Bella Italia: Dipalak Sopir Taksi



Semua sudah pernah dipalak sopir taksi kan? Atau setidak-tidaknya pernah dicurangi mereka? Jika belum pernah, berarti perjalanan kalian kurang jauh, atau nasib baik selalu berpihak kepadamu.

Setiap pergi kemanapun, sebenarnya ada satu hal yang selalu aku hindari, yaitu naik taksi. Aku lebih suka menggunakan jenis kendaraan apapun yang penting beramai-ramai seperti bus, kereta, pesawat dan sebangsanya.
Kenapa? Jika naik taksi maka aku akan merasa sendirian dan tidak berdaya di sebuah tempat yang tidak aku kenal samasekali. Dan sudah terlalu banyak cerita buruk tentang sopir taksi yang berusaha mengambil semua uang milik turis baik secara paksa, semi-paksa maupun secara halus. Karena supir taksi merasa berkuasa dan tahu semuanya tentang daerah kekuasaannya, dan para turis tak tahu apapun atau sedikit sekali tentang daerah yang didatanginya.

Tapi masalahnya tidak semua jalan dilewati oleh kendaraan umum dan satu-satunya pilihan hanya taksi. Jadi... Supir taksi adalah teman sekaligus musuh pejalan.


Ceritanya begini; Kami sedang ada di Messina, ingin pergi ke pelabuhan Milazzo untuk menyeberang ke Pulau Stromboli. Dari Milazzo ke Stromboli hanya ada dua jadwal keberangkatan speed boat pada musim-musim low seasons, yaitu pagi-pagi sekali dan sore hari menjelang malam. Sementara dari Messina ke Milazzo ada bus yang anehnya, meskipun ada jadwal keberangkatan tetapi tidak tepat waktu, alhasil jadwal bis ini tidak nyambung samasekali dengan jadwal speed boat.

Kami memilih berangkat pagi, dibela-belain tidak sarapan di hotel dan check out hanya dengan melempar kartu kamar ke meja resepsionis karena sedang terburu-buru mengejar jadwal bis.

Tiba di terminal, eh kami masih sendirian, mungkin terlalu awal. 15 menit berlalu, beberapa penumpang mulai datang. 30 menit kemudian, bis belum juga nongol, sementara kami harus berangkat sekarang atau ketinggalan speed boat dan harus menunggu sepanjang hari di pelabuhan.

Aku bertanya kepada orang-orang apakah ada yang ingin pergi ke Milazzo karena aku punya ide untuk membayar taksi bersama-sama. Tak seorangpun yang berminat dan mereka bilang bus ke Milazzo hari ini akan berangkat 2 jam lagi.

Singkat cerita kami naik taksi berdua, "pakai argometer?" iya, kata supir yang ramah itu. Maka kami naik.

Ternyata perjalanan ini jauh, kami melewati jalan berbukit-bukit dengan sinar lampu kota yang memukau dari Messina. Sang supir berusaha ramah dan menjelaskan segala sesuatu yang menurutnya menarik.

Kami mulai resah dan gelisah ketika meteran mencapai angka 50€. Itu terlalu jauh untuk menggunakan taksi, pikir kami. Sesampainya di pelabuhan Milazzo, argometer tepat di angka 80€. Dan kami membayar sesuai angka itu (Pulangnya, ketika naik bis dari Milazzo ke Messina kami jadi tahu bahwa sopir taksi tidak membawa kami muter-muter, itu adalah jalur yang benar, memang jauh).

"Wait wait wait..." kata sopir taksi ketika kami hendak turun.

Dia menjelaskan bahwa kami harus membayar 160€, karena dia harus kembali pulang ke Messina. Dan aku menjawab tentu saja dia harus kembali dan kami tidak, jadi tentu saja kami tidak perlu membayar ongkos pulang.

Selanjutnya adalah debat kusir yang menjengkelkan. Seperti halnya kebanyakan orang Italia, si sopir ini bertemperamen panas dan gaya bicaranya lantang. Kami berdebat tiada henti, dua orang lawan satu. Ternyata tetap saja kami kalah.
Sembari berdebat mataku celingukan keluar melihat-lihat jika ada polisi di sekitar, sayang sekali tidak ada.

Pada akhirnya si supir taksi jelek dan gendut itu mendapat uang lebih dan juga umpatan dari kami, "You will never getting rich in your way, du hässliches Arschloch..." *Doa orang teraniaya akan dikabulkan katanya*.

Itu adalah cuma satu-satunya peristiwa yang tidak nyaman selama acara liburan kami di Italia. Selebihnya adalah, ini adalah liburan indah yang sempurna. Berjalan dari ujung ke ujungnya Italia dengan santai, dan singgah di beberapa kota menyenangkan.

Apakah kalian juga pernah dipalak atau dibohongi supir taksi? Sangat menjengkelkan bukan?





6 comments:

  1. Di Sydney Taksi juga gak jelas. Sopirnya kebanyakan "kribo", "gelap", gak tau jalan, gak lancar bahasa Inggris, dan suka nambah nambahin biaya siluman diluar meter. Mending naik kereta api, bus, atau UBER deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah, dimana-mana... mangkanya aku selalu menghindari taksi, bikin sakit hati soalnya. Sakitnya tuh disini....

      Delete
  2. Aku jalan cuman beberapa km dari rumah aja dah di kerjain sopir taxi kok, ngak perlu jauh2 hehehe

    ReplyDelete
  3. lahh ya kali aaah minta ongkos balik, aneh banget ���� ternyata supir taksi dimana2 sama aja ya, banyak yg aneh2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sedang cari cara bagaimana caranya ngerjain balik sopir taksi.
      Btw, blogger profile-mu unviewable lho.... coba di setting ulang yaaaa...

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)