Foto Model Jalanan ala Mesir


Mentari pada tengah hari terasa sangat amat terik, bahkan panasnya menyusup sampai ke dalam ubun-ubun kepala. Tentu saja begitu, kami berada di tengah gurun pasir yang jauh dari mana-mana.

Setelah berjam-jam mempelajari, berjalan melihat-lihat dan browsing di dalam situs Karnak Temple Complex, kami duduk mendeprok begitu saja di atas lantai depan temple, berlindung dari sengatan panas matahari pada sebuah bayangan salah satu tembok temple, sembari menikmati sebotol air mineral. Sementara ratusan pengunjung temple terlihat semakin banyak, hilir mudik berjalan kesana-kemari, foto-foto, buka-buka buku, atau ada juga serombongan turis mendengarkan penjelasan tur guide mereka dengan seksama atau ogah-ogahan. Banyak juga pelajar yang melakukan tur rombongan.

Karnak adalah situs arkeologi yang sangat amat luas, disini ada pilar-pilar raksasa, reruntuhan kastil dan bagunan-bangunan lain yang dindingnya dipenuhi oleh tulisan atau simbol-simbol Egyptian Hieroglyphs.







Tak lama berselang datang tiga orang turis berjalan ke arah kami yang sedang duduk pada sebuah bayangan. Mereka terlihat sama capeknya dengan kami, peluh bercucuran dan wajah merah terbakar matahari. Dari lagak-lagunya, tiga orang gadis muda berambut coklat ini juga mencari tempat berlindung seperti kami, maka sebelum diminta, kami segera bergeser, memberikan tempat di bawah naungan buat mereka.

Tak ada small talks sama sekali, masing-masing dari kami semua sedang memulihkan suhu tubuh setelah beberapa saat terpanggang teriknya matahari gurun pasir.

Ada serombongan turis pelajar lokal datang mendekat, setidaknya sepuluh orang anak usia sekolahan. Salah satu dari mereka bertanya dengan malu-malu apakah dia boleh berfoto bersama. Kami tidak keberatan, tiga orang turis lainnya yang berada di sebelah kami juga mempersilahkan, maka dia langsung berpose duduk di antara kami. Selanjutnya teman-temannya ingin ikut, tak lama kemudian kami dikerubuti oleh anak-anak usia sekolah disekitar kami. Ada yang jongkok, duduk bahkan berbaring didepan kami, melakukan pose terbaik mereka, dengan kami para turis sebagai bagian dari hasil foto nantinya. Kami cuma tertawa-tawa saja melihat kelakuan mereka.

Setelah puas dengan photo-session itu, mereka mengucapkan terimakasih dan hendak beranjak pergi. Aku segera menengadahkan tangan dan berkata kepada mereka untuk minta imbalan karena mereka telah memfoto kami, "One Euro!".

Tak ada aba-aba, tetapi waktu itu terdengar koor serempak dari kami dengan gaya yang sama yaitu menengadahkan tangan meminta, semuanya, lima orang turis... "One Euro!". Sangat kompak.

Selanjutnya adalah gelak tawa yang riuh, baik dari kami maupun anak-anak sekolahan itu, sembari berlalu meninggalkan kami.

Bukanlah tanpa alasan kejadian meminta imbalan one Euro itu kami lakukan karena mereka telah ambil foto kami. Dimanapun berada, jika itu di Mesir, dan berada di tempat wisata, jika kamu sebagai seorang turis dan secara sengaja atau tidak telah mem-foto orang lokal (bukan turis lokal tetapi orang lokal yang cari uang di tempat wisata), maka kamu HARUS kasih imbalan sebesar satu Euro, mungkin juga Dollar, sesuka mereka berkata. Sampai kami semua, para turis, menjadi hafal akan hal itu sehafal-hafalnya!

Yang aku maksud dengan HARUS maksudnya benar-benar harus, jika kamu tidak memberikan uang karena telah foto mereka, maka mereka akan benar-benar memaksa, mengikuti, berkata-kata keras dan kasar. Ini adalah pemandangan yang sangat umum di tempat wisata di Mesir, dimana ada seorang turis berdebat dengan orang lokal karena masalah foto ini. Si orang lokal ini akan melakukan segala cara sampai mereka mendapatkan imbalan karena mereka telah difoto.

