Venezia: Murano Pulau Misterius


Murano adalah salah satu pulau yang berada di kepulauan Venezia Italia. Jika pergi ke sini menumpang water bus City Sightseeing yang berwarna khas merah menyala itu, dari halte water bus San Marco di Venezia kota tua, maka hanya melewati sebuah halte di pulau Lido, kemudian water bus akan langsung menuju halte di pulau Murano. Jika menumpang water bus untuk penumpang umum, maka akan berhenti puluhan kali di halte-halte sepanjang Canal Grande yang membelah Venezia Italia.

Kami telah puas ngadem dan bersantai di pantai pasir putih pulau Lido yang ceritanya aku tulis pada postingan sebelumnya disini.

Perhentian selanjutnya adalah pulau Murano yang sepi dan misterius, penduduknya mayoritas para manula, jauh dari mana-mana dengan suasana pedesaan pantai rustikal. Setidaknya itulah gambaran sementara yang aku tangkap dari serial detektif Commissario Brunetti dalam sebuah episode yang mengungkap pembunuhan misterius di pulau ini.

Dan seperti itulah adanya.....



Water bus City Sightseeing yang kami tumpangi bersandar begitu saja pada sebuah tepian kanal, tak ada pelabuhan sandar, tali pengikat cuma disangkutkan pada sebuah balok besi di bantaran. Rupanya, yang namanya jalan raya diterjemahkan dengan apa adanya disini. Semua mobil di jalan raya pada umumnya bisa parkir begitu saja di pinggir jalan, begitu pula boat dan perahu di kanal ini bisa di parkir di pinggir kanal dengan sesuka hati. Ada rambu tempat parkir, dilarang parkir dan traffic lights seperti di jalan biasa.

Selain kami berdua, ada sepasang turis lain yang turun di pulau ini.

Jadi bantaran kanal ini adalah sebuah jalan setapak, disampingnya merupakan tembok tinggi sepanjang mata memandang, dengan pintu-pintu besar dan kokoh. sementara di sisi lain adalah kanal tanpa pembatas, jadi jika tidak berjalan hati-hati maka orang bisa langsung kecemplung kanal. Dari sebuah selebaran yang kami ambil di water bus, tembok tinggi berpintu besar itu adalah pabrik pengolah kaca, disini orang bisa beli suvenir macam-macam bentuk yang terbuat dari gelas dan kaca. Murano adalah pulau penghasil kerajinan gelas terkenal di seantero Italia.

Disinilah kami diturunkan dari water bus.
Jalan ke arah kanan atau ke kiri? Itu adalah pertanyaan pertama setelah turun dari water bus. Tak ada penunjuk jalan sama sekali. Sepasang turis yang turun bersama kami sepertinya juga mempunyai pertanyaan yang sama. Jadi jika kamu tidak yakin dengan apa yang akan kamu lakukan, ambillah jalan yang benar, go to the right way... maka kami jalan ke kanan seperti keyakinan itu. Dan benar saja, setelah melalui jalanan di bantaran sungai yang sempit dan tidak meyakinkan itu, pada akhirnya kami sadar, we are in the right way....

Di Italia, ternyata matahari awal musim gugur masih terasa terik membakar, kami yang baru berenang di pantai sepanjang pagi merasa kegerahan lagi. Tak masalah, toh kami sedang 'melarikan diri' dari dinginnya udara di Jerman.

Kami berjalan santai sembari menikmati suasana nyaman dan tenang bantaran kanal di pulau Murano. Sepertinya saat itu air laut sedang pasang karena ombak yang berasal dari laju boat dan perahu di kanal sampai muncrat ke jalan.

Pelabuhan terasa longgar, sepi dan damai.

Di ujung sana kami memasuki sebuah gang sempit karena tak ada pilihan lain, setelah melintasi gang ini barulah kehidupan pulau Murano terasa. Ada terlihat beberapa orang melakukan aktifitas, banyak toko dan restoran, juga ada toko suvenir disana-sini yang barang dagangannya didominasi oleh kerajinan dari gelas dan kaca dalam berbagai bentuk, dimana ini adalah kerajinan khas produksi pulau Murano.

