Scammer Ada dimana-mana, Luxor Adalah Gudangnya


Sumprit, Luxor adalah satu-satunya kota yang berhasil membuatku bersumpah untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki ke sana lagi. Kota padang pasir di tepian sungai Nil ini begitu indah, memukau dan khas kota gurun, banyak sekali peninggalan arkeologi terletak di sekitar kota Luxor ini, ada Luxor Tempel, Karnak, dan Nile river yang indah. Tetapi sayang sekali kelakuan para scammer membuatnya menjadi kota yang paling menjengkelkan sedunia, atau setidaknya kota paling menjengkelkan diantara kota-kota dan tempat yang pernah aku datangi. Tak pernah aku merasa terintimidasi oleh para pelaku pariwisata gadungan seperti di Luxor.

Senja yang indah, matahari sore bersinar cerah (ya pasti lah ya, namanya juga di tengah padang pasir), suhu udara tidak lagi terlalu membakar. Aku memutuskan untuk jalan-jalan sore sejenak keluar dari kapal sebelum nanti malam kapal kami lepas jangkar menuju etape selanjutnya. Ini akan menjadi sebuah perjalanan memukau selama empat hari tiga malam menyusuri sungai Nil dari kota Luxor menuju bendungan Aswan dan kembali lagi, dengan berhenti di kota-kota menarik sepanjang sungai Nil bagian atas (Untuk itu, ceritanya akan muncul secara bersambung).

Aku keluar kapal menenteng kamera layaknya seorang turis. Tujuan pertama turun ke dermaga menikmati beningnya air sungai Nil dan berjalan santai melihat suasana nyaman sepanjang sungai, sesekali berhenti sejenak melihati burung dan ikan-ikan kecil, sambil berharap siapa tahu nanti bisa lihat kuda nil nongol dari dalam sungai Nil.

Turis ada dimana-mana, semua orang terlihat senang, hatikupun menjadi riang... Luxor adalah kota wisata terkenal.

Kesenanganku terusik ketika tiba-tiba ada orang berteriak kepadaku, entah apa yang dikatakannya, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, mungkin dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Dan memang begitulah adanya, ketika aku melihat ke arahnya, ada seorang lelaki naik perahu layar diatas sungai Nil menyapaku dengan ramah, akupun tersenyum sembari melayaninya berbasa-basi. Selanjutnya adalah small talks layaknya orang lokal kepada turis, where are you come from, where will you go, what do you like.... dan lain-lain sejenisnya.

Dia adalah orang lokal yang ramah sampai pada akhirnya alarm tanda bahaya didalam kepalaku berdering ketika dia mengatakan bahwa dia ingin mengajakku berlayar ke Banana Island (atau seperti itu) yang terletak di seberang sungai.

Tentu saja aku menolaknya dengan ramah. Siapa dia? siapa aku? dimana aku? baru semenit bertemu kok langsung berbaik hati seperti itu....?

"It is cheap! Only 10€ and i will bring you back here...!" Ah, ternyata jualan, pantas saja ramah sekali....
"No, thanks..." dan ngacirlah aku.

Selesai? Ternyata belum, aku melihat dengan ekor mataku dia segera turun dari perahu dan berjalan menyusulku. Aku tidak perduli dan terus berjalan. Ketika dia berhasil berjalan disampingku, dia semakin gencar mempresentasikan jasanya dan mengatakan alangkah indahnya Banana Island. I said NO, BIG NO, and THANK YOU sepanjang waktu. Tetapi rupanya dia tidak memperdulikanku, dia terus berbicara dan aku tak bisa menghentikannya, semakin lama nada bicaranya terdengar menjadi mengintimidasi dan memaksa.

Aku menjadi risau antara ingin membebaskan diri dari paksaan itu, berjalan cepat menghindarinya, dan berkata 'no' sepanjang waktu, sementara dia samasekali tidak memperdulikan penolakanku...

