Si Cantik Dari Hurghada


What a weather..! Alangkah nyamannya dunia ini ketika mendarat di bandara mungil Hurghada yang berada di tepi salah satu pantai di Red Sea. Bagaimana tidak? matahari bersinar cerah tak ada mendung sedikitpun, suhu udara berkisar pada 25°C, kami menginap di sebuah hotel tak jauh dari pantai, suasana tenang dan angin bertiup dengan nyaman. Sangat berbanding terbalik dengan beberapa jam yang lalu ketika aku menggigil di bandara Hamburg karena Jerman masih membeku.

Dan disini, di Hurghada, telanjang-bulat-pun akan terasa nyaman.

Hurghada adalah sebuah kota mungil di tepi Laut Merah tujuan turis yang berada di tengah gurun pasir luas tanpa batas dan bebukitan batu yang tandus. Saking mungilnya kota ini, sesaat sebelum pesawat yang kami tumpangi mendarat,  ketika masih melihat Hurghada dari ketinggian, aku sempat tergeli-geli mengamatinya. Bagaimana tidak? Hurghada cuma terlihat sebagai secuil kerumunan bangunan di tepi pantai yang berada di tengah gurun pasir maha luas dan terlihat tanpa batas. Sementara di sisi yang lain terbentang Laut Merah yang berwarna sangat amat biru. Sebuah kontras yang menyenangkan dan... aneh!

Aku bisa berkata bahwa aku menyukai Hurghada sepenuh hati. Ini adalah tempat liburan sempurna yang tenang dan santai. Suasana kota tidak terlalu ramai dan agresif, penduduk yang ramah, ada pantai-pantai bagus buat bersantai di bawah payung peneduh, ada juga area turis dengan banyak restoran, kafe, bar dan toko-toko suvenir pada sebuah jalan di tepi pantai, berderet rapi silih berganti, dan harga-harga yang murah terjangkau. Okay, lupakan saja onggokan bangunan yang belum atau tak pernah terselesaikan itu, mereka ada dimana-mana tetapi lihatlah pasir putih luas di tepi laut merah itu, bukankah itu terlihat sangat memukau?

Hari-hari selanjutnya kami juga menemukan bahwa Hurghada mempunyai banyak atraksi wisata menarik seperti misalnya safari gurun, berkemah di padang pasir dan menyelam di Laut Merah. Semua bisa di booking langsung dari hotel tempat menginap.

Tentu saja kami mem-booking beberapa aktifitas menyenangkan itu, dan ceritanya akan muncul pada postingan mendatang, sementara postingan kali ini adalah cerita hari pertama di Hurghada ketika kami masih mengalami a culture schock kecil-kecilan dan patut diceritakan.

Kami menginap di sebuah hotel kecil tak jauh dari pantai, terletak di pinggiran daerah padat hotel pusat lokasi wisata pantai Hurghada, jadi hotel kami sepi dan nyaman. Meskipun begitu letaknya strategis, karena dari pantai cuma berjarak selemparan batu, dari deretan kafe dan restoran yang memadati pinggiran jalan juga hanya perlu berjalan beberapa menit. Tentu saja ini adalah lokasi yang pas buat menikmati liburan.

Dan lagi, hotel tempat kami menginap punya kolam renang ditengahnya, jadi sore itu ketika kami merasa kegerahan dan mengalami stres setelah urusan tetek-bengek di bandara seperti biasanya ketika memasuki sebuah negara, kami menceburkan diri ke dalam kolam. Airnya dingin, terlalu dingin malah.

Senja menjelang, makan malam baru saja kami lakukan dan kami ingin bersosialisasi sejenak sebelum pergi tidur.

Sayangnya ini bukanlah musim liburan, jadi bar hotel tutup karena tak cukup pengunjung. Untuk itu kami disarankan pergi keluar saja, di pantai pasti sedang ramai, kata resepsionis hotel.

Dan benar saja, kami-pun berjalan santai pergi ke pantai dimana banyak party berlangsung dengan lampu neon iluminasi berwarna-warni indah menyala disana-sini.

Tapi tunggu dulu.... Lihatlah alangkah indahnya malam ini. Udara terasa hangat, tak ada angin dingin bertiup, dan bintang-bintang terlihat sangat dekat di langit sana. Bukankah lebih baik di luar saja dan duduk-duduk di pinggir jalan sambil melihat-lihat?

