Sehari Semalam di Frankfurt am Main


Frankfurt am Main sebagai tujuan liburan? Benarkah? Tidak salah sasaran kah? Betul memang... Frankfurt am Main adalah metropolis super-duper modern dengan gedung pencakar langit menyesakkan kota dan bank-bank internasional membuka cabangnya di seluruh penjuru kota tetapi jangan salah, Frankfurt am Main tetaplah kota yang bagus untuk di kunjungi.

Jika sedikit saja mau blusukan ke sela-sela bangunan jangkung itu maka orang akan menemukan tempat-tempat cantik diantaranya, dan sekalian nyebur saja, jika sudah masuk ke belantara metropolis, kenapa tidak menikmatinya? Lihatlah alangkah indahnya kota Frankfurt am Main dilihat dari atas pucuk Main Tower.
Jadi inilah cerita blusukan kami selama sehari semalam penuh di dalam belantara metropolis Frankfurt am Main.


Kuliner: Grill-Hähnchen dari Kochlöffel


Kochlöffel adalah jaringan bistro yang tersebar di hampir seluruh pelosok negeri di Jerman. Ini adalah model bistro cepat saji namun tidaklah terlalu cepat dalam penyajian karena cara pengolahan menu makanan mereka  tidaklah se-sederahana jaringan restoran cepat saji yang mendunia itu.


Naik Lift Masuk Kota Tua Marburg


Saking tingginya letak kota ini, pintu utama bagi pejalan kaki untuk masuk ke dalam kota tua Marburg berupa sebuah lift besar. Tentu saja tidak umum ya, tetapi begitulah adanya. Baru pertama kali ini aku punya pengalaman memasuki sebuah kota dengan naik lift.

Bagaimana kalau tidak pakai lift? bisa saja tetapi jadi ngos-ngosan ya, ditambah lagi, setelah keluar dari pintu gerbang lift ini, tipografi kota tidak lantas datar melainkan terus naik sampai menyentuh awan, atau katakanlah seperti itu.
Atau bisa juga naik bis umum yang berhenti di pinggir bawah agak keatas kemudian balik turun lagi, secara kendaraan pribadi sangat amat dibatasi kehadirannya karena tempat parkir yang amat terbatas dan jalanan sempit.


Willkommen, My Lord


Seperti itulah rasanya, "Selamat datang, yang mulia..."  ketika aku datang ke hotel Burg Trendelburg tempat menginap pada saat liburan dengan tema Mengembara di Negeri Dongeng Betulan mengunjungi bagian selatan negara Jerman kali ini.

Ketika pertama kali datang memasuki tempat parkir hotel bintang empat ini mataku langsung berbinar-binar. Hotel ini, seperti halnya hotel-hotel dan bangunan lain di Jerman, tidak mempunyai pagar yang berarti, namun bukan itu yang membuatku riang bukan kepalang melainkan ketika masuk ke areal hotel, kami tiba-tiba berkendara di atas jalan berlapis batu yang klasik, kemudian memasuki pintu gerbang bagian dari benteng tua kokoh, besar dan kuat dengan pintu kayu tinggi tebal melengkung diatasnya yang dibiarkan terbuka  dan tentu saja tanpa penjaga, di Jerman jarang sekali ada hotel bersatpam.


Burg Eltz, si Cantik yang Sendiri


Burg Eltz, jika diibaratkan dengan seorang gadis, maka dia adalah gadis cantik yang terpingit. Namun karena kabar kecantikannya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, maka si gadis pingitan di tengah belantara ini selalu saja dikunjungi oleh para pemuda dengan harapan bahwa mereka bisa mengagumi kecantikannya, meskipun cuma sekedar menikmatinya sesaat.

Tetapi tak jauh dari tempatnya juga, 500 kilometer di selatan sana, ada si cantik lainnya yang terkesan glamour dan angkuh, bernama Schloss Neuschwanstein. Oleh karena itulah Burg Eltz yang pendiam ini kalah pamor, terutama jika yang datang adalah turis dari Asia, maka mereka pastilah pergi menuju Schloss Neuschwanstein, padahal Burg Eltz tak kalah cantik. Schloss Neuschwanstein memang idola turis Asia.


Seharusnya Mobil Kami Hilang di Luxemburg City


BENELUX adalah kependekan dari Belgium - Nederland - Luxemburg. Pada perkembangannya istilah ini berubah menjadi Benelux-Union. Ketiga negara mungil yang membentuk persatuan inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal ide pembentukan EU (Europe-Union).

