Berlin, Jogja-nya Jerman


Berlin selalu menarik untuk di kunjungi. Banyak teman-temanku yang orang Jerman bilang bahwa jika mereka pergi ke Jogja, mereka ingat Berlin, dan kebalikannya, setiap kali aku ke Berlin pasti ingat dengan kota Jogja.

Kesamaannya adalah, kedua kota ini merupakan pusat kebudayaan dimana para seniman kreatif yang tinggal di kedua kota ini menunjukkan maha karya ciptaan mereka mereka dimana-mana di seluruh penjuru kota. Banyak sekali pagelaran seni digelar dimana-mana, setiap waktu dan setiap saat, tidak cuma di Berlin, melainkan juga di Jogja.

Ya, Berlin dan Jogja adalah dua kota berjarak 10.000km yang mempunyai orang-orang kreatif didalamnya dan menjadikannya menarik. Bahkan secara sepintas-pun, graffiti yang ada di semua sudut pada dua kota ini tidak cuma sekedar corat-coret tak bertanggung jawab, tetapi 'di-coret-kan' dengan penuh seni, terlihat indah dan kadang-kadang bermakna lucu.

Sayangnya kami tidak bisa tinggal berlama-lama di Berlin pada perjalanan kali ini karena tujuan utama kami masih jauh nun di selatan sana.

Meskipun begitu, tak asik dong ya jika sudah di Berlin, pada akhirnya malah mentok di kamar saja.

Untuk itu sebelumnya kami telah menghubungi sahabat lama kami Tipi dan Mark apakah ide kami bagus dan tepat untuk menginap semalam di apartemen mereka. Mereka beberapa bulan sebelumnya memutuskan pindah ke Berlin demi masa depan yang lebih menjanjikan! Atau dengan kata lain keduanya harus pindah tempat kerja di Berlin.

Gayung bersambut, keduanya juga sudah merindukan kami.

Maka senja itu, setelah sampai di apartemen mereka dan bersih-bersih diri, kami pergi berempat untuk makan malam pada sebuah restoran Thailand di salah satu sudut kota berlin yang nyaman.

Begitulah, aku suka untuk dari waktu ke waktu mengunjungi Berlin. Dimana-mana terlihat orang berpakaian bagus, banyak restoran dan kafe nyaman yang mempunyai meja terbuka di depan restoran yang lapang, dan Berlin sendiri adalah kota yang lapang dan mempunyai banyak taman hijau terbuka.

Lebih dari semua itu, menyenangkan rasanya bisa makan semeja dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Banyak cerita yang harus disampaikan, sebanyak rencana yang harus diutarakan juga, dan kembali bercanda yang sudah terlalu lama terpendam.

Itu adalah malam yang sempurna dengan mereka.

Pagi hari, ketika kami bangun keduanya sudah keluar rumah untuk bekerja, mereka berpesan bahwa mereka mempunyai pintu otomatis, maksudnya bisa dibuka dari dalam tetapi jika sudah diluar kami tidak bisa membukanya kembali tanpa kunci (sama seperti sistem pintu kami di rumah), jadi mereka memastikan kepada kami bahwa jika kami berdua menutup pintu dari luar, maka semua barang kami harus ikut terbawa, jika tidak maka kami harus menunggu mereka kembali pada sore hari untuk bisa masuk kembali.

Waktu itu hari masih pagi, sementara kami perlu dua jam perjalanan lagi untuk sampai di hotel tujuan, dan waktu check in paling awal masih enam jam lagi, jadi secara teoritis kami mempunyai waktu bebas selama empat jam.

Maka kami menggunakannya untuk pergi ke pusat kota kota berlin (Eh ada dua kata 'kota', tetapi benar begitu kan seharusnya?)

Tak salah jika orang Berlin adalah penduduk kota yang bahagia. Jantung kota mereka adalah Brandenburger Tor (itu lho, simbol kota berlin yang terkenal itu). Itu adalah area terbuka yang lapangnya benar-benar lapang. Didepan Brandenburger Tor ada Taman kota Tiergarten, yang luasnya naudzbilah dipenuhi dengan bunga dan pepohonan rindang. Taman ini dibelah oleh beberapa jalan raya yang lapang. Ditengah-tengah taman kota ini ada jalan simpang banyak (bukan simpang enam) yang ditengah-tengahnya ada monumen yang monumental bernama Siegessaule. Dan kami naik ke atas monumen ini.

Daripada ribut menggambarkan tidak jelas, inilah yang aku maksud.....

Ini Monumen Siegessäule, kami akan naik keatasnya.
Masuk ke areal monumen tidak boleh nyebrang jalan simpang banyak itu, tapi harus lewat terowongan itu (kiri bawah), tembusannya ada di seberang jalan didalam taman sana itu.
Tuh kan, taman Tiergarten luaaaas sekali, eh itu lho mobilku yang paling mungil. Lihat kan?
Ini dari sudut pandang yang lain lagi....
Ini di dasar monumen dengan pilar-pilar kokoh berlapis marmer. Lihat pilar bolong-bolong itu kan? Itu bolong
karena terjangan peluru jaman perang dunia dulu...

2 comments:

  1. Berlin jadi wish list saya nomor satu nih sekarang..hehehe.. pengen merasakan keartistikan kota ini.
    sayangnya, dari baca2, katanya Berlin udah terlalu komersil ya karena gentrifikasinya berhasil. Tapi..saya tetep penasaran sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus! pergilah ke berlin, ibukota ini indah sekali dan kalau kesana coba cari kesamaannya dengan Jogja ya...
      maksudnya terlalu komersil itu bagaimana ya? apa karena semua museum narik karcis masuk? cobalah masuk ke Bundestag (gedung parlemen berbentuk kubah kaca itu lho, disamping Brandenburger Tor, disitu orang boleh masuk gratis), dan banyaaaaak sekali fasilitas gratisan.
      aku ndak setuju dong kalo Berlin dibilang terlalu komersil, disini turis dipatok harga yang sama dengan penduduk kota, ndak ada pengamen, ndak ada tipu-tipu ala supir taksi atau guide dll.. semua terasa wajar.
      Komersilnya terletak dimana ya?

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)