My Upper-Egypt Highlights


Pada masa lalu, negara Mesir terbagi menjadi dua bagian yaitu Upper-Egypt dan Lower-Egypt. Upper-Egypt adalah garis subur sepanjang sungai Nil yang terletak di bagian selatan negara Mesir sampai gurun Nubian dimana pada masa lalu, disinilah para Fir'aun berkuasa.

Lower-Egypt adalah daerah delta sungai Nil, termasuk Kairo dan kawasan yang dekat dengan laut Mediterania.

Liburan ke Mesir kali ini telah kami habiskan untuk menjelajahi kawasan Upper-Egypt yang mempunyai sejarah panjang dibelakangnya.


Santun Dalam Pesta di Jerman

Pada bulan-bulan dingin seperti ini aku, atau kami, banyak mendapat undangan makan malam karena secara kebetulan banyak teman-temanku yang berulang-tahun, apalagi nanti ditambah dengan perayaan natal, disusul kemudian dengan perayaan Silvester.

Jadi tak ada salahnya aku akan menulis tentang sopan-santun dalam sebuah party, bagaimana sebaiknya orang bertingkah manis pada sebuah undangan makan malam, agar tidak ada yang berpikir bahwa kita adalah 'seorang teman yang baru datang dari timur dan sedang belajar sopan-santun'.

Lain ladang lain belalang, dan peribahasa itu tetap berlaku sampai sekarang. Anggaplah ini sebagai pengetahuan umum yang perlu diperhatikan, siapa tahu pada acara liburan ke Jerman, kalian di undang untuk menghadiri sebuah pesta.

Percayalah, berada di meja makan dengan orang-orang baru itu bisa bikin tingkah laku jadi kikuk, ragu akan apa yang harus dilakukan, takut salah, dan macam-macam perasaan salah tingkah yang lain.


Sweet Candy from Sweet Boy in Hurghada


Hari ini akan menjadi hari santai sempurna yang sangat indah. Kemarin sore kami menemukan brosur trip menyeberang ke Giftun Island.

Tidaklah jauh untuk menuju Giftun Island dari Hurghada, hanya menyeberangi Red Sea sebentar maka sampailah di pulau cantik ini, orang perlu membayar 20€ untuk boat, makan siang on board, kursi baring dengan peneduh rumbia di pantai, dan peralatan snorkel. Jika mau menyelam diperlukan biaya ekstra.

Yang namanya pulau cantik di daerah gurun seperti Hurghada ya mempunyai kriteria kecantikan lain, Giftun island bukanlah pulau mungil rindang dengan taman dan hutan menghijau dan ada burung-burung bernyanyi sepanjang hari, sungai dengan air jernih mengalir di tengahnya... bukan itu... kalau itu adalah kecantikan versi tropikal.


Si Cantik Dari Hurghada


What a weather..! Alangkah nyamannya dunia ini ketika mendarat di bandara mungil Hurghada yang berada di tepi salah satu pantai di Red Sea. Bagaimana tidak? matahari bersinar cerah tak ada mendung sedikitpun, suhu udara berkisar pada 25°C, kami menginap di sebuah hotel tak jauh dari pantai, suasana tenang dan angin bertiup dengan nyaman. Sangat berbanding terbalik dengan beberapa jam yang lalu ketika aku menggigil di bandara Hamburg karena Jerman masih membeku.

Dan disini, di Hurghada, telanjang-bulat-pun akan terasa nyaman.

Foto Model Jalanan ala Mesir


Mentari pada tengah hari terasa sangat amat terik, bahkan panasnya menyusup sampai ke dalam ubun-ubun kepala. Tentu saja begitu, kami berada di tengah gurun pasir yang jauh dari mana-mana.

Setelah berjam-jam mempelajari, berjalan melihat-lihat dan browsing di dalam situs Karnak Temple Complex, kami duduk mendeprok begitu saja di atas lantai depan temple, berlindung dari sengatan panas matahari pada sebuah bayangan salah satu tembok temple, sembari menikmati sebotol air mineral. Sementara ratusan pengunjung temple terlihat semakin banyak, hilir mudik berjalan kesana-kemari, foto-foto, buka-buka buku, atau ada juga serombongan turis mendengarkan penjelasan tur guide mereka dengan seksama atau ogah-ogahan. Banyak juga pelajar yang melakukan tur rombongan.

Karnak adalah situs arkeologi yang sangat amat luas, disini ada pilar-pilar raksasa, reruntuhan kastil dan bagunan-bangunan lain yang dindingnya dipenuhi oleh tulisan atau simbol-simbol Egyptian Hieroglyphs.


