Ketimpringan di Den Haag, Party di Amsterdam



Setelah beberapa hari explored Amsterdam, selanjutnya sampailah kami di Den Haag dan tentu saja kesan pertamanya adalah lapang, modern, kinclong dan rapi-jali. Den Haag adalah sebuah Metropole yang terletak di pesisir North Sea. Dulu adalah sebuah tempat peristirahatan para bangsawan dan orang-orang kaya. Sekarang masih banyak istana dan kastil yang tetap utuh berdiri.

Tidaklah jauh untuk menuju Den Haag dari Amsterdam. Mereka hanya berjarak 65 Kilometer antara satu dengan lainnya atau tak lebih dari satu jam berkendara, dan Den Haag adalah kota yang nyaman untuk dinikmati.



Kami sampai di Den Haag menjelang waktu makan siang. Tak sulit untuk mendapatkan tempat parkir kosong disini dan harganyapun terjangkau. Tommy reservasi buat parkir lima jam pertama.

Aku merasa sedikit tidak enak badan, pasti karena sisa-sisa begadang kemarin malam, ditambah lagi karena udara akhir musim gugur yang semakin hari makin mendekati titik beku. Tommy bertanya apakah tidak sebaiknya balik kucing saja daripada tambah parah dan aku memastikan bahwa segelas kopi pasti bisa membuat dunia menjadi sempurna. Jadi kami berlama-lama duduk didalam sebuah kafe di Centrum.

Disini aku menyempatkan diri untuk menulis singkat pada empat buah kartu pos yang akan aku kirimkan kepada emak dan kakak adikku. Mereka selalu suka menerima kartu pos yang aku kirimkan dari tempat-tempat berbeda dari waktu ke waktu dan aku juga suka untuk melakukannya. Sebenarnya bisa saja kirim kartu pos pakai Email tetapi aku tidak menyukainya, rasanya kurang konvensional.....

Setelahnya, Setelah aku merasa sehat kembali, kami mulai berjalan menikmati keindahan suasana metropolis Den Haag sambil mencari kantor pos buat kirim kartu.
Pada akhirnya kami menemukan kantor pos yang merangkap sebagai pusat informasi turis. Baguslah, karena kami mendapatkan peta kota dan berdasarkan panduannya kami bisa menemukan semua atraksi tempat-tempat tujuan turis di Den Haag.

Den Haag mempunyai jalan jalan yang lapang, Shopping Passage yang rapi, area bergaya timur tengah yang unik dan China Town yang khas. Tentu saja aku juga melihat beberapa restoran Indonesien disana-sini.



Pernahkah kalian mengalami kasus seperti ini; Kalian berada disebuah kota asing, terpesona dengan suasana kota itu, berjalan menikmati apapun yang bisa kalian nikmati, disana-sini banyak restoran bagus, kafe nyaman, warung pinggir jalan unik, dan bistro bertebaran sejauh mata memandang? Pokoknya semuanya terlihat sempurna tak kurang suatu apa, dan kalian terus berjalan menikmati itu semua.....
Sampai pada akhirnya, lapar. Lalu kamu mulai mencari restoran atau warung bistro buat makan siang tetapi apa yang kamu dapati disekitar? Tak ada lagi restoran, bistro maupun kafe pinggir jalan pada jalanan yang sedang kalian lalui karena tanpa sadar kalian telah memasuki area kota yang berbeda, yang ada cuma perkantoran, taman dan bangunan yang tertutup rapat pintunya.
Begitulah, jika sedang tidak dicari mereka ada dimana-mana, eh giliran dicari, tak ada satupun yang ada. Itulah nasib kami siang itu....

Setelah berjalan beberapa saat sambil menahan lapar kami berada didalam kota yang ramai kembali, dan disana-sini terlihat restoran bagus-bagus. Wah ini pasti salah tempat lagi karena restoran-restoran itu besar dan berpintu berat yang tinggi, bahka dilengkapi dengan seorang penjaga pintu. Kami mulai seleksi dengan melihat menu yang ada didepan pintu masing-masing restoran. Ternyata harga-harga menu disini nggilani. Pastilah ini kawasan luxus Den Haag. Tapi ya bagaimana lagi, lapar... kalau tidak makan takut mati.... lagipula kami sedang bawa kartu kredit maupun debit. Sip, makan bersama orang-orang kaya di restoran mewah, meskipun aku cuma pesan seporsi kroket dan mint tea.
Dan tahukah kalian? seporsi kroket itu harganya dua puluh kali lipat dari kroket di snack bistro dan meskipun disajikan dengan sangat amat menarik ternyata kroket cuma asik dinikmati di snack bistro, bukan di restoran luxus. kesimpulannya, salah pilih menu.

