Istana Pangeran Ludwig



Ini adalah bagian kedua dari serial tulisan perjalanan kami menyusuri bekas negara Jerman Timur. Bagian pertama bisa dibaca disini.

Selama perjalanan kami dikaruniai dengan cuaca yang sempurna. Matahari bersinar cerah, tak ada mendung sedikitpun dan suhu udara pada akhir musim semi itu menghangat layaknya musim
Panas saja, bahkan kami merasa kegerahan.

First road trip exploring East Germany (ex-DDR) is about 285 KM to the south, our first destination is Ludwigslust. Nama kotanya sedikit lucu dan sering menimbulkan salah tafsir, tetapi ini adalah kota di bagian timur negara yang patut dikunjungi.

Kami berangkat jam 9 pagi dan rencananya akan menjadikan kota Ludwigslust sebagai kota persinggahan buat makan siang dan jalan-jalan sejenak, jadi berdasarkan rencana, tidaklah sulit mencapainya pada saat makan siang, untuk itu bolehlah mlipir-mlipir keluar dari Autobahn dan melintasi jalan pedesaan.

Pada saat-saat tertentu kami harus melewati jalanan beralas batu (karena pada waktu itu negara komunis DDR hanya mampu membuat jalan berlapis batu, bukan aspal, dan sampai sekarang belum sempat di aspal), kemudian melintasi pedesaan yang sunyi, dan tanah pertanian yang luasnya membentang sampai batas cakrawala.