My Nile River Cruise Highlights


Enak lho, naik cruising ship, setidaknya sudah dua kali aku melakukannya meskipun itu adalah cruising kecil-kecilan dan bukan cruising ship besar seperti mengarungi laut Caribbean.

Kali ini adalah cerita tentang Nile River Cruise yang aku ikuti.

Ada yang bilang bahwa cruising ship adalah liburan buat Opa-Oma, ada benarnya juga ya, mengingat fasilitas santai yang didapat dan juga kemudahan dalam melakukan perjalanan tapi.... (Entahlah apakah aku sudah mulai masuk umur) ternyata aku bisa menikmatinya dengan baik. Pada kenyataannya didalam kapal ada terhidang makanan berkelas yang lezat, hiburan yang menyenangkan, tempat santai di dek atas yang tenang dan mempunyai kolam renang dan tempat olah raga ringan, ada pijat yang bikin rileks dan juga ada bar, restoran dan toko-toko yang ramah.


Scammer Ada dimana-mana, Luxor Adalah Gudangnya


Sumprit, Luxor adalah satu-satunya kota yang berhasil membuatku bersumpah untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki ke sana lagi. Kota padang pasir di tepian sungai Nil ini begitu indah, memukau dan khas kota gurun, banyak sekali peninggalan arkeologi terletak di sekitar kota Luxor ini, ada Luxor Tempel, Karnak, dan Nile river yang indah. Tetapi sayang sekali kelakuan para scammer membuatnya menjadi kota yang paling menjengkelkan sedunia, atau setidaknya kota paling menjengkelkan diantara kota-kota dan tempat yang pernah aku datangi. Tak pernah aku merasa terintimidasi oleh para pelaku pariwisata gadungan seperti di Luxor.

Hatiku Tertambat di Tepi Sungai Nil


Entah mengapa aku menempuh perjalanan ini, tiba-tiba saja aku berada di Mesir. Mungkin karena sejarah mesir masa lalu telah menyihirku sehingga aku selalu membayangkan dan ingin mendatanginya. Kini, setelah berada di Mesir untuk liburan dua minggu, yang aku dapatkan adalah rasa khawatir yang hampir menyentuh ketakutan. Aku ingin segera keluar dari negara yang mempunyai masa lalu terlalu kelam ini, bahkan sesaat setelah menjejakkan kaki di terminal kedatangan bandara Hurghada.

Dua hari yang lalu aku mengalami pengalaman amat buruk di Luxor, minggu sebelumnya aku telah mendapat perlakuan yang mengerikan di Hurghada. Sepertinya semua orang sedang membenciku, dan negara Mesir sepertinya bukanlah tempat yang bagus buatku....

Kini pada suatu senja, ketika mentari hampir tenggelam di ujung gurun pasir yang membentang luas sampai ke batas cakrawala sana, aku berdiri termangu di atas sebuah dek kapal yang membawa kami mengarungi sungai Nil menuju bendungan Aswan, Nile River Cruises... Aku berdiri sendiri, tenang mengetahui bahwa diatas kapal ini tak ada orang Mesir yang bisa menggangguku, mereka ada di daratan dan tak boleh memasuki kapal yang kami tumpangi.


Sehari Semalam di Frankfurt am Main


Frankfurt am Main sebagai tujuan liburan? Benarkah? Tidak salah sasaran kah? Betul memang... Frankfurt am Main adalah metropolis super-duper modern dengan gedung pencakar langit menyesakkan kota dan bank-bank internasional membuka cabangnya di seluruh penjuru kota tetapi jangan salah, Frankfurt am Main tetaplah kota yang bagus untuk di kunjungi.

Jika sedikit saja mau blusukan ke sela-sela bangunan jangkung itu maka orang akan menemukan tempat-tempat cantik diantaranya, dan sekalian nyebur saja, jika sudah masuk ke belantara metropolis, kenapa tidak menikmatinya? Lihatlah alangkah indahnya kota Frankfurt am Main dilihat dari atas pucuk Main Tower.
Jadi inilah cerita blusukan kami selama sehari semalam penuh di dalam belantara metropolis Frankfurt am Main.


Kuliner: Grill-Hähnchen dari Kochlöffel


Kochlöffel adalah jaringan bistro yang tersebar di hampir seluruh pelosok negeri di Jerman. Ini adalah model bistro cepat saji namun tidaklah terlalu cepat dalam penyajian karena cara pengolahan menu makanan mereka  tidaklah se-sederahana jaringan restoran cepat saji yang mendunia itu.


