Venezia: Mabuk Laut Atau Mabuk Cocktail?


Hampir setiap kota besar di Eropa Barat punya bis City Sightseeing, bis ini berwarna merah menyala dengan tulisan menggunakan jenis huruf yang riang. Tak sulit menemukan bis City Sightseeing ini dari warnanya, lagipula mereka ada dimana-mana di seluruh penjuru kota. Bis ini menggunakan sistem karcis hop on - hop off, dengan kata lain, penumpang membeli karcis yang berlaku untuk 24 jam, mereka boleh berhenti sesuka hati di halte-halte yang tersebut dalam kartu rute perjalanan, begitu juga sebaliknya, penumpang boleh naik dari halte manapun sesuka hati. Bis ini datang dan pergi dengan jadwal yang rapi.

Bis City Sightseeing adalah alternatif paling bagus, paling lengkap dan paling murah untuk turis yang tidak terpaku jadwal perjalanan karena penumpang atau turis itu sendiri yang akan menentukan waktu mereka sendiri untuk menjelajahi sebuah tempat menarik di dalam kota, sebelum menuju tempat selanjutnya menggunakan bis yang sama, pada jam yang terjadwal. Bis ini mempunyai halte di tempat-tempat menarik tujuan turis.


Tentu saja karcis harian bis umum lebih murah daripada bis City Sightseeing, tapi aku tidak yakin bahwa aku akan sampai ke tempat tujuan secara langsung. Bis umum fungsinya untuk mengantar penduduk kota ke tempat rutinitas mereka. Bis City Sightseeing mengantar turis ke tempat menarik tujuan mereka. Jadi tidak lucu kan, kalau trip Eropa kalian berakhir di kompleks industri atau perkantoran?


Jadi jika ada yang ingin pergi ke Eropa Barat, sebenarnya kalian tidak perlu guide, bis City Sightseeing akan mengantar kalian ke seluruh penjuru kota untuk mengunjungi tempat-tempat bagus. Lagipula Tourist Information tersebar dimana-mana.

Lalu bagaimana dengan Venezia yang tidak punya jalan buat kendaraan darat itu? Tetap saja ada jasa City Sightseeing disini, cuma disesuakan dengan kondisi setempat. Karena mereka tidak punya jalan darat maka City Sightseeing menggunakan water bus/boat.

Warna water bus yang sudah akrab ada dimana-mana di seluruh Eropa; City Sightseeing. Hop on - Hop off.
Water bus City Sightseeing di Venezia mempunyai tujuh buah halte, Lima halte ada di pulau Venezia, sebuah ada di pulau Lido dan satu lagi ada di pulau Murano. kalau tidak salah, sekali putaran membutuhkan waktu dua jam, dan water bus akan datang di halte-halte untuk menurunkan dan mengangkut turis setiap jam.

Karena kami sudah ngubek-ngubek kota tua di pulau Venezia, juga karena kami adalah penggemar setia slow travel, maka kami tidak perlu atau tidak ingin berhenti di halte yang ada di pulau ini. Jadi kami pergi ke pulau yang lebih luar yaitu Murano dan Lido, agar bisa puas menikmati suasana disana sehari penuh.

Kami naik dari halte San Marco, dimana ini adalah halte terdekat dengan holiday appartment tempat  menginap, hanya berjalan satu atau dua kilometer dengan pemandangan kota tua yang indah, maka kami sampai di halte San Marco yang ada di mulut Canal Grande yang selalu sibuk itu, halte ini berdekatan dengan Piazza San Marco yang indah.

Sekejap kemudian water bus sudah berhasil keluar dari Canal Grande yang sedang macet. Canal Grande adalah jalan utama di Venezia, sangat lebar tapi tetap saja lalu-lintasnya padat.

Yang namanya lalu-lintas padat di jalan raya dan di kanal tentu saja berbeda. Boat dan perahu berjarak 100 meter antara satu dengan lainnya sudah masuk dalam kategori mepet, ingat mereka perlu jarak berpuluh-puluh meter untuk ngerem dan berbelok.

Sibuknya lalu lintas di Canal Grande.
Asiknya naik City Sightseeing, banyak melewati jalanan indah.

Keluar dari Canal Grande ternyata ombaknya besar, jika di depan sana tidak ada pulau Lido yang panjang itu, maka kami bisa memandang Adriatic Sea.  

Aku anak pelaut, tapi sayangnya aku tidak tahan dengan ombak laut. Untunglah water bus segera sampai di halte Elisabetta Pontile yang ada di pulau Lido setelah berjalan selama 20 menit. Jika tidak maka aku akan mendapat masalah.

Lido adalah sebuah pulau modern yang tenang dan.... banyak mobil...! setelah berhari-hari hidupku terasa nyaman dan damai karena di Venezia kota tua tak ada mobil satupun, tetiba aku merasa kikuk dengan lalu lintas jika harus menyeberang jalan.

Dari halte water bus kami berjalan-jalan santai melintasi passage yang penuh dengan pertokoan dan kafe-kafe. Hari masih pagi - suasana kota sepi. Aku selalu menyukai suasana seperti ini. Kami memutuskan duduk sejenak pada sebuah kafe untuk menenangkan perutku dengan secangkir teh sembari melihati lalu-lalang orang-orang. Dari secangkir teh, aku tergoda untuk membeli sebuah kue manis kecil.... tak lama kemudian seporsi es krim. Selalu saja, orang Italia adalah jagonya pembuat es krim.



