Hatiku Tertambat di Tepi Sungai Nil


Entah mengapa aku menempuh perjalanan ini, tiba-tiba saja aku berada di Mesir. Mungkin karena sejarah mesir masa lalu telah menyihirku sehingga aku selalu membayangkan dan ingin mendatanginya. Kini, setelah berada di Mesir untuk liburan dua minggu, yang aku dapatkan adalah rasa khawatir yang hampir menyentuh ketakutan. Aku ingin segera keluar dari negara yang mempunyai masa lalu terlalu kelam ini, bahkan sesaat setelah menjejakkan kaki di terminal kedatangan bandara Hurghada.

Dua hari yang lalu aku mengalami pengalaman amat buruk di Luxor, minggu sebelumnya aku telah mendapat perlakuan yang mengerikan di Hurghada. Sepertinya semua orang sedang membenciku, dan negara Mesir sepertinya bukanlah tempat yang bagus buatku....

Kini pada suatu senja, ketika mentari hampir tenggelam di ujung gurun pasir yang membentang luas sampai ke batas cakrawala sana, aku berdiri termangu di atas sebuah dek kapal yang membawa kami mengarungi sungai Nil menuju bendungan Aswan, Nile River Cruises... Aku berdiri sendiri, tenang mengetahui bahwa diatas kapal ini tak ada orang Mesir yang bisa menggangguku, mereka ada di daratan dan tak boleh memasuki kapal yang kami tumpangi.


Pikiranku menghayal, hanya melayang entah kemana. Mungkin aku terlalu risau akan perlakuan semua orang yang pada akhirnya membuatku merasa tidak nyaman di negeri Fir'aun ini.


Aku menengadahkan wajah menghadap langit yang berwarna biru jernih, perlahan namun pasti birunya langit semakin gelap, ini adalah senja yang sempurna diatas sungai Nil. Kututup mataku, merasakan hangatnya hembusan angin senja yang datang dari gurun pasir. Sunyi yang tenang menyelimuti alam, hanya riak air sungai Nil samar terdengar terbelah laju kapal, sementara suara mesin hanya sayup terdengar....

Kusapukan pandanganku ke tepian sungai Nil yang terlihat tenang dan damai, silih berganti terlihat rerimbunan semak, pohon-pohon kurma yang tumbuh bergerombol, satu atau dua buah rumah penduduk... ladang yang membentang.... gurun pasir tanpa batas.....


Dulu sekali, disini, mungkin di tepian sebelah situ, ada seorang perempuan menangis ketika harus melarung bayi lelaki yang baru dilahirkannya di tepian sungai Nil ini agar terhindar dari pembantaian sang Fir'aun. Bertahun-tahun kemudian, si bayi yang terselamatkan dan bernama Musa mampu mengukir sejarah perubahan dunia...

Ah, Musa... kini aku berada di atas tanah kelahiranmu, mungkin tepat di tempat aku berdiri ini, diatas bagian sungai Nil inilah, Engkau dihanyutkan...

Mentari semakin condong ke peraduan, secara bersamaan bulan sabit muncul semakin terang, dari sebuah desa nun jauh di tepian sungai Nil sana, di tengah gurun pasir yang membentang luas, sayup-sayup terdengar alunan azan, mistis namun indah dan merdu. Hatiku menjadi damai, sedamai senja diatas sungai Nil ini. Lambat laun lantunan azan di dalam temaramnya senja itu semakin nyata terdengar. Secara samar aku bisa merasakan kedamaian mengisi relung hatiku, dan dengan cara yang aneh menghangatkan aliran darah di sekujur tubuhku, dan memberikan semangat baru mengusir rasa khawatir yang mengerikan.

Sudahlah, seburuk apapun perlakuan yang aku dapatkan selama liburan ini, aku harus terus berjalan sampai selesai, toh banyak juga kesenangan yang aku temukan. Aku tidak boleh patah semangat, itu hanya akan membuatku terlihat lemah dimata orang-orang yang ingin memanfaatkanku.

Seseorang berjalan ke tempatku berdiri dari arah belakang, aku bisa mendengar dari suara langkahnya. Sebelum dia benar-benar bisa mencapai tempatku, aku berbalik dengan cepat.
Ternyata dia adalah pegawai kapal yang cuma ingin mengatakan dengan ramah dan tersenyum bahwa lima belas menit lagi makan malam tersedia, dia mempersilahkan aku untuk turun ke restoran bergabung dengan yang lain.


No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)