Naik Lift Masuk Kota Tua Marburg


Saking tingginya letak kota ini, pintu utama bagi pejalan kaki untuk masuk ke dalam kota tua Marburg berupa sebuah lift besar. Tentu saja tidak umum ya, tetapi begitulah adanya. Baru pertama kali ini aku punya pengalaman memasuki sebuah kota dengan naik lift.

Bagaimana kalau tidak pakai lift? bisa saja tetapi jadi ngos-ngosan ya, ditambah lagi, setelah keluar dari pintu gerbang lift ini, tipografi kota tidak lantas datar melainkan terus naik sampai menyentuh awan, atau katakanlah seperti itu.
Atau bisa juga naik bis umum yang berhenti di pinggir bawah agak keatas kemudian balik turun lagi, secara kendaraan pribadi sangat amat dibatasi kehadirannya karena tempat parkir yang amat terbatas dan jalanan sempit.


Willkommen, My Lord


Seperti itulah rasanya, "Selamat datang, yang mulia..."  ketika aku datang ke hotel Burg Trendelburg tempat menginap pada saat liburan dengan tema Mengembara di Negeri Dongeng Betulan mengunjungi bagian selatan negara Jerman kali ini.

Ketika pertama kali datang memasuki tempat parkir hotel bintang empat ini mataku langsung berbinar-binar. Hotel ini, seperti halnya hotel-hotel dan bangunan lain di Jerman, tidak mempunyai pagar yang berarti, namun bukan itu yang membuatku riang bukan kepalang melainkan ketika masuk ke areal hotel, kami tiba-tiba berkendara di atas jalan berlapis batu yang klasik, kemudian memasuki pintu gerbang bagian dari benteng tua kokoh, besar dan kuat dengan pintu kayu tinggi tebal melengkung diatasnya yang dibiarkan terbuka  dan tentu saja tanpa penjaga, di Jerman jarang sekali ada hotel bersatpam.


Burg Eltz, si Cantik yang Sendiri


Burg Eltz, jika diibaratkan dengan seorang gadis, maka dia adalah gadis cantik yang terpingit. Namun karena kabar kecantikannya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, maka si gadis pingitan di tengah belantara ini selalu saja dikunjungi oleh para pemuda dengan harapan bahwa mereka bisa mengagumi kecantikannya, meskipun cuma sekedar menikmatinya sesaat.

Tetapi tak jauh dari tempatnya juga, 500 kilometer di selatan sana, ada si cantik lainnya yang terkesan glamour dan angkuh, bernama Schloss Neuschwanstein. Oleh karena itulah Burg Eltz yang pendiam ini kalah pamor, terutama jika yang datang adalah turis dari Asia, maka mereka pastilah pergi menuju Schloss Neuschwanstein, padahal Burg Eltz tak kalah cantik. Schloss Neuschwanstein memang idola turis Asia.


Seharusnya Mobil Kami Hilang di Luxemburg City


BENELUX adalah kependekan dari Belgium - Nederland - Luxemburg. Pada perkembangannya istilah ini berubah menjadi Benelux-Union. Ketiga negara mungil yang membentuk persatuan inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal ide pembentukan EU (Europe-Union).

Kali ini, dari Burg Trendelburg, kami melakukan a road trip sejauh 450km atau 4 jam perjalanan ke Luxembourg City, ibukota salah satu negara mungil tersebut, yang juga menjadi European Headquarter. Malu dong ya jika tinggal di Eropa sudah bertahun-tahun tetapi belum pernah mengunjungi Ibukota-nya (Eh, Ibukota Uni Eropa dimana? Brussel atau Luxemburg?).

Road trip panjang yang menyenangkan dan pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa tak salah kami telah mengambil unplanned trip ini karena Luxemburg City ternyata adalah kota mungil yang indah dan damai, berbukit-bukit, mempunyai udara yang nyaman dan semua ada di suatu tempat mungil yang tak sulit untuk dijangkau.

Jangan tertawa ya, Luxemburg City luasnya cuma sekitar 51km²... Berapa luaskah itu...? ya, sekitar 6 kali luas lapangan sepak bola lah! Meskipun begitu... Biar kecil tapi ohoy!


Mengembara di Negeri Dongeng Betulan


Kembali kami menuju bagian selatan negara Jerman, masuk hingga jauh ke pelosok-pelosok negeri dimana terdapat kastil-kastil kuno yang anggun, misterius, legendaris dan indah berdiri megah di atas bebukitan disana.

