Istana Pangeran Ludwig



Ini adalah bagian kedua dari serial tulisan perjalanan kami menyusuri bekas negara Jerman Timur. Bagian pertama bisa dibaca disini.

Selama perjalanan kami dikaruniai dengan cuaca yang sempurna. Matahari bersinar cerah, tak ada mendung sedikitpun dan suhu udara pada akhir musim semi itu menghangat layaknya musim
Panas saja, bahkan kami merasa kegerahan.

First road trip exploring East Germany (ex-DDR) is about 285 KM to the south, our first destination is Ludwigslust. Nama kotanya sedikit lucu dan sering menimbulkan salah tafsir, tetapi ini adalah kota di bagian timur negara yang patut dikunjungi.

Kami berangkat jam 9 pagi dan rencananya akan menjadikan kota Ludwigslust sebagai kota persinggahan buat makan siang dan jalan-jalan sejenak, jadi berdasarkan rencana, tidaklah sulit mencapainya pada saat makan siang, untuk itu bolehlah mlipir-mlipir keluar dari Autobahn dan melintasi jalan pedesaan.

Pada saat-saat tertentu kami harus melewati jalanan beralas batu (karena pada waktu itu negara komunis DDR hanya mampu membuat jalan berlapis batu, bukan aspal, dan sampai sekarang belum sempat di aspal), kemudian melintasi pedesaan yang sunyi, dan tanah pertanian yang luasnya membentang sampai batas cakrawala.



Tentu saja ini bukanlah jalan yang biasa dilewati turis, jadi jika ada yang ingin melakukan perjalanan berkeliling Jerman seperti kami, harus sewa mobil. Tidaklah mahal untuk menyewa mobil di Jerman, lebih murah daripada sewa mobil harian di Indonesia, dan semua mobil sewaan harganya sudah termasuk asuransi. Tetapi tentu saja alternatif sewa mobil di Jerman akan menjadi mahal jika kalian sendirian, berdua atau lebih, maka biaya perjalanan yang dikeluarkan akan jauh lebih sedikit daripada menggunakan kereta api atau pesawat antar kota.

Sewa mobil bisa dilakukan di semua bandara kedatangan internasional atau di kantor perwakilan mereka di kota-kota besar. Mengembalikan mobil tidak harus dikota yang sama pada saat mengambil. Persewaan mobil yang mempunyai jaringan paling luas adalah Europcar dan Avis.

Takut kesasar? Jangan kuatir, minta saja navigator dengan menambah ongkos sewa beberapa Euro. Seluruh daerah di Jerman bisa terjangkau oleh navigator. Asal alamat yang diketikkan benar maka tak ada istilah kesasar.

Dengan sewa mobil orang juga akan punya pengalaman ngebut tanpa batas secara sah dan benar karena Autobahn di Jerman tidak mengenal batas kecepatan maksimum (kecuali ada rambu), melainkan batas kecepatan minimum. Jadi orang tidak boleh berkendara di Autobahn dibawah kecepatan 80km/h (kecuali ada rambu).

Tentang SIM, SIM dari Indonesia bisa berlaku selama 3 bulan di Jerman, lebih dari itu harus bikin SIM Jerman. Tetapi jangan kuatir, di Jerman tidak ada polantas yang berdiri mengawasi dipinggir jalan layaknya orang tidak punya kerjaan. Jadi tak perlu alasan takut tertangkap polisi, tetapi orang harus berkendara dengan benar karena ada kamera dimana-mana. Kalau melanggar peraturan lalu-lintas dan tertangkap kamera maka dendanya bisa jadi sangat amat mahal.
Pertanyaannya, bagaimana bisa kena denda kalau yang mendenda tidak di tempat kejadian? Begini, kamera-kamera itu mempunya resolusi sangat tinggi, bahkan bisa bekerja dalam gelap. Nah, kalau sudah tertangkap maka semua terekam didalam foto, wajah yang nyetir dan plat nomor mobil. Nah di Jerman semua orang mempunyai alamat jelas, pemilik mobil dengan plat nomornya juga terdata dengan rapi jali. Jadi jika tertangkap melakukan pelanggaran, maka esok hari akan datang surat cinta dari Ordnungsamt (bukan kepolisian) di kotak pos kita, lengkap dengan jumlah denda yang harus dibayarkan.

Eh... mau bercerita tentang jalan-jalan kok malah ngelantur....

Jadi pada akhirnya kami memasuki negara bagian Mecklenburg-Vorpommern, disini kami akan makan siang sambil jalan-jalan sejenak di istana perburuan Pangeran Christian Ludwig. Nama istananya tentu saja Ludwigslust karena milik pageran Ludwig.

Istana ini tergolong muda, dibangun pada tahun 1700-an, awalnya cuma sebagai tempat istirahat berburu, kemudian menjadi residen. Pada perkembangannya Ludwigslust menjadi nama sebuah kota disini.

Istananya bergaya Barock, mempunyai taman yang luasnya nauzubilah, ada kanal-kanal yang mengelilinginya, dan padang rumput nan hijau menyegarkan mata. Saat ini Ludwigslust berfungsi sebagai museum, tempat pameran seni dan restoran, maka siang itu kami makan di istana sang pangeran...


Ini Taman Sari didepan istana, foto istananya ada di awal postingan ini.
Ini adalah padang rumput dibelakang istana, dibelakang itu taman luaaaaas sekali!


Salah satu ruangan istana yang dijadikan restoran

Yang ini kota Ludwigslust. Sepi ya.....
Kantor pos di kota Ludwighslust.
Begitulah... setelah makan siang.... es krim.... kemudian es kopi (sumprit aku tidak akan minum es kopi lagi, ndak enak) maka kami melanjutkan perjalanan menelusuri negara bekas Jerman Timur (DDR) menuju Berlin. Di Berlin menginapnya juga di bagian timur.

Nantikan kelanjutannya ya......

3 comments:

  1. Jadi teringat Kensington Palace yang sekarang juga dibuka untuk publik. Tapi kayanya masih renov terus, dan belum sekeren ini...

    ReplyDelete
  2. Segeralah pergi kesana Byq, kemudian bikin laporan lengkap :)

    ReplyDelete
  3. Nanti, Har... bulan Juli kubikin dulu itinerarynya :p

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)