Kami-pun setuju dengan rencana cemerlang kami itu. Maka kami pergi ke mini market untuk membeli masing-masing sebotol air mineral buat menemani acara nongkrong pada malam yang meriah di dekat pantai Hurghada. Duduk nangkring begitu saja pada sebuah tembok pembatas rendah di pinggir jalan.

Suasana sangat menyenangkan, para turis terlihat senang berjalan hilir mudik, begitu juga dengan orang lokal yang sedang bersantai. Maka sebotol air mineral-pun segera habis diminum sambil ngobrol.

Ah, tentu saja sebotol bir akan membuat suasana semakin hangat, pikir kami. Maka kami segera kembali ke mini market untuk membelinya. Si pemilik mini market yang ramah itu langsung mengenali ketika kami kembali, dia menyapa dengan riang tanpa dibuat-buat, layaknya berbicara kepada teman akrab yang sudah lama tidak bertemu. Aku terkesan dengan keramahannya, dan selama beberapa waktu berlangsung small talks diantara kami karena tidak ada pembeli lain yang datang.

Jadi pada akhirnya kami mengutarakan maksud kedatangan kami yaitu untuk membeli bir. Tetapi sayang sekali dia tidak punya, orang tidak boleh menjual minuman beralkohol di toko dan mini market. Haram, katanya.
Tetapi, katanya, jika kami mau menunggu maka dia akan pergi ke bar untuk membelinya buat kami. Tentu saja kami tidak mau merepotkannya, jadi dia memberikan rekomendasi beberapa bar dan kafe bagus. Masalahnya Thomas sedang tidak ingin bertemu dengan turis dari Eropa, lihat bule dimana-mana bikin enek, katanya. Padahal dia sendiri juga bule, hihi....

Oh, sebenarnya begini... Kami ada di Hurghada, dan tentu saja akan sangat berkesan jika kami pergi ke bar atau kafe dimana orang lokal biasa nongkrong, bukan nongkrong dengan turis lain dari Eropa. Dan sang pemilik mini market jadi mengerti dengan yang kami inginkan, lalu memberikan arah kemana seharusnya kami berjalan.

Malam semakin cemerlang ketika kami menyusuri jalan dan menebak-nebak arah menuju bar rekomendasi. Banyak orang berlalu-lalang dengan senang sambil tertawa. Kami bertemu masjid, ya dan sebentar lagi akan ada jalan bercabang dua, disana kami harus belok kanan, kata teman baru kami si pemilik mini market.
Tentu saja kami semakin yakin bahwa dia merekomendasikan bar lokal yang bagus karena kami sekarang tidak berada di daerah wisata lagi melainkan berada pada sebuah sudut di kota Hurghada dimana tak ada turis nyasar yang kami temui.

Dan memang begitulah adanya, segera saja kami menemukan beberapa bar berderet pada sebuah ruas jalan, tidak banyak, cuma satu dua, tetapi cukuplah ya. Semuanya bagus dan sempurna, musik riang khas padang pasir terdengar disana-sini dan ada banyak orang bersantai. Semuanya orang lokal, tak ada turis satupun yang kami lihat.

Inilah yang kami inginkan, berbaur bersama insider tentu saja menyenangkan. Maka kami memasuki sebuah bar, duduk pada sofa kosong dan mulai ngobrol melihat-lihat sambil menunggu waiter menyapa kami.

Itu adalah sofa yang nyaman, terlalu lapang buat duduk sendiri namun terlalu sempit untuk diduduki berdua, maka tentu saja kami duduk terpisah biar tidak desak-desakan. Masih banyak sofa kosong tak berpenghuni.

Seorang pelayan datang, menyapa kami dengan ramah diantara kerasnya suara musik, dan segera pergi setelah kami pesan minuman. Jika saja lampu bar ini sedikit terang, pastilah aku bisa melihat alangkah cantiknya wajah si pelayan tadi, sayang sekali bar ini mempunyai lampu yang terlalu remang.

Thomas bilang aneh, karena semua pengunjungnya adalah cowok, aku bilang bahwa Mesir adalah negara Islam, perempuan tidak pergi ke bar. Barulah dia mengerti.