Mewahnya, atau uniknya dari perjalanan ini adalah, bahwa kami berkesempatan tinggal selama sepuluh hari pada sebuah kamar di salah satu kastil kuno tersebut. Sebuah kastil yang berdiri anggun di atas sebuah bukit dengan panorama lembah hijau membentang sampai ke batas cakrawala, dan jika senja menjelang, nun jauh disana, di bawah garis cakrawala sana, akan nampak kerlip lampu yang datang dari kastil lain yang berada diatas bukit-bukit lain. Mereka adalah kastil tetangga.

Begitulah, Jerman bagian selatan yang mempunyai lanskap berbukit-bukit dengan hutan rimba diantaranya patut mendapat julukan sebagai sebuah NEGERI SEJUTA KASTIL, saking banyaknya kastil peninggalan masa lalu yang tetap berdiri dengan kokoh disini.


Kastil Albrechtsburg dan Kota Tua di Bawahnya


Albrechtsburg adalah sebuah kastil gotik megah yang terletak di atas sebuah bukit tengah kota Meißen (baca: Meissen). Dia termasuk istana-istana pertama dalam sejarah Jerman, tercatat pertama pada tahun 929. Di bawah kastil ini terdapat Altstadt (Kota tua) indah dengan lorong-lorong sempit yang sama tuanya, sementara kota Meißen sendiri menjadi kota terkenal di seluruh penjuru dunia karena porselin buatan mereka yang berkualitas tinggi (dan sangat amat mahal, percayalah, hanya orang kelebihan duit saja yang mau beli porselin merek Meissen. Jadi kalau diundang makan atau ngopi oleh kenalan yang kaya raya, coba balikkan peralatan makan mereka, apakah ada cap Meissen).

Kastil Albrechtsburg di kota Meißen menjadi tempat wajib kunjung bagi traveler yang datang ke Dresden, karena mereka cuma berjarak 30 kilometer menggunakan mobil, atau 31 menit jika di tempuh dengan kereta api, kereta datang dan pergi setiap 30 menit.



Sehari di Metropolis Dresden


Ini adalah hari terakhir traveling di Dresden dengan mengunjungi tempat-tempat menarik disekitarnya. Burg Königstein yang gagah perkasa telah kami masuki, pegunungan Bastei telah kami taklukkan. Bahkan sebelumnya kami telah mengunjungi Berlin, dan juga singgah sejenak di istana megah pangeran Ludwig yang bernama Ludwigslust.
Begitulah, traveling kali ini sebenarnya adalah perjalanan nostalgia menyusuri bekas negara Jerman Timur (Ex-DDR) dengan panduan teman Insider dari Dresden dalam acara tur tahunan MotorBoys (klub penggemar mobil antik di Jerman).

Lucunya, selama beberapa hari ketimpringan di sekitar dresden, tak sekalipun kami memasuki kota Dresden. Ternyata teman-teman insider yang bertugas menjadi Tour Guide selama traveling kali ini menjadikan Dresden sebagai tujuan terakhir, meskipun bukan benar-benar yang terakhir karena keesokan harinya, ketika kami harus pulang ke daerah masing-masing, mereka kasih ekstra acara dengan mengunjungi sebuah kastil indah yang anggun di atas bukit .


Di Puncak Gunung Batu Bastei

Liburan Jerman; Bastei Sachsen

Bastei adalah gunung dan tebing batu nan indah terletak jauh di dalam kegelapan hutan rimba Taman Nasional Sächsische Schweiz yang berada di Negara Bagian Sachsen - Jerman. Tidaklah jauh dari tujuan kami hari sebelumnya yaitu benteng tua peninggalan kerajaan Bohemian Raya yang gagah perkasa, Burg königstein (ceritanya ada disini).

Untuk menuju puncak "surga" tersembunyi ini, orang bisa memulainya dari kota Dresden, dari sini, meskipun Bastei terletak di dalam gelapnya hutan rimba, ada Bus Linie yang berangkat dan kembali secara teratur untuk melayani turis. Tempat perhentian bus terakhir adalah di Bastei-Shuttle, tak jauh dari Bastei. Bus pertama datang pada jam 10.00 pagi, dan bus terakhir akan meninggalkan Bastei pada jam 20.00 malam (sommer). Dresden is a must visit city for travelers who come to Germany, the nature surroundings Dresden is just fantastic!

