Let's Visit Banyuwangi; Antara Ijen, G-Land dan Sukamade


Banyuwangi semakin berseri, itulah yang aku temui pada acara pulkam kali ini. Tentu saja kami menjadikan Banyuwangi sebagai rumah sementara dalam liburan ini, karena biar bagaimanapun juga, sejauh apapun aku berkelana,  pastilah pulangnya ingin menghabiskan waktu barang sehari-dua bersama keluarga.

Banyuwangi tetap memegang tradisi, kami sempat melihat kembali jaranan buto yang sedang ditanggap oleh orang kawinan. Menurut mbak-ku, sering juga ada tanggapan Gandrung, Janger (Banyuwangi punya janger tersendiri bernama Damar Wulan, tidak seperti janger dari Bali), Kebo-keboan, dan Seblang. Kesenian Banyuwangi tetap lestari karena anak-anak juga menyukainya, seorang keponakanku ikut grup jaranan di sekolahnya (meskipun jaranan bocah tidak pakai acara ndadi/kesurupan) cuma gayanya saja yang lucu dan menggemaskan.





Di Pantai Boom yang terletak tak jauh dari pusat kota selalu ada pementasan seni secara rutin pada akhir pekan, tanpa dipungut biaya. Pantai Boom sendiri adalah pantai yang rapi, bersih, cantik dan berpasir landai. Tapi... saking serunya hilir mudik kesana-kemari selama di Banyuwangi, kami tak sempat pergi ke pantai ini, meskipun begitu kami tidak merasa rugi karena inilah beberapa tempat asik yang kami kunjungi:

Pulau Merah


Masuk ke kawasan wisata Pulau Merah, aku langsung jatuh cinta setengah mati dengan pantai ini. Betapa tidak, pantai Pulau Merah adalah sebuah teluk mungil indah berada di tengah hutan dengan jalan bagus, mempunyai pantai melengkung berpasir landai, dan ombak yang besar namun tidak berbahaya, saking landainya.
Setelah memasuki gerbang masuk, maka akan terlihat deretan rumah inap dan warung maupun kafe silih berganti sampai menuju pantai, semuanya di atur secara rapi dan tradisional. Disini ada pula tempat parkir luas yang dulunya merupakan rawa-rawa bakau. Berdasarkan informasi, harga menginap disini dimulai dengan 150 ribu per kamar.

Kami bisa bersantai dengan tenang di pantai, ada payung-payung berderet yang disewakan, tarifnya 20 ribu per jam. Meskipun ada penjual cinderamata dan makanan datang sewaktu-waktu, tetapi mereka ramah dan menyenangkan, tak ada yang agresif samasekali. Cinderamata khas Pulau Merah tentu saja batu merah yang konon katanya diambil dari Pulau Merah kemudian diasah.


Waktu itu air laut sedang surut jadi kami bisa berjalan menyeberang berjalan kaki dan naik ke Pulau Merah, tetapi kami terpaksa balik jalan sebelum mencapai tujuan karena tidak pakai sandal, karangnya tajam-tajam menusuk kaki.

Sebagai gantinya kami berenang sembari bermain ombak. Masalahnya keponakanku demen banget main ombak dan ombak di Pulau Merah tidaklah kecil, jadi kami harus menjaganya baik-baik. Dia benar-benar tidak bisa diajak keluar sebelum hari gelap!
Tetapi jangan kuatir, di pantai ini ada menara pengawas dan para penjaga pantai itu sewaktu-waktu kasih pengumuman jika ombak terlalu berbahaya, atau seperti hari itu bahwa hari sudah menjelang malam maka semua orang harus keluar dari air, maka keponakanku tidak bisa membantahnya lagi.


Hal lain yang biasa dilakukan di pantai Pulau Merah adalah belajar surfing (sebelum surfing betulan di G-Land). Pantai ini dikelola sepenuhnya oleh para pemuda desa, begitu juga dengan surfing-class disana. Tarif yang tersedia adalah 400 ribu rupiah sehari atau 250 ribu rupiah per session, sudah termasuk papan selancarnya. Informasi tentang surfing dan segala sesuatu tentang Pulau Merah bisa diperoleh di menara pengawas.

Ancaman: Tak jauh dari Pulau Merah, ada sebuah bukit bernama Tumpang Pitu. Disini terjadi ekspoitasi alam besar-besaran penambangan emas. Untuk mengikat bijih emas digunakan quicksilver, dan untuk melepaskan emas dari quicksilver harus dibakar. Asap yang mengandung quicksilver akan menguap dan bikin polusi udara, pemakaian quicksilver untuk mengikat bijih emas akan mengotori air. Quicksilver sangat berbahaya bagi manusia dan ekosistem.

Hutan Purbakala Djawatan

Benculuk adalah sebuah kota mungil di Banyuwangi Selatan, dilewati bis jalur Jember - Banyuwangi, dan orang akan melewati kecamatan ini jika ingin pergi ke pantai-pantai selatan Banyuwangi.

Di Benculuk ada sebuah hutan mungil seluas 4 hektar milik Perhutani. Hutan ini ditumbuhi oleh pohon trembesi dari ujung ke ujung. Saking tuanya hutan Djawatan ini, pepohonan trembesi tumbuh menjadi raksasa dan cabangnya menutup seluruh hutan. Pada musim penghujan hutan ini menjadi sangat rindang hampir gelap karena sifat pohon trembesi dengan cabang horisontal dan saling bertemu sehingga sinar matahari sulit menembus, di tambah lagi cabang pepohonan ini ditumbuhi tumbuhan paku.


Hutan Djawatan mengingatkanku pada hutan purbakala di film-film animasi, cuma tidak ada dinosaurus.