Entah sedang bernasib jelek atau bagaimana prosesnya, mungkin saja aku tergiring selama beberapa waktu berjalan tadi, ketika melihat sekeliling ternyata kami cuma berdua di tempat itu, lorong sempit di pinggir sungai Nil, tiba-tiba tak ada seorangpun kecuali aku dan pria itu. Hatiku menjadi gentar, alarm tanda bahaya di dalam kepalaku semakin nyaring bertalu-talu.

Aku merasa terancam, dan memang begitulah adanya; Di tempat sepi itu dia benar-benar memaksaku untuk pergi ke Banana Island dengan perahunya. Dia tidak perduli bahwa aku tidak ingin pergi dengannya. Orang itu pandai sekali berbicara, dan cepat. Aku tidak berdaya karenanya, setiap kali menolak maka dia semakin mendesak.
Dia hampir meraih lenganku ketika pada saat yang kritis itu ada dua orang polisi sedang patroli dan aku segera berlari kearah mereka, melewatinya dengan cepat dan kembali ke pelabuhan dimana banyak orang dimana-mana.

Lega dan aman... Aku perlu duduk sesaat lamanya untuk menenangkan diri kemudian naik ke daratan melalui tangga undakan. Di atas suasananya bagus dan menyenangkan, itu adalah pedestrian lebar bahkan hampir bisa dikatakan sebagai taman, dibawahnya adalah pelabuhan dengan banyak kapal pesiar dan perahu tertambat sementara di sebelah pedestrian lebar itu adalah jalan raya yang ramai, di seberang jalan berjajar restoran, hotel dan toko silih berganti. Disitu banyak kursi panjang tersedia, tempat orang duduk-duduk menikmati suasana.

Suasana yang sempurna untuk sebuah kota gurun pasir di pinggir sungai Nil.

Aku duduk dulu sebentar pada sebuah kursi kosong sambil memeriksa kamera, ternyata tidak rusak setelah tadi terantuk dengan keras ketika sedang "bertengkar" dengan si sopir perahu yang jago ngomong.

Ketika sedang asik meneliti kamera, datang seorang laki-laki muda berperawakan kurus menghampiriku sambil menyapa ramah. Dari penampilannya pastilah dia insider yang sedang bersantai di tepi pelabuhan seperti lainnya. Dan ternyata benar dugaanku. Yang lebih menyenangkan adalah ternyata dia adalah pegawai kapal yang aku tumpangi. Dia tahu persis kapal mana itu. Aku sampai heran, bagaimana bisa dia tahu bahwa aku naik kapal itu? Bahkan dia menunjukkan sebuah kartu dengan fotonya terpajang disana, aku tidak mengamatinya dengan serius tetapi dia bilang itu adalah kartu pegawai kapal itu.

Adalah hal yang menyenangkan bisa menjalin komunikasi dengan orang lokal pada saat liburan. Biar bagaimanapun juga aku suka untuk berkenalan dengan insider dimanapun aku liburan, juga di Luxor. Dan dia adalah kenalan baru yang mengetahui banyak hal tentang kotanya.

Kami beramah-tamah untuk beberapa waktu lamanya sampai tiba-tiba, seperti di pelabuhan bawah tadi, alarm di dalam kepalaku mulai berbunyi; Dia terlalu banyak bicara, terlalu ramah dan tahu segalanya, bahkan tahu kapal mana yang aku tumpangi, padahal waktu itu ada puluhan kapal sedang bersandar di pelabuhan. Bagaimana bisa?

Untuk menghindari hal-hal yang tidak sesuai rencana, aku beranjak hendak berlalu sambil mengucapkan have a nice afternoon dengan tersenyum dan segera berjalan. Tetapi rupanya dia tidak ingin sendirian, dia menyusulku, bertanya aku ingin berjalan kemana.

"Just walking around a little bit before i go back to the ship for dinner" Jawabku ringan sambil berjalan. Tetap tersenyum dan tenang, meskipun alarm di dalam kepalaku semakin bertalu.

"May i walk with you?"

"No, sorry, i just want to walk alone" aku masih tersenyum, dan ramah.