Ini karya seni lho, iconic street art pulau Murano, terbuat dari kaca/gelas.
Itu adalah secuil tourist area di pulau Murano, selebihnya pulau ini sepi dan tak mempunyai aktifitas yang berarti (beberapa hari setelahnya kami jadi tahu bahwa ada beberapa daerah di Italia yang terlihat mati pada siang hari tetapi sangat meriah sesaat setelah matahari terbenam, mungkin karena teriknya matahari).


Pada cuaca yang panas seperti ini, kami samasekali tidak mempunyai nafsu makan, namun ini waktunya makan siang dan kami harus menjaga vitalitas. Semangkuk salad plus ikan tuna dan sebotol air menjadi menu pilihan di sebuah restoran yang berada tepat di bantaran sungai.


Aku jadi ingat dalam sebuah episode serial detektif tatort yang disiarkan TV Jerman, Commissario Brunetti pernah mengungkap sebuah kasus pembunuhan misterius di pulau ini. Pulau kecil ini terlihat misterius, sepi dan muram. Begitu juga penduduknya yang tidak bersahabat dan tidak mau diajak bekerja sama.

Ada beberapa bangunan yang aku kenali dan sebuah kanal tempat kejar-kejaran. Pada akhirnya aku sampai juga ke tempat ini.

Tetapi lain di film lain di kenyataan. Memang benar pulau Murano ini terlihat sunyi tak bernyawa dan kondisi muram rustikal disana-sini, sepertinya orang-orang pada malas melakukan renovasi, tetapi suasana khas malah ada disitu. Ada keindahan dalam lorong-lorong sempit di dalam pulau, dan juga kanal-kanal lebar yang mengelilinginya. Suasana khas yang cuma ada disini.




Kami pada akhirnya tiba entah dimana setelah berjalan santai kesana-kemari menyusuri bantaran kanal, memasuki lorong-lorong sempit di dalam kota tua dan melintasi beberapa jembatan.

Itu adalah sebuah square mungil di tengah kota. Tapi bagian kota inipun juga tak kalah misteriusnya. Tak seorang-pun terlihat.

Di salah satu pojokan square ada sebuah kafe, di sebelahnya sepertinya sebuah bar. Dua-duanya buka, ada beberapa orang terlihat disana.  Kami memilih duduk di teras luar dan tak lama kemudian datang seorang pria tua berkata ramah kepada kami. Seperti orang Italia yang lain, bapak pelayan ini juga sangat ramah, gaya bicaranya akrab dan suaranya nyaring. Sayang sekali kami tidak bisa berbahasa Italia, namun paham bahwa dia bertanya kepada kami ingin memesan apa.

Itu adalah waktu ngopi sore hari, kami berlama-lama duduk disitu sembari minum cappuccino, makan kue manis, dan karena sedang liburan, segelas Aperol Spritz setelahnya.
Rupanya itu adalah kafe langganan opa dan oma di kota itu, mereka datang untuk bertemu antara satu dengan lainnya. Gelak tawa mereka terdengar nyaman pada sore hari di tengah kota yang sunyi itu.....

Ah ternyata Commissario Brunetti bertemu dengan orang-orang yang salah karena sepanjang yang aku lihat, orang di pulau Murano ini ramah dan menyenangkan.


Ini adalah cerita hari terakhir kami di Venezia kota tua, selanjutnya kami terbang ke selatan menuju sebuah wilayah bernama Sicilia. Tahu kan? itu lho, salah satu wilayah di Italia yang terkenal dengan para mafioso.
Apakah kami akan tembak-tembakan dengan Mafioso di Sicilia? Apa saja yang kami temukan disana? tunggu cerita selanjutnya ya... Yang pasti ini adalah bukan tujuan wisata favorit turis Asia.

6 comments:

  1. Kalo di lorong2 sempit gitu bisa mojok yaaa kak !!! apalagi sepi dan cuman ber 2 an hahaha

    ReplyDelete
  2. Jangaaaan...! bahaya. kalo terlalu mojok bisa kecemplung kanal. mau?

    ReplyDelete
  3. Kanalnya bersih, kotanya juga bersih, ternyata Italia bagian lain itu cantik, nggak kayak kota tempatku nginep waktu di salah satu di Italia hiks..

    ReplyDelete
  4. bagus bangeeeeet kotanyaa.. trus aku cuma bisa nelen ludah bacanya.. hopefully, bisa pergi ke sanaa...

    salam kenal, mas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pokoknya disini asik banget mbak, ayolah cepetan dateng....

      salam kenal juga ya, salam buat anak-anak juga ya....

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)