Aku punya ide untuk sewa sepeda pancal, tetapi Thomas sedang malas bergerak karena suhu udara sedang panas-panasnya. Undian pakai koin, aku kalah.
Karena kalah, maka aku harus nurut sama pemenang. Masalahnya adalah, sang pemenang tidak punya ide.

Kami tidak tahu harus kemana atau akan melakukan apa di pulau Lido, kami tak punya informasi samasekali tentang pulau ini. Jadi yang kami lakukan cuma berjalan-jalan santai melihat sana-sini.
Ternyata Lido bukanlah pulau tujuan turis, tapi entah bagaimana caranya aku sangat suka disini.

Udara hangat yang nyaman, passage rapi dan meriah, es krim lezat, taman kota yang sangat rindang dan sejuk. Semua bisa kami dapatkan disini.

Apa lagi yang belum ya? Ah rupanya kami tersesat di pinggiran kota. Kami telah berjalan terlalu jauh dan tidak tahu jalan kembali ke halte water bus.
Tak ada seorangpun terlihat, mobil cuma satu dua yang lewat, sementara itu adalah sebuah taman luas yang rindang.
Di sebuah jalan yang bercabang-cabang kami mengira-ngira, sebaiknya jalan kemana, tetap saja bingung. Tak lama kemudian ada serombongan orang berjalan di seberang jalan, mungkin lima atau tujuh orang. Mereka terlihat sedang bersantai.

Ya sudah, daripada bengong di pinggir jalan kami diam-diam mengikuti mereka. Tak lama kemudian yang diikuti berbelok memasuki sebuah gerbang. Lah, gimana dong.... 

Gerbang itu berpintu kuat, tetapi tidak ditutup, dindingnya juga terlihat tinggi dan kokoh. Ada terlihat banyak plakat tertempel rapi di dinding. Mungkin itu adalah promo atau semacamnya. Ada gambar bagus-bagus di iklannya. Tentu saja kami tidak paham bahasa Italia.

Kami mengintip melalui gerbang, pandangan buntu karena lorong berbelok. Kami masuk saja hati-hati, nanti kalau ada yang menegur pura-pura saja cari restoran dan tersesat.

Setelah lorong habis, selanjutnya ada balai luas dan setelah itu.... kami benar-benar terbahak! Di depan sana ada pantai dengan pasir putih luas membentang dan laut biru tanpa batas...!


Lha kenapa pula pantainya di kasih gerbang dengan tembok tinggi? Sudahlah, biarlah itu tetap menjadi misteri, mereka yang paling tahu alasannya tentang hal itu.

Rombongan yang kami ikuti tadi terlihat mulai menanggalkan pakaian mereka di atas pasir putih yang luas.

Terus kami mau gimana? Tak punya handuk apalagi celana renang. Inilah akibatnya kalau tidak browsing dulu sebelum mendatangi sebuah tempat.

Problem solved! di pojokan tempat berbilas ada yang jualan celana renang.

Selanjutnya kami bersantai saja di bawa sebuah payung pantai. Sekali-sekali nyebur ke laut, dan balik lagi menikmati cocktails dingin yang menyegarkan. Rasanya damai dan tenang setelah berhari-hari berada dalam kerumunan turis di Venezia kota tua, ini benar-benar a place to escape! 

Cocktails kesukaanku selama liburan kali ini adalah Aperol Spritz. Ini adalah campuran white wine, air soda dan Aperol kemudian dikasih es batu dan buah olive ditusuk.

Entah berapa lama kami berada di pantai indah itu, pada akhirnya aku tidak berani lagi nyebur ke laut. Padahal aku cuma minum dua gelas cocktails.

Sumprit selama hidup tak pernah sekalipun aku minum alkohol.... sebelum makan malam. Dan itu bukanlah ide bagus, aku tak akan mengulanginya. Rasanya sangat tidak menyenangkan setelah itu. Kami harus berdiam beberapa saat sambil menikmati minuman sebelum bisa melanjutkan perjalanan.

Pastilah aku sedang mabuk laut, bukankah tadi perutku teraduk-aduk di water bus?


Selanjutnya kami berhasil kembali ke halte water bus, ternyata dekat, hanya berjalan lurus melintasi passage dan sampai.

Perhentian selanjutnya adalah pulau Murano, sebuah pulau misterius yang sepi. Commissario Brunetti pernah mengungkap sebuah kasus pembunuhan misterius di sini. Tunggu kelanjutannya ya, karena postingan ini sudah panjang dan bertele-tele.

Sampai jumpa.....

12 comments:

  1. wah wah! veneziaaa XD kapan ya bisa kesituu~ pengen banget! :D

    ReplyDelete
  2. Sama, pengennya kayak mas cumi, dimabuk cinta hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh sepertinya kalian berdua berjodoh deh...

      Delete
  3. Mabuk wine tidak seindah mabuk cinta..
    hahaha
    http://lombokwandertour.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mabuk wine bikin pening kepala.... mabuk cinta bikin pusing apa ya....? haha bisa saja...

      Delete
  4. dari pada mabuk laut mending mabuk asmara kang,, hehehe
    salam kenal dan sukses kang
    paket wisata bromo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kang, lebih enak lagi mabuk asmara kang... mabuk laut bikin mual kang....

      Delete
  5. hmmmm..suasananya saja sudah begitu melenakan, kota di atas air nan romantis

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)