih pilih naik metro daripada bawa mobil. Sudah macet, sulit cari tempat parkir, mahal pula ongkos parkir..

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)