"Do you want to eat in a restaurant? my friend works there..." Aku bilang "No", kali ini  senyumku mulai menghilang, ada aroma komersil dalam pertanyaannya, atau tawarannya.

"Do you want to go shopping? follow me, i show you a good handicraft shop" 

Hah... shopping...! dia mau mengantarku belanja? enough is enough... aku tidak mau beramah tamah lagi dan menjawabnya dengan tegas, aku mulai sadar sesadar-sadarnya bahwa dia akan memanfaatkanku "No..! please leave me alone!"

Aku berjalan dengan cepat, tetapi dia tetap mengejarku. Selanjutnya aku sangat kerepotan dengan jalan cepat dan berkata "No!" sepanjang waktu. Dia terus membuntutiku dan menawarkan untuk mengunjungi Souk (pasar tradisional), menawarkan untuk minum teh pada sebuah kafe, mengantar ambil uang di mesin ATM terdekat, berbicara tanpa henti dan tak bisa disela, dan... "do you want a sexy girl?"

Aku patah semangat, menghentikan langkahku dengan mendadak dan menatap langsung pada bola matanya, tanpa berbicara sepatah katapun, tak memberikan reaksi sedikitpun. Sementara dia tetap menawarkan segala sesuatu yang bisa dia katakan.

"Do you afraid?" Katanya, itu adalah pertanyaan yang menantang, dia berbicara seperti orang marah.

Okay, aku tahu, untuk menghadapi orang seperti ini kuncinya adalah diam seribu bahasa, tidak memberikan reaksi dan mematikan perasaan. Itulah yang aku lakukan.

Beberapa saat selanjutnya dia tetap berbicara, atau setidaknya menantang, atau memancing ketakutanku. Aku tetap bertahan dengan gaya Zombie mati perasaan seperti ini untuk beberapa waktu lamanya sampai pada akhirnya dia kehabisan ide untuk menggangguku, dan aku bisa berjalan dengan tenang.

Berjalan kemana? kembali ke kapal, aku sudah tidak tertarik lagi dengan Luxor.

----------------------------

Saking jengkelnya dengan orang-orang di Luxor, sepulang liburan aku sampai penasaran dan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di Luxor. Mencengangkan, ternyata banyak pelancong mendapatkan pengalaman kecut mirip aku. Ini dari tripadvisor, dia, korban berjamaah ini, dan pelancong yang ini.

Laki-laki kedua yang aku temui di pelabuhan itu ternyata memang tukang scammer seperti yang diceritakan orang lain yang pernah pergi ke Luxor, dan di Luxor banyak sekali scammer seperti itu. Dia rencananya akan mengikutiku, membelokkanku ke restoran atau toko handikraft, atau kemanapun dan pada akhirnya dia akan mendapatkan baksheesh (uang tip banyak) atas jasanya.

Dan... Meskipun begitu tentu saja aku tidak menyesal telah pergi ke Luxor, aku sudah pernah kesana dan melihatnya namun untuk datang lagi, sepertinya aku tidak akan melakukannya.

Bagi yang ingin pergi ke Luxor, setidaknya kalian sudah tahu apa yang kalian hadapi disana nanti, kuncinya jangan melakukan interaksi dengan insiders di tempat wisata Luxor, atau berhati-hatilah.

4 comments:

  1. Emang kemarin perginya sendiri, Har? Plus ini kemarin kamu pergi tur atau adventur?

    ReplyDelete
  2. Ke Mesir-nya berdua, cuma pas kejadian naas ini aku lagi jalan sendiri. Ini acara liburan dua minggu.

    ReplyDelete
  3. Aku mendengat banyak hal-hal keras di Mesir. Ternyata emang begitu ya.... ntar kalau aku ke sana kayaknya bakalan ngomong bahasa Indonesia aja kalau diajakin ngobrol. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mesir itu indah dan bersejarah, sangat mengesankan... Tapi aku tidak akan pergi lagi ke Mesir. orang-orang terlalu liar dan hanya ingin uang kita. Aku sudah kemana-mana dan Mesir adalah satu-satunya negara yang aku hindari untuk datang lagi.

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)