Tetapi kami tidak menumpang bus karena berada dalam acara tur tahunan Old Timer dan di pandu langsung oleh  teman Insider yang tentu saja mengetahui daerahnya secara detail sampai ke lubang semut yang paling tersembunyi di daerahnya. Dan ini adalah perjalanan memukau menyibak segarnya udara alam pedesaan, melintasi padang rumput berbunga, gelapnya hutan rimba, tikungan tajam dan tanjakan yang memukau.


Memasuki Benteng Peninggalan Kerajaan Bohemia


Semua sudah pernah nyanyi lagu 'Bohemian Rhapsody' dari grup rock legendaris Queen kan? Meskipun lagu itu tidak berhubungan sama sekali dengan cerita tentang kerajaan Bohemia Raya, tetapi setidaknya aku pernah mendengar kata 'Bohemian'.

Lalu dimanakah kerajaan Bohemian Raya yang pernah eksis dan berkuasa pada abad pertengahan tersebut berada? Pusat kerajaan besar ini, sebelum tercipta negara-negara modern seperti yang kita kenal saat ini, ternyata terletak di Republik Ceko, dengan ibu kota yang sama yaitu Praha. Dulunya sebagian wilayah Jerman juga masuk dalam perlindungan kerajaan Bohemian Raya, misalnya Sachsen.

Dan karena sedang travelling to Sachsen, maka tentu saja kami harus mengunjungi peninggalan kemegahan kerajaan Bohemian yang cemerlang pada masanya itu. Kali ini tujuannya adalah Burg Königstein. Burg adalah bahasa Jerman, bisa diartikan sebagai 'Kastil' atau juga 'Benteng Pertahanan'. Bentengnya megah, tinggi diatas bukit dengan tembok sekeliling yang tebal, pintunya besar sekali dan kokoh.

Ketika berada tepat di depan benteng ini aku langsung teringat akan film-film perang tema abad pertengahan dimana sedang terjadi perang perebutan benteng, bala tentara penyerang yang berada diluar berusaha mendobrak pintu benteng dengan balok kayu utuh dan memasang tangga-tangga untuk mencapai puncak tembok benteng, sementara pasukan dari dalam benteng memanah mereka dengan panah api dan bola-bola api beterbangan kesana-kemari. Api membara dimana-mana di dalam benteng. Perempuan dan anak-anak meringkuk ketakutan di ruang perlindungan bawah tanah didalam benteng.... Begitulah bayangan sementara tentang Burg Königstein yang kokoh ini.


[Tour Jerman Timur] Rendezvous di Dresden

[Tour Jerman Timur] Rendezvous di Dresden

Sampailah kami di hotel tempat tujuan, setelah beberapa saat ketimpringan di Berlin pada postingan sebelumnya. Hotelnya bagus berada di tengah taman luas sunyi yang terletak di luar kota Dresden. Tempat yang sempurna untuk menenangkan diri beberapa hari ke depan.

Menenangkan diri? Benarkah? Tentu saja tidak.
Kali ini tujuan perjalanan kami menelusuri bekas negara Jerman Timur (Ex DDR) bukanlah untuk menenangkan diri melainkan bertemu dengan teman-temannya Thomas yang tergabung dalam organisasi MotorBoys, dimana itu adalah kelompok penyuka old timer (mobil antik) yang anggotanya tersebar di seluruh negri, bahkan sampai ke beberapa negara tetangga seperti Swiss, Belgia dan Belanda.


Berlin, Jogja-nya Jerman


Berlin selalu menarik untuk di kunjungi. Banyak teman-temanku yang orang Jerman bilang bahwa jika mereka pergi ke Jogja, mereka ingat Berlin, dan kebalikannya, setiap kali aku ke Berlin pasti ingat dengan kota Jogja.

Kesamaannya adalah, kedua kota ini merupakan pusat kebudayaan dimana para seniman kreatif yang tinggal di kedua kota ini menunjukkan maha karya ciptaan mereka mereka dimana-mana di seluruh penjuru kota. Banyak sekali pagelaran seni digelar dimana-mana, setiap waktu dan setiap saat, tidak cuma di Berlin, melainkan juga di Jogja.

Ya, Berlin dan Jogja adalah dua kota berjarak 10.000km yang mempunyai orang-orang kreatif didalamnya dan menjadikannya menarik. Bahkan secara sepintas-pun, graffiti yang ada di semua sudut pada dua kota ini tidak cuma sekedar corat-coret tak bertanggung jawab, tetapi 'di-coret-kan' dengan penuh seni, terlihat indah dan kadang-kadang bermakna lucu.