Dimana letak hutan ini? Tepat di belakang pertokoan halte bus Benculuk, atau di seberang pasar Benculuk. Tanpa bertanya orang akan sulit mencapainya, maka dari itu pergilah bertanya sambil makan di Bakso Merapi yang ada disitu, jika kalian beruntung maka akan bertemu mbakku karena biasanya dia akan nyelip diantara pegawainya yang sibuk. Siapa tahu dia bermurah hati kasih diskon beli satu dapat dua.

Boulevard di Kota Pesangaran

Jika pergi ke Pulau Merah, Sukamade, ataupun Alas Purwo, orang akan melewati sebuah kota yang dialiri sungai lebar dan bersih sepanjang jalan, kemudian jalan ini akan memasuki sebuah kota kecil ditumbuhi oleh pohon-pohon besar berderet rapi sepanjang jalan. Pepohonan ini rindang, besar dan tua sehingga menciptakan boulevard yang sangat indah di sepanjang kota. Kami selalu berhenti di Pesanggaran untuk sekedar ngopi atau ngemil. Suasana kota ini sangat romantis.

Bangsring

Aku merasa tersesat disini, sampai bertanya kepada orang yang ada di rumah pengawas pantai untuk memastikan benarkah ini adalah Bangsring tempat snorkeling bagus yang aku baca di blog-blog itu? Mereka membenarkan, tapi aku tetap saja seperti salah tempat.


Bangsring adalah sebuah teluk mini berair tenang dan berpasir coklat, pada sebuah tempat di pantai ini ada beberapa warung dan kafe, juga ada tempat bilas dan musola. Di pantai berderet beberapa gazebo beratap ilalang. Pantai dibatasi oleh karang hitam yang menjorok ke laut sehingga lokasi pantai ini terlindung dari arus. Tak jauh dari pantai ada Rumah Apung sebagai penangkaran ikan hiu. Disini juga ada jasa penyeberangan ke Pulau Menjangan dengan membayar 500 ribu.

Seharusnya pantai ini indah. Tetapi keindahannya dikalahkan oleh sampah. Dimana-mana berserakan sampah.

Konon sampah ini adalah sampah bawaan arus laut...

Pantai Kuta juga mempunyai sampah bawaan ini tetapi lihatlah alangkah bersihnya pantai kebanggaan kita ini karena orang Kuta sadar bahwa tanpa kebersihan pantai maka tak ada turis datang, jadi semua orang yang berkepentingan dan cari makan di Pantai Kuta selalu bekerja sama saling bahu membahu membersihkan sampah. Tak cuma sehari sekali mereka menyapu dan membersihkan pantai tetapi setiap saat. Di Bangsring juga banyak orang yang cari makan di pantai (penjual, penyewa dan penyedia jasa), kalau mereka tidak malas pastilah aku akan datang lagi suatu saat.

Tapi kami tidak menyerah, maka kami mulai snorkeling. Konon katanya terumbu karang yang indah berada di kedalaman 2 meter dan sudah ditandai dari permukaan air, jadi kami bisa langsung berenang. Tapi... ternyata kami merasa berenang di kolam sampah, dan benar di dasar sana penuh dengan terumbu karang, tetapi mereka semua sudah mati dan berwarna kusam.  Saking banyaknya sampah maka kami mengurungkan acara snorkeling sebelum mencapai kedalaman 2 meter.

Cukup sekian cerita liburan kali ini ya, percayalah, meskipun Bangsring penuh dengan sampah, tetapi Banyuwangi itu luas dan masih banyak sekali pantai-pantai indah maupun tempat wisata asik lainnya yang harus dimasukkan dalam itin perjalanan.

Masih banyak cerita liburan kami ke Indonesia yang akan muncul, tunggu postingan selanjutnya ya... Dan apakah kalian sudah pergi ke Banyuwangi? Silahkan berbagi cerita di kolom komentar ya...

Eh tunggu dulu... Kalau ke Banyuwangi nginap dimana? Jangan kuatir karena di seluruh kabupaten tersebar hotel-hotel dengan aneka pilihan. Buat backpackeran juga asik, setidaknya di pusat kota Banyuwangi ada dua buah Doriwangi (hostel). Doriwangi Sri Tanjung adalah tempat andalan, berada di dekat alun-alun kota dekat dengan pusat kuliner. Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi situs Banyuwangi Bagus ya: http://www.banyuwangibagus.com/2015/10/dormitory-tourism-banyuwangi.html



 

9 comments:

  1. banyuwangi baru ke sukamade (dan pantai2nya) - ijen - pulau merah aja. pasti akan kembali lagi ke sini nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ijen? aku sudah dua kali dulu pas masih brondong, tapi dua-duanya selalu kesiangan sampai gak bisa lihat blue fire.
      Tambahan, ini foto-foto pas ke Teluk Ijo yang spektakuler itu, plus nonton jaranan buto: http://www.ketimpringan.com/2013/05/ijatim-kemalaman-di-hutan-rimba.html

      Delete
  2. Tak menyangka Banyuwangi demikian banyak yang bisa dilihat. Pulau Merah sangat menarik. Kalau anak kecil saja enggan keluar dari air memang ada sesuatu yg memikat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh itu masih sak uprit mbak Evi... ada yang namanya Wedi Ireng (artinya 'pasir hitam', bukan 'takut hitam'), mystical Alas Purwo, Pantai rajekwesi, daaaan masih banyak lagi... Banyuwangi ndak ada matinya dibawah asuhan bupati yang ini.

      Delete
  3. Aku blm ke Gland, harus segera di tuntaskan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahwasanya niat baik harus segera dituntaskan, agar tidak menjadi beban πŸ˜‰

      Delete
  4. Aku masih penasaran gland, blm kesampean mau kesana

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)