Sang pelayan cantik datang dengan membawa pesanan kami, bahkan dia datang bersama rekan kerjanya. Satu membawa pesananku dan lainnya mengantarkan pesanan Thomas. Wow, alangkah mewahnya...! seorang tamu dilayani seorang pelayan. Jangan-jangan harga minuman ini akan berlipat-lipat... Tak masalah, kami sudah terlanjur terbawa suasana padang pasir...

Lucunya adalah, kedua pelayan ini tetap menemani kami sepanjang waktu, jadi kami ngobrol berempat. Mereka menuangkan minuman dan beramah-tamah, dan ambil minuman lagi jika botol kami sudah kosong. Tentu saja kami jadi kegirangan karena langsung punya teman ngobrol yang menyenangkan.

Nah si pelayan yang tiba-tiba menjadi teman ini memang keduanya cantik, kulitnya halus dan terasa lembuuuut sekali ketika kami secara tidak sengaja pegang-pengangan tangan sekilas. Bahkan aku sampai tidak berani menyentuhnya, takut rusak, saking lembutnya.

Yang temanku bilang bahwa dia berasal dari Kairo, dan kami berbicara kesana-kemari sampai akhirnya.... "Ada kamar dibelakang. Ayolah, disana kita hanya berdua..."

Aku hampir tersedak dibuatnya.

Kemudian aku cepat-cepat menganalisa suasana.... Lha iya ini bar kok lampunya sangat temaram, eh baru sadar setelah melihat berkeliling ternyata seorang tamu dilayani seorang pelayan.

"Yes... emmm... actually i just want to drink here... i... didn't mean... to...."

"Then let's have fun...!"

"Wait, i need to talk with my friend..."

Aku berbicara kepada Thomas yang duduk di sofa seberang meja dalam bahasa Jerman agar yang lain tidak paham, bahkan hampir berteriak untuk mengalahkan suara musik yang hingar-bingar, bahwa kita salah masuk bar, bahwa ini adalah tempat pelacuran. Ternyata dia juga baru menyadarinya.

Lalu? ya... sudah terlanjur, mau bagaimana lagi. Maka dengan santai kami menghabiskan minuman sambil beramah-tamah dengan si cantik, kemudian menjelaskan duduk perkaranya dari awal, mereka bisa mengerti dan tetap ramah menyenangkan, untuk itu kami kasih uang tips banyak atas pelayanan yang menyenangkan dan segera kabur.

Kabur kemana? Kembali ke mini market, melabrak teman baru kami si pemilik mini market karena dia telah menyesatkan kami.

Seperti sebelumnya, kali ini dia juga menyambut kami layaknya menyambut sahabat yang sudah lama tak bersua, tapi aku langsung sengit melabraknya bahwa dia telah mengirim kami ke tempat pelacuran, dan kami tidak menyukai itu.

Yang ada, dia malah terbengong-bengong... "Lho, bukankah itu yang kalian cari? dengan orang lokal? dengan perempuan Mesir kan?"

Yah, ternyata dodol banget si abang pemilik mini market ini, lha ndak nyambung kok jauh amat ya..?

Kami berbicara tanpa ujung untuk beberapa waktu lamanya sampai akhirnya aku yakin bahwa dia mengerti maksud kami yang sebenarnya, lalu dia berbicara dan terbahak-bahak dengan teman-temannya. Pastilah mereka sedang tertawa menggunakan bahasa Arab, alangkah tololnya salah sambung ini.

Lalu dia bilang bahwa di Hurghada tidak ada bar lokal seperti itu, adanya ya di pantai campur turis lain, begitu.

Meskipun begitu, hari-hari selanjutnya dia adalah pemasok kebutuhan remeh-temeh kami selama tinggal di Hurghada, dan emperan mini marketnya menjadi tempat nongkrong kami, bahkan kami menyempatkan diri berpamitan kepadanya pada malam hari sebelum kembali ke Jerman keesokan harinya, bahkan dia memberikan hadiah mungil buat kami sebagai ucapan selamat tinggal, "Please come back again next time...".

Mungkin ketulusan hatinya membuat kami akan kembali lagi ke Hurghada, suatu saat nanti...






Setelah tahu bagaimana mereka menjual roti seperti ini, aku tak mau makan roti samasekali selama di Mesir.


No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)