Kali ini, dari Burg Trendelburg, kami melakukan a road trip sejauh 450km atau 4 jam perjalanan ke Luxembourg City, ibukota salah satu negara mungil tersebut, yang juga menjadi European Headquarter. Malu dong ya jika tinggal di Eropa sudah bertahun-tahun tetapi belum pernah mengunjungi Ibukota-nya (Eh, Ibukota Uni Eropa dimana? Brussel atau Luxemburg?).

Road trip panjang yang menyenangkan dan pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa tak salah kami telah mengambil unplanned trip ini karena Luxemburg City ternyata adalah kota mungil yang indah dan damai, berbukit-bukit, mempunyai udara yang nyaman dan semua ada di suatu tempat mungil yang tak sulit untuk dijangkau.

Jangan tertawa ya, Luxemburg City luasnya cuma sekitar 51km²... Berapa luaskah itu...? ya, sekitar 6 kali luas lapangan sepak bola lah! Meskipun begitu... Biar kecil tapi ohoy!


Mengembara di Negeri Dongeng Betulan


Kembali kami menuju bagian selatan negara Jerman, masuk hingga jauh ke pelosok-pelosok negeri dimana terdapat kastil-kastil kuno yang anggun, misterius, legendaris dan indah berdiri megah di atas bebukitan disana.

Mewahnya, atau uniknya dari perjalanan ini adalah, bahwa kami berkesempatan tinggal selama sepuluh hari pada sebuah kamar di salah satu kastil kuno tersebut. Sebuah kastil yang berdiri anggun di atas sebuah bukit dengan panorama lembah hijau membentang sampai ke batas cakrawala, dan jika senja menjelang, nun jauh disana, di bawah garis cakrawala sana, akan nampak kerlip lampu yang datang dari kastil lain yang berada diatas bukit-bukit lain. Mereka adalah kastil tetangga.

Begitulah, Jerman bagian selatan yang mempunyai lanskap berbukit-bukit dengan hutan rimba diantaranya patut mendapat julukan sebagai sebuah NEGERI SEJUTA KASTIL, saking banyaknya kastil peninggalan masa lalu yang tetap berdiri dengan kokoh disini.


Kastil Albrechtsburg dan Kota Tua di Bawahnya


Albrechtsburg adalah sebuah kastil gotik megah yang terletak di atas sebuah bukit tengah kota Meißen (baca: Meissen). Dia termasuk istana-istana pertama dalam sejarah Jerman, tercatat pertama pada tahun 929. Di bawah kastil ini terdapat Altstadt (Kota tua) indah dengan lorong-lorong sempit yang sama tuanya, sementara kota Meißen sendiri menjadi kota terkenal di seluruh penjuru dunia karena porselin buatan mereka yang berkualitas tinggi (dan sangat amat mahal, percayalah, hanya orang kelebihan duit saja yang mau beli porselin merek Meissen. Jadi kalau diundang makan atau ngopi oleh kenalan yang kaya raya, coba balikkan peralatan makan mereka, apakah ada cap Meissen).

Kastil Albrechtsburg di kota Meißen menjadi tempat wajib kunjung bagi traveler yang datang ke Dresden, karena mereka cuma berjarak 30 kilometer menggunakan mobil, atau 31 menit jika di tempuh dengan kereta api, kereta datang dan pergi setiap 30 menit.



Sehari di Metropolis Dresden


Ini adalah hari terakhir traveling di Dresden dengan mengunjungi tempat-tempat menarik disekitarnya. Burg Königstein yang gagah perkasa telah kami masuki, pegunungan Bastei telah kami taklukkan. Bahkan sebelumnya kami telah mengunjungi Berlin, dan juga singgah sejenak di istana megah pangeran Ludwig yang bernama Ludwigslust.
Begitulah, traveling kali ini sebenarnya adalah perjalanan nostalgia menyusuri bekas negara Jerman Timur (Ex-DDR) dengan panduan teman Insider dari Dresden dalam acara tur tahunan MotorBoys (klub penggemar mobil antik di Jerman).

Lucunya, selama beberapa hari ketimpringan di sekitar dresden, tak sekalipun kami memasuki kota Dresden. Ternyata teman-teman insider yang bertugas menjadi Tour Guide selama traveling kali ini menjadikan Dresden sebagai tujuan terakhir, meskipun bukan benar-benar yang terakhir karena keesokan harinya, ketika kami harus pulang ke daerah masing-masing, mereka kasih ekstra acara dengan mengunjungi sebuah kastil indah yang anggun di atas bukit .