Istana Pangeran Ludwig



Ini adalah bagian kedua dari serial tulisan perjalanan kami menyusuri bekas negara Jerman Timur. Bagian pertama bisa dibaca disini.

Selama perjalanan kami dikaruniai dengan cuaca yang sempurna. Matahari bersinar cerah, tak ada mendung sedikitpun dan suhu udara pada akhir musim semi itu menghangat layaknya musim
Panas saja, bahkan kami merasa kegerahan.

First road trip exploring East Germany (ex-DDR) is about 285 KM to the south, our first destination is Ludwigslust. Nama kotanya sedikit lucu dan sering menimbulkan salah tafsir, tetapi ini adalah kota di bagian timur negara yang patut dikunjungi.

Kami berangkat jam 9 pagi dan rencananya akan menjadikan kota Ludwigslust sebagai kota persinggahan buat makan siang dan jalan-jalan sejenak, jadi berdasarkan rencana, tidaklah sulit mencapainya pada saat makan siang, untuk itu bolehlah mlipir-mlipir keluar dari Autobahn dan melintasi jalan pedesaan.

Pada saat-saat tertentu kami harus melewati jalanan beralas batu (karena pada waktu itu negara komunis DDR hanya mampu membuat jalan berlapis batu, bukan aspal, dan sampai sekarang belum sempat di aspal), kemudian melintasi pedesaan yang sunyi, dan tanah pertanian yang luasnya membentang sampai batas cakrawala.


Menyusuri Bekas Negara Jerman Timur


Setelah Berliner Mauer diruntuhkan pada bulan November 1989, maka tak ada lagi negara bernama Jerman Timur (DDR - Deutschen Demokratischen Republik), Sebuah negara Republik tapi berazaskan komunis.

Masa peralihan selalu menimbulkan ketidakpastian. Ada yang suka, dan tidak sedikit yang menginginkan status lama. Tetapi pada akhirnya kedua negara Jerman bersatu.

Sejak itu, setelah Berliner Mauer runtuh, sejarah sepertinya ditutup, tak ada lagi isu besar yang membahas negara Jerman, dan inilah untold sotry setelah peristiwa Deutsche Einheit (penyatuan kedua negara Jerman)...

Negara ex-DDR adalah negara yang terbelakang dalam segi pembangunan dan hampir dalam semua hal, sebagai kompensasi maka negara Jerman Barat (Jerman yang sekarang), setelah penyatuan negara yang dikenal dengan istilah 'Deutsche Einheit' mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menyetarakan kondisi negara. Bahkan sampai sekarang, kami para pekerja, harus merelakan gaji kami dipotong setiap bulannya dengan potongan Solidaritätszuschlag untuk mendongkrak kondisi ekonomi dan pembangunan mantan negara DDR itu. Tidak banyak, tetapi itu menunjukkan kenyataan alangkah terbelakangnya ex-DDR bila dibandingkan dengan wilayah barat.

Nah, DDR kan negara komunis dimana segala sektor dikuasai dan diatur sepenuhnya oleh pemerintah. Lalu apa yang terjadi setelah sistem komunis di hapus? Banyak, ada yang bersuka cita tetapi banyak juga yang menginginkan status lama bertahan. Ada yang berbahagia tetapi banyak juga yang takut, khawatir, was-was dan curiga. Yang di wilayah timur kuatir bahwa nanti setelah dibukanya perbatasan maka akan datang berbondong-bondong orang dari wilayah barat dan merebut lapangan kerja mereka, atau menguasai perekonomian mereka, dan sebaliknya yang di wilayah barat kuatir bahwa nanti mereka akan mengeluarkan banyak uang untuk mondongkrak perekonomian wilayah timur dan akan datang orang-orang dari wilayah timur berbondong-bondong ke barat untuk meminta tunjangan sosial.


Jalan-jalan di Legoland



Berbekal memori masa kecil, kami memasuki taman Legoland. Siapa yang tidak pernah punya mainan lego? Waktu masih bocil aku punya sekotak besar berisi balok-balok kecil berbendul-bendul itu, bahkan Tommy masih menyimpan lego koleksinya sampai sekarang. Dan hari itu kami mengunjungi Legoland Billund di Denmark tempat dimana mainan Lego berasal.

Kesan pertama yang aku tangkap ketika memasuki Legoland adalah bahwa Lego tetap bisa mempertahankan prestige mereka, tidak tenggelam oleh peradaban jaman dan tetap menjadi kesayangan para bocil, mungkin di seluruh belahan dunia.