Kami sudah puas menikmati Den Haag, lima jam telah berlalu, maka kami karus kembali ke mobil jika tidak ingin kena denda karena Tommy reservasi tempat parkir buat lima jam.

Tujuan selanjutnya adalah pantai North Sea, untuk itu kami harus berkendara selama beberapa menit keluar kota. Nama pantainya adalah Scheveningen Badplaats. Pada musim panas pantai ini akan ramai dan penuh orang berjemur dan berenang maupun melakukan macam-macam watersport dan beach sport.

Pantainya bagus sekali, berpasir coklat, luas dan panjang. Promenade pantai juga ditata dengan indah, banyak kafe dan restoran disepanjang pantai dan ada hotel super duper besar seperti istana impian, potonya ada pada awal tulisan ini.

Sayang sekali tak lama kemudian gerimis mengundang, maka kami datang berteduh pada sebuah supermarkt sambil lihat-lihat barang dagangan. Kami memasuki sebuah Asian shop namun aku tidak tertarik sama sekali dengan barang dagangannya, jadi selanjutnya kami berkendara pulang buat rebahan sejenak karena nanti malam adalah malam terakhir di Nederland dan kami ingin menutupnya dengan party di Amsterdam..... Lho tadi pagi bilang sakit, kok ke party? Hah... sesakit apapun kalau dengar kata party aku bisa langsung sembuh...!

Timbang-timbang sejenak... Sekali jalan naik bis ke Amsterdam seharga 5€, pergi pulang buat dua orang berarti 20€. Ongkos parkir satu jam seharga 5€, berarti empat jam parkir adalah 20€. Bis terakhir dari Centraalstation Amsterdam kembali ke Landsmeer tempat kami tinggal adalah jam 00.30 dinihari, sementara kami ingin party sampai pagi, setidaknya sampai jam 3, pada jam segitu tidak ada bis dan harus nunggu tiga jam lagi. Sekarang jam 11 malam, kalau naik bis berarti harus pulang satu jam kemudian.
Pada akhirnya kami memutuskan untuk bermobil saja, biar bisa lebih fleksibel, mau pulang jam berapa saja bisa.

Bukankah aku sudah bilang bahwa Amsterdam adalah Europe's Best party Town? Benar sekali! Katanya jalan Kerkstraat selalu heboh, dan juga di sepanjang jalan Reguliersdwarsstraat - Centrum Amsterdam. Kami memilih yang terakhir. Disinilah yang namanya malam menjadi siang.

Masuknya mulai dari Rembrandtplein yang merupakan tempat luas terbuka dengan taman dan monumen, di kelilingi oleh restoran, bar dan kafe yang meja-kursinya meluap sampai ke jalan. Jam setengah duabelas malam ketika kami datang tempat ini penuh orang, sepertinya mereka siap ke party. Ada yang makan, bercanda-canda dan segala tingkah lucu-lucu ada disini, iluminasi datang dari segala arah, pokoknya benar-benar meriah dengan suara musik campur baur.

Kemudian kami masuk ke jalan Reguliersdwarsstraat, jalan dari ujung ke ujung pilih-pilih tempat party yang bagus. Ternyata segala jenis ada disini berjejer di jalanan silih berganti dari ujung ke ujung! Ada yang cuma bar kecil, kafe, diskotek gaya bebas maupun pakai dress code tertentu, ada yang bisa langsung masuk, ada yang dijaga ketat.... Dan kami menemukan sebuah club yang pas di hati. Asik, disinilah kami hanging-out sampai pagi berada di dalam komunitas.

Itulah pengalaman kami seminggu liburan di Nederland dengan acara penutupan yang seru. Sepertinya, jika tak ada aral melintang, liburan besar tahun depan adalah ke Indonesia lagi, thema-nya adalah go-east, mulai dari Jatim ke Bali dan Lombok. Tentu saja sebelumnya akan ada liburan-liburan kecil disekitar rumah barang sehari dua.

No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)