Travel guide di kapal bahkan telah memperingatkan kepada kami tentang ini. Jika hal ini telah menjadi peringatan, tentulah tak bisa disepelekan. Orang-orang Mesir di tempat wisata sangatlah tricky dan pushy, yang berkata seperti itu bahkan orang Mesir sendiri yaitu travel guide kami. Bahkan dia bilang jika kita tidak mau memberikan imbalan, bisa-bisa kamera kita akan dirampas. Katanya hal ini sering terjadi pada turis dibawah guide-nya, oleh sebab itu dia menekankan masalah ini.

Namun yang namanya lalai tentu saja tidak mengenal tempat dan waktu. Setidaknya aku mengalami 'pemerasan' ini ketika salah satu dari mereka merasa bahwa aku telah memfotonya, padahal aku sedang foto sebuah prasasti, kebetulan saja - atau disengaja - tiba-tiba dia lewat. Langsung orang ini ngotot minta one Euro, untunglah waktu itu travel guide ada disebelahku dan melihat kejadiannya, jadi dia yang berdebat mati-matian membelaku.

Memang ya, satu Euro bukanlah jumlah yang berarti, tetapi perasaan dicurangi akan membekas dalam hati.

Itu bukan yang terakhir, aku pernah terjebak masalah foto ini dan sempat membuatku merasa galau habis-habisan sepanjang perjalanan.

Kami turun dari bis rombongan mengunjungi gugusan gua yang menjadi kuburan para Fir'aun pada jamannya. Ketika itu kami menuju ke Tomb of Ramses IV. jarak dari tempat parkir ke mulut gua sekitar satu kilometer. Jadi sambil jalan bikin-bikin foto ini dan itu sehingga tanpa sengaja aku agak tertinggal rombongan. Ketika sedang asik foto-foto dan tidak sadar sudah ketinggalan rombongan, tiba-tiba ada seorang tourist police melambai ke arahku dari sebuah pos jaga tak jauh dari mulut gua. Seperti yang lainnya, polisi wisata ini menenteng senjata lengkap. Terlalu berlebihan memang, tetapi bisa jadi polisi wisata Mesir memerlukan senjata itu demi keamanan.

Dia berkata "Foto" dan menunjuk ke dirinya sendiri, aha... ! pastilah dia ingin difoto, maka akupun dengan senang hati melakukannya, atau lebih tepatnya, secara refleks melakukannya.

Sesaat setelah 'jepret', barulah aku sadar bahwa seharusnya aku tidak melakukannya. Aku jadi galau ketika dia memanggil untuk mendekat dan memintaku menunjukkan hasilnya. Sambil mendekat aku melirik dengan ekor mataku bahwa rombongan telah berada jauh di depan sana, aku sendirian dan dua orang polisi yang lain mengitariku.

Aku menunjukkan hasil jepretanku, tiga orang polisi di pos jaga nampak didalam foto yang baru saja aku buat, seorang dari mereka merebut kameraku tetapi tentu saja tidak bisa karena aku kalungkan di leher.

Inilah mereka, tiga polisi wisata yang akan 'mengerjai' aku.

Pada saat yang genting itu tiba-tiba lenganku digelandang begitu saja oleh seseorang, "Oh, darling... You are very slow... hurry up, our group is just entering entrance...!" Dan dia terus saja menggelandang tanganku sampai aku lepas dari kerumunan tiga orang polisi di pos jaga itu.

Ternyata dia adalah seorang perempuan setengah baya yang aku kenal dengan baik di kapal, dia bersama suaminya mengikuti tur ini.

Sambil jalan terburu-buru menyusul rombongan dia berkata bahwa dia sangat khawatir melihatku akan mendapat masalah dengan tiga orang polisi tadi, dia telah melihat bahwa aku memfoto mereka, kemudian mereka memanggilku, mengitari dan ingin melihat hasil foto. Maka sang perempuan baik hati ini berkesimpulan bahwa selanjutnya mereka akan minta uang karena foto mereka terekam dalam kameraku dan jika aku tidak kasih uang maka mereka akan merampas kameraku, begitu kesimpulan dia. Itulah sebabnya dia menggelandangku begitu saja, setidaknya para polisi itu tidak akan berbuat apa-apa terhadap wanita, katanya.
Aku berkata bahwa aku juga sama khawatirnya dengan dia dan baru sadar sesaat setelah bikin foto. Dan dia mewanti-wanti, jangan percaya dengan siapapun meskipun dia adalah polisi. Aku setuju dengannya.


No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)